Share

Bab 25

Author: Clau Sheera
last update publish date: 2026-06-03 08:00:19

Sri mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap lurus ke mata ayahnya yang dipenuhi ketamakan. Pikiran bahwa kontrak rahasianya akan terbongkar sempat melintas dan membuat dadanya berdegup kencang. Namun, ia harus tetap berdiri tegak demi melindungi rahasia besarnya.

"Bapak tahu itu mobil siapa? Itu mobil Tuan Sagara!! Mobilnya banyak. Asistennya mengantarku pulang karena kami searah," bohong Sri lagi. "Gaun di lemari itu adalah baju pinjaman dari sekolah untuk pentas drama saat perpis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Upik Abu   Bab 29

    Sri meremas erat tali ranselnya. Kuku-kukunya memutih, menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dada. Dia memang belum mengingat seluruh detail masa kecilnya tentang Aurora, namun kepingan ingatan yang kembali lewat kilatan memori kemarin sudah lebih dari cukup. Ada rasa sesak dan tidak terima yang membubung tinggi di dalam hatinya. Posisi sebagai putri tunggal di keluarga Natawijaya—kasih sayang Ananta dan Dikara—seharusnya adalah miliknya, bukan milik Aurora yang datang sebagai anak angkat pengganti. Kini, sepupu dari gadis pengambil posisinya itu berdiri di depannya, melontarkan hinaan tanpa tahu selembar pun fakta yang sebenarnya. Sri menarik napas dalam-dalam, mengunci tatapan berapi-api Leona dengan ketenangan yang mematikan. "Menjaga ucapanmu akan jauh lebih baik, Leona," ujar Sri, suaranya mengalun tenang namun sanggup memotong keriuhan kelas. "Asal kamu tahu, Sagara Mahardika itu sejak awal dijodohkan de

  • Pesona Upik Abu   Bab 28

    ​Aroma kopi hitam menyambut Sri begitu ia menggeser pintu kaca apartemen Sagara.Pagi itu, suasana terasa lebih sibuk dari biasanya. Di ruang tengah, Pak Hendra sudah berdiri tegak dengan beberapa berkas di tangan, tampak serius membicarakan agenda mingguan bersama Sagara yang duduk di sofa dengan laptop menyala di pangkuannya.​Sri tidak ingin menjadi pengganggu. Ia segera menundukkan kepala, memberikan senyum tipis yang sopan sebagai bentuk tata krama, lalu melangkah lurus menuju ruang utilitas untuk mengambil perlengkapan kerjanya.Di balik penampilannya yang tenang, otaknya terus berputar memikirkan tanggal 20 Mei yang kian dekat—hari ziarah, sekaligus hari di mana ia akan melihat orang tua kandungnya di balik bayangan identitas Sri Rejeki.Ketika Sagara beranjak bangkit dan berjalan masuk ke kamar utama untuk menerima panggilan telepon penting. Tinggallah Pak Hendra sendirian di ruang tengah, sibuk meneliti selembar kertas memo.​Sri

  • Pesona Upik Abu   Bab 27

    ​Denting notifikasi ponsel pintar di atas meja belajar memecah keheningan kamar Sri. Gadis yang tengah belajar untuk ujian itu segera meraih layarnya, mendapati sebuah pesan teks dari Pak Hendra.​[Pak Hendra: Nona Sri, pelaku yang mengunci Anda di ruang ganti lapangan golf kemarin sudah berhasil saya temukan.]​Sri menegakkan punggungnya. Rasa penasaran langsung merayapi benaknya. Dengan jemari yang bergerak cepat, ia mengetik balasan.[Sri: Siapa orangnya, Pak?]​Tidak butuh waktu lama bagi Pak Hendra untuk mengirimkan sebuah nama yang sebenarnya sudah sangat Sri duga sejak awal, bersama potongan videonya.[Pak Hendra: Nona Aurora.]​Sri mengembuskan napas pendek. Tebakannya tidak meleset. Wanita itu memang memiliki motif paling besar untuk melakukannya, setelah ancamannya waktu itu di koridor rumah Mahardika tak membuahkan apa-apa.[Sri: Terima kasih informasinya, Pak. Tolong rahasiakan hal ini dari Tuan Sagara. Saya

