Share

Pelayan katering

Penulis: Eljanes Crocus
last update Tanggal publikasi: 2026-02-28 22:30:25

Sinar mentari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela besar, menerangi dapur luas yang sudah hiruk-pikuk. Puluhan pekerja dengan celemek hitam yang terikat rapi tampak mondar-mandir. Wajah mereka tegang, diburu waktu untuk menyiapkan ribuan porsi hidangan.

"Ayo semangat, semuanya! Pesanan hari ini sangat banyak!" seru salah satu koki senior mencoba membakar semangat.

Meski beberapa kipas angin besar menderu di setiap sudut, hawa di dalam dapur itu tetap terasa pengap oleh uap masakan. Sari, yang baru saja tiba, segera melepas jaket birunya dengan gerakan cepat. Ia menggantungkan tasnya pada loker kosong, lalu dengan cekatan mengenakan penutup kepala guna merapikan rambutnya.

"Gawat!" Seorang wanita paruh baya. Sang supervisor tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Tangannya masih memegang ponsel. "Barusan aku dapat telepon dari tim prasmanan di lokasi. Katanya mereka kekurangan stok makanan!"

Seluruh aktivitas di dapur mendadak terhenti.

"Ingat, ini pesta pernikahan Keluarga Cakra! Pemilik perusahaan terbesar di negara ini!" lanjut sang supervisor dengan nada panik. "Kita tidak boleh membuat satu pun kesalahan. Reputasi Rumah Katering taruhannya. Bisnis kita bisa hancur kalau sampai mengecewakan mereka!"

Suasana yang tadinya sibuk kini berubah mencekam. Sari dan rekan-rekannya hanya bisa terdiam, menyadari betapa beratnya beban yang mereka pikul. Rumah Katering memang memiliki reputasi emas di kalangan pejabat dan pengusaha, namun melayani keluarga Cakra adalah level yang berbeda.

"Lalu bagaimana, Bu? Di sini juga sangat sibuk. Kita tidak punya sisa karyawan untuk dikirim ke sana," sahut seorang karyawan senior.

Sang supervisor menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, seolah sedang menimbang sebuah keputusan besar. Matanya kemudian tertuju pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.

"Sari, kamu saja yang pergi."

"Hah?!" Sari tersentak, jarinya yang sedang memotong sayur nyaris teriris.

"Tapi, Bu... saya tidak bisa menyetir mobil," sanggah Sari lemas. Ini adalah pertama kalinya ia ditunjuk untuk menangani acara kelas atas sekelas keluarga Cakra.

"Kamu ke sana hanya untuk mengantar stok tambahan. Acaranya di dalam hotel mewah, nanti Krisna yang akan mengantarmu," ucap supervisor itu meyakinkan. "Cepat, siapkan tasmu. Kamu bawa perlengkapan makeup, kan?"

Sari mengangguk kaku. "Iya, Bu, bawa."

"Bagus. Bawa semuanya. Yang lain, bantu angkat kotak-kotak makanan ini ke mobil. Lokasi hotelnya cukup jauh, kita harus bergerak cepat!"

30 menit kemudian.

Mobil boks putih berukuran besar itu terparkir rapi di area parkir sebuah gedung yang menjulang tinggi. Sari turun dengan perasaan waswas. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di hotel bintang tujuh yang terkenal memiliki interior paling mewah di negeri ini.

Dari balik kaca mobil, Sari menatap takjub pada deretan pilar marmer dan lampu kristal yang berkilauan. Namun, kekaguman itu segera berganti dengan rasa mulas di perutnya.

"Mas Krisna, apa tidak bisa Mas saja yang masuk? Aku takut salah jalan," ujar Sari pelan, melirik pria di sampingnya yang sedang melepas sabuk pengaman.

"Tenang saja, Sari. Kamu pasti bisa." Krisna turun dan segera membuka pintu bagasi.

Sari keluar dengan ragu, matanya mengawasi ratusan mobil mewah yang berjajar di area parkir. Tak jauh dari sana, melalui dinding kaca yang luas, terlihat kerumunan orang-orang berpakaian glamor.

"Itu aulanya. Kamu masuk lewat pintu samping itu. Bilang saja pada penjaga kalau kamu dari bagian logistik katering. Nanti di depan sudah ada karyawan kita yang menunggu," instruksi Krisna sambil mengangkat wadah besar berisi makanan.

"Tapi, Mas..." Sari merengek lirih, telapak tangannya kini basah oleh keringat dingin.

"Ayo, jangan takut. Aku hanya membantumu sampai pintu masuk, aku tidak boleh ikut ke dalam," bujuk Krisna.

