LOGIN"Tenang, Sari. Itu semua cuma masa lalu. Sekarang, fokuslah pada pekerjaanmu," gumam Sari pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantung yang tak karuan.
Ia menarik napas panjang, lalu menoleh cepat ke arah Krisna yang masih menunggunya di dekat area logistik. "Oh ya, Mas! Penampilanku bagaimana? Sudah cukup bagus, kan?" Sari telah bertekad. Jika takdir memang mengharuskannya bertemu kembali dengan sang mantan, ia harus tampil sesempurna mungkin. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani hidup dengan kepala tegak tanpa bayang-bayang pria itu. Detik demi detik berlalu tanpa hambatan. Sari melangkah menyusuri lorong hotel dengan senyum lega. Tugas mengantarkan stok makanan tambahan untuk pesta besar keluarga Cakra akhirnya selesai. Namun, hal yang paling membuatnya senang adalah ia berhasil menyelinap tanpa harus berpapasan dengan Lingga. Sari memutuskan untuk sejenak melihat sekeliling, menikmati kemegahan pesta yang hanya bisa ia impikan. Aula itu dipenuhi tokoh terkenal, mulai dari pejabat, artis, hingga pengusaha papan atas. Mereka semua berbalut pakaian elegan dan barang-barang bermerek yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunannya. "Hei, lihat itu. Bukankah dia keponakan Pak Cakra yang tinggal di luar negeri?" celetuk sebuah suara wanita, memulai gosip panas. Sari yang kebetulan lewat tak sengaja mendengar. Rasa ingin tahunya bangkit, membuatnya ikut mengamati sosok yang menjadi bahan pembicaraan. "Iya, benar! Setahuku dia menetap di luar negeri untuk mengobati matanya. Kapan dia pulang?" sahut wanita lain bergaun merah darah. "Memangnya matanya kenapa?" tanya yang lain sembari menyesap minuman di tangan. Sari mengedarkan pandangan, mencari sosok yang dimaksud. Matanya tertuju pada seorang pria dengan setelan jas mewah yang berdiri tak jauh dari kerumunan itu. Pria itu tinggi, mengenakan kacamata hitam pekat, dan jemarinya menggenggam sebuah tongkat panjang. Ia tampak melangkah perlahan, meraba meja di depannya berusaha meraih gelas minuman. "Apa kamu tidak tahu? Dulu dia mengalami kecelakaan. Orang tua dan adiknya meninggal, hanya dia yang selamat!" ujar wanita yang tampaknya paling tahu banyak informasi. "Tapi sayangnya, kedua matanya buta. Itu sebabnya dia dikirim ke luar negeri. Lihat saja, dia masih pakai kacamata dan tongkat, kan? Berarti pengobatannya gagal total. Ayahku bilang, dia sudah buta permanen." Para wanita itu tertawa kecil, menatap sang pria dengan pandangan menghakimi, seolah pria itu hanyalah tontonan sirkus. "Hhh, sayang sekali. Kalau aku sih, lebih baik mati daripada selamat tapi buta selamanya," celoteh seorang wanita berambut pirang dengan nada meremehkan. Sari mengernyit. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan itu. "Apa mereka tidak punya hati? Bergosip setega itu tepat di depan orangnya," batin Sari geram. "Sudah sendirian, buta lagi. Aku dengar dia juga kehilangan seluruh hak warisnya, ya?" "Pasti! Mana mungkin orang buta diizinkan memimpin perusahaan sebesar Cakra Group." Di sisi lain, jemari Wira memutih karena menggenggam erat tongkat di tangannya. Ia mendengar setiap kata, setiap hinaan yang dilemparkan padanya. Dulu, orang-orang ini akan menjilat lantai yang ia pijak agar bisa berteman dengannya. Namun sekarang, setelah ia kehilangan mata dan kekuasaan, ia dianggap tak lebih dari sampah yang tak berguna. Setidaknya, sandiwara ini berhasil mengungkap wajah asli orang-orang itu. "Gak guna punya wajah tampan kalau buta dan miskin. Mana ada wanita yang mau menikah dengan pria cacat seperti dia," tawa mereka pecah. "Siapa bilang?" celetuk Sari tiba-tiba, melangkah masuk ke tengah lingkaran