LOGIN
Brian Jones, mahasiswa jurusan manajemen bisnis terburu-buru membereskan barang-barangnya lalu memasukkan semuanya ke dalam tas ransel usang miliknya.
Begitu yakin tidak ada barang-barang yang tertinggal, dia segera berjalan keluar. Tapi, ketika dia baru hampir mencapai pintu, seseorang menabraknya entah disengaja atau tidak.
Buku besar yang Brian bawa terjatuh dan sebagian kertas pun jatuh berserakan.
"Heh, miskin. Apa kau tidak melihat ketika berjalan?"
Brian hanya memandang sekilas pada orang yang telah menabraknya. Seorang gadis cantik menatap dirinya dengan jijik. Itu Ellen Thomas, salah satu teman seangkatan dirinya yang berasal dari keluarga kaya.
Ayahnya adalah seorang pemilik bisnis advertising. Tak heran gadis itu menjadi angkuh dan sombong.
"Maaf, aku tidak sengaja, Ellen."
Begitulah yang terjadi. Meskipun Brian tidak bersalah, dia tetap menjadi orang yang harus terlebih dulu meminta maaf.
Dia hanya berpikir, orang miskin sepertinya memang harus mengalah meskipun tidak melakukan kesalahan sekalipun. Hal ini demi membuat posisinya aman di kampus itu.
Dia hanyalah seorang anak miskin dari keluarga kalangan kelas bawah yang begitu beruntung memiliki otak yang brilian sehingga bisa masuk ke University of WestCliff yang merupakan sebuah kampus paling bergengsi di kota tempat dia tinggal.
Kampus itu sangat terkenal dan memiliki standard penerimaan yang begitu tinggi. Akan tetapi, meskipun biaya pendidikan di kampus itu sangat mahal, mereka juga menyediakan berbagai beasiswa untuk para mahasiswa yang tidak mampu tapi memiliki kemampuan akademik yang sangat bagus.
Brian Jones menjadi salah satu yang berhak mendapatkan beasiswa itu dan saat ini dia sudah menjadi mahasiswa tahun kedua. Dia juga berhasil mempertahankan nilainya hingga tak pernah kehilangan beasiswa.
"Dasar ceroboh!" Sang gadis mendengus keras lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Brian mendesah, berusaha bersabar. Tanpa menunda lagi, ia segera berjongkok, mulai memungut barang-barangnya yang terjatuh.
"Perlu bantuan, Jones?"
Brian menengadah dan melihat Jim Denver tengah menyeringai kepadanya sembari bersedekap. Belum sempat Brian membalas ucapannya, dia sudah melihat Jim berniat menginjak salah satu kertasnya.
Dengan cepat Brian mencegahnya dengan menahan kaki Jim, "Jangan, Jim! Kertas ini penting."
"Singkirkan tangan kotormu dari kakiku!" Jim menatap kesal saat kakinya dipegang oleh Brian.
Brian melepaskannya dan segera mengambil kertas yang tersisa.
"Siapa yang mengizinkanmu memegang kakiku?"
Brian tak menjawab dan memilih menghindar. Namun, lagi-lagi ia harus menerima perbuatan tidak menyenangkan dari teman sekelasnya saat Jim dengan sengaja menyenggolnya hingga kertas penting Brian pegang jatuh kembali.
"Selamat berjuang, miskin!"
Jim tersenyum mengejek lalu berjalan mendahuluinya.
Brian menahan rasa kesal dan hanya mengertakkan gigi. Oh, tapi dia sadar jika dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengeluh. Ia lalu memungut kertas-kertas itu lagi dan segera berlari menuju kantin C.
University of WestCliff memiliki tiga kantin dan kantin C terletak di bagian selatan. Brian buru-buru menaruh tasnya dan memakai celemek bertuliskan namanya.
Seorang wanita berusia tiga puluh tahunan menghela napas lega saat melihat Brian sudah bersiap-siap. "Akhirnya, kau datang juga. Aku sudah hampir gila di sini."
"Maaf, Abi. Aku terlambat beberapa menit." Brian mulai melihat kertas pesanan di atas meja.
"Apa mereka mengganggumu?"
"Seperti biasanya."
Abigail Smith terlihat prihatin, "Ah, lawan saja kalau begitu."
"Berhadapan dengan anak-anak keluarga kaya? Aku hanya akan mendapatkan masalah lainnya, Abi." Brian menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ide Abigail.
"Well, kau memang hanya memiliki dua pilihan, Brian. Pertama, kau melawan mereka. Kedua, membiarkan. Kalau memilih yang kedua ya berarti kau harus siap setiap saat diganggu oleh mereka."
