Share

Bab 3

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2026-02-08 19:17:29

Kejadian itu berlangsung dengan begitu cepat hingga Brian bahkan tidak sadar telah didorong oleh kakeknya ke arah kanan. Badannya sedikit terhuyung tapi dia selamat dari kejadian nahas itu.

Akan tetapi, kenyataan lain sangat mengguncangnya. Matanya menatap nanar tubuh sang kakek yang tertabrak mobil. 

"Kakek." Teriakannya terdengar  begitu memilukan.

Dengan begitu syok dia menghampiri sang kakek bersama dengan orang-orang yang ikut menolongnya. 

"Tolong kakek saya!" Ia kembali berteriak. 

Badannya gemetar hebat dan bahkan dia merasa kesadarannya sedang hilang entah ke mana saat dia melihat mobil ambulans datang dan mengangkut sang kakek.

Brian terlalu syok atas kejadian itu dan hanya terdiam kala para petugas medis mulai melakukan tindakan. 

Ketika mereka sampai di rumah sakit, Brian menatap kosong saat sang kakek dibawa ke dalam ruang gawat darurat. Namun, bersamaan dengan itu, seorang pria berusia empat puluh tahunan mendekati Brian dengan tatapan penuh rasa bersalah. 

"Tuan, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Saya tidak melihat Anda dan kakek Anda sedang menyeberang."

Brian pun menoleh ke arah orang itu dan seketika emosinya kembali naik, "Apa maksudmu tidak sengaja? Apa kau buta? Lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki."

"Maaf, Tuan. Saya sungguh tidak melihatnya dengan baik, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Pria itu memohon belas kasih.

"Maaf? Apa semudah itu kau meminta maaf setelah membuat kakekku berada di dalam sana?" Brian menunjuk ke arah ruang gawat darurat.

"Saya akan mengganti rugi semuanya. Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit, Tuan."

Brian malah semakin marah mendengar ucapan yang diucapkan dengan santai itu. 

"Kau pikir semua itu bisa mengembalikan kakekku dalam keadaan sehat seperti sebelumnya? Apa kau sudah kehilangan akal, Tuan?"

"Saya tahu tidak bisa tapi saya berjanji akan membiayai semua pengeluaran sampai kakek Anda sembuh seperti sebelumnya."

Brian hendak menjawab tapi tiba-tiba dia melihat seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat itu dan berjalan mendekatinya. Jantung Brian seketika berdegup dengan kencang di saat dia melihat ekspresi sang dokter. 

"Dengan keluarga Tuan York?"

"Ya, dokter. Saya Brian, cucunya." Napasnya mulai tidak beraturan dan hatinya begitu tidak tenang.

Sang dokter menghela napas panjang. "Maaf, kami sudah kehilangan beliau. Beliau mengalami pendarahan hebat di dalam otak. Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkannya."

Mendengar kata-kata dokter itu, Brian merasa jiwanya melayang meninggalkan tubuhnya. 

Sementara itu, pria yang mengaku telah menabrak Karl York itu ikut menjadi lemas dan bersandar pada kursi tunggu. 

Dengan bibir bergetar dia memberani diri untuk berkata. "Maafkan aku, Tuan. Aku turut berduka cita."

Brian mengepalkan tangan dan menoleh ke arah orang itu, "Kau harus pertanggung jawabkan perbuatanmu di kantor polisi."

Pria itu memucat tapi tak bisa berbuat apa-apa. Brian berjalan menuju telepon umum yang terletak tak jauh dari area itu dan segera menghubungi Larry Fern, salah satu orang yang dia anggap sebagai sahabat baiknya. 

"Larry, apa kau bisa ke WestCliff hospital sekarang?"

Dari seberang sana Larry mendengar Larry membalas, "WestCliff hospital? Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apa kau berkelahi? Lukamu parah?"

Brian memejamkan mata sejenak tapi segera membalas, "Tidak, tapi kakekku. Kakek kecelakaan dan sekarang telah meninggal. Larry, bantu aku mengurus pemakaman kakek. Tolong!"

Tak lama berselang, Larry datang ke rumah sakit itu dan kemudian membantu Brian untuk memulangkan Karl York ke rumah kecil mereka. 

Begitu mayat Karl itu tiba di kediaman mereka, Larry segera mengurus semuanya. Pria muda itu dibantu oleh ayahnya membantu Brian dan sama sekali belum bertanya tentang kejadian yang sebenarnya telah menimpa sang sahabat.

Tak ada satu pun tetangga mereka yang datang ke rumahnya. Brian sama sekali tidak heran akan hal itu. Para tetangga tidak terlalu menyukai kehadiran mereka karena dianggap mengganggu. 

Rumah yang Brian dan Karl tempati merupakan sebuah rumah kecil yang terletak di bagian ujung kompleks perumahan BrownLand. Pemilik tanah di area itu sebenarnya telah meminta Karl agar menjual rumahnya kepadanya tapi Karl York selalu menolak.

Padahal sang pemilik tanah di kawasan itu sudah berniat membangun menimarket di sana. Namun, gara-gara Karl bersikeras tak mau menjual rumahnya, maka dia tak bisa membangunnya. Hal itulah yang membuat Karl tidak disukai di daerah itu.

Akan tetapi, berbanding terbalik dengan para tetangga mereka, rekan kerja sang kakek yang berasal dari petugas permbersih jalan datang ke sana. Mereka menunjukkan rasa kehilangan yang begitu besar.

"Brian, Karl itu orang baik, banyak yang menyayanginya."

"Kalau kau butuh bantuan, kau bisa hubungi kami."

Seorang laki-laki tua duduk di samping Brian. "Karl itu kakek yang hebat, bukan?"

