LOGIN"Tentu saja saya tahu, Tuan Muda."
Brian tidak suka dipanggil dengan sebutan itu tapi perhatiannya kini masih berpusat kepada bagaimana orang yang berdiri tak jauh darinya ini bisa mengetahui fakta-fakta yang tak banyak orang tahu itu.
"Tuan Muda, izinkan saya menjelaskan secara singkat." Joe Maiden pun mulai bercerita dan Brian mendengarkan dengan seksama.
Sekitar dua puluh satu tahun yang lalu, Marco Jones, ayah Brian yang merupakan seorang dokter bedah menikahi Beatrice Hoult yang juga sama-sama berprofesi sebagai seorang dokter. Simon Jones amat sangat bahagia dengan pernikahan putra tunggalnya itu.
Namun, suatu ketika Simon meminta Marco untuk berhenti bekerja menjadi seorang dokter dan melanjutkan bisnisnya. Akan tetapi, Marco menolak keinginan sang ayah dan pertengkaran besar pun terjadi.
Marco memilih meninggalkan rumah keluarga Jones dan hidup berdua bersama dengan Beatrice di luar kota. Saat itu, Simon tidak tahu jika Beatrice tengah mengandung cucunya.
Dikarenakan tersinggung atas sikap pilihan putranya, Simon tak pernah mencari keberadaan putra satu-satunya itu dan tak pernah mendapatkan kabar apapun.
Dia hidup sendirian seolah tak memiliki putra lagi dan hanya memusatkan hidupnya dengan mengelola kerajaan bisnis miliknya yang semakin tumbuh pesat.
J-Corporation yang kini menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.
Beberapa bulan kemudian setelah kepergian sang putra, Simon baru menerima kabar jika putranya telah meninggal dunia bersama dengan istrinya dalam sebuah kecelakaan maut.
"Saat itu, Tuan Besar belum mengetahui perihal kelahiran Anda dan Anda yang dititipkan di panti asuhan. Tuan baru mengetahui hal itu hanya sekitar tiga hari yang lalu ketika Karl York, orang yang mengadopsi Anda mendatangi kami dan menceritakan segalanya."
Brian terbengong-bengong. Karl York, sang kakek ternyata mengetahui semua itu? Tapi, bagaimana bisa dia merahasiakan itu darinya? Brian tak mengerti.
"Kau sedang bercanda? Itu terdengar seperti cerita dalam karangan novel."
Brian menggelengkan kepala, sulit mempercayai perkataan Joe Maiden.
Joe Maiden sudah menduga sang tuan muda tidak akan mudah percaya dan segera membawakan bukti berupa rekaman percakapan antara Karl York dan Simon Jones serta foto-foto milik mendiang ayahnya.
Dari rekaman tersebut begitu jelas terdengar jika ternyata memang dirinya adalah cucu dari Simon Jones. Joe Maiden mematikan rekaman panggilan itu.
"Apa Anda sudah percaya atas apa yang saya katakan, Tuan Muda?"
Brian terdiam sejenak, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Dia sadar dia tidak bisa menghindar, "Aku mau tes DNA."
Joe Maiden hampir saja tak tersedak oleh air liurnya sendiri saat dia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Brian Jones. Sama sekali tak pernah menduga cucu bosnya itu akan meminta hal itu.
"Bukankah semua harus dipastikan dulu?" Brian menatap ke arah Joe dengan tatapan serius.
Joe sadar bila dia tak memiliki pilihan lain, "Baiklah, Tuan Muda. Kita bisa melakukan tes DNA."
Brian mengangguk puas.
"Tapi, Tuan Muda. Sebelum itu, tentang pemakaman Tuan Jones." Joe Maiden menatap Brian dengan penuh harap.
Brian menghela napas, "Tidak pernah aku bayangkan aku akan menggelar dua acara pemakaman dalam hari yang sama."
Joe menganggap perkataan Brian tersebut sebagai sebuah persetujuan sehingga dia pun berkata perlahan, "Mari saya antar ke kamar Anda, Tuan Muda."
Brian seketika mengedarkan pandangan ke arah sekeliling kamarnya. "Memangnya ini di mana?"
"Ini adalah klinik pribadi Tuan Simon yang terletak di lantai 6 di J-House, Tuan Muda."
"Klinik pribadi? Semacam rumah sakit kecil, begitu?"
"Benar, Tuan Muda."
Brian hampir saja tak sanggup bernapas. Ruangan yang dia tempati saat ini benar-benar sangat mewah dan tak tampak seperti kamar di sebuah klinik, justru mirip kamar hotel berfasilitas lengkap.
Tunggu dulu, tadi dia bilang lantai 6? Memang ada berapa lantai di sini? Brian membatin.
Melihat kebingungan yang tampak di wajah tampan Brian, Joe segera mulai menjelaskan, "J-House memiliki 10 lantai, Tuan Muda. Lantai 1 hingga 5 adalah area yang bisa dikunjungi oleh orang luar, sedangkan lantai 6 hingga 10 adalah area pribadi Tuan Simon. Tidak ada yang boleh diizinkan memasuki area tersebut."
