Se connecter"Ini tidak sakit, Zacky. Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kalau aku harus melihatmu terluka," pangkas Thalia, mengusap rahang tegas Zacky dengan tangannya yang bebas.
Ia meraih jemari Thalia, mengusap pelan area di sekitar luka itu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan sikap dinginnya."Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukaimu lagi, Thalia. Tidak akan pernah," janji Zacky mutlak.Tanpa aba-aba, Zacky menyelipkan satu tangannya di bawah"Zacky... Apa maksud dari pertanyaan wartawan tadi?" tanya Thalia ragu saat langkah kakinya masuk kedalam ruang kerja. “Apa masih ada yang tidak suka padaku memegang saham perusahaan keluarga mu?” Pintu ruang kerja itu baru saja tertutup rapat, Thalia masih berdiri di tengah ruangan, tatapan matanya menunjukkan kewaspadaan baru. Zacky melepaskan jas hitamnya, melemparnya sembarangan ke atas sofa. Pria itu melangkah mendekati Thalia, rahang tegasnya masih mengeras menahan emosi sisa konferensi pers. "Kamu tidak perlu memikirkan ucapan jurnalis itu, Thalia," desis Zacky rendah, tangannya terulur merengkuh pinggang ramping Thalia dan menariknya mendekat. "Tapi pertanyaannya sangat masuk akal, Zacky," cicit Thalia, menahan dada bidang pria itu dengan kedua telapak tangannya. "Kalau saham Mama memang sangat berharga, dan sejarah keluargamu selalu dipenuhi persaingan... Bagaimana kalau Paman Gideon dan Arjuna
“Zacky..” lirih Thalia, terkejut. Seluruh kamera serempak memutar arah pandangan mereka ke arah sumber suara. Zacky melangkah masuk dengan aura dingin yang sangat mematikan. Kemeja hitamnya membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Tatapan matanya yang tajam terus memperhatikan seluruh isi ruangan, membuat nyali setiap wartawan di sana seketika ciut.Di belakangnya, Ivan dan belasan pengawal elit lapis satu berjalan mengawal dengan wajah kaku.Pria itu melangkah mantap menaiki panggung mimbar, mengabaikan denyutan nyeri di pinggangnya. Begitu sampai di sisi Thalia, Zacky langsung merengkuh pinggang ramping wanita itu dengan satu tangan kekarnya, menarik Thalia merapat ke dada bidangnya. Sebuah klaim kepemilikan yang sangat nyata di depan ratusan mata."Zacky..." bisik Thalia terkejut, mendongak menatap rahang tegas pria itu."Kamu melakukannya dengan sangat sempurna, sayang. Sekarang biar aku yang mengambil alih,"
"Biarkan mereka memotretku, Pak. Jangan ada yang bertindak kasar pada rekan-rekan media," ucap Thalia pada pengawal yang mengiringinya, suaranya terdengar pelan namun cukup tegas melampaui riuhnya suara kilatan blitz dan teriakan para wartawan.Di depan lobi utama gedung Alvarez Group, ratusan wartawan sudah berdesakan seperti lautan manusia yang kelaparan akan skandal. Puluhan pengawal elit lapis satu berseragam hitam membentuk barikade ketat, membukakan jalan bagi Thalia. Terlihat mencolok melebihi mengiringi langkah Zacky. Thalia melangkah turun dari mobil dengan blazer putih gading yang membuatnya terlihat begitu elegan dan berani. Jari-jarinya memang terasa sedikit dingin, ia berpikir Zacky tidak akan datang mendampinginya karena pria itu sangat menentang keputusannya. Namun, bayangan pelukan posesif Zacky dan perlindungan mutlak pria itu memberinya kekuatan."Nona Thalia! Apakah benar wanita di dalam video yang tersebar pagi
"Aku tidak akan mundur, Zacky. Walaupun kamu mengunci pintu penthouse ini, aku akan mencari cara untuk keluar dan menemui mereka," pangkas Thalia tegas dari balik pintu kamar mandi sebelum tertutup rapat. Di depan cermin wastafel, Thalia menatap pantulan dirinya sendiri. Tangannya yang dulu selalu gemetar setiap kali bayang-bayang video kotor itu muncul, kini bergerak memoleskan lipstik berwarna nude elegan di bibirnya. Tidak ada lagi Thalia yang penakut. Wanita ringkih yang selalu menangis di sudut ruangan itu telah mati, kini digantikan sosok yang penuh keberanian karena cinta dan perlindungan mutlak seorang Zacky Farelio Alvarez.Saat Thalia membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar, langkahnya terhenti seketika.Zacky sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu mengabaikan perban di pinggangnya yang mungkin masih berdenyut nyeri. Kemeja hitamnya dibiarkan tak berkancing di bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yan
"Zacky—" cicit Thalia ragu saat memperhatikan tatapan mata Zacky. "Aku bilang tidak, Thalia!" ucap Zacky kaku, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Thalia mengerat. "Ivan, tinggalkan kami!"Ivan yang sedari tadi menahan napas langsung menunduk hormat dan setengah berlari keluar dari kamar penthouse, menutup pintu itu rapat-rapat.Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang luas itu. Sisa-sisa gairah yang sempat memanas beberapa menit lalu kini berganti dengan ketegangan adu argumen yang sangat pekat."Kamu tidak mengerti, Thalia," pangkas Zacky parau. Tatapan matanya menunjukkan sisi protektif yang nyaris tak masuk akal. "Publik itu kejam. Mereka tidak peduli dengan kebenaran mu. Mereka hanya butuh skandal untuk dihancurkan. Berdiri di depan puluhan kamera dan menceritakan trauma terbesarmu sama saja dengan mengiris nadimu sendiri di depan serigala kelaparan!""Aku tidak peduli dengan apa yang di
"Video itu... Muncul lagi?" pangkas Thalia, suaranya sempat tercekat di tenggorokan, namun ia segera menarik napas panjang, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak di samping ranjang.Tidak ada lagi air mata ketakutan yang menetes. Tidak ada lagi tubuh yang bergetar hebat hingga membuatnya ingin bersembunyi di sudut ruangan. Keberanian yang telah tumbuh karena perlindungan Zacky kini mengambil alih seluruh saraf di tubuhnya."Benar, Nona Thalia," jawab Ivan dengan nada penuh penyesalan. "Beberapa portal berita gosip anonim tiba-tiba menyebarkan potongan video itu sejak pagi tadi. Mereka mempertanyakan kredibilitas Anda sebagai calon istri dari seorang CEO Alvarez Group.""Hancurkan portal berita itu!" raung Zacky, suaranya menggelegar memecah keheningan penthouse.Aura mengerikan seketika menguar tatapan Zacky. Pria itu mengabaikan rasa sakit di bawah sana, menatap Ivan dengan sorot mata tajam. "Kerahkan seluruh