mereka. Tanpa sadar, keberanian Sari meluap. Ia tidak tahan melihat seseorang diperolok karena ketidakberdayaan yang didapat dari musibah. "Aku mau kok menikah dengan dia," tambahnya dengan nada lantang dan penuh percaya diri. Gadis-gadis kaya itu terdiam, menatap Sari dengan raut curiga. "Siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur?" Sari sempat tergagap. Ia sadar posisinya terancam jika mereka tahu ia hanyalah pelayan katering yang menyelinap. Namun, kata-kata sudah terlanjur meluncur. "Aku... aku calon istri dari pria yang sedang kalian bicarakan!" tegas Sari. "Istri? Siapa dia? Berani-beraninya mengaku sebagai calon istriku," batin Wira. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat, terukir di sudut bibirnya. Dari balik kacamata hitamnya, Wira sebenarnya bisa melihat dengan jelas. Ia mengamati sosok yang tiba-tiba membelanya itu. Seorang gadis dengan gaun hitam sederhana dan rambut sebahu yang terurai alami. Tidak ada barang mewah yang melekat di tubuhnya, namun kecantikannya yang murni sanggup menyaingi nona-nona kaya di ruangan itu. Pandangan Wira terpaku pada wajah Sari yang masih sibuk berdebat demi dirinya. "Gadis yang menarik,"Ketukan langkah kaki yang pelan terdengar dari arah pintu depan. Suara itu seketika mencuri perhatian Sari yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.Dengan celemek yang masih terikat di pinggang, Sari bergegas meninggalkan tugasnya. Senyum riangnya merekah, bersiap menyambut kepulangan sang suami.Sari berjalan melewati ruang tengah, namun langkahnya melambat saat melihat Wira melangkah masuk dengan raut wajah yang amat murung."Apa terjadi sesuatu di luar?" batin Sari penasaran. Matanya menatap lekat Wira yang berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa.Wira langsung menjatuhkan diri ke atas sofa, menyandarkan tubuhnya yang tampak letih. Dia mendongak, memejamkan mata rapat-rapat. Rambutnya tampak begitu kusut, seolah terlalu sering diusap dengan frustrasi.Namun, sedetik kemudian, napas Sari tercekat. Matanya terbelalak mendapati noda merah yang mengering di kemeja putih suaminya."Wira, kamu habis dari mana?" Sari ber
"E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan
Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende
"Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama
"Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem
"Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung
"Apa maksudnya?" gumam Sari seraya mengernyitkan dahi. Gurat kebingungan di wajahnya menuntut penjelasan lebih lanjut."Jadilah istriku! Aku akan membayarmu," tegas Wira bersungguh-sungguh.Kedua mata Sari membulat sempurna. Ia tak habis pikir dengan lelucon gila yang pria itu lontarkan. Seburuk it
"Lho, eh?!" Sari terbelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Keadaan aula seketika riuh. Para tamu serta keluarga Cakra terperangah melihat Wira dengan begitu protektif menggandeng tangan seorang gadis asing. Kasak-kusuk mulai memenuhi ruangan. Namun, di antara kerumunan itu, sepasang suam
"Kakek," batin Wira saat menyadari langkah pria tua itu semakin mendekat. Meski hatinya berdesir, Wira tetap memasang raut datar. Ia harus mengunci rapat ekspresinya seolah tak tahu apa-apa demi menjaga sandiwara kebutaan ini tetap sempurna.Surya tidak datang sendiri. Di belakang, Lembang dan Ling
Sinar mentari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela besar, menerangi dapur luas yang sudah hiruk-pikuk. Puluhan pekerja dengan celemek hitam yang terikat rapi tampak mondar-mandir. Wajah mereka tegang, diburu waktu untuk menyiapkan ribuan porsi hidangan."Ayo semangat, semuanya! Pesanan hari







