ANMELDEN"Bisa bawa aku pergi dari sini? Sebelum orang itu menemukanku?""Thea mau pergi kemana?" Ditanya seperti itu, ekspresi di wajah Thea terlihat sangat kebingungan. Sepertinya Thea sendiri belum sempat memutuskan untuk pergi kemana, ditambah hamil besar itu akan menyulitkan dirinya bergerak apalagi harus menghindari seseorang yang masih belum jelas bagi Zee siapa orang yang dimaksud."Thea, mau pulang bareng aku."Zee mundur sedikit sambil mengulurkan tangan kanannya pada Thea. Seolah pengucapan janji akan selalu menjaga Thea. Tanpa di duga, Thea menggenggam tangan Zee dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Zee mengangguk, senyum terkembang diwajahnya. "Ayo kita pulang." Zee berjalan, rupanya Eva dan Evan tetap mengawasi keduanya, Zee sudah tahu dan membuat kode supaya mereka mempercepat penerbangan. Sekali pun belum bisa lepas landas, mereka bisa menunggu di dalam pesawat sembari menyembunyikan Thea dari bandara. "Thea gendutan ya..." Ejek Zee guna mencairkan suasana atas keheningan
Mereka membuat rencana tersembunyi setelah Zee tahu pilihan Niken. Ternyata Niken lebih memilih berpisah dengan Zee satu tahun dari pada melepaskan hubungan mereka selamanya.Saran Rafli, Zee tetap harus menjaga hubungan baik dengan Zara. Disituasi yang tidak menentu seperti saat ini, tidak usah mengkonfortasi dan menimbulkan masalah besar dikemudian hari. Maka Zee akan kembali bersama Georgio kembali pulang tanpa sepengetahuan Zara.Hanya Eva dan Evan yang Zee bawa. Sisanya Zee tinggalkan di kastil agar Zara tidak curiga.Alasan membawa keduanya karena urusan bisnis yang mengharuskan ikut dengan Zee.Pasti Zara menaruh orang untuk memata-matai Zee, maka dari dengan batuan Raka untuk mengurus segala keperluan mereka kembali pulang secara diam-diam."Bibi kira kamu akan lama disini.""Lalu perusahaan siapa yang akan mengurus kalau aku disini.""Baiklah, hati-hati di jalan sayang." Zee bersama Eva dan Evan meninggalkan kastil tempat tinggal Zara.Sedangkan segala administrasi untuk meng
Setelah mengemudi selama satu jam. Zee berhasil sampai di rumah sakit tempat Georgio di rawat.Langsung Zee menemui bagian resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Georgio. "Maaf, saya mau bertanya di kamar berapa pasien bernama Georgio Theodora." Tanya Zee menggunakan bahasa negara ini."Ada di kamar 441, lantai dua.""Baik, terima kasih atas informasinya." Percakapan dengan suster itu berakhir. Zee langsung pergi menuju arahan yang sudah diberikan. Lantai dua.Namun Zee kembali memutar balik langkahnya setela melewati lorong disebelah kirinya. Walau hal mustahil, tapi Zee ingin kebih memastikan pandangannya.Rambut panjang terurai menggunakan mantel berwarna abu-abu. Serta tas kecil yang tersampir dibahunya.Thea sedang duduk di bangku tunggu depan ruang pemeriksaan obgyn. Perutnya sudah sangat membesar. Sudah berapa bulan kira-kira?Seorang suster keluar dari ruangan itu memanggil namanya sebelum Zee sempat menghampirinya. Lagi-lagi kesempatan itu hilang.Georgio, Zee harus fokus s
"Ah, kamu so sweet sekali sih. Bibi jadi ingat Ibumu..." Ada jeda beberapa saat diantara mereka "Bibi sudah melihat beritanya, turut berduka cita. Maaf juga Bibi tidak bisa kesana.""Tidak apa, lagi pula jika Bibi Zara kesana akan terjadi sesuatu karena aku lepas kendali. Sudah pilihan tepat diam, Bibi Zara mengurus Niken dan Kakek disni." Mengingat apa yang Zee perbuat malam itu. Kemungkinan besar nyonya Zara juga akan kena imbasnya bila datang pada hari dimana Zee lepas kendali."Istirahat dulu, Bibi tahu kamu jetlag.""Terima kasih Bibi Zara.""Dah, sayang."Zee tidur beberapa jam sebelum makan malam tiba. Setidaknya Zee masih bisa tertidur pulas sampai segerombolan manusia kurang kerjaan datang mengganggu tidur Zee."Ayo turun, kami lapar." Rengek Raka di susul dengan ekspresi Evan yang memelas. Begitulah pemandangan yang Zee lihat setelah membuka pintu kamarnya."Kalau kalian lapar turun saja duluan. Aku mau tidur lagi.""Tidak nyaman, yang tamu utama disini Tuan Muda. Jadi kami
"Kak Zee." Kini giliran Evan yang masuk ke dalam kamar. "Apa kamu mau seharian di dalam kamar?" Sambungnya lagi."Bukannya hari ini enggak ada agenda. Oh iya, sore nanti masukkan satu meeting kedalam jadwal. Kita akan meeting disini aja.""Apa? Para direksi sudah di beritahu?" Evan mulai panik, melihat itu sekalian saja Zee kerjai dirinya."Belum, itu kan tugasmu. Masa harus aku juga yang turun tangan untuk hal seperti itu.""Baik siapa saja yang harus aku hubungin." Evan langsung pada mode sirus secara profesional."Pak Raka, Pak Genta dan Pak Rafli." Evan mencatat dengan teliti di smartphonenya dan baru menyadari itu saat Zee selesai berbicara."Kak Zee!" Teriaknya karena sebal Zee kerjai."Makannya jangan terlalu serius, aku udah minta Raka ngumpulin infomasi kelemahan perusahaan kemarin yang bikin kita pusing tujuh keliling." Bahkan Evan tertawa saat mengingat proposal perjanjian kerja sama yang dibuatnya berulang kali dan masih saja belum menemukan kesepakatan."Setelah kerja sa
"Sebenarnya kalau aku enggak bisa diselamatkan malam itu. Aku sudah bisa menerimanya dengan lapang dada." Ternyata Raka masih mengganjal tentang kejadian itu. Raka merasa harus membahas malam dimana Zee menebas lehernya dengan samurai yang terpanjang di dinding"Maafkan aku malam itu sudah lepas kendali.""Enggak Kak, kami semua bersalah pada malam itu. Genta dan Evan secara enggak sengaja melihat pesan dari Nyonya Theodora." Saat ini Zee sangat ingin menyela, kalau Zee lakukan itu semua ini tidak akan selesai sampai kapanpun, diantara mereka Zee harus jadi pendengar agar ada penyelesaiannya."Kami ingin kalian bertemu tanpa mengacaukan situasi apapun. Maka kami putuskan untuk pindah ke hotel untuk sementara. Situasi berubah saat penyakit Nona Niken kambuh. Kami pikir itu hanya demam biasa. Tapi dia ternyata mengidap kangker otak stadium tiga."Kalian bertemu di rumah sakit, bukan semata-mata hanya akal bulus Nona Niken untuk mengejar anda." Zee masih mendengarkan sampai saatnya Zee







