공유

Bab 5

작가: mr.midi
last update 게시일: 2026-07-24 07:14:43

Di Trinity Hospital, kedua pria itu masih duduk di sisi ranjang Eric.

Beberapa saat berlalu sebelum pria yang lebih muda akhirnya membuka suara.

“Semakin lama kulihat, anak ini benar-benar mengingatkanku pada ayahnya.”

Pria tua di sampingnya tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada wajah Eric.

Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Memang mirip, tapi ayahnya tidak setampan ini.”

Pria yang lebih muda terkekeh.

“Akhirnya Paman mengakuinya juga.”

Ia kembali mengamati wajah Eric.

“Menurutku, anak ini lebih banyak mewarisi wajah ibunya. Hidungnya mengikuti ayahnya, tapi matanya jelas bukan.”

Pria tua itu mengangguk pelan.

“Untung wajahnya lebih banyak mengikuti ibunya.” Pria tua itu tersenyum. “Kalau terlalu mirip John… aku jadi sulit membedakan mereka.”

Pria yang lebih muda tertawa kecil.

Eric tetap memejamkan mata.

Sejak kedua pria itu masuk, ia tak pernah benar-benar tertidur. Setiap kata yang mereka ucapkan terdengar jelas olehnya.

John.

Nama itu beberapa kali muncul dalam percakapan mereka.

Kedua pria tersebut masih terus berbicara, tetapi semakin lama Eric mendengarkan, semakin sedikit yang ia pahami.

Beberapa saat kemudian, ia menarik napas pelan lalu membuka mata.

Tatapannya langsung bertemu dengan kedua pria yang duduk di sisi ranjang.

Tak ada keterkejutan di wajah mereka.

Seolah sejak awal mereka sudah mengetahui bahwa Eric sebenarnya telah sadar.

Eric menatap keduanya bergantian sebelum akhirnya bertanya, “Siapa sebenarnya kalian?”

Ruangan itu hening.

Tak satu pun dari mereka langsung menjawab.

Sudut bibir kedua pria itu perlahan terangkat.

Pria yang lebih muda menggeleng pelan.

“Akhirnya bosan juga berpura-pura tidur?”

Eric tidak menjawab. Tatapannya bergantian berpindah dari pria itu kepada lelaki tua di sampingnya.

Ruangan kembali hening.

Lelaki tua itu berdiri lebih dulu.

“Namaku Noah Brown. Usiaku tujuh puluh dua tahun.” Ia kemudian menoleh ke samping. “Dan dia Liam Baker.”

Liam menganggukkan kepala tipis.

“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.”

Eric hanya mengangguk kecil. Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali membuka suara. “Siapa sebenarnya kalian?”

Noah tidak langsung menjawab.

Ia berjalan pelan menuju jendela dan memandang deretan gedung di luar. Tangannya meraih tongkat yang sejak tadi bersandar di sisi kursi, lalu jemarinya mengetuk gagangnya dua kali.

Baru setelah itu ia berbalik.

“Kau lapar?”

Pertanyaan tersebut membuat Eric terdiam.

Noah melirik Liam.

“Tolong minta mereka menyiapkan sesuatu yang hangat. Dia baru bangun.”

“Baik.”

Liam segera keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Kini hanya tersisa Noah dan Eric di dalam ruangan.

Noah menarik kursinya sedikit lebih dekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup agar suaranya terdengar jelas.

“Aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan. Namun tidak semuanya harus dijawab hari ini.”

Tatapannya jatuh pada gips di lengan kanan Eric.

Tangan Noah bergerak seolah hendak menyentuhnya, tetapi berhenti di tengah jalan. Ia akhirnya hanya merapikan ujung selimut yang sedikit terlipat.

“Aku hanya berharap kau mau mendengarkan sampai aku selesai.”

Eric hanya menatapnya tanpa mengatakan apa pun.

“Aku akan mulai dari awal. Bukan tentang dirimu, melainkan tentang seorang anak laki-laki yang dua puluh dua tahun lalu memilih meninggalkan rumah.”

Eric memandang Noah dengan ekspresi serius.

Ibu jari Noah terus mengusap kepala tongkat, menunjukkan bahwa ketenangannya tidak sepenuhnya nyata.

Tak lama kemudian, Liam kembali membawa secangkir teh hangat dan semangkuk sup. Ia meletakkan teh di hadapan Noah, lalu menaruh sup di atas meja kecil di sisi ranjang Eric.

