Share

Part 53

Penulis: Hanina Zhafira
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-29 22:34:33

Pisah Terindah

#53

"Kalau Shahna pengen bobo sama Papa bagaimana?"

Aku tertegun, lidahku terasa kelu dan otakku seketika kehilangan memori yang berisi huruf-huruf. Aku dibuat tak mampu merangkai kata-kata.

"Nanti bisa menginap di rumah Oma." Aku mengucapkan kalimat yang tiba-tiba saja mampir ke kepalaku.

"Nggak mau di rumah Oma. Rumah Oma 'kan jauh. Maunya di sini, di rumah kita."

Aku kembali terdiam. Sepertinya aku memang belum bisa untuk memberi pengertian yang sederhana namun bisa dimengerti dan dimaklumi oleh anak seusia Shahna.

Sepertinya harus bertahap dan pelan-pelan.

Aku pun memilih untuk tidak melanjutkan lagi obrolan kami. Aku tidak mau memberi harapan-harapan kosong pada Shahna. Aku tak ingin mengecewakannya lebih dalam lagi. Setiap anak pasti akan sangat kecewa atas pepisahan kedua orang tuanya, apa pun alasannya. Tak terkecuali dengan Shahna.

Terkait bagaimana pertemuan antara Shahna dan Papanya untuk ke depannya, aku rasa lebih baik dibicarakan dulu dengan Mas Da
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Bunga Melati
author apa cerita ini udah ngak lanjut kah ..???
goodnovel comment avatar
Zul Farida
penulisnya bingung mau menceritakan apa, kasihaaaaan.
goodnovel comment avatar
Rtar Bĺîť
ceritanya relate, tp gak lebay,bahasanya santun ditunngu updatenya ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pisah Terindah   Part 63

    Pisah Terindah #63Langkahku yang semula panjang mendadak memendek ketika melihat Shahna sudah ada di ruang tunggu tersebut. Namun, dia tidak sendiri. Dia tengah asyik berbincang disertai bibirnya melengkungkan senyum. Bahkan saking asyiknya dia tidak menyadari kedatanganku. Sementara sosok yang duduk menemaninya, walau wajahnya tak menghadap padaku, aku tahu pasti dia siapa. "Mas Danar? Buat apa dia di sini?" Kalimat itu lirih mengalir dari bibirku. Setelah sempat terpaku beberapa saat aku melangkah mendekati Shahna. "Sayang, maaf, ya, Mama sedikit terlambat. Udah dari tadi keluarnya?" "Nggak apa-apa Mama, malah Shahna senang ditemani Papa." "Oh, iya, ada yang kelupaan. Shahna ke kelas dulu ya," seru Shahna seraya berlari ke arah kelasnya. Aku mengambil posisi duduk di tempat yang tadi diduduki Shahna. Sementara Mas Danar tadi ikut berdiri ketika Shahna beranjak. "Apa kabar, Dara?" Nada suara Mas Danar menyiratkan adanya keraguan pada pertanyaannya. Aku tak langsung meresp

  • Pisah Terindah   Part 62

    Pisah Terindah #62Meski malam semakin larut, tetapi rasa kantuk belum juga datang menyambangi. Biasanya jam seperti ini aku sudah terlelap baik itu karena kelelahan atau karena harus bangun lebih pagi lagi esok harinya dengan kondisi yang bugar. Namun kali ini sepertinya aku akan terjaga lebih lama lagi. Pikiranku masih belum bisa dijinakkan. Aku kembali terbawa ke masa-masa yang telah berlalu. Tentu hal-hal yang dulu sempat terbesit di benakku atau lebih tepatkan pernah kuharapkan untuk terjadi. Mas Danar. Ya, lagi-lagi tentang lelaki itu mengusikku. Dulu, di saat masih dalam fase terpuruk aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa bangkit bahkan tumbuh menjulang tinggi. Sedangkan dia, dia yang telah menyakiti kuyakini akan menuai hasil taburannya. Bak roda, kehidupan itu juga berputar. Begitu ungkapan yang diwariskan turun temurun semenjak nenek moyang. Bahwa yang sekarang bersenang-senang suatu hari nanti akan menangis. Yang menindas suatu hari pasti juga akan merasakan ditinda

