Home / Romansa / Pria BUTA itu suamiku / Mendatangi pesta

Share

Mendatangi pesta

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-28 22:26:17

"Maaf jika membuatmu menunggu," sapa Wira dengan dahi berkerut. Sinar mentari yang terik membuat matanya terasa silau setelah sekian lama berada di dalam kabin pesawat.

Ia berdiri tegak, memandang Gilang yang sudah sigap menyiapkan kacamata hitam dan tongkat panjang di tangannya.

"Setelah kecelakaan sepuluh tahun lalu, aku kehilangan hak waris Cakra Group. Semua bisnis dialihkan kepada pamanku secara sepihak," ucap Wira dingin, suaranya mengandung dendam yang tertahan.

"Pelaku kecelakaan itu masih berkeliaran bebas di luar sana. Jadi, aku harus tetap berpura-pura buta untuk mengelabui mereka," tegas Wira bersungguh-sungguh.

Ia meraih kacamata hitam itu, menyampirkannya di telinga, lalu menggenggam tongkat panjang guna menyempurnakan penyamarannya. Gilang yang telah memahami rencana besar tuannya segera masuk ke dalam sandiwara tersebut. Dengan sigap, ia bertindak selayaknya pengawal setia, menuntun langkah Wira menuju mobil mewah yang sudah menunggu.

Peristiwa sepuluh tahun silam itu terus berputar seperti film rusak di kepala Wira. Saat itu ia baru berusia lima belas tahun, sedang menikmati liburan bersama orang tua dan adik kecilnya yang baru berumur lima tahun. Namun, perjalanan menuju bandara itu berubah menjadi neraka.

Rem mobil blong secara misterius. Kendaraan mereka hilang kendali, menghantam sebuah sepeda motor sebelum akhirnya berguling berkali-kali di aspal. Kerangka mobil nyaris hancur. Pecahan kaca menghujam tubuh Wira, namun secara tragis, hanya dialah yang berhasil merangkak keluar dalam keadaan hidup.

Paman Wira adalah satu-satunya orang yang paling ia curigai. Polisi menutup kasus dengan dalih kelalaian servis dan kebocoran oli. Sangat tidak masuk akal, pikir Wira. Bagaimana mungkin mobil mewah milik keluarga terkaya di kota itu bisa terlambat diservis? Ia yakin ada tangan orang dalam yang menyabotase kendaraan mereka, dan orang yang paling diuntungkan adalah pamannya. Sosok yang langsung menduduki kursi kepemimpinan setelah ayahnya tiada.

Bahkan setelah kecelakaan itu, sang Paman dengan tega membuang Wira ke luar negeri dengan dalih pengobatan mata, padahal saat itu Wira hanyalah remaja yang hancur karena kehilangan keluarga. Wira hanya bisa diam, menuruti skenario itu sembari membangun kekuatannya sendiri di bawah bayang-bayang.

"Apa kamu sudah menemukan identitas pendonor kornea itu?" tanya Wira lugas, melirik Gilang melalui pantulan spion tengah.

"Belum, Pak. Namun, saya sudah menambah tim penyidik untuk mencari informasi lebih dalam. Pihak rumah sakit hanya mengonfirmasi bahwa kornea yang Bapak terima berasal dari seorang pria yang menjadi korban kecelakaan di hari yang sama," sahut Gilang tanpa menoleh, fokus pada jalanan.

"Cepat temukan. Mungkin saja dia memiliki istri atau anak yang kini kesulitan. Aku harus memberikan imbalan yang pantas. Dia telah memberikan matanya agar aku bisa membalaskan dendam ini."

"Baik, Pak." Gilang memutar kemudi, lalu melirik jam di dasbor. "Oh, ya. Hari ini adik sepupu Anda menikah. Resepsinya diadakan di Hotel Cakra."

"Apakah Anda ingin ke sana?" tanya Gilang penasaran.

Wira menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak mengerikan di wajah tampannya. "Tentu saja. Aku harus datang. Lagi pula, aku sudah lama tidak melihat keluarga tercintaku."

"Aku juga harus menyapa Kakek. Dari semua orang, hanya dia yang memihakku, meski kini dia sudah terlalu tua untuk melawan Paman Lembang."

Satu jam berlalu.

Alunan musik klasik mengalun indah di aula megah Hotel Cakra. Aroma hidangan lezat berpadu dengan wangi bunga warna-warni yang menghiasi setiap sudut ruangan. Di atas panggung mewah, sepasang pengantin berbalut busana putih bersih berdiri sembari menebar senyum kepada para tamu undangan.

"Baiklah para tamu, kita akan memasuki acara inti. Kedua mempelai akan saling bertukar cincin..." ujar pembawa acara dengan nada ceria.

"Tunggu!"

Suara berat itu menggelegar dari ambang pintu, sontak mencuri perhatian seluruh hadirin. Wira melangkah masuk. Dengan tongkat yang mengetuk lantai secara ritmis dan dua pengawal yang menjaganya, ia berjalan di atas karpet merah yang membentang di tengah ruangan.

