LOGINKejadian itu berlangsung dengan begitu cepat hingga Brian bahkan tidak sadar telah didorong oleh kakeknya ke arah kanan. Badannya sedikit terhuyung tapi dia selamat dari kejadian nahas itu.
Akan tetapi, kenyataan lain sangat mengguncangnya. Matanya menatap nanar tubuh sang kakek yang tertabrak mobil.
"Kakek." Teriakannya terdengar begitu memilukan.
Dengan begitu syok dia menghampiri sang kakek bersama dengan orang-orang yang ikut menolongnya.
"Tolong kakek saya!" Ia kembali berteriak.
Badannya gemetar hebat dan bahkan dia merasa kesadarannya sedang hilang entah ke mana saat dia melihat mobil ambulans datang dan mengangkut sang kakek.
Brian terlalu syok atas kejadian itu dan hanya terdiam kala para petugas medis mulai melakukan tindakan.
Ketika mereka sampai di rumah sakit, Brian menatap kosong saat sang kakek dibawa ke dalam ruang gawat darurat. Namun, bersamaan dengan itu, seorang pria berusia empat puluh tahunan mendekati Brian dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Saya tidak melihat Anda dan kakek Anda sedang menyeberang."
Brian pun menoleh ke arah orang itu dan seketika emosinya kembali naik, "Apa maksudmu tidak sengaja? Apa kau buta? Lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki."
"Maaf, Tuan. Saya sungguh tidak melihatnya dengan baik, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Pria itu memohon belas kasih.
"Maaf? Apa semudah itu kau meminta maaf setelah membuat kakekku berada di dalam sana?" Brian menunjuk ke arah ruang gawat darurat.
"Saya akan mengganti rugi semuanya. Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit, Tuan."
Brian malah semakin marah mendengar ucapan yang diucapkan dengan santai itu.
"Kau pikir semua itu bisa mengembalikan kakekku dalam keadaan sehat seperti sebelumnya? Apa kau sudah kehilangan akal, Tuan?"
"Saya tahu tidak bisa tapi saya berjanji akan membiayai semua pengeluaran sampai kakek Anda sembuh seperti sebelumnya."
Brian hendak menjawab tapi tiba-tiba dia melihat seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat itu dan berjalan mendekatinya. Jantung Brian seketika berdegup dengan kencang di saat dia melihat ekspresi sang dokter.
"Dengan keluarga Tuan York?"
"Ya, dokter. Saya Brian, cucunya." Napasnya mulai tidak beraturan dan hatinya begitu tidak tenang.
Sang dokter menghela napas panjang. "Maaf, kami sudah kehilangan beliau. Beliau mengalami pendarahan hebat di dalam otak. Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkannya."
Mendengar kata-kata dokter itu, Brian merasa jiwanya melayang meninggalkan tubuhnya.
Sementara itu, pria yang mengaku telah menabrak Karl York itu ikut menjadi lemas dan bersandar pada kursi tunggu.
Dengan bibir bergetar dia memberani diri untuk berkata. "Maafkan aku, Tuan. Aku turut berduka cita."
Brian mengepalkan tangan dan menoleh ke arah orang itu, "Kau harus pertanggung jawabkan perbuatanmu di kantor polisi."
Pria itu memucat tapi tak bisa berbuat apa-apa. Brian berjalan menuju telepon umum yang terletak tak jauh dari area itu dan segera menghubungi Larry Fern, salah satu orang yang dia anggap sebagai sahabat baiknya.
"Larry, apa kau bisa ke WestCliff hospital sekarang?"
Dari seberang sana Larry mendengar Larry membalas, "WestCliff hospital? Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apa kau berkelahi? Lukamu parah?"
Brian memejamkan mata sejenak tapi segera membalas, "Tidak, tapi kakekku. Kakek kecelakaan dan sekarang telah meninggal. Larry, bantu aku mengurus pemakaman kakek. Tolong!"
Tak lama berselang, Larry datang ke rumah sakit itu dan kemudian membantu Brian untuk memulangkan Karl York ke rumah kecil mereka.
Begitu mayat Karl itu tiba di kediaman mereka, Larry segera mengurus semuanya. Pria muda itu dibantu oleh ayahnya membantu Brian dan sama sekali belum bertanya tentang kejadian yang sebenarnya telah menimpa sang sahabat.
Tak ada satu pun tetangga mereka yang datang ke rumahnya. Brian sama sekali tidak heran akan hal itu. Para tetangga tidak terlalu menyukai kehadiran mereka karena dianggap mengganggu.
