LOGIN“Udah, nggak usah kebanyakan drama.”Sagara dengan wajah datarnya, beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjangnya, sambil menatap Qaiyara yang bergelung di balik selimut.“Turun,” ucapnya pendek.Qaiyara memeluk bantal lebih erat. “Enggak.”“Qaiyara.” Nada suaranya mulai tegas.“Mas Sagara.” Nada Qaiyara tak kalah menantang.“Ini ranjang saya.”“Tapi ini istri kamu,” balas Qaiyara sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.Sagara memijat pelipisnya. “Kamu tidur di sofa.”“Enggak mau. Saya udah capek, rela batalin ke rumah orang tua saya, buat ngucapin ulang tahun buat mama kamu. Sekarang, gantian dong kamu yang ngalah. Kamu tidur di sofa.”Sagara berpikir sejenak. Kalau dia terus berdebat, Qaiyara pasti akan minta pulang. Dengan menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.“Baik. Kamu menang.”Qaiyara tersenyum lebar. “Bagus. Saya memang selalu menang.”Sagara berbalik menuju sofa, sambil menggumam, “Kalau saya tahu begini, saya bakal cari alasan lain!” ia mendengus ke
“Pak, kenapa saya ditarik kayak mau diculik? Ini kampus, lho, semua orang ngelihat!” protes Qaiyara sambil melipat tangan di dada.Sagara tidak memberikan jawaban, ia masih bingung harus beralasan apa agar Qaiyara tidak ke rumah orang tuanya saat ini, sebab Bu Megan masih di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Melihat Sagara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, Qaiyara berniat untuk keluar dari mobil, ketika ia mencoba membuka pintu mobil, Sagara dengan sigap mengunci pintu otomatis.Berulangkali Qaiyara mencoba untuk membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap sama, tak bisa untuk dibuka. Ia menoleh dengan kesal ke arah suaminya itu. “Pak Dosen yang terhormat, mohon izinkan saya untuk keluar! Kalau nggak, saya akan bawa kasus ini ke meja hijau, kasus penculikan!” ancam Qaiyara.“Silahkan, laporankan saja!” seru Sagara penuh tantangan. “Saya penasaran, bagaimana media akan meluncurkan berita, 'Seorang perempuan diculik oleh suaminya sendiri'?” gumam Sagara denga
Sagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya.Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring.Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.”Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyat
Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor. "Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina. “Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas. “Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal. “Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu. Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka. “Stop.” Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan
Mendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan."Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna.Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara.Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.”Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat.“Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan.
Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun."Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih aw