"Tidak masalah untukku. Lagi pula, aku hanya harus bertahan 2 tahun lagi. Tidak akan lama."
"Yah, jika itu pilihanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Abigail menyerah dan mulai menyiapkan pesanan.
Brian pun mengantarkan pesanan itu pada orang yang memesannya.
Pria muda itu begitu cekatan saat menjalankan pekerjaannya. Meskipun banyak yang menghina dirinya karena memiliki pekerjaan sebagai seorang pelayan di kantin kampus, Brian tak pernah menggubris mereka.
Yang dibutuhkan oleh Brian hanyalah uang tambahan demi meringankan beban kakek angkatnya, Karl York yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di jalan.
"Pelayan, kemari!"
Brian berjalan mendekat. "Ya, apa kau mau menambah sesuatu?"
"Ya, beri aku cheese burger dua porsi!"
"Oke, lima menit lagi akan siap."
Brian menuju Abigail dan mengatakan tambahan pesanan itu. Setelah itu, ia berkali-kali dipanggil oleh oleh para pelanggan yang sama dan Brian pun mulai bingung.
"Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia sedang mengerjaimu." Abigail menatap curiga pada laki-laki muda yang duduk bersama dengan beberapa temannya itu.
"Itu Edward Stein. Aku hanya tahu namanya tapi tidak satu jurusan dengan dia."
Abigail menaikkan alis kanan, "Lalu, apakah kau pernah berbuat salah kepadanya?"
"Tidak."
"Kau yakin?" Abigail melirik ke arah Edward yang terlihat beberapa kali tersenyum mengejek ketika ia mengarahkan pandangan pada Brian.
"Tidak pernah seyakin ini, Abi. Aku benar-benar hanya tahu namanya."
Abigail menyentuh dagunya, "Kalau begitu dia mungkin hanya suka mengganggu anak-anak dari keluarga bawah. Ah, sayang sekali!"
"Kenapa?" Brian menatap heran sambil membersihkan meja kasir.
"Wajahnya sangat tampan."
Brian memutar bola mata malas. Berikutnya ia pun mendengar Abigail mengoceh tiada henti tentang pemuda kaya itu hingga jam kerja Brian berakhir.
Jam kerjanya memang tidak tentu, tapi sudah pasti di saat dia sudah selesai dengan kelasnya. Dia juga sangat bersyukur memiliki bos yang begitu baik hati seperti Abigail Smith.
"Pulanglah!"
"Kau mengusirku, Abi?"
"Iya."
Brian tertawa renyah. "Baiklah, aku akan datang besok."
Abigail memberi anak muda itu sekantong makanan. "Untukmu dan Karl."
Brian tersenyum penuh terima kasih, "Ah, kau sangat baik sekali. Terima kasih."
"Tak perlu begitu." Abigail mengibaskan tangan.
Dengan hati riang, Brian meninggalkan area kantin dan berjalan menuju tempat parkir, di mana sepedanya diparkir. Area parkir bagian selatan itu tampak sepi karena hari sudah cukup sore. Brian sangat menyukai suasana itu karena dia tidak perlu lagi berhadapan dengan anak-anak kaya yang sering mengganggunya.
Namun, kesenangannya terganggu saat dia sampai di tempat parkir. Ia berhenti berjalan, tampak kaget melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
Tak jauh darinya, seorang gadis sedang bermesraan dengan seorang laki-laki muda yang dikenal oleh Brian. Edward Stein, seorang pemuda keluarga kaya yang sempat mengganggunya di kantin beberapa waktu yang lalu.
Sialnya, bukan hanya pemuda itu saja yang dia kenal tapi juga gadis yang menjadi partner Edward itu.
"Diana, apa yang sudah kau lakukan?"
Edward dan Diana memisahkan diri dengan begitu santai. Diana menoleh kepadanya. "Astaga, kau Brian. Mengganggu saja."
Brian terbelalak kaget. "Mengganggu? Apa maksudmu? Kau bermesraan dengan pria lain saat kita sedang berpacaran. Kau-"
"Kita putus saja." Diana Reid berkata dengan tenang.
"Putus? Tapi, aku tidak salah apa-apa. Kau yang berselingkuh. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini kepadaku?"
Edward tertawa mengejek. "Siapa yang mau berpacaran dengan pecundang sepertimu? Diana sudah memilihku. Terima saja!"
Emosi Brian pun meningkat. Tanpa diduga oleh Edward, Brian meninju Edward.
"Brian! Berhenti!" Diana memekik kaget.
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