Rumah yang Brian dan Karl tempati merupakan sebuah rumah kecil yang terletak di bagian ujung kompleks perumahan BrownLand. Pemilik tanah di area itu sebenarnya telah meminta Karl agar menjual rumahnya kepadanya tapi Karl York selalu menolak.
Padahal sang pemilik tanah di kawasan itu sudah berniat membangun menimarket di sana. Namun, gara-gara Karl bersikeras tak mau menjual rumahnya, maka dia tak bisa membangunnya. Hal itulah yang membuat Karl tidak disukai di daerah itu.
Akan tetapi, berbanding terbalik dengan para tetangga mereka, rekan kerja sang kakek yang berasal dari petugas permbersih jalan datang ke sana. Mereka menunjukkan rasa kehilangan yang begitu besar.
"Brian, Karl itu orang baik, banyak yang menyayanginya."
"Kalau kau butuh bantuan, kau bisa hubungi kami."
Seorang laki-laki tua duduk di samping Brian. "Karl itu kakek yang hebat, bukan?"
Brian mengangguk tanpa ragu. "Dia memberikan apapun untukku tapi ... aku belum bisa membalas semua kebaikannya."
"Kau hanya harus menjadi orang sukses, Brian. Itu akan membuat Karl senang."
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang untuk Brian. Dia tak tidur hingga pagi.
"Brian, sudah waktunya kakekmu dimakamkan." Larry mengingatkan Brian.
"Oke."
Brian bangkit dan mempersilakan orang-orang untuk membawa peti jenazah Karl ke dalam mobil milik ayah Larry untuk diangkut menuju ke tempat pemakaman.
Tempat pemakaman itu kebetulan tak jauh dari tempat tinggalnya sehingga perjalanannya tidak membutuhkan waktu yang lama.
Saat hendak dikuburkan, Brian terkejut dengan kedatangan orang yang tak ingin dilihatnya. "Apa yang dilakukan si brengsek itu di sini?"
Larry menoleh ke arah Brian. "Edward Stein? Oh, iya, kenapa dia bisa datang ke sini?"
Namun, ketika Brian melihat seorang laki-laki yang dia kenali sebagai orang yang telah menabrak kakeknya itu berdiri di samping Edward, seketika darah Brian mendidih.
"Brian, kau mau ke mana?" Larry terkejut melihat Brian berlari menghampiri Edward.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Brian menatap galak Edward.
Pria muda itu melirik si penabrak yang hanya menunduk.
"Hei, Kawan, tenanglah! Aku hanya ikut menunjukkan bela sungkawaku kepadamu setelah sopirku ini menabrak kakekmu hingga tewas!"
"Apa? Orang ini sopirmu?" Brian luar biasa terkejut dan lantaran tak bisa mengendalikan diri lagi, dia pun akhirnya meninju Edward dengan sekuat tenaga.
"Kau pasti sengaja melakukannya. Jawab aku!"
Edward menyeka noda darah dari bibir bawahnya, "Hei, itu tuduhan yang serius. Kau bisa terkena masalah, Jones."
Brian pun kembali melancarkan serangan lagi tapi kali ini Edward berhasil menghindar. "Dasar tidak tahu diri! Aku sudah berbaik hati datang ke sini tapi kau malah menuduhku sembarangan. Hajar dia!"
Orang-orang begitu terkejut. Kekacauan itu membuat mereka kabur karena tak mau terlibat.
Apa lagi, mereka tahu anak muda itu merupakan orang kaya yang bisa melakukan apa saja. Hanya Larry dan ayahnya, Michael saja yang masih ada di sana. Keduanya berusaha menolong Brian tapi gagal karena diseret paksa menjauh.
Brian dipukuli hingga kehilangan setengah kesadarannya.
Sayup-sayup dia mendengar Edward berkata, "Heh, miskin. Makanya jangan sesekali berani memukulku. Sekali kau pukul aku, aku akan membalas ratusan kali."
Edward tertawa mengejek sebelum memerintahkan anak buahnya, "Ayo pergi dari sini!"
Brian kehilangan kesadarannya secara penuh. Ketika dia kembali membuka mata, dia sadar jika dirinya telah berada di ruangan asing yang tidak dikenal.
Ia bangkit dengan segera dan melihat sosok laki-laki tua duduk di kursi roda dengan selang infus. Pria itu tampak begitu lemah.
"Brian, bagaimana keadaanmu?"