Kedatangan Wira seperti hantu dari masa lalu. Tidak ada satu pun anggota keluarga yang tahu bahwa pewaris sah Cakra Group itu telah menginjakkan kaki di tanah air.

"Kenapa kalian tidak menungguku? Apa aku tidak diundang?" tanya Wira dengan senyum ramah yang tidak mencapai mata.

"Tentu saja... kehadiranmu selalu dinanti. Kami hanya tidak ingin melewatkan jadwal yang sudah ditentukan," sahut seorang pria paruh baya yang bergegas mendekat.

Lembang Cakra. Pria yang mengambil alih takhta perusahaan setelah kematian kakaknya. Ia adalah paman Wira sekaligus tuan rumah pesta ini.

"Kemarilah, berkumpul dengan yang lain," gumam Lembang, menuntun lengan Wira dengan senyum canggung yang terlihat dipaksakan.

Suasana seketika hening. Seluruh pandangan tertuju pada pria asing berkacamata hitam tersebut. Bisik-bisik mulai menjalar di antara para tamu. "Siapa itu?" "Apakah itu keponakannya yang buta?"

Lembang menyadari kegaduhan itu, ia segera melambaikan tangan ke arah MC. "Silakan, lanjutkan acaranya."

"Sial, untuk apa bajingan kecil ini kembali? Seharusnya dia membusuk saja di luar negeri," gerutu Lembang dalam hati. Wajahnya memerah menahan amarah. "Bagaimana dia bisa tahu ada pesta di sini? Siapa pengkhianat yang memberitahunya?!"

"Akhirnya... kamu pulang juga, Nak," sapa seorang pria tua yang berdiri di samping mereka dengan mata berkaca-kaca.

Lembang mendengus kesal melihat ayahnya, sang Kakek tampak begitu bahagia menyambut kepulangan cucu kesayangannya. Ia menatap Wira dengan sinis dari samping.

"Cih, dasar anak buta! Baru datang saja sudah pintar mencari muka."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pria BUTA itu suamiku   Makan malam

    Ketukan langkah kaki yang pelan terdengar dari arah pintu depan. Suara itu seketika mencuri perhatian Sari yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.Dengan celemek yang masih terikat di pinggang, Sari bergegas meninggalkan tugasnya. Senyum riangnya merekah, bersiap menyambut kepulangan sang suami.Sari berjalan melewati ruang tengah, namun langkahnya melambat saat melihat Wira melangkah masuk dengan raut wajah yang amat murung."Apa terjadi sesuatu di luar?" batin Sari penasaran. Matanya menatap lekat Wira yang berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa.Wira langsung menjatuhkan diri ke atas sofa, menyandarkan tubuhnya yang tampak letih. Dia mendongak, memejamkan mata rapat-rapat. Rambutnya tampak begitu kusut, seolah terlalu sering diusap dengan frustrasi.Namun, sedetik kemudian, napas Sari tercekat. Matanya terbelalak mendapati noda merah yang mengering di kemeja putih suaminya."Wira, kamu habis dari mana?" Sari ber

  • Pria BUTA itu suamiku   Makan siang

    "E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan

  • Pria BUTA itu suamiku   Dalang di masa lalu

    Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende

  • Pria BUTA itu suamiku   Keretakan rumah tangga

    "Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama

  • Pria BUTA itu suamiku   Karyawan baru

    "Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem

  • Pria BUTA itu suamiku   Penebusan

    "Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung

  • Pria BUTA itu suamiku   Istri bayaran

    "Apa maksudnya?" gumam Sari seraya mengernyitkan dahi. Gurat kebingungan di wajahnya menuntut penjelasan lebih lanjut."Jadilah istriku! Aku akan membayarmu," tegas Wira bersungguh-sungguh.Kedua mata Sari membulat sempurna. Ia tak habis pikir dengan lelucon gila yang pria itu lontarkan. Seburuk it

  • Pria BUTA itu suamiku   Calon istri

    "Lho, eh?!" Sari terbelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Keadaan aula seketika riuh. Para tamu serta keluarga Cakra terperangah melihat Wira dengan begitu protektif menggandeng tangan seorang gadis asing. Kasak-kusuk mulai memenuhi ruangan. Namun, di antara kerumunan itu, sepasang suam

  • Pria BUTA itu suamiku   Keluarga busuk

    "Kakek," batin Wira saat menyadari langkah pria tua itu semakin mendekat. Meski hatinya berdesir, Wira tetap memasang raut datar. Ia harus mengunci rapat ekspresinya seolah tak tahu apa-apa demi menjaga sandiwara kebutaan ini tetap sempurna.Surya tidak datang sendiri. Di belakang, Lembang dan Ling

  • Pria BUTA itu suamiku   Bahan gunjingan

    "Tenang, Sari. Itu semua cuma masa lalu. Sekarang, fokuslah pada pekerjaanmu," gumam Sari pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantung yang tak karuan.Ia menarik napas panjang, lalu menoleh cepat ke arah Krisna yang masih menunggunya di dekat area logistik. "Oh ya, Mas! Penampilanku bag

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status