แชร์

Bab 5 Celana Basah

ผู้เขียน: Cynta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 01:10:01

Thalia terpaksa menyeimbangkan langkah kakinya yang pendek. Ia menelan ludah dengan susah payah.

Jantungnya berdebar tidak karuan memikirkan ke mana bos besarnya ini akan membawanya pergi.

Zacky membawa Thalia turun menggunakan lift khusus eksekutif.

Pintu lift terbuka di lobi utama dan ia menariknya ke sebuah restoran mewah yang letaknya persis di seberang kantor mereka.

Thalia duduk dengan kaku. Tangannya bertumpu di atas paha.

"Pesan apa saja yang kamu mau," ucap Zacky seraya membuka buku menu di tangannya. Pria itu sama sekali tidak menatapnya.

Gadis itu menggeleng pelan. "Saya... Air putih saja, Pak."

Zacky mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Thalia. "Pesan makanan, atau saya yang pesankan."

Gadis itu akhirnya menyerah, menunjuk asal menu pasta di buku tersebut.

Meskipun terlihat enak, perutnya terlalu mual akibat rentetan ancaman mantannya.

Zacky meletakkan alat makannya. Dia mengambil tisu, mengelap sudut bibirnya dengan tenang.

"Saya dengar dari orang kantor, Arjuna itu mantan kekasihmu. Benar?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja membuatnya terdesak.

Gadis itu terbatuk pelan. Dia buru-buru meraih gelas air putihnya dan meminumnya dengan tangan gemetar. "I-iya, Pak," cicitnya.

Dia menunduk takut.

Zacky menatap gadis di depannya dengan saksama. "Sudah saya pindahkan."

Thalia mendongak cepat.

"Ke divisi logistik. Jika dia masih mengganggumu, kamu bisa langsung hubungi saya."

Thalia mematung. Matanya mengerjap beberapa kali memproses informasi tersebut.

Dering telepon milik Thalia memecah keheningan yang menegangkan itu. Gadis itu terkesiap, merogoh tasnya dengan tergesa. Dia melihat nama 'Maya' tertera di layar.

Thalia melirik Zacky ragu-ragu. "Angkat," perintah pria itu singkat.

Zacky menyandarkan punggungnya ke kursi.

Thalia menggeser tombol hijau ke atas.

[Halo, May?]

Suara cempreng Maya langsung terdengar dari seberang panggilan.

[Thal, di mana kamu? Udah jam istirahat nih. Kamu jadi makan bareng kita, kan?]

Thalia kembali melirik bosnya yang sedang menatapnya lekat tanpa berkedip.

[Umm... Ngga, May. Ini aku bawa bekal. Aku makan di pantry aja.]

[Oh, ya udah deh. Nanti kita ketemu di ruangan ya!] Panggilan terputus.

Thalia menghela napas lega.

Namun kelegaan itu hanya bertahan dua detik. Ponsel di tangannya kembali bergetar hebat. Kali ini, nama yang paling dia hindari muncul berkedip di layar.

Arjuna.

Mata Thalia melebar. Tangannya seketika berkeringat dingin. Dia menekan tombol tolak dengan cepat, tetapi Arjuna langsung kembali menelepon. Pria brengsek itu terus membombardirnya dengan panggilan beruntun tanpa ampun.

Zacky menyadari perubahan drastis pada raut wajah Thalia. Tanpa peringatan, tangan pria itu terulur cepat melewati batas meja. Dia merebut ponsel itu langsung dari genggaman Thalia.

"Eh! Pak—!" Thalia panik luar biasa. Dia refleks berdiri dan mencondongkan tubuhnya melintasi meja untuk merebut kembali ponselnya.

Gerakannya terlalu tidak terkendali. Siku Thalia menyenggol gelas air putihnya sendiri yang masih penuh.

Pyar!

Gelas itu terguling keras. Seluruh isinya tumpah ruah membasahi meja dan langsung mengguyur celana bagian depan Zacky.

Mata Thalia hampir keluar dari sarangnya. Bos besarnya baru saja tersiram air es tepat di… celananya. "Astaga! Maaf, Pak! Maaf!"

Gadis itu panik setengah mati. Dia menyambar serbet kain di atas meja, setengah berlutut di samping kursi Zacky.

Tangannya bergerak cepat mengelap tumpahan air di celana bahan pria itu.

Thalia menggosok kain itu maju mundur. Dia sama sekali tidak sadar bagian mana yang sedang dia sentuh berulang kali.

Sentuhan tangan Thalia yang menekan tepat di area pangkal paha membuat Zacky terkesiap hebat. Pria itu menahan napas. Rahangnya mengeras seketika.

Zacky mengerang rendah. “Berhenti, Thalia.”

