แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: mr.midi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-24 07:13:57

Keesokan harinya, kamar rawat Eric tak pernah sepi dari tamu.

Pihak kepolisian datang lebih dulu. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kejadian kemarin, tetapi sebagian besar hanya mengulang informasi yang sudah beredar. Dari cara mereka berbicara, Eric bisa merasakan bahwa pemeriksaan itu sekadar formalitas.

Tak lama setelah polisi pergi, Wakil Rektor Universitas Astraea Vellora datang bersama dua orang staf.

Pria paruh baya itu tersenyum hangat sambil meletakkan sekeranjang buah di atas meja.

“Eric, kami turut prihatin atas kejadian yang menimpamu. Kampus telah menyelesaikan investigasi internal dan mengantongi nama para mahasiswa yang terlibat. Mereka akan menerima sanksi sesuai peraturan universitas.”

Eric hanya mengangguk pelan.

Wakil rektor berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada tetap ramah.

“Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan sampai di sini. Percayalah, universitas akan memberikan perhatian khusus kepadamu. Jika selama masa kuliah nanti kamu mengalami kesulitan akademik maupun administrasi, kami akan membantu semaksimal mungkin. Kami juga akan memastikan kamu dapat menyelesaikan studi dengan tenang.”

Salah seorang staf kemudian meletakkan sebuah map di atas meja.

“Ini bantuan kemanusiaan dari pihak universitas.”

Di dalamnya terdapat cek senilai tiga puluh ribu dolar, lengkap dengan surat yang menyatakan bahwa dana tersebut merupakan bantuan biaya pengobatan dan pemulihan.

Wakil rektor kembali tersenyum.

“Kami hanya berharap kejadian ini tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Bagaimanapun, nama baik universitas juga harus kami jaga.”

Kalimat itu terdengar sopan, tetapi Eric memahami maksud di baliknya.

Jika ia terus membawa kasus ini ke ranah publik, hari-harinya di Universitas Astraea Vellora tidak akan pernah berjalan dengan mudah.

“Nak, ada kalanya menerima kenyataan jauh lebih bijaksana daripada terus mengejar keadilan.”

Setelah mengatakan itu, wakil rektor berbalik dan keluar bersama kedua stafnya tanpa menunggu jawaban.

Eric mengembuskan napas pelan.

Pada akhirnya, ia memilih menerima keputusan itu untuk sementara.

Ia sadar universitas bukanlah lawan yang bisa dihadapi seorang diri. Di belakang institusi itu berdiri banyak tokoh berpengaruh dengan kekuasaan dan koneksi yang jauh melampaui dirinya.

Belum lagi, di belakang Universitas Astraea Vellora berdiri Keluarga Rothwell.

Mereka mungkin bukan keluarga terkaya di Vellora, tetapi tak seorang pun meragukan pengaruhnya. Dalam dunia bisnis, politik, hingga penegakan hukum, nama Rothwell kerap muncul di balik layar.

Eric belum cukup bodoh untuk mencari musuh baru dalam keadaannya sekarang.

Setelah seluruh tamu pergi, kamar rawat itu kembali sunyi.

Eric melirik ke arah pintu untuk memastikan tak ada siapa pun di luar, lalu memanggil Legacy Intelligence dalam hati.

Layar transparan segera muncul di hadapannya.

Ia menarik napas pelan.

Masih sulit dipercaya bahwa teknologi semustahil ini benar-benar ada.

“Halo…” gumamnya. “Apa sebenarnya yang bisa kamu lakukan? Dan apa kamu bisa berbicara?”

Beberapa detik kemudian, baris-baris tulisan mulai muncul di layar.

[Saya dapat menjalankan berbagai fungsi sesuai perintah pemilik.]

[Namun, sebagian besar fitur masih terkunci.]

[Versi saat ini: Level 1.]

[Fitur komunikasi suara belum tersedia.]

[Naikkan Legacy Intelligence ke Level 5 untuk membuka modul komunikasi.]

Eric mengernyit.

“Level?”

[Semakin tinggi level Legacy Intelligence, semakin banyak fungsi yang dapat diakses oleh pemilik.]

Rasa penasaran Eric semakin memuncak. Ia menatap layar transparan itu tanpa berkedip.

“Kalau begitu, apa saja yang bisa kuakses sekarang? Bisakah kamu memberiku uang atau benda apa pun?”

Tulisan di layar langsung berubah.

[Tidak.]

Jawaban singkat itu membuat Eric sedikit terkejut.

Beberapa baris baru kemudian muncul.

[Saya tidak dapat menciptakan uang, emas, senjata, maupun benda apa pun.]

[Saya hanya menyediakan informasi, analisis, simulasi, dan solusi berdasarkan data yang tersedia.]

Kekecewaan tipis muncul di wajah Eric.

“Kalau begitu, bagaimana cara menaikkan levelmu?”

[Level Legacy Intellige tidak ditentukan oleh sistem.]

[Level Legacy Intellige mengikuti perkembangan pemilik.]

Eric semakin bingung.

“Apa maksudnya?”

[Pemilik yang berhenti berkembang akan membuat Legacy Intellige ikut berhenti berkembang.]

[Pemilik yang kehilangan tujuan akan menghentikan evolusi Legacy Intellige.]

[Semakin tinggi kemampuan, pengalaman, pengaruh, pengetahuan, dan pencapaian pemilik, semakin tinggi pula otorisasi Legacy Intellige yang dapat dibuka.]

Eric membaca kalimat-kalimat itu beberapa kali sebelum akhirnya bergumam, “Jadi, aku yang menentukan seberapa kuat dirimu?”

