Share

Bab 4

Author: mr.midi
last update publish date: 2026-07-24 07:14:18

Dua hari berlalu dengan cepat.

Selama itu pula, kamar rawat Eric nyaris tak pernah sepi dari tamu.

Mahasiswa dari fakultasnya datang silih berganti untuk menjenguk. Sebagian membawa buah, sementara yang lain hanya berdiri beberapa menit sebelum berpamitan.

Namun Eric tahu, tidak semua dari mereka benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.

Bagi sebagian besar mahasiswa Universitas Astraea Vellora, menjenguk teman yang dirawat di rumah sakit hanyalah bentuk etika sekaligus cara menjaga citra. Terlebih setelah kasus Eric menjadi sorotan publik. Tidak datang menjenguk justru dapat menimbulkan penilaian buruk dari orang lain.

Universitas ini sejak lama dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak keluarga elite. Sebagian besar mahasiswanya berasal dari keluarga konglomerat, pejabat, atau pemilik perusahaan besar. Mereka tumbuh dalam kemewahan sejak kecil.

Mahasiswa seperti Eric hanyalah segelintir pengecualian.

Ia dapat berdiri sejajar dengan mereka semata-mata karena beasiswa penuh yang diperolehnya melalui prestasi akademik.

Meski mengetahui alasan di balik kedatangan sebagian besar tamu, Eric tetap menyambut mereka dengan senyum dan ucapan terima kasih. Sikapnya begitu tenang, seolah ia tidak pernah menyimpan dendam kepada siapa pun.

Namun dari semua orang yang datang menjenguk, ada beberapa nama yang tak pernah muncul.

Kelima mahasiswa yang mengeroyoknya. Mahasiswa yang pertama kali menyebarkan video fitnah.

Termasuk Issabel dan Christine.

Tak satu pun dari mereka datang.

Tak ada permintaan maaf ataupun penjelasan. Bahkan, tak seorang pun merasa telah melakukan kesalahan.

Sebaliknya, mereka justru menganggap diri merekalah yang menjadi korban.

Issabel dan Christine bahkan beberapa kali mengeluh kepada teman-temannya.

“Kalau bukan karena mahasiswa-mahasiswa bodoh itu memotong videonya, kita tidak mungkin dimaki satu negara.”

Di mata mereka, rusaknya reputasi keluarga jauh lebih menyakitkan daripada luka yang dialami Eric.

Menjelang sore, pintu kamar rawat perlahan terbuka.

Seorang pria berjas hitam melangkah masuk dengan tenang.

Jason Smith.

Ia meletakkan sekeranjang buah di atas meja, lalu memandang Eric yang sedang bersandar di ranjang.

“Aku dengar orang yang melukaimu masih belum ditemukan.” Jason menggeleng pelan. “Orang seperti itu benar-benar keterlaluan.”

Eric menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Aku juga berharap suatu hari nanti dia ditemukan.”

Jason menarik kursi dan duduk dengan santai.

“Yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan mengejar seseorang yang mungkin tak akan pernah tersentuh.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Eric. “Apalagi kalau kemampuan kita memang terbatas. Kalau aku jadi kamu, aku akan berhenti mencari.”

Eric hanya mengangguk kecil seolah menyetujui ucapannya.

Jason tersenyum tipis. “Syukurlah. Berarti kita sepakat.”

Eric menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Belum tentu.”

Jason menatapnya. “Maksudmu?”

“Kalau orang itu belum ditemukan…” Eric mengangkat bahu pelan. “Mungkin memang belum waktunya.”

Jason terdiam beberapa detik. “Kamu masih muda. Dunia tidak sesederhana itu.”

“Makanya aku masih belajar.” Eric tersenyum kecil. “Cepat atau lambat, semua orang bisa lengah.”

Ruangan kembali sunyi. Hanya dengung pendingin udara yang terdengar di antara mereka.

Jari Jason mengetuk pelan sandaran kursinya. “Lidahmu cukup tajam.”

Jason perlahan berdiri. “Jaga kesehatanmu. Masa depanmu masih panjang.”

“Semoga begitu.”

“Tentu.”

Eric menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Karena aku juga berharap masa depan setiap orang berjalan sesuai dengan perbuatannya.”

Untuk pertama kalinya, senyum Jason memudar.

Namun hanya sesaat. Ia segera memasang kembali ekspresi tenangnya, lalu berbalik meninggalkan ruangan.

Sekitar tiga puluh menit setelah Jason pergi, pintu kamar rawat kembali terbuka.

Enam dokter memasuki ruangan secara bersamaan.

Tak satu pun wajah mereka dikenali Eric. Meski begitu, jas putih dan kartu identitas rumah sakit yang mereka kenakan membuatnya tidak menaruh curiga.

Salah seorang dokter paruh baya menghampiri ranjang.

“Bagaimana kondisimu hari ini?”

“Jauh lebih baik,” jawab Eric sopan.

Dokter itu tersenyum ramah.

“Syukurlah. Kami akan melakukan pemeriksaan sebentar.”

Tanpa banyak bicara, keenam dokter itu mulai memeriksa kondisi Eric dengan sangat teliti.

