LOGIN[Pak Ivan! Tolong cepat ke sini sekarang! Bawa tim medis, Zacky tertembak dan kehilangan kesadaran!] jerit Thalia melalui sambungan interkom ponsel Zacky.
Tangannya gemetar hebat saat menekan luka di pinggang Zacky dengan handuk bersih, berusaha menghentikan pendarahan yang terus merembes keluar membasahi kemejanya.Meski air mata mengalir di pipinya, Thalia menolak untuk panik berlebihan, ia harus kuat di saat pria itu melemah.Tak lama pintu kamar penthouse ter"Biarkan mereka memotretku, Pak. Jangan ada yang bertindak kasar pada rekan-rekan media," ucap Thalia pada pengawal yang mengiringinya, suaranya terdengar pelan namun cukup tegas melampaui riuhnya suara kilatan blitz dan teriakan para wartawan.Di depan lobi utama gedung Alvarez Group, ratusan wartawan sudah berdesakan seperti lautan manusia yang kelaparan akan skandal. Puluhan pengawal elit lapis satu berseragam hitam membentuk barikade ketat, membukakan jalan bagi Thalia. Terlihat mencolok melebihi mengiringi langkah Zacky. Thalia melangkah turun dari mobil dengan blazer putih gading yang membuatnya terlihat begitu elegan dan berani. Jari-jarinya memang terasa sedikit dingin, ia berpikir Zacky tidak akan datang mendampinginya karena pria itu sangat menentang keputusannya. Namun, bayangan pelukan posesif Zacky dan perlindungan mutlak pria itu memberinya kekuatan."Nona Thalia! Apakah benar wanita di dalam video yang tersebar pagi
"Aku tidak akan mundur, Zacky. Walaupun kamu mengunci pintu penthouse ini, aku akan mencari cara untuk keluar dan menemui mereka," pangkas Thalia tegas dari balik pintu kamar mandi sebelum tertutup rapat. Di depan cermin wastafel, Thalia menatap pantulan dirinya sendiri. Tangannya yang dulu selalu gemetar setiap kali bayang-bayang video kotor itu muncul, kini bergerak memoleskan lipstik berwarna nude elegan di bibirnya. Tidak ada lagi Thalia yang penakut. Wanita ringkih yang selalu menangis di sudut ruangan itu telah mati, kini digantikan sosok yang penuh keberanian karena cinta dan perlindungan mutlak seorang Zacky Farelio Alvarez.Saat Thalia membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar, langkahnya terhenti seketika.Zacky sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu mengabaikan perban di pinggangnya yang mungkin masih berdenyut nyeri. Kemeja hitamnya dibiarkan tak berkancing di bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yan
"Zacky—" cicit Thalia ragu saat memperhatikan tatapan mata Zacky. "Aku bilang tidak, Thalia!" ucap Zacky kaku, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Thalia mengerat. "Ivan, tinggalkan kami!"Ivan yang sedari tadi menahan napas langsung menunduk hormat dan setengah berlari keluar dari kamar penthouse, menutup pintu itu rapat-rapat.Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang luas itu. Sisa-sisa gairah yang sempat memanas beberapa menit lalu kini berganti dengan ketegangan adu argumen yang sangat pekat."Kamu tidak mengerti, Thalia," pangkas Zacky parau. Tatapan matanya menunjukkan sisi protektif yang nyaris tak masuk akal. "Publik itu kejam. Mereka tidak peduli dengan kebenaran mu. Mereka hanya butuh skandal untuk dihancurkan. Berdiri di depan puluhan kamera dan menceritakan trauma terbesarmu sama saja dengan mengiris nadimu sendiri di depan serigala kelaparan!""Aku tidak peduli dengan apa yang di
"Video itu... Muncul lagi?" pangkas Thalia, suaranya sempat tercekat di tenggorokan, namun ia segera menarik napas panjang, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak di samping ranjang.Tidak ada lagi air mata ketakutan yang menetes. Tidak ada lagi tubuh yang bergetar hebat hingga membuatnya ingin bersembunyi di sudut ruangan. Keberanian yang telah tumbuh karena perlindungan Zacky kini mengambil alih seluruh saraf di tubuhnya."Benar, Nona Thalia," jawab Ivan dengan nada penuh penyesalan. "Beberapa portal berita gosip anonim tiba-tiba menyebarkan potongan video itu sejak pagi tadi. Mereka mempertanyakan kredibilitas Anda sebagai calon istri dari seorang CEO Alvarez Group.""Hancurkan portal berita itu!" raung Zacky, suaranya menggelegar memecah keheningan penthouse.Aura mengerikan seketika menguar tatapan Zacky. Pria itu mengabaikan rasa sakit di bawah sana, menatap Ivan dengan sorot mata tajam. "Kerahkan seluruh
Thalia memperhatikan tatapan penuh permohonan dari Zacky, seakan meruntuhkan seluruh sisa pertahanan Thalia. Rasa cintanya pada pria yang telah mengorbankan nyawa untuk melindunginya itu membuat Thalia membuang jauh-jauh rasa malunya. "Kamu benar-benar pria yang suka menuntut, Zacky," pangkas Thalia, menyunggingkan senyum sensual yang membuat kewarasan Zacky semakin menipis. Bukannya menarik tangannya, jemari Thalia kini bergerak. Di bawah kehangatan selimut tebal itu, Thalia mulai menggenggam lembut milik Zacky yang berdenyut dan hangat. Sentuhan awal yang terasa lambat penuh keraguan dan kelembutan, memberikan usapan halus yang membuat dada Zacky naik turun tak beraturan. "Sshhh.. Akh... Thalia..." erang Zacky rendah, kepalanya bersandar ke belakang dengan mata terpejam rapat. Rahang tegasnya mengeras menahan nikmat yang luar biasa. Mendengar desahan parau dari pria yang selalu dominan y
"Zacky, lepaskan aku sebentar saja. Kamu harus minum obat setelah sarapan agar luka mu cepat kering," pangkas Thalia lembut, jarinya mengusap punggung tangan kekar Zacky yang mengunci rapat pinggangnya dari belakang.Tubuh ramping Thalia masih terperangkap dalam dekapan posesif calon suaminya. Sementara matahari sudah menyusup masuk ke dalam penthouse, namun Zacky sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya."Aku tidak butuh obat dan sarapan, Thalia. Aku hanya butuh kamu tetap di sini, di ranjang ini bersamaku," desis Zacky parau.Pria itu justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Thalia. Hidungnya mengendus kulit mulus Thalia, menghirup aroma khas dari tubuh calon istrinya."Kamu mulai bersikap tidak masuk akal, Zacky," goda Thalia sambil terkekeh pelan. Ia memutar tubuhnya di dalam pelukan Zacky hingga kini mereka saling berhadapan. "Mana Zacky Farelio Alvarez yang selalu disiplin, dingin, dan gila kerja itu, hmm?"







