Share

Bab 6. Permainan Berakhir

last update Last Updated: 2026-03-04 12:35:01

“Haha siapa takut!” akhirnya Pak Bambang berucap dengan nada meremehkan.

Begitu pula para staff yang lain. Mereka tertawa-tawa dan menghina ide konyol Tiko.

“Ide konyol!” ujar salah satu staff. “Otakmu emang beneran bego ya, Tiko.”

“Tololnya nggak ketulungan,” timpal yang lain.

“Makanya. Mana bisa sih ada orang beli rumah 10 Milyar dalam waktu setengah jam ini?”

“Makanya kalau ngasih ide itu pake otak jangan pake dengkul, Tiko!”

Mendengar para staff meremehkan ide Tiko, tidak lantas membuat Tiko tersulut emosinya. Justru lelaki itu terlihat sangat tenang dengan tatapan mata dingin.

Ketenangan dan pengendalian diri dari Tiko inilah yang membuat orang lain menjadi geram. Seolah Tiko adalah seorang lelaki tanpa emosi. Bukannya Tiko tidak punya emosi dan tidak berdaya, sebab prinsip Tiko adalah berpikir sebelum bertindak.

Apa yang dilakukannya sekarang adalah hasil dari berpikir cepat dan teruji.

Mengenai tantangannya kepada Pak Bambang, jelas sekali kalau Tiko sudah memikirkan jalan keluarnya.

Meski memang ide itu sempat membuat Salsa mengerutkan kening, seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Tiko. 

Tapi Salsa percaya kalau sahabatnya memang punya rencana besar terhadap siasat ini. Salsa percaya kalau Tiko sedang bersiasat. Dan sebagai seorang sahabat, tidak mungkin Tiko akan menjerumuskannya kepada lubang masalah lainnya.

“Beneran kamu, Tiko, mau nantangin Pak Bambang?” 

Salsa memang tidak menanyakan hal segamblang itu kepada Tiko, hanya tatapan matanya saja yang menyiratkan pertanyaan itu kepada Tiko.

Mereka bertatapan begitu lama, dan dengan mantap Tiko membalas tatapan penuh pertanyaan Salsa dengan anggukan kepala, seolah Tiko berkata: jangan takut! Serahkan semuanya kepadaku! Percaya deh!

Melihat Tiko yang merespons tatapannya yang seperti itu, membuat Salsa tenang: sebab dia percaya kalau Tiko akan membantunya.

Bagi Tiko, apa yang akan dilakukannya tidak semata karena emosi. Tiko sudah punya penyelesaian masalahnya.

Dia baru ingat kalau semalam dia mendapatkan begitu banyak uang dari ibunya. Betapa bodohnya Tiko tadi bilang kalau dia mengeluh karena membutuhkan sejumlah uang kepada Salsa. Coba saja Tiko ingat kalau dia punya uang sebanyak itu, mungkin saja Salsa tidak akan mendapatkan kesulitan seperti yang terjadi sekarang.

Semua masalah yang terjadi pada Salsa adalah salahku, maka aku harus membantunya keluar dari masalah ini, gumam Tiko mantap.

“Gimana jadi nantangin saya?” tantang Pak Bambang merasa berada di atas angin.

“Sesuai dengan yang saya bilang barusan. Jadi, Pak. Tapi Pak Bambang juga harus tahu konsekuensinya. Kalau ternyata Salsa berhasil mendapatkan pembeli rumah seharga 10 Milyar, maka Pak Bambang harus melepaskan jabatan Bapak sekarang dan menyerahkannya kepada Salsa!”

“Siapa takut!” ujar Pak Bambang dengan penuh kesombongan.

Sikap pongah Pak Bambang itu diamini oleh para staff yang lain.

“Terima aja Pak Bambang tantangannya. Lagian nggak mungkin juga bisa si Salsa itu bisa ngejual rumah seharga 10 Milyar dalam waktu setengah jam. Saya aja sebagai sales senior di sini, nggak pernah bisa ngelakuin hal seperti itu, apalagi anak baru kencur macam Salsa ini,” cibir salah satu staff perempuan dengan mata mendelik merendahkan kepada Salsa.

“Iya, biar mereka diusir dari sini, Pak,” timpal yang lain, “saya udah enek banget sama mereka soalnya. Mereka itu sampah banget soalnya!”

“Baiklah kalau begitu,” tukas Tiko mulai memberanikan diri bersuara. “Kalau semuanya sudah setuju, kita tentukan saja peraturannya. Bagaimana?”

‘Oke. Setuju!” ujar Pak Bambang dengan mantap, begitu juga para staff yang ada di situ, mereka mengiyakan dengan nada melecehkan.

“Begini cara kerjanya!” ujar Tiko menjelaskan. Dengan penuh percaya diri lelaki itu maju di antara kerumunan, menjelaskan cara kerjanya. 

Tiko membuka ponselnya untuk menunjukkan rumah mana yang harus terjual dalam waktu setengah jam. Rumah itu berlokasi di daerah Pondok Indah Jakarta Selatan. 

“Kalau dalam waktu setengah jam rumah ini ada keterangan terjual, maka pemenangnya adalah Salsa,” ujar Tiko menjelaskan. “Nah, sekarang buka handpone kalian masing-masing, nyalakan stopwatch dan hitung mundur sampai setengah. Gimana kalian siap?”

Mereka mengangguk tanda setuju. Kemudian, hitung mundur pun dimulai.

Yang paling kelihatan cemas di antara semuanya tentu saja Salsa.

Entahlah, bagi Salsa, hanya mujizat besar supaya bisa memenangkan kompetisi tidak masuk akal ini.

Tapi tidak bagi Tiko. Semuanya serba mungkin asalkan ada uang di rekening tabungannya.