"Kau siapa? Kenapa aku bisa berada di sini?"
Pria tua itu tersenyum lemah, "Simon Jones. Kakek kandungmu."
"Jones? Kakek kandungku?" Mata Brian melotot.
Simon yang begitu lemah mengangguk, "Dengar, aku rasa waktuku tidak akan lama lagi. Jadi, dengarkan aku baik-baik. Aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Dan satu hal lagi, maaf jika aku tidak tahu diri. Kelolalah semua asetku."
"Apa maksud Anda?" Brian masih belum bisa memahami.
"Joe Maiden, dia ... yang akan menjelaskan segalanya dan ingat, Brian. Hanya dia orang yang bisa kau percaya!"
Setelah mengatakan hal itu, Simon semakin lemah dan kehilangan kesadaran.
Brian syok kembali. "Dokter! Perawat! Siapa saja tolong!"
Brian lalu melihat pria aneh yang mengaku sebagai kakek kandungnya itu dibawa oleh orang-orang. Dia pun masih duduk dengan linglung di tempat tidurnya.
Sekitar beberapa menit berlalu, seseorang kembali ke ruangannya. "Tuan Jones sudah meninggal dunia, Tuan Muda."
Brian tak bisa menahan keterkejutannya. "Orang tadi meninggal? Dan siapa kau dan kenapa kau memanggilku 'Tuan Muda'?"
"Saya Joe Maiden, sekretaris Tuan Jones. Tentu saja saya memanggil begitu karena Anda adalah cucu kandung Tuan Jones."
"Tunggu dulu! Kau pasti salah besar. Aku ... tidak mungkin menjadi cucu orang itu tadi. Kau pasti salah sangka."
Joe Maiden memasang ekspresi tenang. "Nama belakang Anda adalah 'Jones', bukan?"
"Itu tetap tidak menjelaskan aku bisa menjadi cucunya. Marga 'Jones' itu marga yang umum."
"Karl York adalah kakek angkat Anda. Anda sebelumnya diadopsi dari panti asuhan. Apakah saya benar?" Joe mengatakannya dengan tenang tapi Brian tetap saja terkejut.
"Bagaimana bisa Anda tahu semua itu?"
Brian tersenyum miring.“Kamu … tidak bisa mundur sekarang, Connery.”Connery menggebrak meja dan langsung meninggalkan ruangannya. Pria itu tersadar sepenuhnya. Dia hanya dijadikan alat oleh Brian untuk menjebak keluarganya sendiri. Semuanya telah direncanakan dengan matang oleh pemuda itu. Dengan penuh amarah, dia pergi dari J-Company dan bergegas kembali ke J-House.Dia mengemasi barang-barangnya dan tanpa pamit meninggalkan J-House. Satu jam kemudian dia tiba di rumah ayahnya dan disambut dengan tatapan dingin Hector.“Sudah sadar?”Connery mendesah pelan. “Bukan saatnya untuk menyindirku. Sekarang yang penting, kita harus temukan cara untuk menggagalkan rencananya.”“Tidak bisa.” Alfred berujar sambil turun dari tangga.Connery menelan ludah, “Ayah, aku minta maaf. Aku sudah begitu bodoh. Aku-”“Itu sudah tidak penting lagi. Seperti katamu, yang harus kita lakukan sekarang adalah … membalikkan keadaan,” potong Alfred dengan tidak sabar.Connery mengangguk penuh rasa lega. “Ak
Alfred berbalik perlahan lalu menjawab, “Ya.”Hector mulai mengerti arah pembicaraan itu.Wajah Hector menegang. “Jadi … sebenarnya dia memang sengaja?”Alfred mengangguk tipis. “Dia ingin Connery menemukan semua itu”Hector mengepalkan tangan erat-erat. “Mengapa dia melakukan itu?”Alfred berkata dengan nada dingin, “Dia ingin kita jatuh di tangan Connery.”Suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.Hector menarik napas dalam. “Kalau begitu kita harus menghentikannya, Ayah.”Alfred terdiam sejenak, “Kita akan menemui Connery besok.”Esok paginya, mobil hitam milik Alfred berhenti di depan gedung utama J-Company. Dia datang bersama dengan Hector yang menampilkan ekspresi masam saat memasuki area gedung perusahaan besar itu.Langkah mereka cepat, penuh tujuan. Namun begitu mereka sampai di lantai tempat Connery bekerja, langkah mereka terhenti.Dua pria berbadan besar berdiri di depan pintu ruang kerja Connery. Tatapan mereka dingin, sikapnya tegas.Hector langsung melangkah maju. “A
