로그인
Dunia Paralel, Indonesia, Jawa Tengah, Temanggung.
Di lereng Gunung Sumbing, jauh dari bising kendaraan besar dan gemerlap lampu perkotaan, sebuah keluarga kecil hidup dengan sederhana. Rumah mereka berdiri di antara hamparan ladang dan kebun yang mengikuti lekuk tanah pegunungan. Saat pagi datang, kabut tipis sering turun pelan dari arah lereng, menyelimuti atap rumah, daun-daun sayur, dan jalan tanah yang masih basah oleh embun. Udara di sana dingin, tetapi bersih. Setiap tarikan napas terasa membawa aroma tanah, rumput, kayu bakar, dan sisa asap dapur dari rumah-rumah tetangga yang mulai menanak nasi. Keluarga tersebut terdiri dari empat anggota. Sepasang suami-istri bernama Bejo dan Susi, anak laki-laki tertua mereka, Jaka, serta adik perempuan Jaka, Dina. Bejo dan Susi hanyalah orang tua biasa. Pendidikan mereka rendah. Bahkan, keduanya tidak sempat lulus SD karena sejak kecil sudah harus membantu keluarga masing-masing bekerja. Hidup tidak pernah benar-benar mudah bagi mereka. Selama bertahun-tahun, mereka menjalani hari dengan cara yang sama, bangun sebelum matahari terbit, bekerja sampai badan lelah, lalu pulang saat langit mulai gelap. Meski begitu, keduanya tidak pernah mengeluh di depan anak-anak. Bagi Bejo dan Susi, hidup boleh keras, tetapi anak-anak mereka tidak boleh kehilangan kesempatan. Karena itulah, meskipun mereka hidup sederhana, bahkan sering harus menghitung uang belanja dengan sangat hati-hati, keduanya tetap berusaha memberi yang terbaik untuk Jaka dan Dina. Hal itu terbukti dari satu hal yang selalu mereka banggakan dalam diam. Mereka bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga SMA. Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar biasa. Namun bagi keluarga kecil di lereng gunung seperti mereka, itu bukan pencapaian kecil. Uang seragam, buku, iuran sekolah, ongkos, sampai kebutuhan harian selalu menjadi beban yang harus dipikirkan setiap bulan. Terkadang Bejo harus bekerja lebih lama di ladang. Terkadang Susi menahan diri untuk tidak membeli kebutuhan pribadi agar uangnya bisa dialihkan untuk anak-anak. Jaka lulus dua tahun lalu. Dina baru saja naik ke kelas dua SMA. Entah kenapa, keluarga mereka tidak tercatat sebagai keluarga miskin. Nama mereka tidak masuk daftar penerima bantuan apa pun dari pemerintah. Padahal, jika melihat kehidupan sehari-hari, mereka jelas bukan keluarga yang berkecukupan. Namun karena urusan data dan administrasi yang tidak pernah mereka pahami sepenuhnya, Bejo dan Susi hanya bisa menerima kenyataan. Dengan kata lain, seluruh biaya sekolah ditanggung sendiri oleh keluarga kecil mereka. Jaka memahami itu sejak lama. Dia adalah anak yang jujur dan tahu diri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat ayahnya pulang dengan punggung basah oleh keringat, juga melihat ibunya menyisihkan lauk terbaik untuk anak-anak meskipun dirinya sendiri hanya makan seadanya. Karena itu, setelah lulus SMA, Jaka tidak pernah meminta untuk melanjutkan pendidikan. Bukannya ia tidak ingin kuliah. Tentu saja ia pernah membayangkannya. Melihat teman-temannya membicarakan kampus, jurusan, dan masa depan, Jaka juga sempat merasa dadanya berat. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin duduk di ruang kelas yang lebih tinggi, ingin belajar lebih banyak, dan mungkin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun setiap kali ia pulang dan melihat kondisi rumah, keinginan itu selalu ia telan kembali. Ia tahu, meminta kuliah sama saja dengan menambah beban ayah dan ibunya. Sebagai lulusan SMA, Jaka melakukannya dengan cukup baik. Tidak lama setelah kelulusan, dia diterima bekerja di salah satu pabrik kayu lapis dengan gaji pokok UMK. Pekerjaan itu tidak terdengar istimewa, tetapi bagi Jaka, itu adalah langkah pertama untuk membantu keluarga. Hari pertama ia menerima gaji, ia tidak membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Sebagian besar uang itu ia serahkan kepada Susi, sementara sisanya ia simpan untuk ongkos dan kebutuhan kecil. Bejo tidak banyak bicara waktu itu. Namun Jaka melihat sendiri bagaimana mata ayahnya sedikit memerah saat menerima uang darinya. “Disimpan sebagian buat kamu juga,” kata Bejo waktu itu, suaranya serak. Jaka hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Aku masih bisa makan di rumah.” Sejak saat itu, Jaka bekerja dengan sungguh-sungguh. Bersambung...Moncong laras baja hitam berjarak kurang dari satu meter di depan keningnya, tetapi Jaka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Kedua tangannya tetap tergantung santai di samping pinggang.Jaka terlihat sangat tenang, seolah tidak peduli dengan ancaman kematian yang berada tepat di depan pelupuk matanya."Ada apa ini?" tanyanya ragu dengan nada yang dibuat sepolos mungkin.Pria berjubah itu mempererat cengkeramannya pada pegangan senjata berkaliber sembilan milimeter itu, urat-urat di punggung tangannya menegang kasar."Kamu orang luar, pergi sebelum aku tembak!" tegas pria itu dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman.Jaka melirik Karina yang berdiri mematung di sudut ruangan dekat wastafel marmer.Karina awalnya mengangguk pasrah seraya memeluk tubuhnya sendiri, tetapi seolah mendapatkan pencerahan tiba-tiba saat menatap garis wajah pemuda itu, ia menatap lurus ke wajah Jaka."Pria ini seorang penguntit! Tolong bantu aku mengurusnya, nanti aku kasih imbalan!" seru aktris c
Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan."Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, mempertahankan postur kaku seperti seorang pengawal. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Di mana Jaka?""Sedang ke toilet.""Ah."Andini sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman penuh misteri. Matanya yang tajam menatap lekat gadis berambut hitam di hadapannya."Bagaimana? Kamu mau bekerja di bawahku? Tergantung kinerjamu, aku bisa memberimu gaji yang fantastis."Hina menatap karpet mewah bercorak floral di bawah sepatunya, menimbang tawaran yang meluncur tanpa aba-aba itu. Ke
Alunan musik waltz klasik mulai menggema lembut dari panggung utama, memecah ketegangan yang sempat membekukan seisi ruangan. Lampu kristal raksasa di langit-langit aula meredup perlahan, menciptakan nuansa temaram yang elegan dan menyamarkan sisa-sisa kegaduhan yang baru mereda.Aroma anggur merah bercampur wangi parfum mahal kembali menguar di udara. Meski insiden yang melibatkan Darius sempat menghentikan detak jantung para hadirin, rangkaian acara reuni sekolah bergengsi itu tetap dilanjutkan tanpa hambatan berarti. Para pelayan kembali mengantarkan minuman, sementara para tamu mulai membaur seolah tidak pernah ada pemuda kaya yang baru digotong keluar dalam kondisi mengenaskan.Namun, perubahan atmosfer di sekitar Jaka terasa begitu nyata dan mencekam. Sepanjang sisa acara berlangsung, dia benar-benar dijauhi oleh hampir semua mantan teman seangkatannya yang hadir di aula.Langkah kaki para tamu undangan sontak memutar arah setiap kali mereka berada dalam jarak beberapa meter da
Hawa dingin merayap di sepanjang lantai marmer, kontras dengan hangatnya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula. Darius sudah tergeletak kaku di lantai, sementara pemuda di hadapannya bahkan belum menggeser ujung sepatunya satu senti pun."Pemuda bernama Jaka itu hanya mengirimkan niat membunuh kepada Darius," bisik Hinata. Suaranya begitu rendah seperti tenggelam di antara bisikan orang-orang, namun sarat akan penekanan. Karina mengerjapkan mata, pupilnya melebar karena rasa ingin tahu yang bercampur cemas. Gaun sutranya berdesir pelan saat ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan."Hanya niat membunuh? Mengapa dampaknya bisa sekuat itu sampai membuat orang pingsan seketika?" tanya Karina heran."Entahlah. Sejujurnya, meski tingkat kultivasi kami berada di tingkatan yang sama, auranya terasa seperti jurang tanpa dasar bagiku," jawab Hinata seraya melipat tangan di dada. Rahangnya mengeras, memperlihatkan ketegangan yang jarang tampak di wajahnya.Karina menelan lu
Bisik-bisik kasak-kusuk langsung menjalar cepat di antara kerumunan bagai api menyambar rumput kering. Kata-kata Darius yang aneh memicu kebingungan massal di sekeliling ruangan aula. Orang-orang saling bertukar pandang dengan dahi berkerut, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar."Ahli spiritual? Profesi macam apa itu?""Entahlah, ini pertama kali aku mendengarnya.""Mungkin semacam kultivator seperti dalam novel?""Ha ha ha, ayolah, kita hidup di dunia nyata, mana ada hal begituan.""He he, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius."Di saat sebagian besar orang berbisik satu sama lain sambil tertawa meragukan, ada sebagian kecil orang yang justru memasang ekspresi sangat serius. Sorot mata mereka mengeras kaku, memancarkan ketegangan mendalam yang sangat kontras dari orang-orang awam.Mereka merupakan para elit yang mengetahui keberadaan asli ahli spiritual dari balik layar. Mereka paham betapa berbahayanya sosok ber aura monster seperti itu jika terusik. Tentu saja mer
Gema riuh suara di dalam aula perlahan menyusut saat sesosok pria berambut pirang mencegat langkah seorang gadis. Cahaya lampu gantung memantul di bahunya yang bidang, menyoroti mantel mahal yang membungkus tubuh kekarnya."Enyah dari hadapanku," ketus Andini dingin.Sepasang matanya menatap lurus tanpa minat sedikit pun, seolah pria di hadapannya hanyalah sebongkah batu di pinggir jalan.Pria itu memiringkan kepala, menyunggingkan sudut bibirnya dengan penuh percaya diri. Kulit cokelatnya membingkai ekspresi penuh superioritas yang biasa dimiliki orang-orang berkuasa."Jangan gitu, bagaimana kalau kenalan dulu? Namaku Darius Albert, keluargaku cukup kaya dan berkuasa di sekitar sini."Andini memutar pandangan, melipat kedua tangan di dada."Lantas kenapa? Aku tidak peduli," sahut Andini acuh tak acuh.Langkah sepatu kulit Darius terdengar menghentak pelan saat ia mengikis jarak. Tatapannya merendahkan, meneliti sosok Andini dari atas hingga bawah."Dingin sekali, tapi aku suka wanita







