LOGIN"Kau mau mati ya?" ucap Edward dengan napas terengah-engah.
"Berhentilah berbicara!" balas Brian dan kini aksi saling pukul itu pun tak terelakkan lagi.
Diana Reid berteriak kembali, "Brian, hentikan! Lepaskan Edward."
Sayangnya, teriakan Diana tak dihiraukan oleh Brian. Gadis itu pun mulai frustrasi.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Diana kebingungan. Ia menoleh ke sekitar tapi tak ada orang di sana. Pos satpam pun jauh dari sana.
Sementara itu, Edward mulai kewalahan menghadapi Brian yang tak pernah ia sangka-sangka ternyata memiliki kemampuan bela diri yang hebat.
Dalam keadaan terpojok, Diana tak bisa berpikir. Akan tetapi, otaknya kembali bekerja dengan benar dan dia menghubungi polisi.
Dalam hati, dia berharap polisi akan cepat-cepat datang ke sana. Dia benar-benar takut kalau Edward sampai terluka parah.
"Kau, pecundang. Bisamu hanya melakukan kekerasan! Dasar berandal!" umpat Edward di sela-sela pertarungannya dengan Brian.
Dengan napas berat, Brian membalas, "Kau ... hanya orang kaya yang memanfaatkan uang untuk memikat gadis. Apa kau tidak malu?"
Setelah itu, Brian memukul rahang Edward. Edward meludah darah tapi sebuah tawa renyah menganggu telinga Brian. Seketika Brian menarik kerah Edward dan menatap penuh amarah, "Kau tertawa?"
Edward balik memukul pipi Brian sampai pria muda itu terhuyung-huyung.
"Ya, kenapa? Apa semua orang miskin selalu sinis seperti ini dengan orang kaya?" cibir Edward.
Brian mengertakkan gigi tapi tak diberi kesempatan membalas.
"Harusnya kau tahu diri. Rakyat jelata sepertimu tidak pantas berpacaran dengan gadis secantik Diana."
Brian melancarkan serangannya lagi tapi kali ini berhasil ditepis oleh Edward. "Mengurus diri sendiri saja tidak becus, bagaimana kau bisa dengan percaya diri berpacaran dengan dia?"
"Dasar menjijikkan tak berguna!" kata Edward sambil meludah ke arah samping.
"Tutup mulutmu!" bentak Brian.
"Kenapa? Kata-kataku benar, kan? Kenapa kau tidak ikut memungut sampah di jalan saja? Seperti kakekmu yang bau itu? Kau bisa mendapat uang yang-"
Edward terbatuk-batuk setelah pukulan keras dilancarkan oleh Brian. Kemarahan Brian sudah tidak terbendung. Dia benci bila ada yang menghina kakeknya, dia tidak akan menerimanya.
Diana Reid yang masih di sana dan hanya menonton mulai bergetar hebat.
"Hentikan, Brian!" ucap gadis cantik itu dengan suara bergetar.
Brian masih tak mau mendengar dan malah hendak memukul Edward kembali. Namun, tangannya hanya menggantung di udara kala dia mendengar suara sirine polisi.
Pria muda itu menoleh pada Diana dengan tatapan terluka, "Diana, kau-"
Diana mengabaikannya dan menolong Edward Stein yang menyeringai pada Brian.
Sebelum sempat berkata lebih banyak, Brian telah dikelilingi oleh beberapa petugas polisi yang hendak menangkapnya. Pria muda itu pun mengangkat tangan dan menurut dibawa pergi.
Sepanjang perjalanan, Brian hanya bisa menunduk dalam diam. Lelaki muda itu baru menyadari kebodohan yang telah ia lakukan dan kini hanya bisa menyesalinya.
"Saya ... dipancing, Pak," ucap Brian saat mulai diinterogasi.
"Dipancing? Hah, tapi kau sudah memukulnya dan tidak hanya sekali," ucap sang petugas.
Brian menelan ludah, "Dia juga memukul saya. Bukankah ini impas?"
Sang petugas tertawa, "Dia membela diri, Nak. Kau dalam masalah besar."
"Masukkan dia ke sel!" perintah sang petugas pada anak buahnya.
"Pak, tapi-"
"Kau ditahan sampai ada keluargamu yang menjaminmu."
"Jaminan? Berapa, Pak?" tanya Brian takut-takut.
"2000 euro."
Brian melongo dan kini sudah benar-benar lemas. Jangankan 2000 euro, 200 euro saja dia tidak memilikinya. Pria muda itu langsung tak sanggup memikirkan kesulitan kakeknya.
Ah, dia ingin membunuh dirinya saat itu juga. Dia sudah miskin, malah bertingkah. Saat ini juga dia merasa perkataan Edward ada benarnya.