Brian mengangguk tanpa ragu. "Dia memberikan apapun untukku tapi ... aku belum bisa membalas semua kebaikannya."

"Kau hanya harus menjadi orang sukses, Brian. Itu akan membuat Karl senang."

Malam itu menjadi malam yang begitu panjang untuk Brian. Dia tak tidur hingga pagi.

"Brian, sudah waktunya kakekmu dimakamkan." Larry mengingatkan Brian.

"Oke."

Brian bangkit dan mempersilakan orang-orang untuk membawa peti jenazah Karl ke dalam mobil milik ayah Larry untuk diangkut menuju ke tempat pemakaman. 

Tempat pemakaman itu kebetulan tak jauh dari tempat tinggalnya sehingga perjalanannya tidak membutuhkan waktu yang lama.

Saat hendak dikuburkan, Brian terkejut dengan kedatangan orang yang tak ingin dilihatnya. "Apa yang dilakukan si brengsek itu di sini?"

Larry menoleh ke arah Brian. "Edward Stein? Oh, iya, kenapa dia bisa datang ke sini?"

Namun, ketika Brian melihat seorang laki-laki yang dia kenali sebagai orang yang telah menabrak kakeknya itu berdiri di samping Edward, seketika darah Brian mendidih. 

"Brian, kau mau ke mana?" Larry terkejut melihat Brian berlari menghampiri Edward.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Brian menatap galak Edward.

Pria muda itu melirik si penabrak yang hanya menunduk.

"Hei, Kawan, tenanglah! Aku hanya ikut menunjukkan bela sungkawaku kepadamu setelah sopirku ini menabrak kakekmu hingga tewas!"

"Apa? Orang ini sopirmu?" Brian luar biasa terkejut dan lantaran tak bisa mengendalikan diri lagi, dia pun akhirnya meninju Edward dengan sekuat tenaga.

"Kau pasti sengaja melakukannya. Jawab aku!"

Edward menyeka noda darah dari bibir bawahnya, "Hei, itu tuduhan yang serius. Kau bisa terkena masalah, Jones."

Brian pun kembali melancarkan serangan lagi tapi kali ini Edward berhasil menghindar. "Dasar tidak tahu diri! Aku sudah berbaik hati datang ke sini tapi kau malah menuduhku sembarangan. Hajar dia!"

Orang-orang begitu terkejut. Kekacauan itu membuat mereka kabur karena tak mau terlibat. 

Apa lagi, mereka tahu anak muda itu merupakan orang kaya yang bisa melakukan apa saja. Hanya Larry dan ayahnya, Michael saja yang masih ada di sana. Keduanya berusaha menolong Brian tapi gagal karena diseret paksa menjauh.

Brian dipukuli hingga kehilangan setengah kesadarannya. 

Sayup-sayup dia mendengar Edward berkata, "Heh, miskin. Makanya jangan sesekali berani memukulku. Sekali kau pukul aku, aku akan membalas ratusan kali."

Edward tertawa mengejek sebelum memerintahkan anak buahnya, "Ayo pergi dari sini!"

Brian kehilangan kesadarannya secara penuh. Ketika dia kembali membuka mata, dia sadar jika dirinya telah berada di ruangan asing yang tidak dikenal.

Ia bangkit dengan segera dan melihat sosok laki-laki tua duduk di kursi roda dengan selang infus. Pria itu tampak begitu lemah.

"Brian, bagaimana keadaanmu?"

"Kau siapa? Kenapa aku bisa berada di sini?"

Pria tua itu tersenyum lemah, "Simon Jones. Kakek kandungmu."

"Jones? Kakek kandungku?" Mata Brian melotot.

Simon yang begitu lemah mengangguk, "Dengar, aku rasa waktuku tidak akan lama lagi. Jadi, dengarkan aku baik-baik. Aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Dan satu hal lagi, maaf jika aku tidak tahu diri. Kelolalah semua asetku."

"Apa maksud Anda?" Brian masih belum bisa memahami.

"Joe Maiden, dia ... yang akan menjelaskan segalanya dan ingat, Brian. Hanya dia orang yang bisa kau percaya!" 

Setelah mengatakan hal itu, Simon semakin lemah dan kehilangan kesadaran.

Brian syok kembali. "Dokter! Perawat! Siapa saja tolong!" 

Brian lalu melihat pria aneh yang mengaku sebagai kakek kandungnya itu dibawa oleh orang-orang. Dia pun masih duduk dengan linglung di tempat tidurnya.

Sekitar beberapa menit berlalu, seseorang kembali ke ruangannya. "Tuan Jones sudah meninggal dunia, Tuan Muda."

Brian tak bisa menahan keterkejutannya. "Orang tadi meninggal? Dan siapa kau dan kenapa kau memanggilku 'Tuan Muda'?"

"Saya Joe Maiden, sekretaris Tuan Jones. Tentu saja saya memanggil begitu karena Anda adalah cucu kandung Tuan Jones."

"Tunggu dulu! Kau pasti salah besar. Aku ... tidak mungkin menjadi cucu orang itu tadi. Kau pasti salah sangka."

Joe Maiden memasang ekspresi tenang. "Nama belakang Anda adalah 'Jones', bukan?"

"Itu tetap tidak menjelaskan aku bisa menjadi cucunya. Marga 'Jones' itu marga yang umum."

"Karl York adalah kakek angkat Anda. Anda sebelumnya diadopsi dari panti asuhan. Apakah saya benar?" Joe mengatakannya dengan tenang tapi Brian tetap saja terkejut.

"Bagaimana bisa Anda tahu semua itu?" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 10

    "Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 9

    Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 8

    Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 7

    Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 6

    Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 5

    "Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status