MasukThalia terdiam setelah mendengar berita yang menggemparkan satu lantainya. Namun keheningannya terganggu saat pria itu kembali meneleponnya.
Arjuna. Pria ini mau apa lagi? Ia menimang seraya menatapnya nanar. Rasa takutnya lebih dominan dari rasa lega. Thalia memandangi layar ponselnya, takut. Disaat berita Arjuna dirotasi mendadak ke divisi logistik pinggir kota telah menyebar di divisi pemasaran, panggilan telepon ini memberikannya pertanda tidak baik. Thalia membiarkan panggilan itu berakhir begitu saja, tidak ingin meresponnya. Namun, layar ponsel itu kembali menyala, suara dering panggilan masuk terdengar berulang kali, membuat beberapa rekan kerja di sekitarnya melirik curiga ke arah kubikalnya. Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk menggantikan dering telepon. Thalia meremas jemarinya sebelum memberanikan diri membuka pesan di ponselnya. [Arjuna : Ke ruanganku sekarang! Cepat!] Thalia menelan ludah, dadanya sesak. Dengan jemari gemetar, ia mengetik balasan dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. [Thalia : Untuk apa? Bukankah kamu sudah dirotasi ke divisi lain? Kamu bukan manajerku lagi, Arjuna.] Tak sampai tiga detik setelah pesan itu terkirim, ponsel Thalia kembali bergetar hebat. Kali ini sebuah panggilan masuk kembali tampak di layar ponselnya. Arjuna tidak memberinya celah untuk menghindarinya. Dengan napas memburu dan rasa takut yang memuncak, terpaksa Thalia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. [Halo?] bisik Thalia serak, berusaha memelankan suaranya serendah mungkin di balik sekat kubikal. [Jangan banyak alasan, Nathalia!] suara Arjuna terdengar begitu tajam, penuh amarah dan dendam yang tertahan dari seberang telepon. [Kamu pikir karena aku dipindahkan, kamu bisa lepas begitu saja?! Datang ke ruanganku sekarang juga!] [Aku sedang bekerja, Arjuna. Tolong, jangan ganggu aku lagi—] [Ke ruanganku dalam hitungan tiga, atau seluruh video telanjangmu..] potong Arjuna dengan bentakan kasar yang membuat darah Thalia berdesir dingin. Air mata Thalia merebak di pelupuk matanya. [Jangan coba-coba memancing emosiku!] Bip. Sambungan telepon dimatikan sepihak. Thalia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan pertahanannya kembali runtuh dalam diam. ‘Rekaman video…? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?’ Thalia sedikit gemetar mengingat apa yang terjadi semalam, bagaimana Arjuna menuntutnya melakukan hal menjijikkan. Arjuna bahkan merekam aksi itu tanpa sepengetahuan dirinya. Pria itu benar-benar iblis yang ingin menghancurkan hidupnya secara perlahan. Thalia menghapus air matanya dengan cepat, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Gadis itu tidak punya pilihan lain. Demi melindungi masa depannya dan nama baik papanya, ia terpaksa melangkah ke dalam perangkap itu sekali lagi. ‘Aku harap ini terakhir kalinya’ Untuk menghindari kecurigaan teman-temannya, Thalia mengambil map berisi lembar laporan pemasaran yang ada di mejanya sebagai alasan. Namun, begitu ia berbalik dan berdiri, Maya yang berada di kubikal sebelah langsung mendongak. "Lho, Thal? Mau ke mana bawa map lagi?" tanya Maya menatap sahabatnya itu dengan dahi berkerut. Thalia memaksakan senyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Ini... Mau menyerahkan laporan akhir bulan ke ruangan manajer, May." Maya mengernyit heran. "Ruangan Arjuna? Bukannya dia lagi mengemasi barangnya diruangan? Kenapa nggak ditumpuk di meja sekretaris aja sih?" "Nggak apa-apa, May. Cuma sebentar kok, sekalian ada berkas yang harus ditandatangani sebelum dia pindah," alibi Thalia, berusaha terdengar setenang mungkin meski dadanya terasa tertekan. Maya mengangguk ragu. "Ya udah deh, jangan lama-lama ya. Kita mau makan siang. Nanti kalau ada apa-apa panggil aku." "Iya, makasih ya, May." Thalia melanjutkan langkah kakinya menyusuri lorong kantor menuju ruangan manajer pemasaran. Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, seakan membawanya mendekati jurang kehancuran. Di sepanjang koridor, batin Thalia terus bergejolak hebat. ‘Apa aku harus lari ke personalia sekarang? Atau... Aku harus minta tolong pada Pak Zacky?’ pikir Thalia panik. Sosok CEO yang dingin dan dominan itu mendadak melintas di pikirannya. ‘Tapi kalau aku lapor Pak Zacky atau personalia, Arjuna pasti langsung nekat menyebarkan foto-foto dan video itu sebelum pihak kantor sempat menindaknya. Aku tidak bisa mengambil risiko itu... Aku tidak punya siapa-siapa untuk melindungiku disini...’ Dengan tangan gemetar, Thalia berhenti tepat di depan pintu ruangan kerja Arjuna. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya, perlahan memutar gagang pintu dan bersiap melangkah masuk. Tapi tiba-tiba, tangan besar menariknya dalam dekapan, “Ikut saya.” ***Jemari lentik Thalia menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, sedikit menarik rambut pria itu saat bibir Zacky turun menyusuri dadanya. Tidak ada paksaan, tidak ada teror. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menginginkan. Setiap sentuhan Zacky penuh dengan cinta. Tangan pria itu mengusap lembut perut Thalia, memberikan pijatan melingkar yang menenangkan, sebelum akhirnya jari-jari panjangnya menelusup turun mencari pusat gairah istrinya. "Sshh... Zacky... ahh!" Thalia mengerang keras saat sentuhan ahli suaminya mulai memanjakannya di bawah sana. Tubuh Thalia bergetar hebat. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya atau menahan desahannya. Ia membiarkan suaminya mendengar betapa besar reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan itu. "Sebut namaku, Thalia. Biarkan aku mendengarmu," perintah Zacky dengan suara serak yang mematikan, mempercepat tempo jarinya sementara bibirnya tak henti melumat bibir istrinya.