“nggak usah khawatir, Pak, setengah jam itu cepet kok. Lagian nggak mungkin dalam waktu sepuluh menit bakal ada yang beli itu rumah,” celetuk salah satu staff berusaha membela Pak Bambang seraya menatap ponselnya lekat-lekat.

“Iya tinggal sepuluh menit lagi, tunggu bentar lagi, kita arak rame-rame mereka buat usir dari sini!”

Tiko sengaja mengulur-ngulur waktu hingga sampai dua puluh menit kemudian, barulah dia izin untuk pamit sebentar dari kerumunan itu dengan dalih ingin pergi ke toilet. Padahal, Tiko punya tujuan lain: membeli rumah yang sedang dipertaruhkan dengan uangnya sendiri.

Uang pemberian dari ibunya sebesar 10 Milyar akan dia gunakan untuk membantu Salsa. Karena siapa lagi yang akan membantu Salsa kalau bukan dirinya. Sebab itulah gunanya sahabat. Susah senang harus dijalani bersama.

Segera saja Tiko membuka ponselnya, dan segera mulai melakukan transaksi rumah yang sedang dibelinya.

Ketika transaksi itu berhasil dilakukan, suara teriakan beserta kehebohan lain terdengar dari dalam ruangan.

Pasti mereka kaget dengan kejadian ini, pikir Tiko seraya tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, Tiko kembali ke dalam ruangan dengan tampang seolah ‘tidak tahu apa-apa’.

‘Kok rame-rame begini sih? Ada apa emangnya?” tanya Tiko sok polos.

“Liat deh, Tiko!” ujar Salsa dengan gembira seraya menunjukkan rumah yang ada di dalam website itu kini diberitanda ‘terjual’.

“Nggak mungkin, pasti ada kesalahan sistem!” ujar Pak Bambang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Iya pasti eror nih! Pasti semua ini gara-gara kamu deh, Tiko!” 

“Lah kok gara-gara saya?” bantah Tiko. “Saya tadi ke toilet cuman pengin kencing. Lagian orang kere macam saya emang punya duit sebanyak itu buat beli rumah?” tambah Tiko merendah.

“Bener juga sih ya. Tampang kere macam dia mana punya uang sebanyak itu. Buat beli makan aja susah apalagi beli rumah mewah.”

“Bagaimana nih Pak Bambang dengan tantangannya?” tanya Tiko kepada Pak Bambang.

Ketika ditanya oleh Tiko seperti itu, sontak membuat Pak Bambang kalut... keringat dingin mengucur deras di dahinya yang lebar. Mata liciknya menatap ke segala arah, tapi tidak ke wajah Tiko. Seolah dia takut kalau Tiko meminta pertanggung jawaban atas omongannya setengah jam lalu.

Karena didesak oleh Tiko seperti itu, akhirnya Pak Bambang membuka suaranya,”Yang tadi ngasih ide begitu kan kamu Tiko, bukan saya. Kalau saya harus kalah, itu juga bukan urusan saya. Saya tetap tidak akan memberikan jabatan saya kepada anak bau kencur macam Salsa.”

“Tapi Pak Bambang sudah setuju, dan para staff lain yang ada di ruangan ini menjadi saksinya.”

“Tapi BAPAK HARUS MENEPATI APA YANG TADI PAK BAMBANG JANJIKAN KEPADA SAYA!” ucap Tiko dengan nada meninggi.

Di saat keributan seperti itu berlangsung, datanglah Pak Sastro, atasan Pak Bambang.

“Ada apa ini kok ribut-ribut begini?” tanya Pak Sastro sedikit kesal, karena bukannya staffnya bekerja, malah bikin keonaran seperti ini.

“Begini, Pak,” ujar Pak Bambang menjelaskan. “Ada orang bikin keributan di kantor kita.”

“Benar apa yang Pak Bambang katakan ini?” tanya Pak Sastro pada Tiko.

Tiko menggeleng pelan, dan ketika lelaki itu hendak mengatakan hal yang sebenarnya, Pak Bambang mencegahnya, lantas mengusir Tiko secara tidak hormat dari ruangan ini.

“Pergi kamu! Jangan sekali kali buat keributan lagi di kantor ini!” teriak Pak Bambang sambil mendorong Tiko, sehingga membuat Tiko terjatuh.

“Iya mending kamu pergi saja deh, Tiko Salim!” umpat seorang staff memanas-manasi.

Tiko Salim? Bukankah Keluarga Salim adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Jika benar begitu, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, gumam Pak Sastro merasa cemas.

Bukannya mengusir Tiko dari ruangan kantor itu, Pak Sastro justru melakukan hal sebaliknya.

Pak Sastro membantu Tiko bangkit, lantas melakukan hal tidak terduga kepada Pak Bambang.

Plak!

Suara tamparan itu terdengar, dan membuat pipi Pak Bambang memerah.

“Kenapa Bapak malah menampar wajah saya!” ujar Pak Bambang dengan penuh keterkejutan.

“Karena kamu telah memperlakukan orang dengan semena-mena!”

Kemudian Tiko menjelaskan duduk perkaranya kepada Pak Sastro.

Pak Sastro, tanpa berpikir lebih lama lagi mengambil keputusan,”Kamu saya pecat Pak Bambang, dan sebagai gantinya, Salsa akan menggantikan posisimu sebagai pimpinan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 13. Mendadak CEO

    “Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 12. Titik Terendah Tiko

    Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 11. Hinaan dan Tamparan Untuk Tiko

    Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 10. Menyongsong Hari Baru

    Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 9. Memberi Kesempatan Kedua

    “Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba

  • Pewaris Keluarga Terkaya: Ditolak di Malam Pernikahan   Bab 8. Pertemuan di Meja Makan

    “Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status