Tak ada yang langsung menyentuhnya.

Noah mengangkat cangkir lebih dulu. Uap tipis mengepul di antara mereka.

Ia menatap Eric cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Ayahmu keras kepala. Sejak kecil sudah begitu. Kalau dia memutuskan sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu mengubah pikirannya.”

Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Sifat itu masih belum berubah sampai hari terakhir aku bertemu dengannya.”

Liam mengangguk. “John memilih jalannya sendiri.”

Eric dapat merasakan keseriusan keduanya.

Noah sempat mengangkat cangkirnya, tetapi belum sempat meminum isinya, cangkir itu kembali ia letakkan di atas meja.

“Sejak hari itu, kami tidak pernah benar-benar berbicara lagi. Beberapa keputusan memang terlalu mahal untuk dibayar.”

Liam menatap Noah sekilas, tetapi tidak menyela.

Eric akhirnya bertanya, “Kalau begitu, Anda mengenal ayah saya?”

“Iya. Sudah sangat lama.”

“Dan ibu saya?”

Noah mengangguk pelan. “Aku juga mengenalnya.”

Eric menatapnya semakin tajam. “Kalau memang begitu, kenapa Anda tidak pernah datang menemui kami dulu?”

Ruangan kembali sunyi.

Noah memandang keluar jendela. Cahaya sore terpantul pada deretan gedung tinggi di kejauhan.

Beberapa saat kemudian, ia menjawab pelan, “Aku mencarinya, tetapi sudah terlambat.”

Liam menundukkan pandangan.

Tak seorang pun menambahkan penjelasan.

Eric mengamati keduanya bergantian.

Noah mengetahui terlalu banyak tentang ayah dan ibunya. Bukan seperti seseorang yang hanya pernah mengenal mereka, melainkan seperti orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Tatapan Eric kembali berhenti pada wajah Noah.

“Nama keluarga Anda Brown.”

Noah mengangguk.

Eric menurunkan pandangannya pada tangan Noah yang masih menggenggam cangkir teh, lalu kembali menatap wajah lelaki tua itu.

“Anda mencari ayah saya, mengenal ibu saya, dan menggunakan nama keluarga Brown.”

Tak ada yang menyela.

Liam hanya duduk diam.

Eric menarik napas pendek.

“Jadi Anda… keluarga ayah saya?”

Noah tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja dengan sangat pelan.

Eric menatapnya beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.

“Kakek?”

Noah menutup mata sesaat.

Ketika membukanya kembali, wajahnya tetap setenang sebelumnya. Ia hanya mengangguk sekali.

Tangannya perlahan terangkat, hampir menyentuh bahu Eric. Namun jemarinya yang sedikit bergetar berhenti di tengah jalan. Pada akhirnya, Noah hanya merapikan lipatan selimut di sisi ranjang.

“Maaf.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Tak seorang pun tahu harus memulai dari mana.

Liam akhirnya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

“Kalau kita terus diam seperti ini, dia bisa mengira kita datang untuk menagih utang.”

Sudut bibir Noah bergerak tipis.

Eric pun tanpa sadar mengembuskan napas kecil. Suasana kaku yang sejak tadi menyelimuti ruangan perlahan mulai mengendur.

Liam kemudian menoleh kepadanya. “Kurasa Paman Noah memperkenalkanku terlalu singkat. Namaku Liam Baker, teman ayahmu. Dulu ayahmu sering menyeretku ke dalam masalah.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sendiri. “Kalau dipikir-pikir sekarang, lebih banyak dia menyusahkanku daripada membantuku.”

Noah meliriknya sekilas. “Liam, kau juga tidak kalah sering menyusahkannya.”

Liam tertawa pelan.

Ia kembali memandang Eric. “Kalau tidak keberatan, panggil saja aku Paman Liam. Rasanya lebih enak didengar.”

Eric mengangguk kecil.

“Baik, Paman Liam.”

Untuk sesaat, Liam hanya memandangi wajah Eric. Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama sebelum ia menepuk lututnya sendiri dan berdiri.

“Mulai hari ini, kalau ada sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, cari aku. Jangan sungkan. Kalau Paman Noah sedang sibuk, datang saja kepadaku.”

Eric menatap Liam.

Noah yang sejak tadi diam kembali mengangkat cangkir tehnya. Ia tidak berkomentar ataupun membantah.

Sikap diamnya justru seperti membenarkan setiap kata Liam.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status