Tekanan darah, detak jantung, refleks mata, hingga kondisi lengan yang patah mereka periksa satu per satu.

Tak lama kemudian, seorang dokter wanita menyuntikkan obat ke dalam selang infus.

“Ini obat untuk mempercepat pemulihan. Kamu mungkin akan merasa sedikit mengantuk.”

Cairan perlahan masuk ke dalam selang infus.

Beberapa detik kemudian, dokter yang paling tua menatap Eric.

“Selamat beristirahat.”

Anehnya, kelima dokter lainnya ikut menghentikan pekerjaan mereka dan sedikit menganggukkan kepala ke arah Eric.

Gerakan itu begitu singkat hingga Eric sendiri ragu apakah benar-benar melihatnya.

Kurang dari dua menit kemudian, kelopak matanya mulai terasa berat. Suara di sekelilingnya perlahan menjauh, sementara pandangannya semakin kabur.

Sesaat kemudian, semuanya berubah gelap.

Pada saat yang hampir bersamaan, Universitas Astraea Vellora merilis hasil investigasi resminya.

Seluruh mahasiswa yang terbukti terlibat dijatuhi sanksi skorsing selama dua bulan.

Keputusan tersebut langsung memicu perdebatan. Banyak pihak menilai hukuman itu terlalu ringan, sementara sebagian lainnya menganggapnya sudah cukup.

Namun sebelum perdebatan berkembang lebih jauh, pemberitaan mengenai kasus Eric perlahan menghilang dari ruang publik.

Berita-berita lama diturunkan.

Topik pembicaraan di media sosial mulai tenggelam.

Akun-akun besar yang sebelumnya lantang membahas kasus tersebut mendadak beralih ke isu lain.

Perlahan, publik dipaksa menerima bahwa keputusan universitas adalah akhir dari semuanya.

Bukan karena mereka benar-benar puas, melainkan karena tak lagi diberi ruang untuk terus mempertanyakannya.

Keputusan universitas ternyata tidak membuat Andreas merasa tenang.

Baginya, kasus itu belum berakhir.

Orang yang mematahkan lengan Eric masih bebas, sementara semua orang diminta menganggap persoalan tersebut telah selesai.

Andreas sempat berniat melakukan penyelidikan sendiri, tetapi keluarganya segera menghentikannya.

“Jangan ikut campur. Itu bukan urusanmu.”

Bahkan sepanjang hari, Andreas diminta tetap berada di rumah agar tidak melakukan sesuatu yang dapat menyeret keluarganya ke dalam masalah.

Sore hari berikutnya, ponsel Andreas berdering.

Dominic.

Begitu panggilan diangkat, suara dari seberang langsung terdengar.

“Eric tidak ada.”

Andreas terdiam sejenak.

“Maksudmu apa?”

“Bangsalnya kosong.”

Tak ada penjelasan lain. Sambungan telepon langsung terputus. Dua puluh menit kemudian, Andreas tiba di rumah sakit.

Pintu kamar rawat Eric terbuka lebar.

Ranjang itu kosong. Seprai telah diganti dan tak ada satu pun barang milik Eric yang tersisa.

Andreas menoleh kepada Dominic.

“Kamar sebelah?”

“Sudah kuperiksa.”

“ICU?”

“Sudah.”

“Lantai atas?”

Dominic menggeleng.

“Tidak ada.”

Andreas segera berjalan menuju meja perawat.

“Pasien atas nama Eric Brown dipindahkan ke mana?”

Perawat itu langsung memeriksa komputer. Beberapa detik berlalu. Keningnya perlahan berkerut.

“Sebentar…”

Jarinya kembali mengetik, tetapi ekspresinya justru semakin bingung.

“Kenapa tidak ada…?”

Ia mencoba membuka data pasien sekali lagi. Hasilnya tetap kosong.

“Maaf, nama pasien itu sudah tidak ada di dalam sistem.”

Andreas terdiam.

“Itu tidak mungkin. Aku sendiri datang menjenguknya semalam.”

Perawat tersebut menggeleng pelan.

“Kalau datanya tidak ada, berarti secara administrasi pasien tersebut memang tidak pernah terdaftar di rumah sakit ini.”

Andreas dan Dominic saling berpandangan. Mereka segera menemui dokter jaga, tetapi jawaban yang diterima tetap sama.

“Kami tidak tahu.”

“Kami tidak menerima pemberitahuan pemindahan pasien.”

“Pasien itu bukan lagi tanggung jawab rumah sakit.”

Tak ada penjelasan. Tak ada dokumen. Tak ada satu pun jejak yang tertinggal.

Seolah-olah seseorang telah menghapus seluruh keberadaan Eric Brown dari rumah sakit itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Terlupakan    Bab 20

    Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,

  • Pewaris Terlupakan    Bab 19

    Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka

  • Pewaris Terlupakan    Bab 18

    Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun

  • Pewaris Terlupakan    Bab 17

    Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b

  • Pewaris Terlupakan    Bab 16

    Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa

  • Pewaris Terlupakan    Bab 15

    Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status