Home / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 3 Surat Resign

Share

Bab 3 Surat Resign

Author: Cynta
last update publish date: 2026-07-18 11:54:54

Thalia meraih amplop yang sudah disiapkan sejak kemarin, tepat saat ia terpaksa absen bekerja karena tubuhnya benar-benar tumbang akibat demam tinggi setelah kejadian memalukan di ruang rapat.

Thalia mengikuti sekretaris bosnya ke ruangan Zacky, pria itu mengetuk pintu lalu membukanya perlahan. ​

“Permisi Pak, saya mengantar nona Thalia..” ucapnya di depan pintu, ia memberi kode pada Thalia agar gadis itu masuk. 

“Selamat pagi, Pak Zacky..” sapa Thalia gugup.

Zacky yang sedang membaca beberapa berkas di atas meja perlahan mendongak. Wajahnya tetap tenang, datar, dan sangat sulit dibaca. Matanya menatap Thalia sesaat, lalu menunjuk ke arah kursi kosong di hadapannya.

​"Duduk," perintah Zacky singkat dengan nada rendah. Pandangannya beralih pada Ivan, memberikan kode pada asistennya agar keluar ruangan. 

​Thalia menelan saliva dengan susah payah, lalu berjalan perlahan dan duduk dengan ragu. Tangannya meletakkan amplop coklat di atas meja, tepat di depan Zacky.

Pria itu melirik sekilas ke arah amplop tanpa menyentuhnya sama sekali, lalu beralih menatap Thalia.

​"Sudah sembuh?"

Pertanyaan yang dilontarkan bosnya membuatnya mendongak.

​"S-Sudah lebih baik, Pak," cicit Thalia, lalu mendorong amplop coklat itu lebih dekat ke arah Zacky. "Dan... Ini surat yang Pak Zacky minta malam itu."

​Zacky mengerutkan dahinya memperhatikan amplop coklat di depannya tanpa menyentuhnya. ​"Saya minta surat apa?"

​Thalia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menatap mata Zacky di depannya.

"Ini surat pengunduran diri saya, Pak. Surat resign yang Bapak maksud saat menyuruh saya ke personalia kemarin lusa."

Zacky hanya menatap amplop itu, menghembuskan napas panjang perlahan lalu pandangannya beralih ke arah Thalia. 

​"Bukan itu maksud saya," ujar Zacky datar. 

"Saya meminta kamu ke personalia untuk melaporkan jika ada sesuatu, atau seseorang, yang membuat kamu tidak nyaman bekerja di kantor ini. Bukan memintamu resign."

​Thalia tanpa sadar membelalakkan matanya. 

​"Oh, begitu.." lirih Thalia.

"Ma-maaf, Pak. Saya... Saya salah paham dengan ucapan anda malam itu, saya kira Bapak ingin saya resign dari perusahaan."

​"Saya tidak akan memecat karyawan tanpa alasan yang jelas," tegas Zacky dengan nada rendah penuh otoritas.

Pria itu menggeser amplop coklat itu kembali ke arah Thalia secara santai. "Simpan kembali suratmu."

​Thalia buru-buru mengambil kembali amplop tersebut dengan perasaan lega. 

​"Kembali ke ruangan, lanjutkan pekerjaanmu," perintahnya seraya membaca berkas-berkasnya lagi. 

​"Baik, Pak. Saya permisi dulu," Thalia berdiri dari kursinya, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Ia bersyukur di sepanjang koridor menuju divisinya. Setidaknya, ia masih bekerja, dan.. Tidak dipecat. 

​Begitu Thalia melangkah masuk ke area kubikal divisi pemasaran, Maya, sahabat dekatnya langsung menarik Thalia dan berbisik dengan heboh. Beberapa rekan kerja lainnya juga ikut menatap Thalia dengan tatapan penasaran.

​"Thalia! Sini deh!" seru Maya dengan aura gosip yang membara.

"Kamu ke ruangan Pak Zacky? Ada apa?”

​Thalia tersenyum tipis, berusaha bersikap senormal mungkin. “Gapapa, May. C—cuma..”  tukasnya terpikirkan jawaban yang tepat. “—Cuma soal tugas. Iya! Tugas!”

