LOGIN"Jangan dengarkan dia! Bunuh mereka semua!" Hun Mo meraung, memerintahkan hal sebaliknya.
Tapi tubuh Zhang Liu sendiri yang memutuskan. Dia membaringkan tubuh gurunya perlahan. Tubuhnya sedikit gemetar, mendorongnya untuk berdiri.
"Maafkan aku, Guru. Aku pasti akan membalaskan dendam sekte kita."
Dengan sisa kekuatan, Zhang Liu melesat meninggalkan tempat itu secepatnya. Kakinya membawanya menuju bukit kecil di pinggiran sekte. Setiap langkah adalah siksaan. Setiap tarikan napas seperti mengisap pecahan kaca.
Kekuatan mengerikan yang Zhang Liu gunakan tadi seperti racun yang menggerogoti dari dalam. Pembuluh darahnya terasa terbakar. Otot-ototnya menegang dan hampir robek.
Zhang Liu mencapai balik bukit, tersembunyi dari pandangan. Di sini, bau api dan darah sudah tidak terlalu kuat. Hanya ada bau tanah dan daun basah.
Zhang Liu tidak bisa lagi menahannya. Kekuatannya habis. Dia terjatuh di antara semak-semak. Pandangannya mengabur, berubah menjadi kegelapan. Di ambang ketidaksadaran, dua suara terakhir bergema di kepalanya.
"Sialan! Seharusnya tubuh ini jadi milikku!" suara berat Hun Mo kembali terdengar, penuh penekanan yang menyeramkan.
Tapi seolah mengimbangi gema kemarahan itu, suara lain yang terasa suci menenangkan tubuh Zhang Liu yang kesakitan.
"Tidurlah, pewarisku. Perjalananmu masih sangat panjang."
Tidak lama setelahnya, semak-semak di sisi lain bukit bergerak. Sepasang mata waspada mengintip. Ia kemudian melihat tubuh pria yang terkoyak dan tak bergerak di atas tanah.
"Wah, ada mayat?" gumamnya terkejut.
Pemilik suara itu melangkah keluar. Seorang pemuda dengan pakaian sederhana. Di tas pinggangnya, tergantung beberapa kantong kecil dan botol kaca berisi cairan aneh.
Dia mendekat dengan hati-hati, dan menyadari Zhang Liu bukanlah mayat.
"Astaga, dia masih hidup!" pria itu langsung mengeluarkan alat dalam tasnya lalu mengobati Zhang Liu. Tangannya sangat cekatan, terlihat sangat terampil.
Tubuh Zhang Liu kini terlilit perban dan terlihat lebih baik dari sebelumnya yang penuh darah. Pria yang menolongnya kini mengumpulkan ranting-ranting lalu membuat api unggun.
Sedangkan Zhang Liu, di alam kesadarannya yang gelap. Dia melihat dua cahaya merah menyala dan emas suci. Mereka berputar dan saling tarik-menarik di dalam inti jiwanya yang baru terbentuk.
Aliran energi yang aneh. Bukan Qi murni yang Zhang Liu kenal. Tapi kini memenuhi setiap saluran meridiannya yang sebelumnya masih tertutup.
Apa aku punya inti jiwa sekarang? Tapi ini, bukan inti jiwa biasa, gumam Zhang Liu dalam hati, takjub sekaligus was-was.
Dua cahaya merah dan emas di atas Zhang Liu perlahan membentuk dua sosok.
Yang satu berupa seorang raksasa dengan tanduk dan mata menyala, Hun Mo. Yang satunya lagi adalah sosok dewa yang bersinar dengan aura suci yang menenteramkan, Hui Shen.
Keduanya tidak saling serang, tetapi juga tidak bersatu. Mereka seperti dua matahari yang saling mengitari di langit jiwa Zhang Liu.
"Bodoh! Menerima warisan dariku tapi malah kabur! Dengan kekuatanku, kau bisa membantai mereka semua saat itu juga!" hardik suara Hun Mo, bergema di seluruh ruang kesadaran.
"Kekerasan buta hanya akan menguburmu bersama musuh, Hun Mo," sahut suara Hui Shen, lembut namun berwibawa. "Dia memilih hidup. Untuk membangun kembali. Itu adalah kebijaksanaan."
Hun Mo menyilangkan kedua lengannya. "Kebijaksanaan? Cih! Itu namanya pengecut!"
Hui Shen hanya bisa menggelengkan kepala, lelah berdebat dengannya.
