Share

082 Pulang

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-07-25 21:09:25

Deru mesin *tossa* membelah jalanan malam, menggetarkan sasis besi di beberapa bagian.

Angin malam berembus kencang, membawa aroma karbon sisa pembakaran kendaraan berbaur dengan wangi pecel lele dari tenda-tenda pinggir jalan.

Di belakang, Dina bersedekap dada. Bibirnya mengerucut tajam, menatap lurus ke aspal yang berkelebat cepat diterpa lampu kuning jalanan.

"Hmph!" Gadis itu mendengus keras, berusaha mengalahkan suara bising knalpot. "Padahal aku ingin melihat wajah putus asa sales sombon
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   082 Pulang

    Deru mesin *tossa* membelah jalanan malam, menggetarkan sasis besi di beberapa bagian. Angin malam berembus kencang, membawa aroma karbon sisa pembakaran kendaraan berbaur dengan wangi pecel lele dari tenda-tenda pinggir jalan.Di belakang, Dina bersedekap dada. Bibirnya mengerucut tajam, menatap lurus ke aspal yang berkelebat cepat diterpa lampu kuning jalanan."Hmph!" Gadis itu mendengus keras, berusaha mengalahkan suara bising knalpot. "Padahal aku ingin melihat wajah putus asa sales sombong itu lebih lama lagi, Kak."Jaka memutar tuas gas, mempertahankan laju kendaraan kargonya di kecepatan stabil. Tawa kosong meluncur pelan dari bibirnya. Ia mengulurkan tangan kiri, mengelus asal ujung kepala adiknya. "Sudahlah. Pria itu sudah menerima hukumannya dengan melihat kenyataan tadi."Dina menepis pelan tangan Jaka, masih belum puas. "Kurang! Orang berengsek seperti dia harusnya dipecat saja dari pekerjaannya. Biarkan orang-orang baik seperti Linda yang mengambil alih posisinya. Dunia

  • Petani Terkuat   081 Angka Nol yang Menyilaukan

    Kilau lampu LED showroom memantul dingin di atas permukaan lantai, menciptakan kontras yang tajam dengan suasana kaku di sudut ruangan tersebut. Di hadapan Jaka, berdiri seorang wanita muda. Tidak ada polesan riasan tebal, lipstik mencolok, atau bedak yang berusaha menutupi tekstur kulit aslinya. Wajah Linda bersih, membingkai sepasang mata yang menyiratkan rasa sungkan mendalam, sebuah kesederhanaan langka di tengah lautan manusia-manusia berpenampilan artifisial di tempat ini.Bahu wanita itu sedikit menurun, jari-jarinya bertaut erat di depan perut. "Namaku Linda... maafkan kelakuan rekan kerjaku tadi, Tuan," ucapnya. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh dengung samar pendingin ruangan.Meski baru saja direndahkan seperti budak oleh sales pria di seberang ruangan sana, Linda masih merendahkan hatinya untuk menutupi kesalahan orang yang telah mencacinya.Mendengar permintaan maaf itu, rahang Dina mengeras. Gadis di sebelah Jaka itu sudah menarik napas tajam, bersiap menumpahkan m

  • Petani Terkuat   080 Sales Sombong

    Jarak lima belas menit berjalan kaki menyusuri trotoar kabupaten ternyata cukup ampuh mengurai sedikit keringat di pelipis Dina. Udara malam yang tadinya lembap dan lengket perlahan tergantikan oleh hawa dingin buatan dari pendingin ruangan yang berembus pelan saat pintu kaca otomatis dealer resmi itu terbuka membelah jalan mereka.Kontras dengan jalanan pasar malam yang berisik, berasap, dan saling berdesakan, ruang pamer ini terasa sangat bersih sekaligus terang benderang. Lantai keramik putihnya memantulkan cahaya lampu sorot dari atas plafon bak cermin raksasa. Aroma karet ban baru yang khas, bercampur semir logam dan wangi cairan pembersih kaca, langsung menyambut kedatangan dua kakak beradik itu.Mata Jaka bergerak memindai ruangan dan seketika terkunci pada sebuah panggung di sudut paling mencolok. Di sana, bertengger sebuah Kawasaki Ninja H2, memancarkan aura buas dari desain bodinya yang runcing dan agresif. Cat peraknya berkilau menantang, seolah menyedot dan memantulkan

