LOGINThalia meraih amplop yang sudah disiapkan sejak kemarin, tepat saat ia terpaksa absen bekerja karena tubuhnya benar-benar tumbang akibat demam tinggi setelah kejadian memalukan di ruang rapat.
Thalia mengikuti sekretaris bosnya ke ruangan Zacky, pria itu mengetuk pintu lalu membukanya perlahan. “Permisi Pak, saya mengantar nona Thalia..” ucapnya di depan pintu, ia memberi kode pada Thalia agar gadis itu masuk. “Selamat pagi, Pak Zacky..” sapa Thalia gugup. Zacky yang sedang membaca beberapa berkas di atas meja perlahan mendongak. Wajahnya tetap tenang, datar, dan sangat sulit dibaca. Matanya menatap Thalia sesaat, lalu menunjuk ke arah kursi kosong di hadapannya. "Duduk," perintah Zacky singkat dengan nada rendah. Pandangannya beralih pada Ivan, memberikan kode pada asistennya agar keluar ruangan. Thalia menelan saliva dengan susah payah, lalu berjalan perlahan dan duduk dengan ragu. Tangannya meletakkan amplop coklat di atas meja, tepat di depan Zacky. Pria itu melirik sekilas ke arah amplop tanpa menyentuhnya sama sekali, lalu beralih menatap Thalia. "Sudah sembuh?" Pertanyaan yang dilontarkan bosnya membuatnya mendongak. "S-Sudah lebih baik, Pak," cicit Thalia, lalu mendorong amplop coklat itu lebih dekat ke arah Zacky. "Dan... Ini surat yang Pak Zacky minta malam itu." Zacky mengerutkan dahinya memperhatikan amplop coklat di depannya tanpa menyentuhnya. "Saya minta surat apa?" Thalia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menatap mata Zacky di depannya. "Ini surat pengunduran diri saya, Pak. Surat resign yang Bapak maksud saat menyuruh saya ke personalia kemarin lusa." Zacky hanya menatap amplop itu, menghembuskan napas panjang perlahan lalu pandangannya beralih ke arah Thalia. "Bukan itu maksud saya," ujar Zacky datar. "Saya meminta kamu ke personalia untuk melaporkan jika ada sesuatu, atau seseorang, yang membuat kamu tidak nyaman bekerja di kantor ini. Bukan memintamu resign." Thalia tanpa sadar membelalakkan matanya. "Oh, begitu.." lirih Thalia. "Ma-maaf, Pak. Saya... Saya salah paham dengan ucapan anda malam itu, saya kira Bapak ingin saya resign dari perusahaan." "Saya tidak akan memecat karyawan tanpa alasan yang jelas," tegas Zacky dengan nada rendah penuh otoritas. Pria itu menggeser amplop coklat itu kembali ke arah Thalia secara santai. "Simpan kembali suratmu." Thalia buru-buru mengambil kembali amplop tersebut dengan perasaan lega. "Kembali ke ruangan, lanjutkan pekerjaanmu," perintahnya seraya membaca berkas-berkasnya lagi. "Baik, Pak. Saya permisi dulu," Thalia berdiri dari kursinya, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan yang jauh lebih baik. Ia bersyukur di sepanjang koridor menuju divisinya. Setidaknya, ia masih bekerja, dan.. Tidak dipecat. Begitu Thalia melangkah masuk ke area kubikal divisi pemasaran, Maya, sahabat dekatnya langsung menarik Thalia dan berbisik dengan heboh. Beberapa rekan kerja lainnya juga ikut menatap Thalia dengan tatapan penasaran. "Thalia! Sini deh!" seru Maya dengan aura gosip yang membara. "Kamu ke ruangan Pak Zacky? Ada apa?” Thalia tersenyum tipis, berusaha bersikap senormal mungkin. “Gapapa, May. C—cuma..” tukasnya terpikirkan jawaban yang tepat. “—Cuma soal tugas. Iya! Tugas!” Maya hanya ber-oh-ria. Lalu mencondongkan tubuhnya, berbisik semakin pelan ke telinga Thalia. "Kamu udah denger belum? Manajer kita, si Arjuna, baru aja dirotasi mendadak hari ini!" Jantung Thalia serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Maya dengan mata membelalak lebar. “Hahh.. Gimana?!” "Dia dipindahkan ke divisi logistik," sahut Maya menggebu-gebu. Ia kemudian menyenggol lengan Thalia dengan ekspresi cemas. "Tadi anak-anak pikir kamu juga bakal ikut dimutasi, secara kalian dulu... Pacaran.." Thalia terdiam di tempatnya mendengar Arjuna dipindahkan mendadak ke divisi logistik yang jauh dari kantor pusat. ‘Apa karena kemarin..?!’ gumamnya tidak yakin. ‘Gak mungkinkan Pak Zacky rotasi Arjuna cuma karena mau lindungi aku?! Memangnya aku ini siapa?!’ ia tersenyum miris mengingat apa yang selama ini terjadi pada dirinya dibawah ancaman Arjuna. Namun Thalia akhirnya menghela nafas lega, merasa sedikit terbebas dari Arjuna karena pria itu mungkin tidak akan mengganggunya. ‘Semoga aja dia gak akan ganggu aku lagi.. Apa aku harus berterima kasih pada Pak Zacky?!’ pikirnya.Thalia perlahan membuka matanya, berusaha mengerjapkan mata beberapa kali saat rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya seketika itu. "Aww..." Thalia meringis, memegangi pelipisnya. Namun, saat ia berusaha menggerakkan kakinya, rasa nyeri dan perih yang luar biasa terasa menusuk dari area bawah tubuhnya. Thalia tersentak kaget. Matanya membelalakkan lebar, tersadar kalau dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Namun, gadis itu lebih terkejut lagi saat menyadari sebuah tangan kekar melingkar posesif di pinggang polosnya. Thalia menoleh perlahan ke sisi samping ranjangnya. Zacky Farelio Alvarez sedang tertidur pulas tanpa selembar benang,sama seperti dirinya. Wajah tegas pria itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajah Thalia. Di atas lantai, pakaian mereka berdua berserakan tak beraturan. ‘Apa yang terjadi..?!’ gumamnya panik. Memori kejadian semalam mendadak berputar cepat di dalam kepala Thalia seperti r
Thalia menggeleng pelan, napasnya memburu cepat. "Ng-nggak terlalu... Tapi terasa... Penuh sesak banget..." Zacky tersenyum tipis, sebuah senyuman sangat langka yang tak pernah dilihat siapapun di kantor. Pria itu mulai menggerakkan pinggulnya, menarik tubuhnya mundur secara perlahan lalu mendorongnya kembali ke dalam. "Mmmhh… Aahh… " Thalia mendesah pelan saat gesekan lembut itu memicu kembali sensasi nikmat yang sempat hilang. Gerakan Zacky terasa sangat pelan dan hati-hati. Setiap kali ia membenamkan miliknya dalam tubuh Thalia, ia memastikan gadis itu tidak kesakitan. Namun, jepitan nikmat yang makin ketat membuat Zacky perlahan kehilangan kendali. Hentakan pinggul pria itu bertambah cepat, semakin dalam dan bertenaga. Suara sentuhan kulit paha Zacky dan pinggul mulus Thalia mulai bergema nyaring di dalam kamar suite, berpadu dengan suara desahan sensual yang saling bersahutan. "Aaah! Aah! Pak Zacky... Pelan-pelan! Sshh... Aahhh!" jerit Thalia, kepalanya terombang-am
"Pak Zacky... Sshh... Aah... Rasanya semakin panas..." rintih Thalia pasrah, air mata kenikmatan menetes tipis di sudut matanya. Sensasi asing, nikmat, terasa mengalir deras dari squishy menuju ke area bawah perutnya. Zacky mengangkat kepalanya, membiarkan ujung choco chips yang basah terkena udara dingin kamar. Pria itu menatap mata Thalia yang memerah penuh gairah. "Rasa panas itu akan hilang sebentar lagi, Thalia," ujar Zacky dengan suara berat yang dipenuhi gairah tertahan. "Tapi kamu harus menahannya sebentar." Zacky melepaskan sisa kain yang masih melekat di tubuh Thalia dan melepas celana panjangnya sendiri hingga mereka berdua benar-benar polos tanpa sehelai benang pun yang menghalangi tubuh mereka. Saat tubuh hangat Zacky menindih penuh tubuh lembut Thalia, gadis itu tersentak merasakan bongkahan benda panjang, padat dan keras milik Zacky yang menekan tepat di depan pintu goa. "Pak... Itu... Punya Bapak..." cicit Thalia ketakutan, matanya melebar menatap pusaka Z
