แชร์

Bab 7 – Tingkat Kultivasi

ผู้เขียน: Gekko
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 15:50:07

'Apa aku bisa lolos darinya?' Zhu Pei terus memikirkan cara untuk melepaskan diri dari kutukan itu. Dia tak mau berurusan dengan orang seperti Zhang Liu.

Tapi Zhu Pei hanya diam dan tetap menuruti perintah Zhang Liu. Mereka menggali tanah dan menguburkan mayat-mayat anggota sekte Dianyu.

Dan terakhir, Zhang Liu membaringkan mayat Ketua Sekte, Yuan Bo. Dia menyimpan pedang milik gurunya sebagai kenangan terakhir. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh di makam mereka.

'Guru, dan semua senior. Maaf karena hanya aku yang selamat. Tapi aku janji, akan membalaskan dendam atas kematian kalian.'

Setelah beberapa saat hening, Zhang Liu berdiri. Wajahnya kembali datar dan dingin.

"Kita pergi."

"Ke mana?" tanya Zhu Pei, berusaha tidak terdengar terlalu penasaran.

"Kita mencari bahan yang kubutuhkan," kata Zhang Liu, mengulang informasi yang Hui Shen beritahu dalam kepalanya. "Pucuk Bunga Lili Hitam, dan Darah Burung Gagak Betina."

Zhu Pei mengerutkan kening. "Pucuk Bunga Lili Hitam itu langka, biasanya hanya ada di pelelangan khusus. Darah Burung Gagak Betina, itu lebih sulit lagi. Bagaimana kita bisa tahu mana yang jantan mana betina?!"

"Kita cari saja," kata Zhang Liu singkat lalu berjalan lebih dulu.

Zhu Pei menyinyir sebal, dan tetap mengikutinya. "Tapi apa kita akan berjalan? Kenapa tidak terbang saja menggunakan pedang?"

Zhang Liu berhenti melangkah, baru teringat. Dia belum bisa menaiki pedang untuk terbang. Inti jiwanya baru terbentuk, itu pun inti jiwa aneh yang bukan milik kultivator biasa.

"Jangan-jangan kau belum bisa menerbangkan pedang?" tebak Zhu Pei melihat pria di sampingnya diam saja.

Dengan ragu, Zhang Liu mengangguk pelan dan menjawab. “Aku baru tingkat Qi Condensation.”

Seketika Zhu Pei menepuk jidat, dalam hati berteriak kesal. 'Aku dikalahkan oleh orang yang dua tingkat di bawahku?!'

"Memangnya kau sendiri tingkat apa?" tanya Zhang Liu.

Zhu Pei menoleh, lalu dengan sombong dia menaikkan dagunya. "Aku tingkat ketiga, Nascent Soul.”

Zhang Liu mengangguk pelan. Dia jauh lebih lemah dari pencuri di depannya ini. Tingkat kultivasi di benua Suo Mozhi ini dibagi menjadi sepuluh tingkat.

Tingkat pertama sampai yang terakhir: Qi Condensation, Core Formation, Nascent Soul, Soul Harmony, Deity Transformation, Dao Integration, Immortal Emperor, Great Deity, Paramount Immortal, Ancestor.

Tapi sebelum itu, untuk menjadi kultivator, pertama-tama harus menempa tubuh dan penyucian tulang sumsum. Setelahnya baru bisa memulai mengumpulkan energi qi, menjadi kultivator tingkat pertama.

Ada rumor mengatakan jika seseorang telah melewati tingkat Ancestor, dia bisa naik ke alam atas menjadi dewa. Tapi sampai saat ini hal itu masih belum terbukti. Hanya terhitung jari orang yang mencapai tingkat 10 di dunia ini.

"Kalau begitu kita berjalan saja menaiki perahu," usul Zhu Pei akhirnya memutuskan.

Zhang Liu mengangguk setuju. Dia pun menunjukkan jalan ke pesisir pulau, terdapat sebuah dermaga kecil dan sebuah perahu. Keduanya segera naik dan pergi meninggalkan pulau.