Maya hanya ber-oh-ria. Lalu mencondongkan tubuhnya, berbisik semakin pelan ke telinga Thalia. "Kamu udah denger belum? Manajer kita, si Arjuna, baru aja dirotasi mendadak hari ini!"

​Jantung Thalia serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Maya dengan mata membelalak lebar. “Hahh.. Gimana?!”

​"Dia dipindahkan ke divisi logistik," sahut Maya menggebu-gebu.

Ia kemudian menyenggol lengan Thalia dengan ekspresi cemas. "Tadi anak-anak pikir kamu juga bakal ikut dimutasi, secara kalian dulu... Pacaran.."

​Thalia terdiam di tempatnya mendengar Arjuna dipindahkan mendadak ke divisi logistik yang jauh dari kantor pusat. 

‘Apa karena kemarin..?!’ gumamnya tidak yakin.

‘Gak mungkinkan Pak Zacky rotasi Arjuna cuma karena mau lindungi aku?! Memangnya aku ini siapa?!’ ia tersenyum miris mengingat apa yang selama ini terjadi pada dirinya dibawah ancaman Arjuna. 

Namun Thalia akhirnya menghela nafas lega, merasa sedikit terbebas dari Arjuna karena pria itu mungkin tidak akan mengganggunya. 

‘Semoga aja dia gak akan ganggu aku lagi.. Apa aku harus berterima kasih pada Pak Zacky?!’ pikirnya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Cynta
Hihihi.. Makasih kak udah luangkan waktu buat komen, semoga suka alurnya.. 🫶
goodnovel comment avatar
Maufy Izha
Mantap Pak Zacky...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 230 Pagi yang Menggoda

    ​"Z-Zacky... Bangun... Ini sudah pagi..." cicit Thalia lirih dengan suara khas orang baru bangun tidur.​Mata cokelat Thalia perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang luar biasa memeluk seluruh tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat saat terbangun, dada bidang Zacky yang terbalut kemeja hitam sedikit terbuka, serta detak jantung pria itu yang terdengar berirama teratur di telinganya.​Zacky tidak langsung membuka matanya. Lengan kekarnya justru semakin mempererat cengkramannya di pinggang Thalia, menarik tubuh mungil itu makin merapat tanpa menyisakan celah sedikit pun.​"Sebentar lagi, Thalia..." gumam Zacky rendah dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat sensual. Pria itu mendaratkan ciuman hangat di pelipis Thalia.​"Tapi ini sudah jam enam pagi, Zacky!" sergah Thalia panik, mencoba menggerakkan bahunya meski sulit. "Nanti kalau Tante Tamara atau Bi Asih ngetok pintu gimana? Aku harus bersiap-siap buat ke kantor!"

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 229 Dekapan Hangat di Atas Ranjang

    ​Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan hembusan napas hangat Zacky yang menyapu pucuk kepalanya. Penjelasan Zacky yang begitu posesif dan penuh perlindungan selalu berhasil meluluhkan seluruh dinding pertahanan dirinya.​"Aku cuma... Aku cuma kaget, Zacky," lirih Thalia pelan. "Aku takut Papa Joshua makin tidak menyukaiku karena menganggap aku membawa pengaruh buruk untukmu..."​Zacky menyentuh dagu mulus Thalia dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, mengatas pandangan gadis itu agar kembali menatap manik matanya.​"Jangan pernah memikirkan jalan pikiran orang lain," pangkas Zacky tegas namun lembut. "Cukup lihat aku. Selama kamu bersamaku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan penilaian siapapun, termasuk Papaku."​Thalia menghembuskan napas halus, senyuman tipis yang sangat manis perlahan terukir di bibirnya. "Iya, Zacky... Maafkan aku yang selalu gampang cemas."​"Tidak perlu minta maaf,"

