Share

56. Suara Raka

Penulis: D'Rose
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 22:40:18

Setelah meeting yang panjang dan memakan waktu sekitar dua jam. Mereka menemukan kesepakatan yang di setujui semua pihak. Saatnya jam pulang kerja, di lobi sudah ada Rafli, Raka dan Genta.

"Huh, orang bisu juga mau ikut?" Semuanya terlihat heran, beberapa orang mungkin tidak tahu tujuan mereka kali ini.

"Sepertinya kita akan mulai lagi dari awal." Genta menimpali.

"Let's go!" Evan langsung mengacungkan kunci mobil.

Mereka pergi dengan satu mobil ke club malam yang berada di pusat ibu kota. Kali
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   66. Hal Yang Tidak Perlu

    "Aku dengar Thea pulang bersama Kak Zee. Syukurlah, dia sudah kembali bersama keluarganya. Bisakah aku bertemu dengannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.""Tentu saja Nona Thea lebih baik tinggal bersama keluarganya sendiri. Hari sudah larut sepertinya akan mengecewakan Tuan Muda Carson, karena Nona Thea harusnya sudah beristirahat saat ini." Lagi-lagi Evan yang menjawab. Zee hanya duduk memandang Revan dengan tatapan tajam. "Ah, maaf aku melupakan hal ini. kalau begitu aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Thea."Sepeninggalan Revan, Zee pergi ke ruang makan. piring kasih yang bersih masih berada di hadapan Thea. "Kenapa masih belum makan? menunggu?" Thea mengangguk sebagai jawabannya. tidak mau memperkeruh suasana. Tanpa berkata lagi, Zee duduk mengisi piring dengan nasi dan lau pauk. Suasana ruang makan sangat sepi, tapi Thea diam-diam terus menyuap makan sambil mencuri pandang pada Zee. "Revan. Orang seperti apa di mata Zee?" Zee terlihat termenung, rupanya Th

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   65. Tamu Tak Diundang

    "Maafkan Zee enggak bisa membantu pada saat itu." Lagi-lagi karena Zee tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang kakak. "Bukannya Arun Bagaskara sangat mencintaimu, Thea... Aku bisa lihat dari cara dia memandangi mu sejak dulu. Kamu cinta pertamanya--""Aku dan dia sudah selesai, Zee jangan bahas lagi." Thea langsung memotong perkataan Zee. Hening sesaat terjadi, diantara mereka berdua. Canggung lebih tepatnya."Baiklah, aku enggak akan singgung soal orang itu lagi. Tapi kami harus tahu, ketika kamu pergi setelah bercerai dengan Arun dalam keadaan hamil. Mama dan Papa menyesali perbuatan mereka untuk memaksakan perjodohan ini." Bahkan perkataan Araya terakhir adalah ingin membawa Thea kembali pulang.Semua pembicaraan harus diselesaikan di hari ini juga. Zee yang terbiasa kalah dengan sifat keras kepalanya Thea, namu kali ini harus benar-benar menahan egonya sementara waktu. "Kemudian mereka mulai khawatir dengan kamu yang berada di luar sana, kamu bisa menjadi target dari

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   64. Tidak Semuanya Baik

    Sekembalinya mereka dari pemakaman, Thea hanya duduk terdiam diatas tempat tidur dengan tatapan kosong. Hari yang mulai gelap dan angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar dibiarkan saja dengan jendela kamar yang terbuka.Setelah mengamati cukup lama kondisinya, Zee memutuskan masuk kedalam kamar Thea. Hal yang pertama Zee adalah menyalakan lampu, menutup jendela dan gordennya. Eva datang menyusul membawakan nampan berisikan bubur dan susu. Zee yang menerimanya dan menyuruh Eva kembali beristirahat. "Mau aku suapi atau makan sendiri?"Perasaan Thea saat ini sangat Zee pahami, karena pernah berada di posisi yang sama. Terlebih lagi Thea merupakan anak kandung Tedi dan Araya. Perasaan kehilangannya jauh lebih dalam tentunya. Tapi kondisi Thea sedang hamil, dia tidak boleh mengabaikan bayi dalam perutnya."Kamu dan aku disini. Kita saling memiliki Thea. Enggak usah khawatirkan masa depan atau pun masa lalu."---Seminggu sudah Thea berada di pulau Paradise, tapi tidak ada niatan diri

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   63. Kebohongan Dan Kejujuran