Brian manggut-manggut, mulai mengerti. Tapi meskipun begitu, ia masih sulit mempercayai semuanya. Foto yang ditunjukkan oleh Joe Maiden memanglah foto ayahnya, itu sudah pasti. Tapi, entah bagaimana dia masih tidak yakin. Dia bukan meragukan ayah ibunya. Dia hanya saja tidak tahu harus bagaimana bereaksi.
Brian berdeham kecil. "Aku akan kau bawa ke mana?"
"Lantai 7, Tuan Muda. Itu adalah area pribadi Anda yang telah disiapkan oleh Tuan Simon."
"Disiapkan oleh Tuan Simon?" ulang Brian, masih belum bisa memanggil orang kaya itu dengan sebutan 'Kakek'.
"Ya, Tuan Muda."
Brian mengangguk kecil dan akhirnya mengikuti pria itu tanpa bertanya lagi. Bahkan, ketika dia sampai di lantai yang dimaksud, Brian masih tidak bisa bersikap normal.
Dia berulang kali berujar pada dirinya sendiri dalam hati, "Ini pasti hanya mimpi."
Namun, dia sadar semua kejadian itu terasa begitu nyata sehingga tidak mungkin bila itu mimpi. Bahkan, di kala Brian telah selesai didandani dengan mengenakan setelan jas hitam mewah yang anehnya ukurannya pas di badannya, dia masih memandang heran dirinya dalam pantulan cermin.
Saat dia sedang merogoh sakunya, tiba-tiba saja dia mendapatkan sebuah kertas berukulan kecil. Dengan kening berkerut, dia membaca, "Aku memesan jas ini secara khusus untukmu agar bisa kau kenakan di acara pemakamanku."
Brian melotot kaget hingga kertas itu terbang jatuh dari tangannya.
"Apa maksud orang tua itu? Yang benar saja."
Jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya melihat surat aneh dari orang yang mungkin adalah kakek kandungnya itu.
"Dia sangat mengerikan. Apa ini alasan ayah meninggalkan dia?" Brian bergumam dengan masih berdiri.
Sekitar satu jam kemudian, dia pun telah siap dan sekali lagi menggelar acara pemakaman di area pemakaman yang terletak tak jauh dari J-House.
"Kenapa di sini hanya ada beberapa makam saja?" Brian tidak bisa menutupi keheranannya usai menyelesaikan prosesi pemakaman bagi Simon Jones yang dilakukan secara privat. Yang berada di pemakaman itu hanya Brian, Joe, dan beberapa pengawal yang bertugas menjaga keamanan acara itu.
"Ini adalah pemakaman khusus keluarga Jones, sehingga hanya keluarga Jones saja yang ada di sini, Tuan Muda."
Brian menyipitkan mata.
Joe segera menambahkan, "Tuan Marco dan Nyonya Beatrice juga memiliki tempat di sini."
"Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tahu di mana ayah ibuku dimakamkan."
Joe mengulas sebuah senyum. "Pemakaman yang Anda ketahui itu bukan makam asli ayah ibu Anda, Tuan Muda."
"Apa maksudmu?" Brian terkejut.
"Tuan Simon sudah memindahkannya begitu beliau mengetahuinya."
Brian melirik ke arah makam kakeknya dan merasa kesal. Tapi, bagaimana pun juga memiliki kekesalan terhadap orang yang sudah tidak ada di dunia ini itu sia-sia. Brian pun akhirnya mencoba tidak terlalu memikirkannya.
Tak mau membuat Brian menjadi kesal, Joe membawanya ke bagian makam orang tuanya yang letaknya dekat dengan makam bibi dan pamannya.
"Bukankah ayahku tidak memiliki saudara?"
"Mereka adalah sepupu dari Tuan Marco, Tuan Muda."
Brian mengangguk paham dan kini berdiam sebentar di depan makam orang tuanya. Setelah sepuluh menit berlalu, dia membalikkan badan dan berjalan bersama dengan Joe.
"Tuan Muda, satu jam lagi kami akan mengumumkan kematian Tuan Simon, apakah Anda bersedia-"
"Diumumkan di mana?" Brian bertanya bingung.
"Pers, Tuan Muda. Tuan Simon adalah salah satu pengusaha terkaya di dunia. Kami perlu membuat sebuah pengumuman kematian beliau sekaligus mengumumkan kembalinya Anda. sebagai pewaris tunggal Tuan Simon."
Wajah Brian mendadak memucat, "Di depan wartawan? Oh, tidak. Aku tidak bisa."
"Tapi, Tuan Muda-"
"Lagi pula, aku belum melalukan tes DNA itu. Aku tidak akan berbuat apa-apa."
Joe mulai kebingungan. "Tuan Muda, kalau tidak diumumkan, bisa terjadi kekacauan. Perusahaan ini bisa menjadi rebutan."
Brian menelan ludah. "Kau hanya sedang menakut-nakutiku saja kan?"
"Tidak, Tuan Muda. Ada begitu banyak orang yang ingin mengambil alih perusahaan milik Tuan Simon. Inilah alasan Tuan Simon agar segera membawa Anda ke mari, beliau ingin ahli waris yang resmi menggantikannya."
Brian menimbang-nimbang. "Baiklah, aku punya ide. Apakah kau mau mendengarkan aku?"
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







