LOGIN"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba.
Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak.Jari tangan Thalia perlahan turun, meremas pelan kain kemeja hitam Zacky, lalu membalas ciuman itu dengan keinginan yang sama..Zacky memperdalam ciumannya sejenak, mengecap rasa manis dari bibir gadis yang telah menjadi pusat perhatiannya saat ini.Saat tautan bibir mereka terlepas, napas keduanya sedikit terengah-engah. Zacky menyandarkan dahinya di dahi Thalia, menatap manik mata cokelat gadis itu begitu dalam."Thalia," panggil Zacky sangat rendah, suaranya terdengar begitu serius."I-iya, Zacky...?" cicit Thalia gugup, pipinya masih panas akibat ciuman barusan."Sepertinya rencana lamaranku harus dipercepat," ucap Zacky tanpa ragu sedikitpun."Aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita, membawamu keluar dari bayang-bayang ketakutan itu, dan membiarkan seluruh dunia tahu kalau kamu milikku sepenuhnya. Dengan begitu, perlindungan hukum dan keluargaku akan sepenuhnya melindungi kamu.."Mendengar kat
Tubuh Thalia seketika membeku kaku mendengar kata perbatasan dan bekas lokasi vila tempat ia disekap. Jari tangannya di bawah meja meremas kain rok spannya dengan kencang. Wajah cantiknya yang tadi merona kini mendadak memucat.'Arjuna... Papa... Mereka masih ada di sekitar sana...?' batin Thalia bergejolak hebat, rasa takut dan sesak mendadak kembali terasa didadanya.Zacky yang menyadari perubahan raut wajah Thalia dari sudut matanya seketika menunjukkan rasa khawatir yang sangat jelas. Pria itu meletakkan tablet militer itu di meja dengan dentuman pelan."Siapa yang memasok suplai untuk mereka?" tanya Zacky, suaranya terdengar sangat dingin. "Jalur perbatasan sudah kita kunci total. Tidak mungkin ada kendaraan niaga asing yang bisa mendekat tanpa ada bantuan orang dalam atau pengalihan.""Kami sedang meretas jaringan kamera lalu lintas di sekitar tol perbatasan untuk melacak identitas pemilik kendaraan itu, Pak Zacky," s
"B-baik, Pak Zacky," sahut Thalia sigap.Thalia mengambil map biru dan tablet kerja dari mejanya, lalu berjalan cepat menghampiri meja utama Zacky. Namun, baru saja ia hendak meletakkan berkas itu di atas meja kaca Zacky, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram pelan!"Ehh...!" cicit Thalia kaget saat tubuhnya tertarik rapat ke tepi meja kerja Zacky."Zacky! Tuh kan, kamu pasti modus ya?! Ini masih jam kerja, Zacky.." bisik Thalia panik, matanya melirik cemas ke arah pintu ruangan meski ia tahu pintu itu terkunci otomatis.Zacky mendongak, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya sambil menarik Thalia makin mendekat hingga lutut gadis itu menyentuh tepi kursi kerjanya."Pintu selalu terkunci dan ruangan ini kedap suara, Thalia," bisik Zacky rendah, tangannya bergerak santai mengusap pinggang ramping Thalia di balik kemeja sutranya. "Apa kamu lupa aturan kita saat hanya ada kita berdua di ruangan ini, hmm?
"Z-Zacky... Bangun... Ini sudah pagi..." cicit Thalia lirih dengan suara khas orang baru bangun tidur.Mata cokelat Thalia perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat saat terbangun, dada bidang Zacky yang terbalut kemeja hitam sedikit terbuka, serta detak jantung pria itu yang terdengar berirama teratur di telinganya.Zacky tidak langsung membuka matanya. Lengan kekarnya justru semakin mempererat cengkramannya di pinggang Thalia, menarik tubuh mungil itu makin merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun."Sebentar lagi, Thalia..." gumam Zacky rendah dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat sensual. Pria itu mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia."Tapi ini sudah jam enam pagi, Zacky!" sergah Thalia panik, mencoba menggerakkan bahunya meski sulit. "Nanti kalau Tante Tamara atau Bi Asih ngetok pintu gimana? Aku harus bersiap-siap buat ke kantor!"
Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan hembusan napas hangat Zacky yang menyapu pucuk kepalanya. Penjelasan Zacky yang begitu posesif dan penuh perlindungan selalu berhasil meluluhkan seluruh dinding pertahanan dirinya."Aku cuma... Aku cuma kaget, Zacky," lirih Thalia pelan. "Aku takut Papa Joshua makin tidak menyukaiku karena menganggap aku membawa pengaruh buruk untukmu..."Zacky menyentuh dagu mulus Thalia dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengatas pandangan gadis itu agar kembali menatap manik matanya."Jangan pernah memikirkan jalan pikiran orang lain," pangkas Zacky tegas namun lembut. "Cukup lihat aku. Selama kamu bersamaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan penilaian siapapun, termasuk Papaku."Thalia menghembuskan napas halus, senyuman tipis yang sangat manis perlahan terukir di bibirnya. "Iya, Zacky... Maafkan aku yang selalu gampang cemas.""Tidak perlu minta maaf,"
"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba. Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak. "Aku tidak sedang bercanda, Thalia," pangkas Zacky tegas tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. Pria itu kembali mendongak, menatap mamanya dan Joshua. "Malam ini kami akan menginap di sini. Dan Thalia akan tidur di kamarku bersamaku." "Zacky!" tegur Joshua seketika dengan nada berat dan alis bertaut tajam. "Jaga batasanmu. Kamu dan Thalia belum resmi menikah. Tidak pantas kalian tidur satu kamar di rumah ini!" "Pa







