Inicio / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 4 Ancaman Belum berakhir

Compartir

Bab 4 Ancaman Belum berakhir

Autor: Cynta
last update Fecha de publicación: 2026-07-20 00:08:22

Thalia terdiam setelah mendengar berita yang menggemparkan satu lantainya. Namun keheningannya terganggu saat pria itu kembali meneleponnya.

Arjuna.

Pria ini mau apa lagi?

Ia menimang seraya menatapnya nanar. Rasa takutnya lebih dominan dari rasa lega.

Thalia memandangi layar ponselnya, takut. 

Disaat berita Arjuna dirotasi mendadak ke divisi logistik pinggir kota telah menyebar di divisi pemasaran, panggilan telepon ini memberikannya pertanda tidak baik. 

​Thalia membiarkan panggilan itu berakhir begitu saja, tidak ingin meresponnya.

Namun, layar ponsel itu kembali menyala, suara dering panggilan masuk terdengar berulang kali, membuat beberapa rekan kerja di sekitarnya melirik curiga ke arah kubikalnya.

​Ting!

​Sebuah notifikasi pesan masuk menggantikan dering telepon. Thalia meremas jemarinya sebelum memberanikan diri membuka pesan di ponselnya.

​[Arjuna : Ke ruanganku sekarang! Cepat!]

​Thalia menelan ludah, dadanya sesak. Dengan jemari gemetar, ia mengetik balasan dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.

​[Thalia : Untuk apa? Bukankah kamu sudah dirotasi ke divisi lain? Kamu bukan manajerku lagi, Arjuna.]

​Tak sampai tiga detik setelah pesan itu terkirim, ponsel Thalia kembali bergetar hebat.

Kali ini sebuah panggilan masuk kembali tampak di layar ponselnya. Arjuna tidak memberinya celah untuk menghindarinya.

Dengan napas memburu dan rasa takut yang memuncak, terpaksa Thalia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

[Halo?] bisik Thalia serak, berusaha memelankan suaranya serendah mungkin di balik sekat kubikal.

​[Jangan banyak alasan, Nathalia!] suara Arjuna terdengar begitu tajam, penuh amarah dan dendam yang tertahan dari seberang telepon.

[Kamu pikir karena aku dipindahkan, kamu bisa lepas begitu saja?! Datang ke ruanganku sekarang juga!]

​[Aku sedang bekerja, Arjuna. Tolong, jangan ganggu aku lagi—]

​[Ke ruanganku dalam hitungan tiga, atau seluruh video telanjangmu..] potong Arjuna dengan bentakan kasar yang membuat darah Thalia berdesir dingin.

Air mata Thalia merebak di pelupuk matanya.

[Jangan coba-coba memancing emosiku!]

​Bip.

​Sambungan telepon dimatikan sepihak. Thalia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan pertahanannya kembali runtuh dalam diam.

‘Rekaman video…? Tuhan, apa yang harus aku lakukan?’

Thalia sedikit gemetar mengingat apa yang terjadi semalam, bagaimana Arjuna menuntutnya melakukan hal menjijikkan. 

Arjuna bahkan merekam aksi itu tanpa sepengetahuan dirinya. Pria itu benar-benar iblis yang ingin menghancurkan hidupnya secara perlahan.

​Thalia menghapus air matanya dengan cepat, merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

Gadis itu tidak punya pilihan lain. Demi melindungi masa depannya dan nama baik papanya, ia terpaksa melangkah ke dalam perangkap itu sekali lagi.

‘Aku harap ini terakhir kalinya’

​Untuk menghindari kecurigaan teman-temannya, Thalia mengambil map berisi lembar laporan pemasaran yang ada di mejanya sebagai alasan.

Namun, begitu ia berbalik dan berdiri, Maya yang berada di kubikal sebelah langsung mendongak.

​"Lho, Thal? Mau ke mana bawa map lagi?" tanya Maya menatap sahabatnya itu dengan dahi berkerut.

​Thalia memaksakan senyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Ini... Mau menyerahkan laporan akhir bulan ke ruangan manajer, May."

​Maya mengernyit heran. "Ruangan Arjuna? Bukannya dia lagi mengemasi barangnya diruangan? Kenapa nggak ditumpuk di meja sekretaris aja sih?"

​"Nggak apa-apa, May. Cuma sebentar kok, sekalian ada berkas yang harus ditandatangani sebelum dia pindah," alibi Thalia, berusaha terdengar setenang mungkin meski dadanya terasa tertekan.

