Share

Bab 4

Author: mr.midi
last update publish date: 2026-07-24 07:14:18

Pada saat yang hampir bersamaan, pihak universitas merilis hasil investigasi resminya.

Seluruh mahasiswa yang terbukti terlibat dijatuhi sanksi skorsing selama dua bulan.

Keputusan tersebut langsung memicu perdebatan. Banyak pihak menilai hukuman itu terlalu ringan, sementara sebagian lainnya menganggapnya sudah cukup.

Namun sebelum perdebatan berkembang lebih jauh, pemberitaan mengenai kasus Eric perlahan menghilang dari ruang publik.

Berita-berita lama diturunkan.

Topik pembicaraan di media sosial mulai tenggelam.

Akun-akun besar yang sebelumnya lantang membahas kasus tersebut mendadak beralih ke isu lain.

Perlahan, publik dipaksa menerima bahwa keputusan universitas adalah akhir dari semuanya.

Tetapi keputusan itu tidak memuaskan Andreas.

Menurutnya, kasus itu tidak bisa berakhir begitu saja.

Andreas sempat berniat melakukan penyelidikan sendiri, tetapi keluarganya segera melarangnya ikut campur.

Bahkan sepanjang hari, Andreas diminta tetap berada di rumah agar tidak melakukan sesuatu yang dapat menyeretnya ke dalam masalah.

Namun menjelang malam, Dominic tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan bahwa Eric menghilang dari rumah sakit.

Ia sempat mengira Dominic sedang bercanda. Namun setelah mendengar bahwa kamar rawat Eric sudah kosong dan keberadaannya tidak diketahui, ia langsung meninggalkan rumah.

Sesampainya di rumah sakit, Andreas langsung menuju kamar rawat Eric. Pintu kamar itu terbuka lebar.

Ranjang itu kosong. Seprai telah diganti dan tak ada satu pun barang milik Eric yang tersisa.

Andreas menoleh kepada Dominic.

“Kamar sebelah?”

“Sudah kuperiksa.”

“ICU?”

“Sudah.”

“Lantai atas?”

Dominic menggeleng.

“Tidak ada.”

Andreas segera berjalan menuju meja perawat.

“Pasien atas nama Eric Brown dipindahkan ke mana?”

Perawat itu langsung memeriksa komputer. Beberapa detik berlalu. Keningnya perlahan berkerut.

“Sebentar…”

Jarinya kembali mengetik, tetapi ekspresinya justru semakin bingung.

“Kenapa tidak ada…?”

Ia mencoba membuka data pasien sekali lagi. Hasilnya tetap kosong.

“Maaf, nama pasien itu sudah tidak ada di dalam sistem.”

Andreas terdiam.

“Itu tidak mungkin. Aku sendiri datang menjenguknya semalam.”

Perawat itu kembali melihat layar.

“Tapi datanya memang tidak ada. Bahkan riwayat perawatannya juga tidak ditemukan.”

Andreas dan Dominic saling berpandangan.

—

Di tempat lain, Eric perlahan membuka mata.

Langit-langit yang menyambut pandangannya bukan lagi langit-langit rumah sakit tempat ia dirawat sebelumnya.

Ia mengernyit.

Ruangan itu jauh lebih luas. Perabotannya didominasi warna putih dan cokelat tua, sementara jendela kaca besar di sisi ruangan menghadap langsung ke deretan gedung pencakar langit.

Udara di dalamnya terasa sejuk dan tenang.

Tak terdengar suara pasien lain ataupun hiruk-pikuk lorong rumah sakit.

Eric perlahan bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya menyapu setiap sudut ruangan.

Bahkan terdapat ruang tamu kecil yang terpisah dari area tempat tidurnya. Ini jelas bukan kamar rawat biasa.

Eric bahkan tak pernah membayangkan ada ruang perawatan semewah ini.

“Di mana aku…?”

Semakin lama ia mengamati ruangan tersebut, semakin besar kebingungan yang memenuhi pikirannya.

Beberapa saat kemudian, Eric memanggil Legacy Intelligence.

Layar transparan segera muncul di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku berada di tempat ini, dan siapa yang membawaku kemari?”

Tulisan mulai bermunculan di layar.

[Lokasi saat ini: Trinity Hospital.]

[Klasifikasi ruangan: VVIP.]

[Pemindahan pasien dilakukan atas pengaturan Keluarga Brown.]

Ruangan mendadak terasa semakin sunyi.

“Keluarga Brown…?”

Nama itu kembali muncul. Nama yang sama dengan yang diperlihatkan sistem beberapa hari sebelumnya. Berarti semua ini bukan kebetulan.