Zhang Liu menatap dari kejauhan. Kini ia harus pergi dari tempatnya dibesarkan. Sekte Dianyu hanya ada di sebuah pulau terpencil, tapi cukup banyak dihuni orang-orang karena tempatnya yang asri dan tenang.

Sedangkan Zhu Pei, dia bersusah payah mengayuh perahu seorang diri.

"Hei, setidaknya bantu aku mengayuh! Kau benar-benar memperlakukanku seperti kacungku!" protesnya kesal.

Zhang Liu menoleh ke arahnya, dan berpikir sejenak. "Kacung? Sepertinya itu ide bagus. Kau kacungku mulai sekarang."

Zhu Pei mengepalkan tangan, urat lehernya menegang. Dia semakin emosi, tapi tak bisa membalas apa pun. Dia mencoba menahannya untuk saat ini.

Zhang Liu tak mempedulikan wajah kesal Zhu Pei di depannya. Dia memilih memejamkan mata dan bermeditasi sejenak. Dalam lautan batinnya yang luas, terasa sedikit bergemuruh karena perdebatan dua sosok legendaris yang masih bertengkar.

"Bocah ini harus mewarisi kekuatanku!" geram Hun Mo, tanduknya mencuat semakin tinggi dan tajam.

Hui Shen, dengan cahaya keemasannya bergetar tenang. "Kau tidak bisa memaksakan kehendak orang lain. Dia juga bisa mewarisi kekuatanku."

Hun Mo tertawa hambar. Satu jarinya menunjuk dengan kasar pada Hui Shen.

"Para pengikutmu itu sudah membunuh gurunya!" Hun Mo kemudian menoleh, menatap lurus pada Zhang Liu. "Kau membencinya, kan? Pengikut dewa sialan itu yang memusnahkan sektermu!"

Zhang Liu semakin tak tahan dengan suara-suara dan tekanan dua kekuatan itu. Inti jiwanya bergetar. Sampai akhirnya Zhang Liu berteriak lantang. "Tolong hentikan!"

Lautan batin yang bergemuruh perlahan tenang. Dua sosok di depannya pun berhenti berdebat. Zhang Liu menarik napas, mencoba berpikir dengan kepala dingin.

"Aku tidak bisa memilih saat ini. Tapi jika aku memilih salah satu, apa yang akan terjadi? Bukankah Jantung Duality itu satu kesatuan yang utuh?"

Sosok dua cahaya berlawanan itu terdiam sejenak, mereka saling menatap. Dan belum sempat mendengar jawaban, tiba-tiba perahu yang Zhang Liu tumpangi berhoyang hebat.

Zhang Liu membuka matanya dan tersentak. Hanya ada dirinya seorang di atas perahu. Dia mendongak, mendapati Zhu Pei kini terbang di atas pedangnya.

"Sampai nanti, tuan. Jika kau memang kuat, pewaris dua kekuatan legendaris itu, seharusnya bisa mengatasi ular di bawah kakimu," seru Zhu Pei dengan nada mengejek.

Setelah mengatakannya itu, Zhu Pei terbang menjauh, meninggalkan Zhang Liu sendirian di atas perahu. Dia sengaja melewati jalur itu untuk menjebak Zhang Liu.

Awalnya Zhu Pei takut dengan dua sosok di belakang Zhang Liu. Tapi setelah mendengar tingkat kultivasi Zhang Liu, Zhu Pei jadi ragu dengan kutukan di lehernya. Mungkin saja pria itu hanya membual.

Zhang Liu kini menunduk. Di sekitarnya, kini muncul sosok ular besar yang mengelilingi. Terdapat sisik tebal dan tanduk di kepalanya. Itu adalah ular sisik naga, salah satu penghuni wilayah laut Qishe.

"Aku tidak akan membantumu kali ini, bocah," celetuk Hun Mo di tengah ketegangan Zhang Liu. Bibirnya menyeringai jahat. "Jika kau mati, aku bisa menguasai tubuhmu sepenuhnya."

