เข้าสู่ระบบDi tempat lain, Eric perlahan membuka mata.
Langit-langit yang menyambut pandangannya bukan lagi langit-langit rumah sakit tempat ia dirawat sebelumnya. Ia mengernyit. Ruangan itu jauh lebih luas. Perabotannya didominasi warna putih dan cokelat tua, sementara jendela kaca besar di sisi ruangan menghadap langsung ke deretan gedung pencakar langit. Udara di dalamnya terasa sejuk dan tenang. Tak terdengar suara pasien lain ataupun hiruk-pikuk lorong rumah sakit. Eric perlahan bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Bahkan terdapat ruang tamu kecil yang terpisah dari area tempat tidurnya. Ini jelas bukan kamar rawat biasa. Eric bahkan tak pernah membayangkan ada ruang perawatan semewah ini. “Di mana aku…?” Semakin lama ia mengamati ruangan tersebut, semakin besar kebingungan yang memenuhi pikirannya. Beberapa saat kemudian, Eric memanggil Legacy Intelligence. Layar transparan segera muncul di hadapannya. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku berada di tempat ini, dan siapa yang membawaku kemari?” Tulisan mulai bermunculan di layar. [Lokasi saat ini: Trinity Hospital.] [Klasifikasi ruangan: VVIP.] [Analisis riwayat perpindahan selesai.] [Pemindahan pasien dilakukan atas pengaturan Keluarga Brown.] Ruangan mendadak terasa semakin sunyi. “Keluarga Brown…?” Nama itu kembali muncul. Nama yang sama dengan yang diperlihatkan sistem beberapa hari sebelumnya. Berarti semua ini bukan kebetulan. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia selalu percaya bahwa dirinya benar-benar sendirian. Masih banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada sistem, terutama mengenai keluarga tersebut. Namun sebelum sempat membuka mulut, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, disusul percakapan dua orang yang semakin mendekat. Eric langsung menoleh ke arah pintu. Tanpa berpikir panjang, ia menutup layar Legacy Intelligence. Layar transparan itu lenyap seketika. Eric kemudian merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Bukan karena ingin tidur, melainkan untuk mengetahui siapa yang datang menemuinya. Klik. Pintu perlahan terbuka. Dua pria melangkah masuk. Begitu melihat Eric masih terbaring, keduanya menghentikan langkah. Pria yang lebih muda mengamati wajah Eric beberapa saat sebelum berkata pelan, “Sepertinya dia masih belum sadar.” Tatapannya tetap tertuju pada Eric cukup lama, seolah sedang memandangi seseorang yang telah lama mati dan tiba-tiba kembali muncul di hadapannya. Kedua pria itu kemudian menarik kursi ke sisi ranjang. Suara gesekan kaki kursi memecah kesunyian. Mereka duduk tanpa mengatakan apa pun lagi, hanya menatap pemuda yang terbaring di atas ranjang. ⸻ Sementara itu, Andreas dan Dominic keluar dari ruang administrasi rumah sakit dengan wajah muram. Tak satu pun dari mereka berbicara. Sesampainya di ujung lorong, Andreas berhenti lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak dan menatap satu nama cukup lama. Xavia. Dominic melirik layar ponselnya. “Mau menelepon dia?” Andreas terdiam beberapa saat sebelum mengangguk. Nada sambung terdengar. Tak lama kemudian, panggilan terangkat. “Halo?” “Aku Andreas.” “Ada apa?” Andreas memandang lorong rumah sakit yang dipenuhi orang berlalu-lalang. “Eric hilang. Bangsalnya kosong, data rumah sakitnya juga menghilang. Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada yang tahu dia dipindahkan ke mana.” Seberang telepon mendadak hening. “Apa maksudmu hilang?” “Aku juga tidak tahu. Aku sebenarnya ingin terus mencari, tapi keluargaku melarangku ikut campur lebih jauh. Mereka bilang masalah ini bukan lagi urusanku.” Andreas berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tau Keluarga Jones punya koneksi, bisakah kamu membantuku kali ini saja mencari keberadaan Eric?” Keheningan kembali terdengar selama beberapa detik. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” jawab Xavia. “Tapi akan kucoba.” “Terima kasih.” Panggilan berakhir. Andreas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Dominic menoleh kepadanya. “Bagaimana?” “Dia hanya bilang akan mencoba.” Keduanya kembali menyusuri lorong rumah sakit tanpa mengatakan apa pun lagi. ⸻ Sekitar satu jam kemudian, ponsel Andreas kembali berdering. Nama Xavia muncul di layar. Ia segera mengangkatnya. “Bagaimana?” “Aku sudah meminta bantuan pamanku,” jawab Xavia pelan. “Dia sempat mencari informasi dari pihak rumah sakit. Ada satu hal yang berhasil dipastikan.” “Apa?” “Eric sudah tidak berada di sana.” “Itu kami juga tahu.” “Bukan itu maksudku.” Xavia berhenti sejenak. “Eric dijemput.” Andreas mengernyit. “Dijemput?” “Ya. Menurut informasi yang kudapat, seseorang datang dan mengurus seluruh proses pemindahannya. Orang itu mengaku sebagai anggota keluarganya.” Andreas terdiam. Ia menoleh kepada Dominic, yang segera membalas tatapannya dengan wajah penuh kebingungan. “Itu tidak mungkin. Eric pernah bilang dia sudah tidak punya keluarga.” “Aku hanya menyampaikan informasi yang kudapat,” ujar Xavia. “Pamanku bilang, setelah orang-orang itu datang, seluruh administrasi rumah sakit langsung berubah. Setelah itu, jejak Eric menghilang.” “Lalu mereka membawanya ke mana?” “Aku tidak tahu. Itu informasi terakhir yang berhasil didapat.” Keheningan kembali terdengar dari kedua sisi telepon. Beberapa detik kemudian, Xavia berkata pelan, “Maaf. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini.” Andreas menunduk sejenak. “Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih.” Panggilan pun berakhir. Andreas menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku. Dominic akhirnya bertanya, “Jadi, Eric benar-benar dijemput keluarganya?” “Aku juga tidak tahu.” Tatapan Andreas mengarah ke lorong rumah sakit yang ramai. “Tapi kalau memang dia masih punya keluarga, kenapa mereka baru muncul sekarang?” Dominic tidak menjawab. Tak seorang pun dari mereka memiliki jawaban. ⸻ Di Trinity Hospital, kedua pria itu masih duduk di sisi ranjang Eric. Beberapa saat berlalu sebelum pria yang lebih muda akhirnya membuka suara. “Semakin lama kulihat, anak ini benar-benar mengingatkanku pada ayahnya.” Pria tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Eric. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat. “Memang mirip, tapi ayahnya tidak setampan ini.” Pria yang lebih muda terkekeh. “Akhirnya Paman mengakuinya juga.” Ia kembali mengamati wajah Eric. “Menurutku, anak ini lebih banyak mewarisi wajah ibunya. Hidungnya mengikuti ayahnya, tapi matanya jelas bukan.” Pria tua itu mengangguk pelan. “Untung wajahnya lebih banyak mengikuti ibunya.” Pria tua itu tersenyum. “Kalau terlalu mirip John… aku jadi sulit membedakan mereka.” Pria yang lebih muda tertawa kecil. Eric tetap memejamkan mata. Sejak kedua pria itu masuk, ia tak pernah benar-benar tertidur. Setiap kata yang mereka ucapkan terdengar jelas olehnya. John. Nama itu beberapa kali muncul dalam percakapan mereka. Kedua pria tersebut masih terus berbicara, tetapi semakin lama Eric mendengarkan, semakin sedikit yang ia pahami. Beberapa saat kemudian, ia menarik napas pelan lalu membuka mata. Tatapannya langsung bertemu dengan kedua pria yang duduk di sisi ranjang. Tak ada keterkejutan di wajah mereka. Seolah sejak awal mereka sudah mengetahui bahwa Eric sebenarnya telah sadar. Eric menatap keduanya bergantian sebelum akhirnya bertanya, “Siapa sebenarnya kalian?” Ruangan itu hening. Tak satu pun dari mereka langsung menjawab.Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