Sari teringat gaun hitam sederhana yang diberikan atasannya tadi. Ia juga dipaksa memoles wajahnya agar terlihat lebih segar. "Kenapa Mas tidak boleh masuk?"

"Kamu tahu siapa yang menikah hari ini? Cucu keluarga Cakra! Semua tamunya orang terhormat," bisik Krisna serius. "Karyawan yang bertugas di dalam sudah disiapkan gaun khusus agar tidak memalukan nama katering. Mereka semua senior yang paham table manner. Orang lapangan sepertiku tidak diizinkan masuk."

"Lalu kenapa aku boleh? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang hotel mewah!" Sari semakin panik.

"Sari, ini darurat! Lagipula, kamu dipilih karena wajahmu yang paling cantik. Pakai gaun sederhana saja kamu sudah terlihat seperti tamu undangan. Beda dengan karyawan di dalam yang harus memakai gaun sewaan butik," puji Krisna mencoba menenangkan.

Sari terdiam, merasa hatinya sedikit menciut. Ia merasa seperti domba yang dilemparkan ke kandang singa.

"Sudahlah, yang penting kamu nurut saja. Bantu sebentar lalu langsung pulang."

Sari menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Huft... aku pasti bisa," gumamnya pelan.

Namun, saat ia melangkah menuju pintu aula, langkahnya mendadak terkunci. Matanya terbelalak menatap sosok pria yang sedang berbincang hangat dengan para tamu di kejauhan.

Cakra? Nama itu bergema di kepalanya.

Seketika, memori pahit yang terkubur dalam menyeruak naik ke permukaan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

"Lingga Setya Cakra... tidak mungkin. Jangan-jangan dia..."

Sari merasa dunia mendadak menyempit. Ia teringat masa-masa SMA-nya. Berkat beasiswa di sekolah elit, ia bisa masuk ke lingkaran anak-anak konglomerat. Lingga adalah mantan kekasih sekaligus pacar terakhirnya. Mereka menjalin hubungan cukup lama, bahkan bertahan hingga awal perkuliahan.

Sari tahu Lingga berasal dari keluarga kaya, tapi ia tak pernah menyangka bahwa Lingga adalah bagian dari dinasti Cakra yang agung ini. Hubungan mereka berakhir tragis saat Sari memergoki Lingga selingkuh, bahkan menghamili teman sebangkunya sendiri. Pengkhianatan itu menciptakan luka sedalam palung laut, membuat Sari menutup hatinya rapat-rapat selama bertahun-tahun.

"Hei, kenapa bengong?" tegur Krisna menyenggol pelan lengan Sari.

Sari tersentak, keringat dingin kini mengucur lebih deras. "A-ah, tidak apa-apa."

"Ayo cepat, waktunya sudah mepet!"

Sari melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah. Ia tidak pernah membayangkan, hari di mana ia harus berjuang demi pekerjaan, justru membawanya kembali berhadapan dengan sumber trauma terbesarnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria BUTA itu suamiku   Makan malam

    Ketukan langkah kaki yang pelan terdengar dari arah pintu depan. Suara itu seketika mencuri perhatian Sari yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.Dengan celemek yang masih terikat di pinggang, Sari bergegas meninggalkan tugasnya. Senyum riangnya merekah, bersiap menyambut kepulangan sang suami.Sari berjalan melewati ruang tengah, namun langkahnya melambat saat melihat Wira melangkah masuk dengan raut wajah yang amat murung."Apa terjadi sesuatu di luar?" batin Sari penasaran. Matanya menatap lekat Wira yang berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa.Wira langsung menjatuhkan diri ke atas sofa, menyandarkan tubuhnya yang tampak letih. Dia mendongak, memejamkan mata rapat-rapat. Rambutnya tampak begitu kusut, seolah terlalu sering diusap dengan frustrasi.Namun, sedetik kemudian, napas Sari tercekat. Matanya terbelalak mendapati noda merah yang mengering di kemeja putih suaminya."Wira, kamu habis dari mana?" Sari ber

  • Pria BUTA itu suamiku   Makan siang

    "E-eh, jangan menangis..." gumam Wira panik, melihat air mata wanita di hadapannya mulai menetes. Secara refleks, kedua tangannya bergerak mencengkeram lengan Kasih. Pria itu sedikit menundukkan tubuh, mencoba menyamakan tinggi demi menyalurkan ketenangan. "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku karena sudah salah paham." "Hiks..." Kasih masih sesenggukan. Perlahan, ia mendongak sembari mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Sepasang matanya yang mengerjap basah menatap Wira dengan bibir mengerucut cemberut. Detik berikutnya, pandangan Kasih sekilas beralih pada tangan kekar Wira yang masih berada di lengannya. Tanpa ragu, ia meraih salah satu telapak tangan pria itu dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, untuk menebus kesalahanmu... apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanya Kasih dengan suara serak. "Katakan saja," sahut Wira singkat. Merasa tidak nyaman dengan