Gekko

Mohon maaf ada sedikit kesalahan di tingkat kultivasi, ternyata tingkat terakhir ketinggalan.

| 3
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 118 — Dilamar

    "Sekte iblis lagi," kata Jing Ling, suaranya terdengar lelah. "Kapan mereka akan berhenti?"Zhu Mei hanya bisa mendengus sambil melipat kedua lengannya."Pria ini beruntung bertemu Zhang Liu."Jing Ling mengangguk setuju. Sampai tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela.Tok! Tok!Mereka menoleh. Seekor burung merpati putih berdiri di ambang jendela, di kakinya terikat sebuah gulungan kertas kecil."Sepertinya itu dari bawahanku. Aku pergi dulu," ucap Jing Ling sambil menepuk pundak Zhu Mei.Jing Ling meraih burung itu, melepas gulungan kertas, lalu pergi membacanya."Zhu Mei, tolong jaga pria ini sampai aku kembali," perintahnya tanpa menoleh. Dia masih fokus pada burung di tangannya.Zhu Mei mengernyit, wajahnya malas. "Kenapa aku?""Karena kau yang paling menganggur sekarang," kata Jing Ling sambil menyeringai."Kurang ajar," gerutu Zhu Mei, tapi ia tidak menolak.Jing Ling keluar dari ruangan, kembali fokus pada kertas yang ia buka.Zhu Mei melirik pria asing di ranjang, lalu mengh

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 117 — Tuan Muda dari Fanghan

    Sementara itu, di kejauhan, Zhang Liu dan Zhu Mei terus berjalan. Perlahan. Tergesa-gesa. Tidak berani berhenti meskipun napas mereka tersengal-sengal. Zhu Mei masih membawa pria besar itu di pundaknya. Tubuh pria itu hampir dua kali lipat berat badannya. Zhang Liu melihatnya. Meskipun tubuhnya sendiri terasa seperti mau hancur, dia masih berusaha membantu. Tangan Zhang Liu yang tidak melukai perut digunakan untuk menyentuh lengan pria asing itu—bukan untuk menggendong, tapi untuk mengalirkan sedikit energi penyembuhan. "Biarkan aku saja," kata Zhu Mei tanpa menoleh. Suaranya terdengar lelah. "Kau fokus sembuhkan dirimu sendiri. Repot sekali." Zhang Liu tersenyum tipis di belakangnya. "Tidak apa-apa. Kau pasti kesulitan karena tinggi badanmu yang berbeda." Zhu Mei berhenti melangkah. Dia menoleh ke belakang, wajahnya merah padam—bukan karena lelah, tapi karena marah. "Kau kira aku pendek?!" Zhang Liu mengerjap. Dia tidak menyangka kalimatnya akan ditafsirkan seperti itu. "Maks

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 116 — Diincar

    "Diam," balas Hui Shen pelan. "Dia sedang belajar."Zhang Liu tidak mendengar mereka. Pikirannya fokus untuk bisa memberikan serangan yang lebih besar pada lawannya.Pedang Tanduk Hitam di tangan kanannya berdenyut. Tongkat Suci di tangan kirinya berdenyut.Sriing!Cahaya putih keemasan dan hitam kebiruan meletus dari kedua senjata itu bersamaan. Gelombang kekuatan menyebar ke segala arah.Pohon-pohon di radius lima puluh meter bergoyang keras, dahan-dahan patah, daun-daun beterbangan seperti badai kecil. Tanah di bawah kaki Zhang Liu retak-retak, membentuk lingkaran dengan dirinya sebagai pusatnya.Dan yang paling penting—Gerombolan harimau putih itu berhenti.Mereka tidak bergerak, tidak mengaum, dan hanya berdiri di tempat mereka masing-masing, kaki-kaki besar mereka terpaku di tanah.Mata biru keperakan mereka menatap Zhang Liu dengan ekspresi yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya, mereka ragu.Hun Mo berseru dalam kepala Zhang Liu. "Ini saatnya. Bunuh mereka semua."Tapi Hui S