  • Pisah Terindah   Part 61

    Pisah Terindah #61"Bu Dara, ini Pak Danar. Sewaktu-waktu jika saya berhalangan, Pak Danar ini yang akan mewakili saya." Aku tetap berdiri dalam bisu. Jujur, aku tidak tahu harus memberi reaksi apa. Haruskah aku melebarkan tangan, mengucapkan selamat bertemu lagi, lalu menyebut namanya selayaknya dua orang yang sudah saling kenal bertemu lagi, atau malah harus pura-pura berkenalan lagi selayaknya orang baru pertama kali bertemu? Mas Danar sepertinya juga tidak jauh berbeda denganku. Dia pun tampak canggung setelah didahului oleh ekspresi kaget. Perlahan Mas Danar mendekat. Sementara aku yang masih setia dengan posisi berdiri sejak awal. Untuk beberapa saat aku mempertahankan tatapan yang tertuju pada Mas Danar. Dia pun sama. Hingga akhirnya jarak yang tersisa antara kami hanya seukuran meja. Aku pun buru-buru menyibukkan diri dengan memindahkan map dari tangan kiri ke tangan kanan dan menaruhkannya ke meja guna menghindari kontak fisik dengan Mas Danar. Aku berharap dengan begit

  • Pisah Terindah   Part 60

    Pisah Terindah #60 Aku pun membenahi penampilan. Ini akan menjadi kali pertama aku bertemu dengan klien dengan status sebagai pengacara. Kalau biasanya aku hanya sekadar tahu dan membantu. Sekarang, aku menjadi salah satu tim inti yang harus ikut jungkir balik mengumpulkan data, fakta, alat bukti, saksi, dan sebagainya yang nantinya akan dibutuhkan sebagai senjata dalam menghadapi pertempuran di pengadilan. Kemarin sudah cukup panjang dan lebar kami menganalisa. Sekarang saatnya menindaklanjuti dan menentukan strategi. Aku serta Pak Beni telah menyepakati janji untuk bertemu dengan pihak Joan Persada. Mereka mengundang kami ke sebuah restoran yang menyediakan 'meeting room'. Aku mempersiapkan diri sebaik-baik mungkin. Bagaimana cara bersikap, bertutur kata, menyanggah pendapat orang, serta yang paling penting bagaimana menjadikan diri sebagai magnet. Kemampuan berbicara dan penampilan adalah modal utama seorang pengacara. "Kita harus menampilkan diri sesempurna m

  • Pisah Terindah   Part 59

    Pisah Terindah #59 "Mama hebat, selamat mama!" Shahna berseru riang sembari menyerahkan buket bunga mawar putih padaku. "Terima kasih, Sayang mama. Anak hebat, anak cantik yang paling mama sayang se-jagad raya." Aku mendapatkan pelukan dan beberapa ciuman dari Shahna. Dia pun tampil sangat menawan dalam balutan gaun panjang didominasi warna nude. Senada dengan kebaya yang kupakai hari ini. Kebahagiaan pun jelas terpancar di wajah imutnya. Momen wisuda ini memang sudah sangat ditunggu Shahna. Karena selepas ini aku berjanji akan menebus waktu kebersamaan kami yang belakangan ini semangat jarang. Pengertian Shahna yang mempermudah aku menjalani semua ini. Aku pun sangat berterima kasih kepada putri semata wayangku itu. "Selamat, ya, cintaku, sayangku, bestie terbaikku." Windi memelukku erat. Kebahagiaan dan rasa haru tergambar dari wajahnya. "Terima kasih, sahabatku tersayang. Tanpa kamu aku takkan bisa apa-apa." Tanpa diundang embun bermunculan di mataku. Aku benar-benar terh

  • Pisah Terindah   Part 58

    Pisah Terindah #58 (POV Danar) "Pak Danar, antarkan ini ke proyek A-14. Pak Anthoni sedang menunggu di sana. Sekalian berkas ini kebagian pemasaran." Pak Hamdi memberikan dua tumpuk berkas padaku. Setelah itu, lelaki yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dariku itu berlalu begitu saja. Tak ada basa basi, tidak ada ucapan terima kasih. Begitulah gambaran hari-hariku di salah satu kantor Avalia Utama selama beberapa bulan belakangan ini. Lebih tepatnya semenjak kekalahan di pengadilan waktu itu dan proyek yang sedang digarap menderita kerugian atas ganti rugi terhadap pihak yang menang. Awal-awal memang aku masih berada di kantor pusat dengan tekanan kerja yang luar biasa serta target yang besar. Dalihnya sebagai bentuk pertanggung jawabanku. Lalu, beberapa bulan ini aku dipindahkan ke kantor cabang. Aku memang tidak dipecat tetapi luntang-lantung tanpa jobdesk yang jelas. Tiap bulannya hanya menerima gaji standar. Tidak ada bonus-bonus sama sekali. Sehingga penghasilanku mandek s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status