로그인Di saat Mirah sibuk mengajarkan teknik diplomasi kulit yang halus, Nani justru memilih jalur yang lebih instan dan brutal di Jakarta Barat. Baginya, waktu adalah uang, dan setiap detik di kamar VIP harus dikonversi menjadi rupiah melalui servis yang tak terlupakan. Ia tidak peduli jika harus melompati semua batasan moral demi memuaskan dahaga kekuasaan Agam.
Uap panas dari diffuser memenuhi kamar VIP nomor tujuh Griya Binal hingga terasa menyesakkan. Nani berdiri angkuh di ten
Sinar senter itu menusuk mata Mirah, membuatnya spontan mengangkat tangan untuk menghalau silau."Aa... anu, cuma mau cari minum, Pak. Haus banget habis melayani Mas Agam," ucap Mirah, mengatur nada suaranya agar tetap menggoda meski hatinya mencelos."Balik ke kamar, Mbak. Mas Agam nggak suka barang miliknya keluyuran malam-malam," tegur penjaga itu tanpa ekspresi.Mirah berbalik dengan langkah gontai, telinganya masih menangkap sisa rintihan Elang yang seolah menyatu dengan deru angin Puncak. 'Sial, gue tahu lo di bawah sana, Lang. Tunggu gue, gue bakal cari cara buat tarik lo keluar,' sumpah Mirah dalam batinnya.Pagi menyengat dengan aroma kopi mahal saat Agam mengumpulkan semua orang di aula utama villa yang disulap menjadi ruang ujian. Ternyata, Agam sengaja menyuruh rombongan Nani, Mbak Sesil, dan para juri senior menyusul ke Puncak subuh tadi menggunakan bus khusus perusahaan.Alasannya simpel, Agam ingin tes tahap pertama ini dilakukan di
Kabut tebal Puncak merayap pelan menyelimuti dinding kaca villa mewah milik Agam.Mirah berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan hutan pinus yang nampak seperti raksasa hitam yang siap menelannya bulat-bulat.'Gusti, tempat ini jauh banget dari mana-mana, kalau Agam mau habisin gue sekarang juga nggak ada yang tahu,' rintih Mirah dalam batinnya yang penuh keringat dingin."Mir, jangan cuma liat kabut. Sini, minyaknya udah anget," panggil Agam dari arah ranjang jati berukuran raksasa.Ditariknya napas panjang oleh Mirah, lalu dia berbalik sambil menyunggingkan senyum yang sudah dipoles sempurna pasca operasi.Agam nampak sudah rebahan telentang, hanya mengenakan kain sutra tipis yang menutupi bagian tengah tubuhnya yang mulai menegang."Pijat yuk, Mas...?" suara Mirah terdengar serak, sebuah kode pembuka yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan pria mana pun."Sini lo. Gue mau buktiin kalau wajah baru lo ini bukan cuma paja
Lampu neon ruko Selatan berpendar terang, memantulkan bayangan Mirah yang baru saja selesai mematut diri. Wajahnya nampak begitu mempesona, garis rahangnya lebih tegas hasil pahatan dokter ahli yang membuat siapa pun menahan napas. Dibalut kebaya sutra tipis yang menonjolkan lekuk pinggang serta dadanya yang kian padat, dia nampak seperti dewi yang turun ke lembah dosa.'Gusti, kalau Elang liat gue begini, apa dia masih ngenalin gue sebagai Mirah yang dulu?' rintihnya dalam batin yang berkecamuk."Mbak Mirah, tamu di kamar VVIP satu sudah nunggu. Katanya ini pejabat pusat rekomendasi Pak Sudono," bisik Sari pelan."Siapa namanya, Sar? Jangan sampai gue salah panggil, nanti mood-nya rusak.""Bapak Heru, Mbak. Dia minta paket lengkap 'Pijat Yuk Mas' yang lagi viral itu."Mirah tersenyum tipis, merapikan rambutnya sebelum melangkah anggun menuju koridor lantai dua yang beraroma terapi mawar.Langkah kakinya yang jenjang terhenti di dep
Mbak Sesil melangkah masuk ke lobi ruko Selatan dengan sepatu hak tinggi yang bunyinya memantul keras. Di belakangnya, dua petugas Dinas Kesehatan memegang papan klip dengan wajah datar. Mirah memasang senyum manis, meskipun jantungnya berdegup kencang di balik kebaya sutranya."Silakan, Mbak Sesil. Semua sudut sudah kami bersihkan sesuai standar VVIP Mas Agam," ucap Mirah percaya diri.Mbak Sesil tidak menjawab. Dia mengusapkan telunjuk ke meja resepsionis, mencari debu yang mungkin terlewat. Diliriknya jari itu, lalu dia memberikan kode rahasia pada petugas dinkes."Kita cek area gudang minyak dan sprei, sekarang," perintah Mbak Sesil dingin.Sari yang berdiri di belakang Mirah mendadak meremas ujung roknya sampai kusut. 'Duh, jangan sampai mereka nemu botol minyak yang disabotase anak buah Nani,' batin Mirah cemas.Sementara itu, di Griya Binal, Maya berdiri di depan barisan terapis Barat memegang botol berisi cairan keruh."Inget ya, pas
Ulat bulu itu menggeliat di atas sprei, menciptakan pemandangan yang membuat perut Mirah mual seketika. Dia menyambar botol alkohol, lalu menyemprotkan isinya dengan beringas hingga ulat-ulat itu jatuh ke lantai granit."Sari! Ganti semua sprei di lantai dua! Sekarang!" teriak Mirah dengan suara bergetar karena emosi. Gara-gara panik, Sari nyaris terpeleset saat berlari membawa tumpukan kain bersih dari gudang belakang.'Bener-bener Sesil mau main kotor, dia pikir gue bakal nyerah cuma gara-gara gatal?' maki Mirah dalam batinnya.Tamu di kamar nomor tiga akhirnya tenang setelah Mirah memberikan diskon khusus dan servis tambahan pribadi. Kini, Mirah mengumpulkan seluruh terapis anak buahnya di aula tengah yang lampunya sengaja diredupkan.Wajah barunya nampak sangat angker di bawah sorot lampu kuning, menciptakan aura kepemimpinan yang mutlak. "Denger ya semuanya! Sayembara Agam itu bukan cuma soal hadiah liburan!""Ini soal harga diri Selatan! Gue
Matahari baru saja naik ketika Mirah melangkah keluar dari lift hotel mewah itu dengan kaki lemas. Sisa aroma cerutu Agam seolah masih menempel di rambutnya, bercampur rasa lengket minyak pijat yang belum sempat dibilas bersih.Ditariknya napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang tersisa akibat diplomasi ranjang semalam. 'Duh, punggung gue rasanya mau rontok, tapi demi Elang... gue harus kelihatan tegak,' batin Mirah sambil membenahi kerah blusnya.Taksi membawanya kembali ke ruko Selatan dalam waktu singkat. Sesampainya di lobi Taman Suci, kerumunan terapis muda sudah berkumpul dengan wajah penuh tanya.Agam sudah berdiri di sana, dikelilingi oleh Mbak Sesil dan jajaran senior yang nampak sangat dingin. Nani juga hadir, berdiri di pojok ruangan dengan tatapan mata yang seolah ingin merobek wajah cantik Mirah."Perhatian semuanya! Gue nggak mau buang waktu buat basa-basi!" teriak Agam sambil menggebrak meja bar. Suasana mendadak senyap,