  • Petani Terkuat   079 Perut Tak Berdasar

    Seminggu telah menguap sejak Retin Lupoz meninggalkan pekarangan keluarga Jaka. Aroma tanah basah dan daun segar masih tertinggal, menjadi saksi bisu dari lima kali siklus panen yang luar biasa cepat. Angka di layar ponsel Jaka tidak lagi sekadar deretan nol biasa; nominalnya sukses menembus sepuluh miliar rupiah. Cahaya dari layar itu memantul di pupil Jaka saat ia duduk bersandar di teras samping, menikmati semilir angin sore. Pembagian proporsi sembilan banding satu sudah final. Jemari kasar Bejo, sang ayah, sempat menolak keras lembaran digital itu saat Jaka berniat menyerahkan porsi yang jauh lebih besar dari kesepakatan awal.'Aku cuma butuh tembakau dan kopi seduh. Buat apa uang sebanyak itu?' tolak Bejo waktu itu, memaksa Jaka menyisipkan paksa sepuluh persen hak sang ayah ke rekening terpisah agar pria tua itu tidak bisa mengembalikannya lagi. Jaka akhirnya mengalah, mengamankan sembilan puluh persen sisanya.Matahari perlahan luruh, mengubah warna langit menjadi jingga

  • Petani Terkuat   078 Tiga Puluh Botol

    Aroma tumis bawang putih dan kuah kaldu masih mengendap tipis di udara, meninggalkan jejak kehangatan setelah makan malam usai. Di sela-sela denting sendok dan piring yang dibereskan Susi dari meja makan, Dina berjalan riang menuju pekarangan depan. Kedua tangannya memegang erat sebuah nampan plastik berisi susunan potongan semangka dan melon dingin.Targetnya adalah tiga pria bertubuh kekar berbalut setelan jas hitam yang sejak tadi berdiri kaku di dekat mobil SUV.Begitu Dina menyodorkan nampan tersebut, ekspresi keras bagai batu dari sang supir dan dua pengawal itu runtuh seketika. Mereka membungkuk hormat nyaris sembilan puluh derajat, bergantian mengucapkan rentetan terima kasih dengan nada yang kelewat tulus untuk ukuran pria-pria berwajah seram. Melihat pria-pria raksasa itu mengunyah semangka dengan mata berbinar, Dina membusungkan dada kecilnya yang masih berkembang, tersenyum bangga seolah baru saja memenangkan medali kepahlawanan.Malam terus merambat naik. Suara jangkr

  • Petani Terkuat   077 Tekanan Sang Legenda

    *Vroom!*Deru mesin bervolume tinggi membelah keheningan malam di pedesaan itu. Getaran dari ban berukuran masif yang menggilas jalan tidak rata merambat hingga ke telapak kaki. Sebuah mobil hitam besar bergaya militer merayap pelan dari arah jalan samping, lalu berhenti tepat di depan pekarangan rumah Jaka.Engsel pintu rumah berderit terbuka. Jaka melangkah lebih dulu melewati ambang pintu, membiarkan udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Di belakang punggungnya, Susi dan Bejo menyusul, sementara Dina mengintip dari balik lengan ibunya. Seluruh keluarga itu berdiri kaku, menanti orang yang akan turun dari perut kendaraan baja itu. Dari sisi seberang, Andini melangkah turun. Gadis itu tidak sendiri. Tangannya mencengkeram pegangan sebuah kursi roda, mendorongnya perlahan mendekati pagar kayu rumah Jaka. Di atas kursi roda itu, duduk seorang pria paruh baya dengan postur punggung yang menolak untuk bersandar rileks.Jarak mereka masih belasan meter, tetapi udara di sekitar pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status