LOGIN“Tolong jangan pecat saya, Pak!” pinta Salsa dengan nada memohon, “saya masih butuh pekerjaan ini.”
“Jangan pecat kamu?” tanya Pak Bambang yang gendut itu kepada Salsa. “Apa untungnya saya tidak jadi memecatmu? Kamu anak baru dan masih belum punya pengalaman, orang kaya kamu itu di luaran sana banyak banget tahu nggak. Saya bisa dengan mudah dapet penggantimu kapan saja. Kecuali kalau kamu memang mau saya ajarin secara khusus seperti Bu Lara,” ujar Pak Bambang tanpa tahu malu.
Mendengar perkataan Pak Bambang yang tidak tahu malu seperti itu, sontak membuat Tiko geram bukan kepalang.
Dia ingin sekali menghajar wajah mesum Pak Bambang menjadi seperti adonan tepung. Jika bukan karena para staff pencibir itu yang menahan Tiko untuk tidak ikut campur dengan urusan Pak Bambang dengan Salsa, mungkin bogem mentah dari Tiko sudah mendarat di wajah mesum Pak Bambang.
“Diem deh kamu, Tiko!” ujar salah satu staff yang berusaha menjegal Tiko supaya tidak usah ikut campur.
Tidak hanya dijegal oleh salah satu staff kurang ajar, Tiko juga dijegal oleh staff lain supaya lelaki itu tidak bisa menolong Salsa.
Mereka sudah gila! Batin Tiko dengan geram.
“Iya nih, setelah Bu Lara mendapat pengajaran ‘khusus’ dari Pak Bambang, tuh buktinya Bu Lara bisa jadi sukses!” ujar si mulut pedas seolah sedang mencoba menyalakan api di atas kertas.
“Bener banget, tuh, ucapan Bu Santi. Saya sendiri jadi saksi deh, setelah Bu Lara mendapat pengajaran khusus, nggak lama setelah itu, Beliau dinobatkan sebagai sales terbaik di Prima Proverti. Jurus jurus ampuh Pak Bambang memang bukan kaleng kaleng, deh!” timpal si cowok kemayu dengan mencibir-cibir, dan berusaha memanas-manasi.
“Ayo Salsa, lebih baik kamu terima tawaran Pak Bambang, semua itu demi kebaikanmu juga!”
Mendengar pernyataan rekan kerjanya yang terus memaksanya seperti itu, membuat Salsa merasa terpojok oleh mereka.
Air matanya mengalir deras seolah perempuan itu sudah tidak tahan lagi menerima semua olok-olok dan cobaan yang begitu besar telah menimpanya.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan apa yang sedang dilakukannya, yang dia inginkan hanyalah meminta haknya. Hanya saja, atasannya sajalah yang tidak tahu diri dan malah mencoba melecehkan Salsa.
Bagi Tiko, perlakuan rekan-rekan kerja Salsa sudah sangat keterlaluan dan melampaui batas. Tiko teringat kejadian semalam yang sangat memilukan yang telah menimpa dirinya. Dia tidak ingin sahabatnya Salsa menjadi korban kejahatan dan kesewenangan seperti halnya Tiko.
Lagipula, semua kemalangan yang menimpa Salsa adalah karena ulah Tiko. Salsa melakukan semua ini demi dia ingin membantu Tiko.
Begitulah Salsa, sahabat terbaik dan paling pengertian buat Tiko. Sahabat yang selalu ada.
Karena geram, akhirnya Tiko angkat bicara dan melepaskan diri dari cengkraman rekan kerja Salsa yang jahat.
“Lepasin!” ucap Tiko dengan nada tinggi.
“Heh, berani beraninya ya, kamu, Tiko, ngelawan kami? Kamu pikir kamu siapa?” bentak salah satu staff dengan kepongahan yang kampungan.
Tiko tidak menggubris ucapan si staff pongah itu. Yang dia lakukan hanyalah berusaha menolong Salsa dari bujuk rayu Pak Bambang, dan melepaskan diri dari kekejaman rekan kerjanya.
“Maaf, memotong pembicaraan kalian!” ucap Tiko dengan nada tegas dan berani.
“Heh kamu ngapain sih ikut campur, Tiko?”
“Iya ngapain sih kamu ikutan campur? Karyawan di sini bukan. Kamu itu cuman mantan karyawan di sini, jadi sekarang kamu itu nggak punya hak suara apa-apa, MENDING DIEM DEH!”
“Iya mending diem aja deh kamu, Tiko!”