Zhang Liu, yang kini sadar sebagai kesadaran di ruang ini, memberanikan diri bertanya. "Apa maksud kalian? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
Hun Mo mendengus tapi tetap menjawab. "Kau menyerap kekuatan dan warisan pengetahuan kami dari Jantung Duality. Kau sekarang bukan manusia biasa lagi, bocah. Kau adalah wadah bagi dua kekuatan legendaris."
Zhang Liu membelalak kaget dan baru paham yang sebelumnya terjadi. "Jadi, kau yang memberiku kekuatan hebat sebelumnya?"
Hun Mo menyunggingkan senyuman menyeringai. Dagunya terangkat angkuh.
"Benar. Hebat, kan? Itu hanya sedikit dari kekuatan seorang Raja Iblis."
Zhang Liu kembali terkejut mendengar kalimat terakhir Hun Mo. Dia bergumam pada dirinya sendiri. 'R-Raja Iblis? Aku berhadapan dengan Raja Iblis sekarang?'
Dan seakan bisa membaca apa yang dipikirkan Zhang Liu, sosok bercahaya di samping Hun Mo akhirnya angkat bicara.
"Tidak perlu takut, Zhang Liu. Aku selalu ada di dekatnya untuk menahan kegilaannya itu."
"Diam kau, dewa sialan!" umpat Hun Mo dengan nada kesal.
Hui Shen mengabaikannya, seolah sudah terbiasa. Dia lebih fokus berbicara pada Zhang Liu. Dia menjelaskan dengan penuh kelembutan.
"Nak, kau satu-satunya orang yang bisa menampung dan menggunakan kekuatan kami. Tapi tubuhmu masih sangat lemah. Dan itu bisa membunuhmu kapan saja."
Zhang Liu membelalak, syok. Wajahnya sedikit gelisah.
"Lalu, bagaimana? Aku tidak mau mati. Aku masih harus membalaskan dendam sekteku yang dihancurkan."
"Sekte iblis lagi," kata Jing Ling, suaranya terdengar lelah. "Kapan mereka akan berhenti?"Zhu Mei hanya bisa mendengus sambil melipat kedua lengannya."Pria ini beruntung bertemu Zhang Liu."Jing Ling mengangguk setuju. Sampai tiba-tiba terdengar ketukan dari jendela.Tok! Tok!Mereka menoleh. Seekor burung merpati putih berdiri di ambang jendela, di kakinya terikat sebuah gulungan kertas kecil."Sepertinya itu dari bawahanku. Aku pergi dulu," ucap Jing Ling sambil menepuk pundak Zhu Mei.Jing Ling meraih burung itu, melepas gulungan kertas, lalu pergi membacanya."Zhu Mei, tolong jaga pria ini sampai aku kembali," perintahnya tanpa menoleh. Dia masih fokus pada burung di tangannya.Zhu Mei mengernyit, wajahnya malas. "Kenapa aku?""Karena kau yang paling menganggur sekarang," kata Jing Ling sambil menyeringai."Kurang ajar," gerutu Zhu Mei, tapi ia tidak menolak.Jing Ling keluar dari ruangan, kembali fokus pada kertas yang ia buka.Zhu Mei melirik pria asing di ranjang, lalu mengh
Sementara itu, di kejauhan, Zhang Liu dan Zhu Mei terus berjalan. Perlahan. Tergesa-gesa. Tidak berani berhenti meskipun napas mereka tersengal-sengal. Zhu Mei masih membawa pria besar itu di pundaknya. Tubuh pria itu hampir dua kali lipat berat badannya. Zhang Liu melihatnya. Meskipun tubuhnya sendiri terasa seperti mau hancur, dia masih berusaha membantu. Tangan Zhang Liu yang tidak melukai perut digunakan untuk menyentuh lengan pria asing itu—bukan untuk menggendong, tapi untuk mengalirkan sedikit energi penyembuhan. "Biarkan aku saja," kata Zhu Mei tanpa menoleh. Suaranya terdengar lelah. "Kau fokus sembuhkan dirimu sendiri. Repot sekali." Zhang Liu tersenyum tipis di belakangnya. "Tidak apa-apa. Kau pasti kesulitan karena tinggi badanmu yang berbeda." Zhu Mei berhenti melangkah. Dia menoleh ke belakang, wajahnya merah padam—bukan karena lelah, tapi karena marah. "Kau kira aku pendek?!" Zhang Liu mengerjap. Dia tidak menyangka kalimatnya akan ditafsirkan seperti itu. "Maks
