MasukThalia terpaksa menyeimbangkan langkah kakinya yang pendek. Ia menelan ludah dengan susah payah.
Jantungnya berdebar tidak karuan memikirkan ke mana bos besarnya ini akan membawanya pergi. Zacky membawa Thalia turun menggunakan lift khusus eksekutif. Pintu lift terbuka di lobi utama dan ia menariknya ke sebuah restoran mewah yang letaknya persis di seberang kantor mereka. Thalia duduk dengan kaku. Tangannya bertumpu di atas paha. "Pesan apa saja yang kamu mau," ucap Zacky seraya membuka buku menu di tangannya. Pria itu sama sekali tidak menatapnya. Gadis itu menggeleng pelan. "Saya... Air putih saja, Pak." Zacky mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Thalia. "Pesan makanan, atau saya yang pesankan." Gadis itu akhirnya menyerah, menunjuk asal menu pasta di buku tersebut. Meskipun terlihat enak, perutnya terlalu mual akibat rentetan ancaman mantannya. Zacky meletakkan alat makannya. Dia mengambil tisu, mengelap sudut bibirnya dengan tenang. "Saya dengar dari orang kantor, Arjuna itu mantan kekasihmu. Benar?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja membuatnya terdesak. Gadis itu terbatuk pelan. Dia buru-buru meraih gelas air putihnya dan meminumnya dengan tangan gemetar. "I-iya, Pak," cicitnya. Dia menunduk takut. Zacky menatap gadis di depannya dengan saksama. "Sudah saya pindahkan." Thalia mendongak cepat. "Ke divisi logistik. Jika dia masih mengganggumu, kamu bisa langsung hubungi saya." Thalia mematung. Matanya mengerjap beberapa kali memproses informasi tersebut. Dering telepon milik Thalia memecah keheningan yang menegangkan itu. Gadis itu terkesiap, merogoh tasnya dengan tergesa. Dia melihat nama 'Maya' tertera di layar. Thalia melirik Zacky ragu-ragu. "Angkat," perintah pria itu singkat. Zacky menyandarkan punggungnya ke kursi. Thalia menggeser tombol hijau ke atas. [Halo, May?] Suara cempreng Maya langsung terdengar dari seberang panggilan. [Thal, di mana kamu? Udah jam istirahat nih. Kamu jadi makan bareng kita, kan?] Thalia kembali melirik bosnya yang sedang menatapnya lekat tanpa berkedip. [Umm... Ngga, May. Ini aku bawa bekal. Aku makan di pantry aja.] [Oh, ya udah deh. Nanti kita ketemu di ruangan ya!] Panggilan terputus. Thalia menghela napas lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan dua detik. Ponsel di tangannya kembali bergetar hebat. Kali ini, nama yang paling dia hindari muncul berkedip di layar. Arjuna. Mata Thalia melebar. Tangannya seketika berkeringat dingin. Dia menekan tombol tolak dengan cepat, tetapi Arjuna langsung kembali menelepon. Pria brengsek itu terus membombardirnya dengan panggilan beruntun tanpa ampun. Zacky menyadari perubahan drastis pada raut wajah Thalia. Tanpa peringatan, tangan pria itu terulur cepat melewati batas meja. Dia merebut ponsel itu langsung dari genggaman Thalia. "Eh! Pak—!" Thalia panik luar biasa. Dia refleks berdiri dan mencondongkan tubuhnya melintasi meja untuk merebut kembali ponselnya. Gerakannya terlalu tidak terkendali. Siku Thalia menyenggol gelas air putihnya sendiri yang masih penuh. Pyar! Gelas itu terguling keras. Seluruh isinya tumpah ruah membasahi meja dan langsung mengguyur celana bagian depan Zacky. Mata Thalia hampir keluar dari sarangnya. Bos besarnya baru saja tersiram air es tepat di… celananya. "Astaga! Maaf, Pak! Maaf!" Gadis itu panik setengah mati. Dia menyambar serbet kain di atas meja, setengah berlutut di samping kursi Zacky. Tangannya bergerak cepat mengelap tumpahan air di celana bahan pria itu. Thalia menggosok kain itu maju mundur. Dia sama sekali tidak sadar bagian mana yang sedang dia sentuh berulang kali. Sentuhan tangan Thalia yang menekan tepat di area pangkal paha membuat Zacky terkesiap hebat. Pria itu menahan napas. Rahangnya mengeras seketika. Zacky mengerang rendah. “Berhenti, Thalia.” "Maaf, Pak! Ini masih basah." Thalia membalas panik. Dia terus mengelapnya tanpa mempedulikan tatapan bosnya. "... Stop, Thalia," desis pria itu tajam. Tangan besar Zacky langsung mencengkram kuat pergelangan tangan gadis itu. Dia menghentikan pergerakan Thalia secara paksa. Thalia mendongak kaget. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Zacky. Dia melihat kilat gairah dan amarah bercampur di mata bosnya, menyadari posisinya yang sangat ambigu. Wajah gadis itu memerah padam. Dia buru-buru menarik tangannya dan mundur selangkah. Ponsel di tangan Zacky masih terus berdering. Pria itu menegakkan tubuhnya perlahan, mengatur napasnya yang sempat berantakan akibat sentuhan tadi. Lalu menatap tajam ke arah layar, lalu menggeser tombol hijau dan menekan ikon pengeras suara. Suara bentakan penuh amarah langsung menggelegar dari ponsel. [Thalia! Berani kamu tolak teleponku?!] Zacky hanya diam. Dia membiarkan pria di seberang sana meluapkan emosinya lebih dulu. [Kamu lebih memilih video telanjangmu aku sebar ke seluruh kantor, hah?! Jawab!] Air mata langsung menetes di pipi Thalia. Tubuhnya bergetar hebat mendengar ancaman itu di depan bosnya. Dia meremas ujung kemejanya ketakutan. Zacky menatap Thalia yang menangis dalam diam. Urat-urat di leher pria itu menonjol tajam. Emosinya benar-benar memuncak. [Silakan,] potong Zacky dingin. Hening sejenak di seberang sana. Arjuna pasti terkejut setengah mati mendengar suara pria membalas panggilan tersebut. [Sebar saja videonya, jika kamu lebih memilih dipecat dan masuk penjara.] Ancaman balasan Zacky meluncur tanpa keraguan. Terdengar suara tarikan napas kaget dari seberang telepon. [P-Pak Zacky...?] cicit Arjuna terbata-bata. Suaranya bergetar hebat, nyalinya menciut seketika. Zacky mematikan sambungan telepon itu sepihak. Dia meletakkan ponsel Thalia di atas meja, lalu menatap gadis di depannya lekat-lekat. Thalia masih berdiri mematung di samping meja. Dia merasa sangat malu rahasianya benar-benar dikuliti habis di depan pria ini. "Duduk," perintah Zacky mutlak. Thalia kembali duduk di kursinya dengan lutut lemas. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria di depannya. "Makan. Setelah ini kita kembali ke kantor, dan urusan farewell mantanmu nanti malam..." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, menyorot tajam. "Kamu jangan jauh-jauh dari saya.” Thalia sontak mendongak. "Bapak... datang ke makan malam perpisahannya Arjuna?" tanyanya ragu-ragu, setengah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Zacky menghela, "Menurutmu, saya akan membiarkan kamu ke sarang buaya?" balas pria itu telak. ***"Z-Zacky... Bangun... Ini sudah pagi..." cicit Thalia lirih dengan suara khas orang baru bangun tidur.Mata cokelat Thalia perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat saat terbangun, dada bidang Zacky yang terbalut kemeja hitam sedikit terbuka, serta detak jantung pria itu yang terdengar berirama teratur di telinganya.Zacky tidak langsung membuka matanya. Lengan kekarnya justru semakin mempererat cengkramannya di pinggang Thalia, menarik tubuh mungil itu makin merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun."Sebentar lagi, Thalia..." gumam Zacky rendah dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat sensual. Pria itu mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia."Tapi ini sudah jam enam pagi, Zacky!" sergah Thalia panik, mencoba menggerakkan bahunya meski sulit. "Nanti kalau Tante Tamara atau Bi Asih ngetok pintu gimana? Aku harus bersiap-siap buat ke kantor!"
Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan hembusan napas hangat Zacky yang menyapu pucuk kepalanya. Penjelasan Zacky yang begitu posesif dan penuh perlindungan selalu berhasil meluluhkan seluruh dinding pertahanan dirinya."Aku cuma... Aku cuma kaget, Zacky," lirih Thalia pelan. "Aku takut Papa Joshua makin tidak menyukaiku karena menganggap aku membawa pengaruh buruk untukmu..."Zacky menyentuh dagu mulus Thalia dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengatas pandangan gadis itu agar kembali menatap manik matanya."Jangan pernah memikirkan jalan pikiran orang lain," pangkas Zacky tegas namun lembut. "Cukup lihat aku. Selama kamu bersamaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan penilaian siapapun, termasuk Papaku."Thalia menghembuskan napas halus, senyuman tipis yang sangat manis perlahan terukir di bibirnya. "Iya, Zacky... Maafkan aku yang selalu gampang cemas.""Tidak perlu minta maaf,"
"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba. Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak. "Aku tidak sedang bercanda, Thalia," pangkas Zacky tegas tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. Pria itu kembali mendongak, menatap mamanya dan Joshua. "Malam ini kami akan menginap di sini. Dan Thalia akan tidur di kamarku bersamaku." "Zacky!" tegur Joshua seketika dengan nada berat dan alis bertaut tajam. "Jaga batasanmu. Kamu dan Thalia belum resmi menikah. Tidak pantas kalian tidur satu kamar di rumah ini!" "Pa
Thalia tersentak kecil, refleks menatap Zacky dengan rasa canggung. Menginap di mansion keluarga Alvarez tentu terasa sangat membingungkan baginya. ‘Menginap?!’ batinnya gelisah. Sebelum Zacky sempat memberikan jawaban, Sabrina yang duduk di sofa samping mendadak menyela pembicaraan dengan suara lembut yang manis. "Iya, Thalia... Menginaplah disini malam ini," ucap Sabrina tersenyum manis. "Kamar tamu di lantai dua sangat luas dan bersih. Kamarku tepat di sebelahnya, kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku saja, biar aku menggunakan kamar tamu. Aku tidak keberatan kok.." Thalia yang merasa makin tidak enak hati buru-buru menggelengkan kepalanya secara sopan. "E-eh... Nggak usah, Sabrina, Mama Tamara... Terima kasih banyak atas tawaran baiknya. Tapi Thalia rasa... Thalia lebih baik pulang ke apartemen saja malam ini—" "Kenapa harus pulang?" potong Joshua tegas dari kurs
Thalia melirik pelan ke arah Zacky yang masih menatap Sabrina dengan tatapan tajam. ‘Aku bisa, Zacky udah sangat baik padaku.. Aku ingin keluarganya juga baik-baik saja, gak ada lagi keributan gara-gara aku..’ batin Thalia penuh harap Ia menarik napas panjang, berusaha menguasai rasa gemetar di tubuhnya demi menjaga nama baik dan ketenangan di dalam keluarga Zacky. "A-aku... Aku sudah memaafkan kamu, Sabrina," sahut Thalia akhirnya dengan suara lirih namun terdengar jelas di telinga semua orang. "Semoga... Semoga kedepannya kita bisa saling menghormati." Sabrina menyunggingkan senyum lega yang nampak manis. "Terima kasih banyak, Thalia. Kamu benar-benar gadis yang sangat baik." Meski Thalia sudah mengucapkan kata maaf, Zacky sama sekali tidak merasa lega. Pikirannya yang tajam terus bekerja dan waspada penuh terhadap setiap gerak-gerik Sabrina. ‘Dia benar-benar minta maaf
Thalia berusaha tetap tenang walaupun jantungnya berdebar, kakinya melangkah mengikuti Tamara dan Zacky. ‘Semua baik-baik saja Thalia, tenang ada Zacky dan tante Tamara yang baik padamu..’ Thalia berusaha memenangkan dirinya sendiri. Mereka duduk berdekatan di sofa ruang tamu yang mewah. Tamara menanyakan beberapa hal ringan seputar kesehatan Thalia, sementara Joshua hanya diam mendengarkan dari sofa tunggal dengan wajah kaku khas pengusaha kelas atas. Tak lama kemudian, seorang kepala pelayan paruh baya melangkah mendekat dan membungkuk sopan di hadapan Tamara. "Nyonya Besar, hidangan makan malam sudah siap disajikan di meja makan," laporan bi Asih ramah. "Ah, terima kasih, Bi," sahut Tamara tersenyum. Ia menoleh menatap Thalia dan Zacky. "Ayo, Thalia, Zacky... Kita ke ruang makan sekarang. Makanan kesukaan kalian sudah disiapkan." "Iya, Ma," balas Thalia ramah seraya mulai berdiri dari duduknya. Namun, baru saja mereka hendak melangkah menuju area ruang makan keluar