“Tuan Muda, apa yang Anda perlukan sekarang? Apa saya perlu-”“Tidak, Joe. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau sudah mengerjakan bagianmu dan itu sudah cukup.”Joe Maiden mengangguk paham. Dia tahu dengan benar bahwa sang tuan muda pasti akan mencarinya jika dia memang memerlukan bantuannya. Jika saat ini dia belum diperlukan, maka dia akan menunggu.Satu minggu berikutnya, Brian Jones sudah melihat kinerja Connery, sang sepupu yang telah dia berikan sebuah tanggung jawab besar. Siang itu, lewat sebuah monitor di ruangannya, dia sedang menyaksikan Connery berdiri di depan meja panjang ruang rapat sedang memimpin sebuah rapat. Rapat itu membahas tentang proyek besar yang sedang ia tangani. Di sekelilingnya, beberapa staf khusus yang dipilih langsung oleh Brian duduk dengan ekspresi serius.Seorang wanita berambut pendek membuka tablet. “Tuan Connery, saya Elena. Saya ditugaskan khusus sebagai analis keuangan proyek ini.”Pria berkacamata di sebelahnya mengangguk. “Saya Rafael, bag
Brian pun naik ke lantai di mana Connery berada.Langkah kaki Brian terdengar mendekat, tenang dan terukur.“Maafkan aku, kau harus mendengar semuanya,” ucap Brian pelan.Connery tersenyum hambar tanpa menoleh. “Itu bukan salahmu, kenapa kau meminta maaf, Brian?Brian tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping sofa, menatap Connery dari atas dengan ekspresi yang sulit ditebak.“Mereka itu keluargamu, Connery. Mendengar mereka berbicara seperti itu, kau pasti ….”“Tidak masalah. Lagipula, aku jauh lebih mengenal mereka, Brian.”Brian terdiam.Tapi, kemudian dia bertanya, “Dan sekarang? Apa yang akan kau lakukan, Conery?Hening sejenak memenuhi ruangan.Connery menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Namun perlahan, genggaman itu mengendur. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. “Aku akan membuktikan jika mereka salah.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih kuat.Brian memperhatikan dengan seksama, matanya s
Brian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sikapnya santai namun sorot matanya tajam.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya pelan, menatap serius pamannya tanpa berkedip. “Kenapa kalian ingin berbicara dengan Connery?”Alfred mendengus, “Urusanku dengan putraku itu bukan urusanmu, Bocah Tengik.”Brian mendesah santai, “Kau … hanya ingin menahan Connery kan? Kalian tidak ingin Connery berkembang pesat?”Alfred tertawa kesal, “Menahan Connery agar dia tidak berkembang pesat? Kau pikir aku ini ayah yang picik?” Brian mengangkat alis sedikit. “Bukankah itu yang selalu kau lakukan?”Hector langsung melangkah maju satu langkah. “Jangan sok tahu soal keluarga kami, Brian! Kau bahkan baru mengenal Connery.”Brian tersenyum tipis. “Benarkah? Atau justru aku yang pertama kali benar-benar melihat kemampuannya?”Ucapan itu membuat Hector terdiam sejenak, lalu wajahnya mengeras seketika.“Omong kosong,” balasnya dingin. “Connery itu apa? Sejak kapan dia punya kemampuan yang
Hector mengepalkan tangan, luar biasa kesal. Dia masih menatap saudaranya yang sedang bersama dengan Brian. “Kau memang brengsek, Brian!”Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dengan cepat, berniat meninggalkan area gedung itu.“Connery … kau ini bodoh atau apa?” gumamnya lirih sebelum akhirnya benar-benar pergi dari area gedung.Sementara itu, di dalam mobil, suasana justru berbanding terbalik.Connery melirik Brian yang tampak santai sambil membaca surat kabar.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup tenang dan eksklusif. Begitu duduk, suasana menjadi jauh lebih santai.Connery menyandarkan tubuhnya sedikit. “Jujur saja … aku masih agak tidak percaya dengan semua ini.”“Yang mana?” tanya Brian sambil membuka menu.“Semua. Dari semalam sampai sekarang. Aku diusir, lalu tiba-tiba tinggal di J-House, dan sekarang … memegang proyek sebesar itu.”Brian mengangguk pelan. “Hidup memang sering tidak memberi kita waktu untuk beradaptasi.”Connery tersenyum tipi