"Maaf, Pak! Ini masih basah." Thalia membalas panik. Dia terus mengelapnya tanpa mempedulikan tatapan bosnya.

"... Stop, Thalia," desis pria itu tajam.

Tangan besar Zacky langsung mencengkram kuat pergelangan tangan gadis itu. Dia menghentikan pergerakan Thalia secara paksa.

Thalia mendongak kaget. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Zacky. Dia melihat kilat gairah dan amarah bercampur di mata bosnya, menyadari posisinya yang sangat ambigu.

Wajah gadis itu memerah padam. Dia buru-buru menarik tangannya dan mundur selangkah.

Ponsel di tangan Zacky masih terus berdering. Pria itu menegakkan tubuhnya perlahan, mengatur napasnya yang sempat berantakan akibat sentuhan tadi.

Lalu menatap tajam ke arah layar, lalu menggeser tombol hijau dan menekan ikon pengeras suara.

Suara bentakan penuh amarah langsung menggelegar dari ponsel.

[Thalia! Berani kamu tolak teleponku?!]

Zacky hanya diam. Dia membiarkan pria di seberang sana meluapkan emosinya lebih dulu.

[Kamu lebih memilih video telanjangmu aku sebar ke seluruh kantor, hah?! Jawab!]

Air mata langsung menetes di pipi Thalia. Tubuhnya bergetar hebat mendengar ancaman itu di depan bosnya. Dia meremas ujung kemejanya ketakutan.

Zacky menatap Thalia yang menangis dalam diam. Urat-urat di leher pria itu menonjol tajam. Emosinya benar-benar memuncak.

[Silakan,] potong Zacky dingin.

Hening sejenak di seberang sana. Arjuna pasti terkejut setengah mati mendengar suara pria membalas panggilan tersebut.

[Sebar saja videonya, jika kamu lebih memilih dipecat dan masuk penjara.] Ancaman balasan Zacky meluncur tanpa keraguan.

Terdengar suara tarikan napas kaget dari seberang telepon.

[P-Pak Zacky...?] cicit Arjuna terbata-bata. Suaranya bergetar hebat, nyalinya menciut seketika.

Zacky mematikan sambungan telepon itu sepihak. Dia meletakkan ponsel Thalia di atas meja, lalu menatap gadis di depannya lekat-lekat.

Thalia masih berdiri mematung di samping meja. Dia merasa sangat malu rahasianya benar-benar dikuliti habis di depan pria ini.

"Duduk," perintah Zacky mutlak.

Thalia kembali duduk di kursinya dengan lutut lemas. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria di depannya.

"Makan. Setelah ini kita kembali ke kantor, dan urusan farewell mantanmu nanti malam..." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menyorot tajam. "Kamu jangan jauh-jauh dari saya.”

Thalia sontak mendongak. "Bapak... datang ke makan malam perpisahannya Arjuna?" tanyanya ragu-ragu, setengah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Zacky menghela, "Menurutmu, saya akan membiarkan kamu ke sarang buaya?" balas pria itu telak.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 418 Titik Pencapaian

    ​Jemari lentik Thalia menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, sedikit menarik rambut pria itu saat bibir Zacky turun menyusuri dadanya. ​Tidak ada paksaan, tidak ada teror. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menginginkan. Setiap sentuhan Zacky penuh dengan cinta. ​Tangan pria itu mengusap lembut perut Thalia, memberikan pijatan melingkar yang menenangkan, sebelum akhirnya jari-jari panjangnya menelusup turun mencari pusat gairah istrinya. ​"Sshh... Zacky... ahh!" Thalia mengerang keras saat sentuhan ahli suaminya mulai memanjakannya di bawah sana. ​Tubuh Thalia bergetar hebat. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya atau menahan desahannya. Ia membiarkan suaminya mendengar betapa besar reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan itu. ​"Sebut namaku, Thalia. Biarkan aku mendengarmu," perintah Zacky dengan suara serak yang mematikan, mempercepat tempo jarinya sementara bibirnya tak henti melumat bibir istrinya.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 417 Sentuhan Awal

    ​"Sangat sederhana," balas Thalia tanpa ragu, menatap lurus ke manik mata hitam suaminya. "Sebelum mereka menginjakkan kaki disini minggu depan... Kita beli seluruh obligasi jatuh tempo mereka di pasar saham Landon secara rahasia, Zacky." ​"Kita beli hutang mereka..." ulang Zacky, menyeringai sinis membayangkan kehancuran musuhnya. ​"Ya. Kalau Alvarez Group yang memegang surat hutang mereka, maka posisi tawar akan berbalik seratus delapan puluh derajat," jelas Thalia logis. "Mereka tidak akan datang sebagai penakluk yang menuntut sahamku. Mereka akan datang sebagai pengemis yang memohon perpanjangan waktu padamu, Tuan Alvarez." ​Hening sejenak. ​Zacky menelan ludah dengan susah payah. Kecerdasan dan kelihaian taktik yang baru saja ditunjukkan oleh Thalia benar-benar di luar ekspektasinya. Istrinya tidak hanya cantik dan patuh, tapi mem