Tanpa peringatan, Thalia memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Zacky.Gadis itu menempelkan bibirnya, melumatnya lembut bibir Zacky seakan menyalurkan rasa takut dan sensasi aneh dalam dirinya“Tolong saya, Pak.. Saya basah,” lirih Thalia disela ciumannya. Zacky terbelalak lebar, tubuh membeku seketika mendapat ciuman Thalia yang tak terduga. Ciuman itu awalnya lembut, namun karena terpengaruh alkohol, ciuman Thalia kini justru semakin mendalam penuh hasrat menuntut."Thalia," panggil Zacky tegas, mencoba menarik kepala gadis itu menjauh dan memegang kedua bahunya. Suaranya terdengar berat dan sserak"Sadar! Apa yang baru saja kamu lakukan?!"Thalia menatap mata Zacky dengan pandangan sayu yang penuh gairah, pipinya merona.”Saya tahu..." bisik Thalia manja, jemarinya bergerak berani menyusuri kerah jas Zacky hingga menyentuh dada bidang pria itu."Pak Zacky... Tolongin saya... Sayang tidak tahan lagi, saya ingin sekarang.. Bantu saya Pak," pintanya. J
Suara tepuk tangan menggema di dalam private restoran. Arjuna berdiri di depan meja panjang dengan senyum yang dipaksakan melekat di wajahnya. Dia memegang gelas minuman sambil menatap berkeliling ke arah rekan-rekan divisinya. Meski hatinya takut setengah mati dengan tatapan tajam Zacky di ujung meja. "Terima kasih banyak, kawan-kawan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk datang ke acara perpisahan kecil-kecilan ini. Saya harap kalian semua semakin sukses di sini, dan kita tetap bisa menjalin hubungan kerja yang baik ke depannya." Arjuna tersenyum lebar menutupi kepalsuan di balik kata-katanya dan berhenti tersenyum ketika manik matanya membalas tatapan Zacky. “Dan terima kasih kepada Bapak Zacky terhormat yang sudah hadir di malam ini.” imbuhnya melirik ekor mata Zacky Sementara Thalia duduk kaku di kursi sudut meja dekat Zacky. Tangannya saling meremas kuat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Sebenarnya ia enggan menginjakkan kaki di
Thalia terpaksa menyeimbangkan langkah kakinya yang pendek. Ia menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar tidak karuan memikirkan ke mana bos besarnya ini akan membawanya pergi. Zacky membawa Thalia turun menggunakan lift khusus eksekutif. Pintu lift terbuka di lobi utama dan ia menariknya ke sebuah restoran mewah yang letaknya persis di seberang kantor mereka. Thalia duduk dengan kaku. Tangannya bertumpu di atas paha. "Pesan apa saja yang kamu mau," ucap Zacky seraya membuka buku menu di tangannya. Pria itu sama sekali tidak menatapnya. Gadis itu menggeleng pelan. "Saya... Air putih saja, Pak." Zacky mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Thalia. "Pesan makanan, atau saya yang pesankan." Gadis itu akhirnya menyerah, menunjuk asal menu pasta di buku tersebut. Meskipun terlihat enak, perutnya terlalu mual akibat rentetan ancaman mantannya. Zacky meletakkan alat makannya. Dia mengambil tisu, mengelap sudut bibirny