​Maya mengangguk ragu. "Ya udah deh, jangan lama-lama ya. Kita mau makan siang. Nanti kalau ada apa-apa panggil aku."

​"Iya, makasih ya, May."

​Thalia melanjutkan langkah kakinya menyusuri lorong kantor menuju ruangan manajer pemasaran.

Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, seakan membawanya mendekati jurang kehancuran.

​Di sepanjang koridor, batin Thalia terus bergejolak hebat.

​‘Apa aku harus lari ke personalia sekarang? Atau... Aku harus minta tolong pada Pak Zacky?’ pikir Thalia panik.

Sosok CEO yang dingin dan dominan itu mendadak melintas di pikirannya.

‘Tapi kalau aku lapor Pak Zacky atau personalia, Arjuna pasti langsung nekat menyebarkan foto-foto dan video itu sebelum pihak kantor sempat menindaknya.

Aku tidak bisa mengambil risiko itu... Aku tidak punya siapa-siapa untuk melindungiku disini...’

Dengan tangan gemetar, Thalia berhenti tepat di depan pintu ruangan kerja Arjuna. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya, perlahan memutar gagang pintu dan bersiap melangkah masuk. 

Tapi tiba-tiba, tangan besar menariknya dalam dekapan, “Ikut saya.”

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 210 Jejak yang Terkuak

    ​Thalia memeluk kedua lututnya di atas ranjang, menangis terisak-isak dalam keheningan kamar yang dingin. ​"Zacky... Kamu di mana...?" bisik Thalia dalam tangisnya yang memilukan. ​"Tolong aku, Zacky... Arjuna mau bawa aku pergi malam ini... Tolong selamatkan aku..." ** Zacky kembali ke dalam ruang kerja setelah tidak menemukan apapun di beberapa titik yang ia curigai. ​Suasana ruangan itu penuh aura kemarahan Zacky, ia berdiri kaku di depan jendela kaca besar, memperhatikan langit yang semakin gelap. Cklek..! ​Pintu ruangan itu kembali terdorong, terbuka perlahan. Ivan masuk dengan wajah penuh peluh dan napas terengah-engah. Di tangannya, masih memegang sebuah tablet digital. ​"Pak Zacky! Kami berhasil menemukannya!" seru Ivan penuh nada kemenangan. ​Zacky seketika berbalik cepat, matanya yang tajam berkilat mematikan. "Di mana tempatnya?!" ​"Tim siber baru saja berhasil membobol data penerbangan tak terdaftar di bandara lama pinggiran kota, Pak!" pangkas Ivan cepat seray

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 209 Rasa Kecewa

    Di dalam kamar, Thalia menghela nafas lega saat melihat bukan Arjuna yang masuk, melainkan Felix Effendy. Papanya melangkah masuk dengan wajah yang sangat tegang dan cemas.​"Papa..." desis Thalia dingin, menatap papanya dengan pandangan terluka dan penuh kekecewaan.​"Kenapa Papa masih ada di sini? Kenapa Papa gak biarkan aku mati saja sekalian daripada harus terkurung sama pria psikopat itu?!"​"Thalia, tolong jangan bicara seperti itu..." ringis Felix seraya mendekati tempat tidur.​"Papa baru saja bicara sama Arjuna di luar. Dia... Dia benar-benar berniat membawa kamu ke luar negeri malam ini juga!"​"Apa?!" pekik Thalia membelalak tak percaya.​"Ke luar negeri?!"​"Iya, Thalia!" pangkas Felix panik, tangannya memegang tepi ranjang.​"Dia sudah menyiapkan jet pribadi di bandara lama pinggiran kota! Dia mau membawa kamu dan Papa pergi malam ini juga setelah berkas dokumen kalian selesai!"​"Gak! Aku gak mau pergi!" jerit Thalia histeris, air matanya menetes kembali.​"Papa tega ban