    "Udah bangun?" Thea terlihat kebingungan karena selama perjalanan dia tertidur dengan lelap. Bahkan ketika Zee memindahkannya ke dalam kamar."Pulau Paradise." Tambah Zee sambil duduk di sampingnya dan juga dengan satu napan sarapan yang sudah dibuatkan Eva yang awalnya dibuatkan untuk Zee."Hey!" Thea mencomot piring sarapan Zee. Kelakuannya ternyata tidak berubah. Banyak kekhawatiran yang bertebaran di kepala Zee, namun melihat sikap Thea yang tidak berubah banyak membuatnya lega dan tidak bingung dengan apa yang harus dilakukan Zee dalam menghadapi Thea. "Lapar. Lagian jahat banget sarapannya sendirian aja.""Iya paham, tapi enggak nyomot makanan ku juga." Andai Araya masih ada dan bersama dengan mereka berdua pasti lengkap sudah kejadian manis ini bisa berlangsung lama."Cepat habiskan, udah gitu mandi sana." Zee hanya bisa tersenyum walau di hatinya masih ada yang mengganjal dan juga harus merelakan sarapannya berpindah ke perut Thea."Ngapain mandi? Kek Mau pergi aja.""Ih, jor

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   62. Di Luar Prediksi

    "Bisa bawa aku pergi dari sini? Sebelum orang itu menemukanku?""Thea mau pergi kemana?" Ditanya seperti itu, ekspresi di wajah Thea terlihat sangat kebingungan. Sepertinya Thea sendiri belum sempat memutuskan untuk pergi kemana, ditambah hamil besar itu akan menyulitkan dirinya bergerak apalagi harus menghindari seseorang yang masih belum jelas bagi Zee siapa orang yang dimaksud."Thea, mau pulang bareng aku."Zee mundur sedikit sambil mengulurkan tangan kanannya pada Thea. Seolah pengucapan janji akan selalu menjaga Thea. Tanpa di duga, Thea menggenggam tangan Zee dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Zee mengangguk, senyum terkembang diwajahnya. "Ayo kita pulang." Zee berjalan, rupanya Eva dan Evan tetap mengawasi keduanya, Zee sudah tahu dan membuat kode supaya mereka mempercepat penerbangan. Sekali pun belum bisa lepas landas, mereka bisa menunggu di dalam pesawat sembari menyembunyikan Thea dari bandara. "Thea gendutan ya..." Ejek Zee guna mencairkan suasana atas keheningan

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   61. Membawa Kembali Yang Sudah Pergi

    Mereka membuat rencana tersembunyi setelah Zee tahu pilihan Niken. Ternyata Niken lebih memilih berpisah dengan Zee satu tahun dari pada melepaskan hubungan mereka selamanya.Saran Rafli, Zee tetap harus menjaga hubungan baik dengan Zara. Disituasi yang tidak menentu seperti saat ini, tidak usah mengkonfortasi dan menimbulkan masalah besar dikemudian hari. Maka Zee akan kembali bersama Georgio kembali pulang tanpa sepengetahuan Zara.Hanya Eva dan Evan yang Zee bawa. Sisanya Zee tinggalkan di kastil agar Zara tidak curiga.Alasan membawa keduanya karena urusan bisnis yang mengharuskan ikut dengan Zee.Pasti Zara menaruh orang untuk memata-matai Zee, maka dari dengan batuan Raka untuk mengurus segala keperluan mereka kembali pulang secara diam-diam."Bibi kira kamu akan lama disini.""Lalu perusahaan siapa yang akan mengurus kalau aku disini.""Baiklah, hati-hati di jalan sayang." Zee bersama Eva dan Evan meninggalkan kastil tempat tinggal Zara.Sedangkan segala administrasi untuk meng

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   53. Georgi Atau Anthea

    Ditengah kebingungan Zee, Araya terlihat buru-buru berjalan sambil merapikan rambutnya."Ibu mau kemana?""Thea sudah ditemukan, Ibu harus pergi menemuinya." Melewati Zee dan berjalan kearah keluar."Ibu aku--""Ibu akan segera kembali setelah semuanya selesai, hm?" Ucapnya sambil mengelus puncak k

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   52. Semuanya Menghilang

    "Sudahlah Ibu, aku juga yang bersalah meninggalkan kalian dengan manusia penipu seperti Ayah. Menangislah dulu dengan puas, aku tahu Ibu sudah memendam semua ini sendirian." Zee menepuk-nepuk punggung Araya halus.Seperti menina bobokan anak kecil. Itu berhasil, Araya mungkin lelah karena perjalana

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   50. Kekurangan Sekutu

    Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Zee, dengan menekan tombol di remot kontrol, kaca pintu langsung berubah menjadi bening yang sebelumnya sengaja Zee buat buram selama berbicara dengan Eva. Zara langsung membuka pintu saat Zee menganggukan kepala, mempersilahkannya masuk. "Bibi tahu kamu

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   49. Semakin Rumit

    Saat Zee masuk kedalam rumah, semua wajah yang ada disana memandang ke arahnya dengan cemas. Bahkan Niken datang berlari dan langsung memeluk Zee. 'Seburuk itukah kondisi Kakek.' batin Zee."Sayang, bisnismu lancar di Ibu Kota?" Zara datang membuat Zee bertanya mengapa orang ini bisa ada di rumah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status