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 416 Rencana Balasan

    ​"Mereka pikir mereka bisa datang ke sini, ke markas suamiku, dan mendikte kita begitu saja minggu depan, Zacky?" pangkas Thalia, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh kilat ketegasan. ​Wanita itu sama sekali tidak beranjak dari pangkuan suaminya. Bukannya gemetar atau panik, jari tangannya justru terulur merapikan kerah kemeja Zacky yang sedikit berantakan akibat pergumulan kecil mereka barusan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat sang CEO tanpa keraguan sedikitpun. ​Zacky menatap istrinya lekat-lekat. Sisa-sisa amarah akibat ancaman Faksi Bayangan yang sempat membuat darahnya mendidih, kini seakan menguap begitu saja melihat ketenangan di wajah Thalia. ​"Mereka hanya sekumpulan serigala tua yang serakah, Thalia," desis Zacky dengan suara serak, sebelah tangannya mengusap punggung istrinya dengan gerakan posesif. "Mereka mencoba menggertakku karena mereka tahu aku akan melakukan ap

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 415 Baru Mulai Sudah Diganggu

    ​"Lalat tidak akan membuat asisten pribadimu tergagap saat ku telepon, Zacky," balas Thalia tak mau kalah. ​Thalia tidak melepaskan pelukannya, ia justru meraih tangan suaminya dan menuntun pria tegap itu menuju sofa beludru di tengah ruangan. ​"Duduklah, Zacky. Kamu terlihat sangat tegang," perintah Thalia lembut namun tegas. ​Zacky menurut tanpa bantahan. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata. ​Thalia tidak duduk di seberangnya. Wanita itu justru mendekat, berlutut dengan satu kaki di atas bantalan sofa di samping Zacky, lalu mengulurkan kedua tangannya. ​Jemari lentik Thalia mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky yang sedikit berantakan. Ia menyisir rambut suaminya dengan usapan yang sangat lembut, teratur, dan menenangkan. ​"Mmph..." Zacky mengerang pelan, napas kasarnya perlahan berubah menjadi helaan yang lebih rileks

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 414 Ancaman Lagi.. 

    [Pak Ivan, dimana Zacky? Kenapa bum pulang dan ponselnya tidak menjawab telepon ku?] suara Thalia terdengar cemas. [P-Pak Zacky, masih ada meeting, Nona..] jawab Ivan dengan suara berusaha tetap tenang. ​[Jangan bohong, Pak Ivan.. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku dari nada bicaramu, Pak Ivan,] pangkas Thalia tegas, suaranya terdengar tenang namun penuh otoritas. ​Wanita itu berdiri di depan jendela kaca penthouse, menatap pemandangan kota dari ketinggian. Jarinya memegang ponsel yang terhubung langsung dengan asisten pribadi suaminya. ​[N-Nona Thalia... S-Saya tidak menyembunyikan apa pun. Pak Zacky hanya sedang menangani sedikit urusan administratif di ruang kerjanya,] sahut Ivan dari seberang telepon, suaranya terdengar sangat berhati-hati, seolah takut salah bicara. ​[Sedikit urusan administratif tidak akan membuat jadwal kepulangan suamiku tertunda hingga satu jam, dan tidak akan memb

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 413 Tengah Malam Mau Apa? 

    “Tapi… jagoan kecilmu di dalam sini sedang kelaparan." ​Zacky menghela napas lega yang sangat panjang, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. ​"Hanya lapar? Baiklah. Aku akan menyuruh Ivan membangunkan chef bintang lima yang bersiaga di dapur bawah. Kamu ingin makan apa, sayang? Wagyu? Sup abalon?" pangkas Zacky, meraih ponsel satelitnya. ​"Tidak mau," cegah Thalia cepat, menahan tangan Zacky. ​Bibir Thalia kembali mengerucut manja, matanya menatap suaminya dengan penuh tuntutan. "Aku tidak mau makanan restoran. Aku ingin makan pasta aglio e olio yang pedas." ​"Baik. Aku akan menyuruh chef membuatnya sekarang juga," balas Zacky datar. ​"Tidak, Zacky! Kamu tidak mengerti," rengek Thalia, menyandarkan kepalanya di bahu Zacky. "Aku mau kamu yang memasaknya. Aku hanya ingin makan pasta buatan suamiku malam ini." ​Tangan Zacky yang memegang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status