Tiko tetap tidak gentar melawan para mantan rekan kerjanya. Yang dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara menyelamatkan Salsa supaya tidak dipecat dari pekerjaannya. Karena setahunya, Salsa sangat membutuhkan pekerjaan karena perempuan itu sudah tidak mempunya tabungan sama sekali.
Kalau Salsa sampai jadi dipecat, Tiko akan sangat merasa bersalah. Sebab karena dirinyalah Salsa rela berkorban untuk meminjaminya uang supaya Tiko bisa mendapatkan sewa rumah baru.
“Saya nggak bisa diem aja kalau situasinya sudah begini!” ujar Tiko tegas.
“Oh kamu rupanya mau jadi pahlawan kesiangan ya, Tiko?” cibir staff lain.
“nggak usah sok ngebelain sahabatmu deh, Tiko! Mending urus diri kamu sendiri aja!”
Ketika Tiko bicara seperti itu, Pak Bambang merasa geram karena Tiko merasa sudah ikut campur dengan yang sudah bukan lagi jadi urusannya.
“Iya Tiko, sebaiknya kamu nggak usah ikut campur. Urusin saja video viralmu yang semalam itu!” bentak Pak Bambang dengan sangat kasar dan tidak punya hati.
“Oh ya? Video viral apa, Pak?” tanya seorang staff perempuan dengan penuh kekepoan.
“Masa sih Bu Ratna nggak tahu? Itutuh ada yang nggak jadi nikah karena dia kere!”
“Siapa sih, saya beneran nggak tahu! Kok aku jadi kepo ya!”
“Mending Bu Ratna liat ini deh!” ucap si staff kemayu sambil membuka ponselnya. Diperlihatkannya sebuah tayangan video yang direkam secara serampangan tentang kejadian yang menimpa Tiko semalam.
Video penolakan pernikahan Tiko dengan cepat menjadi viral dan menjadi trending topik di sosial media dalam waktu instan.
Setelah mereka melihat sama-sama video viral Tiko semalam, mereka semakin menjadi jadi mengolok-ngolok Tiko dan Salsa.
“Pantesan ya kamu belain si Salsa.”
“Kenapa emang, Bu?”
“Karena mereka sama sama kere,” celetuk si kemayu.
“Mending kalian jadian aja deh. Kalian serasi banget soalnya. Serasi kerenya!”
Serentak semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.
Tawa mereka terasa sangat menyebalkan. Tiko ingin sekali membungkam mulut tidak berpendidikan mereka. Tapi, sekali lagi Tiko berpikiran jernih.
Tidak ada gunanya aku membalas kelakuan mereka, karena kalau dibalas dengan kejam pun tidak akan bisa menghapuskan sifat jahat yang ada di dalam diri mereka, gumam Tiko menahan nahan diri. Lagipula, kalau aku membalas perlakuan jahat mereka, aku akan sama bodohnya seperti mereka. Yang harus kulakukan sekarang adalah menyelamatkan Salsa dari kuasa jahat Pak Bambang. Tapi dengan cara apa?
“Mudah-mudahan aja sih kamu cepet terkenal ye. Videonya udah viral tuh. Bentar lagi wajahmu bakal jadi meme dan jadi bahan dagelan. WAJAH PALING KERE!” ujar Pak Bambang berkata untuk menyakiti hati Tiko.
“Sebentar lagi Tiko akan jadi artis, Pak Bambang!” timpal yang lain berusaha menjilat perkataan Pak Bambang.
“Kalau kamu emang kere ya nggak usah janji-janji palsu segala mau kasih uang 200 juta. Dasar PHP. Kamu itu emang pantes diperlakuin buruk, Tiko. Cowok nggak berguna!”
Mendengar hinaan demi hinaan, tak serta merta membuatnya kesal dan melawan mereka dengan perkataan kasar. Api dibalas api tidak akan pernah damai.
Aku harus sedingin air supaya bisa memadamkan bara, gumam Tiko dengan sikap tenang.
“Saya punya ide Pak Bambang tentang pemecatan Salsa.” Akhirnya Tiko berucap dengan nada tenang dan teruji.
“Ide apa itu?” tanya Pak Bambang diikuti dengan pertanyaan dari staff lain.
“Gimana kalau sekarang kita taruhan, Pak Bambang!”
“Taruhan apa?”
“Kalau dalam waktu setengah jam ini Salsa bisa ngejual rumah seharga 10 Milyar, maka Salsa nggak bakal jadi dipecat. Tapi kalau misalnya Salsa bisa ngejual rumah seharga 10 Milyar dalam waktu setengah jam, maka jabatan Pak Bambang akan diambil alih oleh Salsa. Bagaimana?”
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