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 208 Situasi yang Berbeda

    Sore itu cahaya matahari mulai meredup saat Thalia perlahan-lahan membuka matanya kembali.​Rasa pusing luar biasa terasa menyiksa dikepalanya. Hidungnya terasa perih dan tenggorokannya sangat kering.​"Eunngghh..." Thalia meringis pelan, memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.​Ia menyadari dirinya kini berbaring di atas tempat tidur empuk dengan selimut tipis menyelimuti tubuhnya hingga dada.​Thalia dengan cepat memeriksa keadaan dirinya sendiri di balik selimut. Pakaian kerjanya masih utuh, meski kancing kemeja teratasnya sedikit terbuka dan rasa basah yang aneh.​"Arjuna..." cicit Thalia panik, dadanya naik-turun dipenuhi rasa ketakutan yang kembali ia rasakan.​Gadis itu segera terduduk tegak di atas kasur, pandangannya memperhatikan sekeliling ruangan yang sunyi.​Tidak ada sosok Arjuna di dalam kamar, hanya terdapat nampan berisi segelas air dan roti di atas nakas samping ranjangnya. ​Cklek!​Pintu kamar terbuka. Thalia tersentak kaget dan refleks menarik selimutnya rapat

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 207 Penolakan yang Sia-sia

    ​Thalia menepis tangan Arjuna dengan sangat keras hingga menimbulkan suara pukulan nyaring di dalam ruangan itu. ​"Jangan pernah berani menyentuhku aku dengan tangan kotormu itu, Arjuna!" pekik Thalia penuh amarah.​Arjuna meringis pelan, melihat punggung tangannya yang memerah akibat tepisan Thalia. Bukannya marah, pria itu justru terkekeh sinis. Matanya berkilat dipenuhi hasrat gairah yang berbahaya.​"Kamu makin berani ya sekarang, Thalia..." cicit Arjuna seraya mengusap tangannya sendiri. "Apa ini karena si Zacky itu? Jadi kamu merasa punya pelindung, hmm?"​"Zacky jauh lebih terhormat dari kamu!" tegas Thalia tanpa ragu, dadanya naik-turun menahan emosi. "Dia pria sejati yang menghargaiku! Gak kayak kamu yang cuma bisa mengancam, memeras, dan membikin hidup orang lain hancur!"​Mendengar nama Zacky disebut dengan penuh kebanggaan oleh bibir Thalia, raut wajah Arjuna seketika berubah gelap. Wajah tampannya mengeras kaku, kilatan kemarahan murni terpancar jelas dari manik matan

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 206 Dia Datang.. 

    ​Thalia terus berjalan bolak-balik di atas lantai marmer yang dingin, mencoba memikirkan cara untuk kabur dari ruangan itu. Matanya memperhatikan setiap sudut kamar, mencari jendela yang bisa dibuka atau benda tumpul apa pun yang bisa dijadikan senjata untuk membela diri. ​"Gak ada celah... Jendela ini memakai gratis besi," cicit Thalia putus asa sambil mendorong-dorong bingkai kaca tebal di sudut kamar. ​"Thalia, duduklah... Jangan buat dirimu semakin lelah," ujar Felix yang masih bersandar lemas di sofa. ​"Gimana aku bisa tenang, Pa?! Kita ini—" ​KLEK. ​Ucapan Thalia terhenti seketika. Suara engsel pintu yang terdengar terbuka perlahan membuat tubuh gadis itu membeku kaku di tempatnya. ​Jantung Thalia berdebar kencang melebihi batas normal. Matanya membelalak lebar saat menyaksikan daun pintu kayu tebal itu terbuka lebar dari luar. ​Sosok pria tinggi berjas gelap melangkah masuk dengan santai. Senyuman miring terukir di wajah tampannya, sebuah senyuman yang sangat dikenal T

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 205 Jejak yang Terputus

    Thalia ​bergeming sesaat, ia tidak peduli dengan ucapan Felix, berusaha memutar otak untuk menghubungi Zacky. Jari tangannya bergerak meraba-raba area lehernya karena merasa panik dan gelisah, tapi ada sesuatu yang lain, lehernya terasa kosong. “Liontin pemberian Zacky kemana?!” liriknya. Tak ada lagi sensasi dingin dari liontin berlian yang biasa melingkar manis di lehernya. Jam tangan yang selalu membalut pergelangan tangan kirinya pun lenyap tanpa bekas. “Liontin ku gak ada, jamku juga.. Dan.. Ponselku..! Dimana ponselku?! Aku harus menelpon Zacky! Dia pasti bisa melacak ku..” gumam Thalia semakin panik. Gadis itu menggeledah saku kemeja putih dan rok span hitamnya dengan napas terengah-engah. Kosong.. ​"Pa! Di mana ponsel dan barang-barang Thalia?!" tanya Thalia sambil menatap Felix dengan raut wajah menuntut. "Tas, kalung, jam tangan, pons

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status