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 228 Memberikan Kepuasan

    ​"Z-Zacky..." cicit Thalia panik setengah mati saat mendengar pernyataan Zacky yang tiba-tiba. Ia berjinjit sedikit, berbisik sangat lirih tepat di samping telinga Zacky tidak terdengar oleh orang lain. "K-kamu jangan bercanda berlebihan di depan orang tuamu... Ini bisa jadi masalah panjang..." ​Zacky tidak merenggangkan cengkraman tangannya di pinggang Thalia. Pria itu menunduk sedikit, menatap manik mata Thalia dengan keseriusan yang mutlak. ​"Aku tidak sedang bercanda, Thalia," pangkas Zacky tegas tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya. Pria itu kembali mendongak, menatap mamanya dan Joshua. "Malam ini kami akan menginap di sini. Dan Thalia akan tidur di kamarku bersamaku." ​"Zacky!" tegur Joshua seketika dengan nada berat dan alis bertaut tajam. "Jaga batasanmu. Kamu dan Thalia belum resmi menikah. Tidak pantas kalian tidur satu kamar di rumah ini!" ​"Pa

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 227 Sindiran yang Menohok

    ​Thalia tersentak kecil, refleks menatap Zacky dengan rasa canggung. Menginap di mansion keluarga Alvarez tentu terasa sangat membingungkan baginya. ‘Menginap?!’ batinnya gelisah. ​Sebelum Zacky sempat memberikan jawaban, Sabrina yang duduk di sofa samping mendadak menyela pembicaraan dengan suara lembut yang manis. ​"Iya, Thalia... Menginaplah disini malam ini," ucap Sabrina tersenyum manis. "Kamar tamu di lantai dua sangat luas dan bersih. Kamarku tepat di sebelahnya, kalau kamu mau, kamu bisa tidur di kamarku saja, biar aku menggunakan kamar tamu. Aku tidak keberatan kok.." ​Thalia yang merasa makin tidak enak hati buru-buru menggelengkan kepalanya secara sopan. "E-eh... Nggak usah, Sabrina, Mama Tamara... Terima kasih banyak atas tawaran baiknya. Tapi Thalia rasa... Thalia lebih baik pulang ke apartemen saja malam ini—" ​"Kenapa harus pulang?" potong Joshua tegas dari kurs

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 226 Makan Malam Penuh Drama Manis

    Thalia melirik pelan ke arah Zacky yang masih menatap Sabrina dengan tatapan tajam. ‘Aku bisa, Zacky udah sangat baik padaku.. Aku ingin keluarganya juga baik-baik saja, gak ada lagi keributan gara-gara aku..’ batin Thalia penuh harap Ia menarik napas panjang, berusaha menguasai rasa gemetar di tubuhnya demi menjaga nama baik dan ketenangan di dalam keluarga Zacky. ​"A-aku... Aku sudah memaafkan kamu, Sabrina," sahut Thalia akhirnya dengan suara lirih namun terdengar jelas di telinga semua orang. "Semoga... Semoga kedepannya kita bisa saling menghormati." ​Sabrina menyunggingkan senyum lega yang nampak manis. "Terima kasih banyak, Thalia. Kamu benar-benar gadis yang sangat baik." ​Meski Thalia sudah mengucapkan kata maaf, Zacky sama sekali tidak merasa lega. Pikirannya yang tajam terus bekerja dan waspada penuh terhadap setiap gerak-gerik Sabrina. ‘Dia benar-benar minta maaf

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 225 Siapa yang Mengundangnya? 

    ​Thalia berusaha tetap tenang walaupun jantungnya berdebar, kakinya melangkah mengikuti Tamara dan Zacky. ‘Semua baik-baik saja Thalia, tenang ada Zacky dan tante Tamara yang baik padamu..’ Thalia berusaha memenangkan dirinya sendiri. Mereka duduk berdekatan di sofa ruang tamu yang mewah. Tamara menanyakan beberapa hal ringan seputar kesehatan Thalia, sementara Joshua hanya diam mendengarkan dari sofa tunggal dengan wajah kaku khas pengusaha kelas atas. ​Tak lama kemudian, seorang kepala pelayan paruh baya melangkah mendekat dan membungkuk sopan di hadapan Tamara. ​"Nyonya Besar, hidangan makan malam sudah siap disajikan di meja makan," laporan bi Asih ramah. ​"Ah, terima kasih, Bi," sahut Tamara tersenyum. Ia menoleh menatap Thalia dan Zacky. "Ayo, Thalia, Zacky... Kita ke ruang makan sekarang. Makanan kesukaan kalian sudah disiapkan." ​"Iya, Ma," balas Thalia ramah seraya mulai berdiri dari duduknya. ​Namun, baru saja mereka hendak melangkah menuju area ruang makan keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status