Tidak seharusnya dia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Gara-gara rasa cemburunya, dia terancam dipenjara dan yang lebih parah lagi beasiswanya di kampus juga pasti kemungkinan besar akan dicabut.
Tak ada kampus atau yayasan yang akan memberikan beasiswa pada mahasiswa yang bermasalah. Di samping itu, bisa saja University of WestCliff akan memberikan sanksi atau malah mengeluarkannya dari sana.
Membayangkan semua itu terjadi, Brian benar-benar semakin sulit bernapas.
Namun, dua jam berlalu, seorang petugas polisi mendatangi selnya.
"Brian Jones, sudah ada yang menjamin kamu."
Brian yang semula duduk segera berdiri.
"Siapa, Pak? Kakek saya?" tanya Brian, takut. Ia sungguh tidak sanggup melihat raut wajah sang kakek yang pasti penuh dengan kecewa.
"Ya."
Brian sontak memejamkan mata sejenak tapi dengan perlahan keluar dari sel tahanan dan berjalan dengan langkah berat.
"Silakan!"
Brian mengangguk dan berjalan ke arah depan setelah resmi dibebaskan. Di luar, sosok laki-laki tua dengan penampilan lusuh sedang berdiri dengan tubuh bungkuknya.
"Kakek!" panggil Brian lirih.
"Ayo pulang, Nak!" ajak pria berusia akhir enam puluh tahunan itu sambil masih tersenyum kepada cucu angkatnya.
Brian mendekat dan membantu sang kakek menuruni tangga. Pria muda itu tak sanggup berkata-kata. Rasa bersalahnya begitu kuat hingga membuatnya bisu.
Akan tetapi, Karl tidak membiarkan pemuda itu terdiam cukup lama. Saat berjalan bersama, Karl bertanya, "Apa kau sudah makan?"
"Belum, Kek. Tapi-"
"Kalau begitu, ayo kita makan dulu sebelum pulang!" ajak Karl.
Dia menunjuk ke sebuah restoran cepat saji yang buka 24 jam tapi Brian segera menggeleng, "Tidak, Kek. Di sana mahal."
"Kakek punya uang, Brian. Jangan khawatir!" ucap Karl santai.
Karl sudah mau melangkah tapi Brian mencegahnya.
"Apa Kakek tidak akan bertanya?"
"Soal apa?"
"Soal aku ditahan," jawab Brian pelan.
Karl mendesah, "Kau pasti punya alasan untuk itu. Kakek yakin."
Brian benar-benar tidak enak, "Aku hanya cemburu dan marah. Semestinya aku harus menahan diri, tapi aku tidak bisa, Kek. Aku-"
"Cukup! Tak masalah kalau kau sesekali memukul teman yang mengganggumu."
Brian menatap bingung, "Kek?"
Karl malah tersenyum dan menepuk punggung cucunya, "Bertengkar, saling pukul antara pria itu hal biasa. Asal kau tidak sampai membunuhnya saja."
Brian tercengang. "Kakek tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah?" balas Karl.
Brian menelan ludah dengan susah payah, "Aku mungkin akan kehilangan beasiswa dan bisa saja aku dikeluarkan dari kampus, Kek."
Karl York terdiam. Brian benar-benar merasa begitu bersalah.
"Tak masalah."
Mata Brian melebar, "Tak masalah bagaimana, Kek?"
"Kalau beasiswamu dicabut dan kau dikeluarkan, maka kau hanya harus pindah ke kampus lain, berjuang lagi dari awal. Kakek akan membantumu," ucap Karl tenang.
Brian kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah menduga kakeknya akan sesantai itu.
Padahal setahunya, kakeknya itu selalu memamerkan dirinya pada teman-temannya. Dia begitu bangga memiliki cucu yang bisa belajar di University of WestCliff dan mendapatkan beasiswa.
Namun, dia memang tahu kakeknya selalu baik dan tak pernah sekalipun marah kepadanya.
"Kakek dapat dari mana 2000 euro itu? Itu jumlah yang tidak sedikit," ucap Brian tiba-tiba ingin tahu.
"Tabungan Kakek."
Brian menatap kaget.
Karl menghela napas panjang, sadar cucunya masih ingin tahu lebih banyak. Ia pun mulai menjelaskan, "Itu uang yang Kakek kumpulkan untukmu kalau-kalau kau membutuhkan biaya tambahan untuk kuliahmu, Brian. Tapi, apa boleh buat. Kau harus dikeluarkan segera."
"Ya sudah, ayo makan! Kakek sudah lapar!" kata Karl.
Brian langsung menuntun kakeknya untuk menyeberang. Namun, tiba-tiba saja dari arah kiri sebuah mobil sedang melaju dengan begitu kencang.
BRAKKK!
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