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 115 — Serangan Gerombolan Harimau Putih

    Zhang Liu dan Zhu Mei masih berdiri di tempat mereka, saling pandang dengan wajah yang berubah tegang. Dari balik pepohonan di sebelah barat, sosok-sosok besar mulai bermunculan satu per satu.Tubuh mereka semua sama besarnya dengan harimau yang baru saja dikalahkan Zhang Liu.Yang berjalan di depan adalah yang terbesar di antara mereka. Tingginya hampir setengah kepala lebih tinggi dari yang lain. Di wajahnya, ada bekas luka panjang dari pangkal hidung hingga ke pipi kanan, membuatnya terlihat lebih ganas dan mengerikan.Mata pemimpin harimau itu menatap Zhang Liu. Lalu pandangannya turun ke tangan Zhang Liu—ke tulang putih kecil yang masih digenggamnya."Grrh." Harimau itu mengeram.Itu adalah bau darah saudara mereka yang baru saja mati. Pemimpin harimau itu mengendus udara."GROOOA!"Raungan pemimpin harimau itu mengguncang seluruh lembah. Daun-daun berguguran dari pohon-pohon di sekitar. Air sungai di kejauhan bergetar, gelombang kecil naik turun seperti air mendidih.Tanah di ba

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 114 — Balik Diincar

    Zhu Mei berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras."Harimau putih? Itu binatang roh tingkat tinggi!" serunya, wajahnya berubah panik. "Dia gila, ya? Hanya pergi sendirian?"Jing Ling membalas dengan santai. "Biarkan saja. Dia orang yang sangat kuat."Zhu Mei mendengus kasar. Bukan itu yang membuatnya khawatir."Kau tidak mengerti," katanya cepat. "Bukan soal dia kalah atau menang. Tapi jika dia membunuh satu harimau putih, kelompoknya yang lain akan memburunya. Mereka tidak tinggal diam jika salah satu dari mereka mati. Kita semua juga bisa terkena masalah."Tanpa menunggu jawaban, Zhu Mei melesat keluar dari dapur. Langkah kakinya cepat, hampir berlari, melewati lorong dan keluar dari markas.Jing Ling menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, lalu menghela napas pelan."Kita? Katakan saja kau yang khawatir padanya," gumam Jing Ling sambil tersenyum kecil.Xue Lun yang dari tadi makan dalam diam, akhirnya bersuara."Dia menyukai Zhang Liu, kan?" ka

  • Pewaris Pusaka Dewa Iblis   Bab 113 — Penyamaranku Gagal, Ya?

    Xue Lun melangkah masuk ke markas. Langkahnya santai, seperti sedang berjalan-jalan di rumahnya sendiri, bukan di tempat asing yang baru pertama kali dia kunjungi.Tatapan Xue Lun menyapu seluruh ruangan. Dari dinding kayu yang masih menyisakan serpihan-serpihan kecil. Hingga langit-langit ilalang yang sedikit reyot di beberapa bagian, perabot sederhana yang Jing Ling tata dengan cukup rapi."Rumah kayu," komentarnya datar. "Tidak terlalu buruk. Setidaknya tidak bocor."Jing Ling yang berjalan di belakangnya menghela napas. "Kau bisa saja bilang 'terima kasih sudah menyambutku', tahu.""Kenapa harus bilang begitu? Aku diundang. Bukan meminta izin."Jing Ling menggeleng. "Sifatmu benar-benar tidak pernah berubah."Jing Ling kemudian menunjuk ke lorong di sisi kirinya."Taruh saja barang-barangmu di samping kamarku di sana," kata Jing Ling sambil menunjuk. "Kamar kosong di ujung lorong. Seprai dan bantal sudah ada. Jangan berantakan, ya."Xue Lun mengangguk tanpa banyak bicara, lalu me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status