공유

Bab 3

작가: mr.midi
last update 게시일: 2026-07-24 07:13:57

Keesokan harinya, pihak kepolisian datang untuk meminta keterangan Eric mengenai kejadian kemarin.

Beberapa pertanyaan diajukan, tetapi sebagian besar hanya mengulang informasi yang sudah beredar sejak malam sebelumnya. Dari jalannya pemeriksaan, Eric bisa merasakan bahwa kedatangan mereka tidak lebih dari sekadar formalitas.

Tidak lama setelah polisi pergi, Wakil Rektor Universitas Astraea Velora datang bersama beberapa orang.

Ia menjelaskan hasil investigasi internal yang dilakukan pihak universitas. Para mahasiswa yang terbukti terlibat akan menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

Pihak universitas juga memberikan kompensasi untuk biaya pengobatan dan pemulihan Eric.

Sebelum pergi, wakil rektor meminta agar Eric tidak memperbesar masalah tersebut. Sebagai gantinya, universitas berjanji akan memberikan perhatian khusus kepadanya dan memastikan ia dapat menyelesaikan studinya tanpa kesulitan.

Eric memahami maksud di balik perkataannya.

Universitas Astraea Velora bukanlah institusi yang bisa ia hadapi seorang diri. Banyak orang berpengaruh dengan kekuasaan dan koneksi berdiri di belakangnya.

Terlebih, di belakang universitas itu berdiri keluarga Rothwell.

Mereka mungkin bukan keluarga terkaya di Velora, tetapi tidak ada yang meragukan pengaruhnya. Selain memiliki jaringan bisnis yang luas, koneksi keluarga Rothwell juga menjangkau dunia politik hingga penegakan hukum.

Dalam keadaannya sekarang, menerima mungkin pilihan terbaiknya.

Setelah mereka pergi, kamar rawat itu kembali sunyi.

Eric memastikan tidak ada siapa pun di luar sebelum memanggil Legacy Intelligence dalam hati.

Layar transparan segera muncul di hadapannya.

Meski sudah melihatnya beberapa kali sejak malam sebelumnya, keberadaan teknologi dari dua ratus delapan belas tahun di masa depan itu masih terasa sulit dipercaya.

“Halo…” gumamnya. “Apa sebenarnya yang bisa kamu lakukan? Dan apa kamu bisa berbicara?”

Beberapa detik kemudian, baris-baris tulisan mulai muncul.

[Saya dapat menjalankan berbagai fungsi sesuai perintah pengguna.]

[Namun, sebagian besar fitur masih terkunci.]

[Versi saat ini: Level 1.]

Eric mengernyit.

“Level?”

[Semakin tinggi level Legacy Intelligence, semakin luas jangkauan penelusuran yang dapat diakses oleh pengguna.]

“Kalau begitu, apa saja yang bisa kuakses sekarang? Bisakah kamu memberiku uang atau benda apa pun?”

[Tidak.]

Eric terdiam.

Tulisan berikutnya segera muncul.

[Saya tidak dapat menciptakan uang, emas, senjata, maupun benda apa pun.]

[Saya hanya menyediakan informasi, analisis, simulasi, dan solusi berdasarkan data yang tersedia.]

“Kalau begitu, bagaimana cara menaikkan levelmu?”

[Level Legacy Intelligence tidak ditentukan oleh sistem. Level Legacy Intelligence mengikuti perkembangan pemilik.]

“Apa maksudnya?”

[Pemilik yang berhenti berkembang akan membuat Legacy Intelligence ikut berhenti berkembang.]

[Pemilik yang kehilangan tujuan akan menghentikan evolusi Legacy Intelligence.]

[Semakin tinggi kemampuan, pengalaman, pengaruh, pengetahuan, dan pencapaian pemilik, semakin luas data Legacy Intelligence yang dapat diakses.]

Eric membaca tulisan tersebut beberapa kali.

“Jadi, aku yang menentukan seberapa kuat dirimu?”

[Benar.]

[Legacy Intelligence tidak menciptakan legenda.]

[Legacy Intelligence hanya membantu legenda mencapai potensinya.]