[Benar. Legacy Intellige tidak menciptakan legenda.Legacy Intellige hanya membantu legenda mencapai potensinya.]

Eric terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa teknologi dari masa depan itu bukanlah jalan pintas menuju kesuksesan.

Jika dirinya tetap menjadi pria lemah yang hanya mengeluhkan nasib, sistem ini pun akan selamanya tertahan di Level 1.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat.

“Menarik…”

Tok! Tok!

Pintu kamar rawat terbuka.

Andreas masuk lebih dulu, disusul Xavia.

Begitu melihat Eric sudah duduk di atas ranjang, Andreas langsung tersenyum.

“Bagus, akhirnya bangun juga.” Ia melirik Xavia yang berdiri di belakangnya. “Lihat, ada yang khusus datang menjengukmu.”

Xavia menghela napas pelan.

“Jangan dengarkan dia.”

Andreas tertawa kecil.

“Baiklah, aku cari Dominic dulu.”

Ia menepuk pelan bahu Eric sebelum keluar dan menutup pintu.

Ruangan kembali sunyi.

Eric menoleh sekilas ke arah Xavia, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Xavia berdiri beberapa saat sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Keheningan di antara mereka terasa canggung.

“Maaf,” ucap Xavia pelan.

Eric menoleh.

“Untuk apa?”

“Aku terlambat.”

Tak ada penjelasan lain, tetapi Eric mengerti maksudnya.

Ia menggeleng. “Kamu sudah cukup membantuku.”

Xavia menatap gips yang membungkus lengan kanan Eric.

“Masih sakit?”

“Sedikit.”

Percakapan kembali terhenti.

Beberapa saat kemudian, Xavia mengambil sebuah kantong plastik dari samping kursinya dan meletakkannya di atas meja.

“Aku membawakan buah.”

Eric melirik kantong itu.

“Terima kasih.”

“Itu saja.”

Eric mengangguk kecil. “Terima kasih sudah datang.”

Xavia tidak menjawab. Ia hanya duduk beberapa saat dalam diam.

Anehnya, tak satu pun dari mereka merasa perlu memaksakan percakapan.

Sebelum pergi, Xavia berdiri dan menatap Eric sesaat.

“Jaga dirimu.”

“Kamu juga.”

Xavia berbalik dan keluar dari ruangan.

Setelah pintu tertutup, Eric menatap kantong buah di atas meja.

Tak ada hadiah mewah.

Tak ada kata-kata mengharukan.

Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia merasa masih ada seseorang yang benar-benar datang karena mengkhawatirkan keadaannya.

Tak lama setelah Xavia pergi, pintu kembali terbuka.

Empat orang masuk secara bersamaan.

Tiga pria paruh baya dan seorang wanita. Semuanya mengenakan jas dokter lengkap dengan kartu identitas rumah sakit.

Namun tak satu pun wajah mereka pernah dilihat Eric sebelumnya.

Saat itu Andreas dan Dominic masih berada di luar, sehingga hanya Eric seorang diri di dalam kamar.

Salah seorang pria yang tampak paling tua melangkah mendekat.

“Selamat siang. Bagaimana kondisimu sekarang?”

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Eric sopan.

Pria itu mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Baguslah. Kami akan melakukan pemeriksaan singkat.”

Tanpa banyak bicara, mereka mulai memeriksa kondisi Eric.

Tekanan darah, detak jantung, pupil mata, hingga refleks tubuh diperiksa dengan sangat teliti.

Cara mereka bekerja terasa berbeda dari dokter-dokter yang menangani Eric sebelumnya.

Wanita di antara mereka kemudian mengganti cairan infus dengan kantong baru.

“Vitamin untuk mempercepat pemulihan,” jelasnya singkat.

Eric hanya mengangguk.

Tak lama kemudian, salah seorang dokter mendekat sambil membawa sebuah tabung kecil.

“Kami perlu mengambil sedikit sampel darah untuk pemeriksaan lanjutan.”

“Bukankah kemarin darahku sudah diambil?” tanya Eric heran.

Dokter itu tetap tersenyum.

“Hanya prosedur tambahan. Tidak akan lama.”

Nada suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang bagi Eric untuk bertanya lebih jauh.

Beberapa saat kemudian, pria lain merapikan bantal di belakang punggung Eric. Pada saat yang hampir bersamaan, ia mengambil sehelai rambut yang menempel di bahu baju Eric, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik bening berukuran kecil dengan gerakan nyaris tak terlihat.

Seluruh pemeriksaan berlangsung tidak lebih dari sepuluh menit.

Sebelum pergi, dokter tertua itu kembali menatap Eric.

Tatapannya terlihat hangat.

Namun entah mengapa, Eric merasa tatapan itu berbeda dari cara seorang dokter memandang pasiennya.

“Semoga lekas pulih.”

“Terima kasih, Dok.”

Keempat orang itu mengangguk, lalu keluar meninggalkan ruangan.

Pintu kembali tertutup.

Eric menganggap semua itu hanya bagian dari pemeriksaan rutin. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sampel darah dan sehelai rambut yang baru saja dibawa pergi akan mengubah seluruh hidupnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pewaris Terlupakan    Bab 20

    Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,

  • Pewaris Terlupakan    Bab 19

    Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka

  • Pewaris Terlupakan    Bab 18

    Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun

  • Pewaris Terlupakan    Bab 17

    Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b

  • Pewaris Terlupakan    Bab 16

    Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa

  • Pewaris Terlupakan    Bab 15

    Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status