Dadanya terasa sesak.

Namun sebelum sempat membuka mulut bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, disusul percakapan dua orang yang semakin mendekat.

Eric langsung menoleh ke arah pintu.

Tanpa berpikir panjang, ia menutup layar Legacy Intelligence. Layar transparan itu lenyap seketika.

Eric kemudian merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Bukan karena ingin tidur, melainkan untuk mengetahui siapa yang datang menemuinya.

Klik.

Pintu perlahan terbuka.

Dua pria melangkah masuk.

Begitu melihat Eric masih terbaring, keduanya menghentikan langkah.

Pria yang lebih muda mengamati wajah Eric beberapa saat sebelum berkata pelan, “Sepertinya dia masih belum sadar.”

Tatapannya tetap tertuju pada Eric cukup lama, seolah sedang memandangi seseorang yang telah lama mati dan tiba-tiba kembali muncul di hadapannya.

Kedua pria itu kemudian menarik kursi ke sisi ranjang.

Suara gesekan kaki kursi memecah kesunyian.

Mereka duduk tanpa mengatakan apa pun lagi, hanya menatap pemuda yang terbaring di atas ranjang.

Sementara itu, Andreas dan Dominic keluar dari ruang administrasi rumah sakit dengan wajah muram.

Tak satu pun dari mereka berbicara.

Sesampainya di ujung lorong, Andreas berhenti lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak dan menatap satu nama cukup lama.

Xavia.

Dominic melirik layar ponselnya.

“Mau menelepon dia?”

Andreas terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.

Nada sambung terdengar. Tak lama kemudian, panggilan terangkat.

“Halo?”

“Aku Andreas.”

“Ada apa?”

Andreas memandang lorong rumah sakit yang dipenuhi orang berlalu-lalang.

“Eric hilang. Bangsalnya kosong, data rumah sakitnya juga menghilang. Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada yang tahu dia dipindahkan ke mana.”

Seberang telepon mendadak hening.

“Apa maksudmu hilang?”

“Aku juga tidak tahu. Aku sebenarnya ingin terus mencari, tapi keluargaku melarangku ikut campur lebih jauh. Mereka bilang masalah ini bukan lagi urusanku.”

Andreas berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Lalu aku teringat padamu. Aku tahu Keluarga Jones punya koneksi, bisakah kamu membantuku kali ini saja mencari keberadaan Eric?”

Keheningan kembali terdengar selama beberapa detik.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” jawab Xavia. “Tapi akan kucoba.”

“Terima kasih.”

Panggilan berakhir.

Andreas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Dominic menoleh kepadanya.

“Bagaimana?”

“Dia hanya bilang akan mencoba.”

Keduanya kembali menyusuri lorong rumah sakit tanpa mengatakan apa pun lagi.

Sekitar satu jam kemudian, ponsel Andreas kembali berdering.

Nama Xavia muncul di layar.

Ia segera mengangkatnya.

“Bagaimana?”

“Aku sudah meminta bantuan pamanku,” jawab Xavia pelan. “Dia sempat mencari informasi dari pihak rumah sakit. Ada satu hal yang berhasil dipastikan.”

“Apa?”

“Eric sudah tidak berada di sana.”

“Itu kami juga tahu.”

“Bukan itu maksudku.” Xavia berhenti sejenak. “Eric dijemput.”

Andreas mengernyit.

“Dijemput?”

“Ya. Menurut informasi yang kudapat, seseorang datang dan mengurus seluruh proses pemindahannya. Orang itu mengaku sebagai anggota keluarganya.”

Andreas terdiam.

Ia menoleh kepada Dominic, yang segera membalas tatapannya dengan wajah penuh kebingungan.

“Itu tidak mungkin. Eric sudah tidak punya keluarga lagi.”

“Aku hanya menyampaikan informasi yang kudapat,” ujar Xavia. “Pamanku bilang, setelah orang-orang itu datang, seluruh administrasi rumah sakit langsung berubah.”

“Lalu mereka membawanya ke mana?”

“Aku tidak tahu. Itu informasi terakhir yang berhasil didapat.”

Keheningan kembali terdengar dari kedua sisi telepon.

Beberapa detik kemudian, Xavia berkata pelan, “Maaf. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini.”

Andreas menunduk sejenak.

“Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih.”

Tut! Tut!

Andreas menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku.

Dominic akhirnya bertanya, “Jadi, Eric benar-benar dijemput keluarganya?”

“Aku juga tidak tahu.”

Tatapan Andreas mengarah ke lorong rumah sakit yang ramai.

“Tapi kalau memang dia masih punya keluarga, kenapa mereka baru muncul sekarang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status