"Sangat sederhana," balas Thalia tanpa ragu, menatap lurus ke manik mata hitam suaminya. "Sebelum mereka menginjakkan kaki disini minggu depan... Kita beli seluruh obligasi jatuh tempo mereka di pasar saham Landon secara rahasia, Zacky." "Kita beli hutang mereka..." ulang Zacky, menyeringai sinis membayangkan kehancuran musuhnya. "Ya. Kalau Alvarez Group yang memegang surat hutang mereka, maka posisi tawar akan berbalik seratus delapan puluh derajat," jelas Thalia logis. "Mereka tidak akan datang sebagai penakluk yang menuntut sahamku. Mereka akan datang sebagai pengemis yang memohon perpanjangan waktu padamu, Tuan Alvarez." Hening sejenak. Zacky menelan ludah dengan susah payah. Kecerdasan dan kelihaian taktik yang baru saja ditunjukkan oleh Thalia benar-benar di luar ekspektasinya. Istrinya tidak hanya cantik dan patuh, tapi mem
"Mereka pikir mereka bisa datang ke sini, ke markas suamiku, dan mendikte kita begitu saja minggu depan, Zacky?" pangkas Thalia, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh kilat ketegasan. Wanita itu sama sekali tidak beranjak dari pangkuan suaminya. Bukannya gemetar atau panik, jari tangannya justru terulur merapikan kerah kemeja Zacky yang sedikit berantakan akibat pergumulan kecil mereka barusan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat sang CEO tanpa keraguan sedikitpun. Zacky menatap istrinya lekat-lekat. Sisa-sisa amarah akibat ancaman Faksi Bayangan yang sempat membuat darahnya mendidih, kini seakan menguap begitu saja melihat ketenangan di wajah Thalia. "Mereka hanya sekumpulan serigala tua yang serakah, Thalia," desis Zacky dengan suara serak, sebelah tangannya mengusap punggung istrinya dengan gerakan posesif. "Mereka mencoba menggertakku karena mereka tahu aku akan melakukan ap
"Lalat tidak akan membuat asisten pribadimu tergagap saat ku telepon, Zacky," balas Thalia tak mau kalah. Thalia tidak melepaskan pelukannya, ia justru meraih tangan suaminya dan menuntun pria tegap itu menuju sofa beludru di tengah ruangan. "Duduklah, Zacky. Kamu terlihat sangat tegang," perintah Thalia lembut namun tegas. Zacky menurut tanpa bantahan. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata. Thalia tidak duduk di seberangnya. Wanita itu justru mendekat, berlutut dengan satu kaki di atas bantalan sofa di samping Zacky, lalu mengulurkan kedua tangannya. Jemari lentik Thalia mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky yang sedikit berantakan. Ia menyisir rambut suaminya dengan usapan yang sangat lembut, teratur, dan menenangkan. "Mmph..." Zacky mengerang pelan, napas kasarnya perlahan berubah menjadi helaan yang lebih rileks
[Pak Ivan, dimana Zacky? Kenapa bum pulang dan ponselnya tidak menjawab telepon ku?] suara Thalia terdengar cemas. [P-Pak Zacky, masih ada meeting, Nona..] jawab Ivan dengan suara berusaha tetap tenang. [Jangan bohong, Pak Ivan.. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku dari nada bicaramu, Pak Ivan,] pangkas Thalia tegas, suaranya terdengar tenang namun penuh otoritas. Wanita itu berdiri di depan jendela kaca penthouse, menatap pemandangan kota dari ketinggian. Jarinya memegang ponsel yang terhubung langsung dengan asisten pribadi suaminya. [N-Nona Thalia... S-Saya tidak menyembunyikan apa pun. Pak Zacky hanya sedang menangani sedikit urusan administratif di ruang kerjanya,] sahut Ivan dari seberang telepon, suaranya terdengar sangat berhati-hati, seolah takut salah bicara. [Sedikit urusan administratif tidak akan membuat jadwal kepulangan suamiku tertunda hingga satu jam, dan tidak akan memb
“Tapi… jagoan kecilmu di dalam sini sedang kelaparan." Zacky menghela napas lega yang sangat panjang, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Hanya lapar? Baiklah. Aku akan menyuruh Ivan membangunkan chef bintang lima yang bersiaga di dapur bawah. Kamu ingin makan apa, sayang? Wagyu? Sup abalon?" pangkas Zacky, meraih ponsel satelitnya. "Tidak mau," cegah Thalia cepat, menahan tangan Zacky. Bibir Thalia kembali mengerucut manja, matanya menatap suaminya dengan penuh tuntutan. "Aku tidak mau makanan restoran. Aku ingin makan pasta aglio e olio yang pedas." "Baik. Aku akan menyuruh chef membuatnya sekarang juga," balas Zacky datar. "Tidak, Zacky! Kamu tidak mengerti," rengek Thalia, menyandarkan kepalanya di bahu Zacky. "Aku mau kamu yang memasaknya. Aku hanya ingin makan pasta buatan suamiku malam ini." Tangan Zacky yang memegang