Eric terdiam beberapa saat. Tatapannya masih tertuju pada tulisan terakhir.

Tok! Tok!

Ketukan terdengar dari pintu.

Tak lama kemudian, Andreas masuk bersama Xavia.

Begitu melihat Eric sudah duduk di atas ranjang, Andreas langsung tersenyum.

“Bagus, akhirnya bangun juga.” Ia melirik Xavia di sampingnya. “Lihat, ada yang khusus datang menjengukmu.”

Xavia menoleh kepadanya. “Jangan dengarkan dia.”

Andreas tertawa kecil.

“Baiklah, aku cari Dominic dulu.”

Setelah Andreas pergi, Xavia berjalan mendekat dan menarik kursi di samping ranjang.

Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara.

Xavia kemudian menatap gips yang membungkus lengan kanan Eric.

“Maaf.”

Eric menoleh. “Untuk apa?”

“Aku terlambat.”

Eric menggeleng pelan. “Aku yang seharusnya mengatakan itu. Selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.”

Xavia tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali turun ke lengan Eric.

“Masih sakit?”

“Sedikit.”

Xavia mengangguk kecil.

Ia kemudian mengambil kantong buah yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja.

“Aku membawakan buah.”

Eric melirik kantong tersebut.

“Terima kasih.”

Setelah itu, percakapan mereka kembali terhenti.

Xavia tetap duduk di sana beberapa saat, sementara Eric sesekali memandang ke luar jendela.

Meski tidak banyak yang mereka bicarakan, suasana di antara keduanya perlahan tidak lagi secanggung sebelumnya.

Xavia masih menemaninya beberapa saat sebelum akhirnya berpamitan dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Eric sempat melirik kantong buah di atas meja sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di ranjang.

Tak lama setelah Xavia pergi, pintu kamar kembali terbuka.

Empat orang masuk secara bersamaan. Tiga pria paruh baya dan seorang wanita, semuanya mengenakan jas dokter lengkap dengan kartu identitas rumah sakit.

Eric tidak mengenali satu pun dari mereka.

Salah seorang pria yang tampak paling tua berjalan mendekat.

“Selamat siang. Bagaimana kondisimu sekarang?”

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Eric.

Pria itu mengangguk. “Baguslah. Kami akan melakukan pemeriksaan singkat.”

Setelah mengatakan itu, mereka mulai memeriksa kondisi Eric.

Tekanan darah, detak jantung, pupil mata, hingga beberapa refleks tubuh diperiksa satu per satu.

Wanita di antara mereka kemudian mengganti cairan infus Eric dengan kantong baru.

“Vitamin untuk mempercepat pemulihan,” jelasnya singkat.

Eric hanya mengangguk.

Tak lama kemudian, salah seorang dokter mendekat membawa sebuah tabung kecil.

“Kami perlu mengambil sedikit sampel darah untuk pemeriksaan lanjutan.”

“Bukankah tadi pagi darahku sudah diambil?”

“Hanya prosedur tambahan. Tidak akan lama.”

“Baiklah.” Eric mengangguk.

Setelah sampel darah selesai diambil, salah seorang pria merapikan bantal di belakang punggung Eric. Pada saat yang sama, tangannya mengambil sehelai rambut yang menempel di bahu Eric dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil tanpa disadari siapa pun.

Seluruh pemeriksaan berlangsung tidak lebih dari lima menit.

Sebelum pergi, dokter tertua itu menatap Eric.

“Semoga lekas pulih.”

“Terima kasih, Dok.”

Keempat orang itu kemudian meninggalkan ruangan.

Pintu kembali tertutup.

—

Dua hari berlalu dengan cepat.

Selama itu pula, kamar rawat Eric nyaris tak pernah sepi dari tamu.

Mahasiswa dari fakultasnya datang silih berganti untuk menjenguk. Namun Eric tahu, tidak semua dari mereka benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.

Meski mengetahui alasan di balik kedatangan sebagian besar tamu, Eric tetap menyambut mereka dengan senyum dan ucapan terima kasih.

Namun dari semua orang yang datang menjenguk, ada beberapa nama yang tak pernah muncul.