"Diam," balas Hui Shen pelan. "Dia sedang belajar."Zhang Liu tidak mendengar mereka. Pikirannya fokus untuk bisa memberikan serangan yang lebih besar pada lawannya.Pedang Tanduk Hitam di tangan kanannya berdenyut. Tongkat Suci di tangan kirinya berdenyut.Sriing!Cahaya putih keemasan dan hitam kebiruan meletus dari kedua senjata itu bersamaan. Gelombang kekuatan menyebar ke segala arah.Pohon-pohon di radius lima puluh meter bergoyang keras, dahan-dahan patah, daun-daun beterbangan seperti badai kecil. Tanah di bawah kaki Zhang Liu retak-retak, membentuk lingkaran dengan dirinya sebagai pusatnya.Dan yang paling penting—Gerombolan harimau putih itu berhenti.Mereka tidak bergerak, tidak mengaum, dan hanya berdiri di tempat mereka masing-masing, kaki-kaki besar mereka terpaku di tanah.Mata biru keperakan mereka menatap Zhang Liu dengan ekspresi yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya, mereka ragu.Hun Mo berseru dalam kepala Zhang Liu. "Ini saatnya. Bunuh mereka semua."Tapi Hui S
Zhang Liu dan Zhu Mei masih berdiri di tempat mereka, saling pandang dengan wajah yang berubah tegang. Dari balik pepohonan di sebelah barat, sosok-sosok besar mulai bermunculan satu per satu.Tubuh mereka semua sama besarnya dengan harimau yang baru saja dikalahkan Zhang Liu.Yang berjalan di depan adalah yang terbesar di antara mereka. Tingginya hampir setengah kepala lebih tinggi dari yang lain. Di wajahnya, ada bekas luka panjang dari pangkal hidung hingga ke pipi kanan, membuatnya terlihat lebih ganas dan mengerikan.Mata pemimpin harimau itu menatap Zhang Liu. Lalu pandangannya turun ke tangan Zhang Liu—ke tulang putih kecil yang masih digenggamnya."Grrh." Harimau itu mengeram.Itu adalah bau darah saudara mereka yang baru saja mati. Pemimpin harimau itu mengendus udara."GROOOA!"Raungan pemimpin harimau itu mengguncang seluruh lembah. Daun-daun berguguran dari pohon-pohon di sekitar. Air sungai di kejauhan bergetar, gelombang kecil naik turun seperti air mendidih.Tanah di ba
Zhu Mei berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras."Harimau putih? Itu binatang roh tingkat tinggi!" serunya, wajahnya berubah panik. "Dia gila, ya? Hanya pergi sendirian?"Jing Ling membalas dengan santai. "Biarkan saja. Dia orang yang sangat kuat."Zhu Mei mendengus kasar. Bukan itu yang membuatnya khawatir."Kau tidak mengerti," katanya cepat. "Bukan soal dia kalah atau menang. Tapi jika dia membunuh satu harimau putih, kelompoknya yang lain akan memburunya. Mereka tidak tinggal diam jika salah satu dari mereka mati. Kita semua juga bisa terkena masalah."Tanpa menunggu jawaban, Zhu Mei melesat keluar dari dapur. Langkah kakinya cepat, hampir berlari, melewati lorong dan keluar dari markas.Jing Ling menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, lalu menghela napas pelan."Kita? Katakan saja kau yang khawatir padanya," gumam Jing Ling sambil tersenyum kecil.Xue Lun yang dari tadi makan dalam diam, akhirnya bersuara."Dia menyukai Zhang Liu, kan?" ka
Xue Lun melangkah masuk ke markas. Langkahnya santai, seperti sedang berjalan-jalan di rumahnya sendiri, bukan di tempat asing yang baru pertama kali dia kunjungi.Tatapan Xue Lun menyapu seluruh ruangan. Dari dinding kayu yang masih menyisakan serpihan-serpihan kecil. Hingga langit-langit ilalang yang sedikit reyot di beberapa bagian, perabot sederhana yang Jing Ling tata dengan cukup rapi."Rumah kayu," komentarnya datar. "Tidak terlalu buruk. Setidaknya tidak bocor."Jing Ling yang berjalan di belakangnya menghela napas. "Kau bisa saja bilang 'terima kasih sudah menyambutku', tahu.""Kenapa harus bilang begitu? Aku diundang. Bukan meminta izin."Jing Ling menggeleng. "Sifatmu benar-benar tidak pernah berubah."Jing Ling kemudian menunjuk ke lorong di sisi kirinya."Taruh saja barang-barangmu di samping kamarku di sana," kata Jing Ling sambil menunjuk. "Kamar kosong di ujung lorong. Seprai dan bantal sudah ada. Jangan berantakan, ya."Xue Lun mengangguk tanpa banyak bicara, lalu me