  • Pesona Upik Abu   Bab 26

    "Apa yang kamu lihat, Sri?” Suara bariton Sagara memecah sunyi.​Sri tersentak. Pertanyaan itu seketika menariknya kembali dari pusaran memori masa lalu yang membingungkan. Ia mati-matian menelan ludah, menekan gejolak emosi yang bergemuruh di dalam dadanya agar suaranya tidak terdengar ganjil.​“I-ini, Tuan … saya menemukan beberapa lembar foto. Sepertinya ini foto-foto lama,” jawab Sri dengan suara yang hampir bergetar. Ia berusaha keras mengendalikan napasnya yang sempat memburu.​Sagara menyipitkan matanya, mengamati perubahan ekspresi di wajah pembantunya. “Bawa ke sini. Saya mau lihat.”​Sri mengangguk patuh. Dengan jari-jari yang masih terasa dingin dan sedikit gemetar, ia memunguti belasan lembar foto yang sempat bertebaran di atas lantai marmer tersebut. Ia menyusunnya tergesa-gesa bersama tumpukan dokumen lama, lalu melangkah mendekati meja kerja tempat Sagara duduk di kursi kebesarannya. Sri mengulurkan tumpukan foto itu dengan kepala t

  • Pesona Upik Abu   Bab 25

    Sri mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap lurus ke mata ayahnya yang dipenuhi ketamakan. Pikiran bahwa kontrak rahasianya akan terbongkar sempat melintas dan membuat dadanya berdegup kencang. Namun, ia harus tetap berdiri tegak demi melindungi rahasia besarnya. "Bapak tahu itu mobil siapa? Itu mobil Tuan Sagara!! Mobilnya banyak. Asistennya mengantarku pulang karena kami searah," bohong Sri lagi. "Gaun di lemari itu adalah baju pinjaman dari sekolah untuk pentas drama saat perpisahan nanti!!" Pak Surya mendengus, menatap Sri dengan pandangan yang penuh curiga. Sambil berkacak pinggang, pria itu melirik sinis ke lemari pakaian Sri. "Halah, awas saja kalau kamu bohong. Nanti pasti ketahuan!" Pria itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar dengan hentakan kaki kesal karena gagal memeras uang darinya. Begitu pintu berdebam menutup, Sri menghembuskan napas lega, mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila. Namun, tatapa

  • Pesona Upik Abu   Bab 24

    ​Mencoba tetap tenang di bawah tatapan ibunya, Sri segera memutar otak dan menyusun sebuah kebohongan demi menutupi sandiwara kontraknya. “Tadi sepulang kerja di apartemen, Lestari ngajakin aku ke studio foto, Bu," ujar Sri sambil memaksakan sebuah senyuman tipis, berharap raut wajahnya terlihat meyakinkan. "Kami melakukan sesi foto bersama buat kenang-kenangan sebelum perpisahan sekolah nanti. Baju dan make-up-nya dipinjamkan dari Lestari. Maaf ya, Bu, aku nggak sempat izin dulu tadi." ​Bu Sulastri menatap putrinya lekat-lekat, lalu tersenyum hangat. "Anak Ibu cantik sekali. Sampai pangling Ibu melihatnya." ​Sri memaksakan sebuah senyuman. Untungnya, seorang perawat datang untuk memberikan informasi mengenai kepulangan bu Sulastri. Pak Hendra segera bergerak cepat membantu mengurus administrasi, sementara Sri pergi ke bagian farmasi untuk mengambil obat. ​Proses administrasi berjalan cepat berkat efisiensi k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status