Kelima mahasiswa yang mengeroyoknya. Mahasiswa yang pertama kali menyebarkan video fitnah.

Termasuk Issabel dan Christine.

Tak satu pun dari mereka datang.

Tak ada permintaan maaf ataupun penjelasan. Bahkan, tak seorang pun merasa telah melakukan kesalahan.

Sebaliknya, mereka justru menganggap diri merekalah yang menjadi korban.

Issabel dan Christine bahkan beberapa kali mengeluh kepada teman-temannya.

“Kalau bukan karena mahasiswa-mahasiswa bodoh itu memotong videonya, kita tidak mungkin dimaki seperti ini.”

Bahkan setelah melihat kondisi Eric, keduanya masih lebih sibuk memikirkan reputasi mereka yang tercemar.

Menjelang sore, pintu kamar rawat terbuka dan seorang pria berjas hitam melangkah masuk dengan tenang.

Jason Smith.

Ia meletakkan sekeranjang buah di atas meja, lalu memandang Eric yang sedang bersandar di ranjang.

“Aku dengar orang yang melukaimu masih belum ditemukan.” Jason menggeleng pelan. “Orang seperti itu benar-benar keterlaluan.”

Eric menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

Jason menarik kursi dan duduk dengan santai.

“Yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan mengejar seseorang yang mungkin tak akan pernah tersentuh.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Eric. “Apalagi kalau kemampuan kita memang terbatas. Kalau aku jadi kamu, aku akan berhenti mencarinya.”

Eric hanya mengangguk kecil mendengar itu.

Jason tersenyum tipis. “Syukurlah. Berarti kita sepakat.”

“Aku rasa tidak,” ucap Eric tenang.

Jason mengangkat alis. “Apa maksudmu?”

“Kalau orang itu belum ditemukan…” Eric mengangkat bahu pelan. “Mungkin memang belum waktunya.”

Jason terdiam beberapa detik. “Kamu masih muda. Dunia tidak sesederhana itu.”

“Makanya aku masih belajar.” Eric mengangguk kecil. “Cepat atau lambat, semua orang bisa lengah.”

“Begitu ya?” Jari Jason mengetuk pelan sandaran kursinya sebelum ia berdiri. “Jaga kesehatanmu. Masa depanmu masih panjang. Jangan melakukan hal bodoh.”

Eric tidak menjawab.

Ruangan kembali sunyi. Hanya dengung pendingin udara yang terdengar di antara mereka.

“Kau dengar tidak?”

“Dengar.” Eric menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Aku juga berharap masa depan setiap orang berjalan sesuai dengan perbuatannya.”

Senyum Jason perlahan memudar.

Namun hanya sesaat. Ia segera memasang kembali ekspresi tenangnya, lalu berbalik meninggalkan ruangan.

Sekitar tiga puluh menit setelah Jason pergi, pintu kamar rawat kembali terbuka.

Enam dokter memasuki ruangan secara bersamaan.

Lagi-lagi, tak satu pun dari mereka yang Eric kenali. Meski begitu, jas putih dan kartu identitas rumah sakit yang mereka kenakan membuatnya tidak menaruh curiga.

Salah seorang dokter paruh baya menghampiri ranjang.

“Bagaimana kondisimu hari ini?”

“Jauh lebih baik,” jawab Eric sopan.

Dokter itu tersenyum ramah.

“Syukurlah. Kami akan melakukan pemeriksaan sebentar.”

Tanpa banyak bicara, keenam dokter itu mulai memeriksa kondisinya dengan sangat teliti.

Tak lama kemudian, seorang dokter wanita menyuntikkan obat ke dalam selang infus.

“Ini obat untuk mempercepat pemulihan. Kamu mungkin akan merasa sedikit mengantuk.”

Cairan perlahan masuk ke dalam selang infus.

Beberapa detik kemudian, dokter yang paling tua menatap Eric.

“Selamat beristirahat.”

Tak sampai dua menit, kelopak mata Eric mulai terasa berat.

Suara di sekelilingnya perlahan menjauh, sementara pandangannya semakin kabur.

Sesaat kemudian, semuanya berubah gelap.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status