  • Pria BUTA itu suamiku   Dalang di masa lalu

    Tubuh pria itu terseret pasrah di atas lantai beton yang dingin.BRUG!Dua pasang tangan kekar mencengkeram ketiaknya tanpa belas kasihan. Matanya dibalut selembar kain hitam yang diikat kencang, sementara kedua tangannya terkunci rapat di belakang punggung.Meski pandangannya gelap gulita, indra pendengarannya menajam. Pria itu bisa mendengar dengung suara salah satu penculiknya yang sedang berbisik di telepon, melaporkan situasi."Siapa yang menyuruh kalian?! Cepat katakan!" pekiknya, mendongak secara asal.Tidak ada sahutan. Sunyi.Dua pria berbadan tegap itu hanya menatapnya dingin seolah sedang melihat seonggok daging tak berharga.Suara engsel pintu yang terbuka tiba-tiba mengalihkan perhatian. Pria itu refleks menolehkan kepala, mencoba menebak di mana dia berada sekarang. Tak berselang lama, hidungnya mengendus aroma parfum maskulin. Dia memiringkan telinga, menangkap bunyi ketukan sepatu pantofel yang kian mende

  • Pria BUTA itu suamiku   Keretakan rumah tangga

    "Cih! Pantas saja tadi pagi langsung menghilang, ga mau sarapan. Ternyata sedang menjemput perempuan lain!" batin Sari, menggerutu habis-habisan dalam hati."Bisa-bisanya istri sendiri dibiarkan menyetir sendirian ke kantor."Sari berjalan masuk ke ruangannya dengan langkah mengentak. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, ia langsung mengempaskan tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman keras. Raut wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekesalan yang sudah membubung hingga ke ubun-ubun.Di sudut ruangan, Kasih tersentak. Perempuan itu terdiam, meremas jemarinya dengan panik. Matanya sibuk melirik ke segala arah, terlalu takut untuk sekadar mendongak dan menatap langsung ke arah Sari."Anu ... maafkan saya, Bu," cicit Kasih lirih.Sari tidak menyahut, hanya menatapnya dingin."Mereka tidak bersalah. Jadi, tolong jangan hukum mereka," imbuh Kasih sembari membungkuk dalam-dalam."Eh? Apa maksudmu?" Sari mengangkat sebelah alisnya, benar-benar dibuat bingung oleh drama

  • Pria BUTA itu suamiku   Karyawan baru

    "Hei, kenapa teleponku tidak diangkat?" tegur Sari dengan bibir mengerucut, menatap suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah.Sari sempat dirundung khawatir karena seharian ini Wira pergi tanpa kabar. Puluhan panggilan dan pesan singkatnya tak kunjung dibalas, memaksanya menunggu dalam kecemasan. Sekilas, Sari melirik jam dinding, bertanya-tanya urusan apa yang membuat suaminya pulang selarut ini."Maaf, ya. Tadi ada urusan mendadak dan ponselku ketinggalan di mobil," jawab Wira santai. Ia melangkah ke tengah dapur, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat."Kenapa aku mencium parfum wanita?" batin Sari mengernyit. Ia terus mengendus, mendekatkan hidungnya pada kemeja Wira guna mengenali aroma manis yang sangat asing di indranya."Kamu tidak selingkuh, kan?" selidik Sari curiga."Hei, yang benar saja. Buat apa aku menyelingkuhi wanita secantik dan seseksi kamu?" sahut Wira menggoda. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya sem

  • Pria BUTA itu suamiku   Penebusan

    "Maksudnya?" Pria itu mengangkat alis, tidak memahami arah pembicaraan Wira."Sebelum memutuskan siapa yang salah, bagaimana kalau kita dengar ceritanya dari kedua sisi? Biarkan nona ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Wira tenang, namun penuh penekanan."B-baiklah, Anda benar." Pria itu mengangguk patuh.Manajer hotel sebelumnya sudah mengonfirmasi kedatangan tamu agung yang saat ini berdiri di hadapan mereka. Wira Adi Cakra, pemilik Line Group sekaligus pewaris tunggal Cakra Corp. Sosok yang belakangan ini wajahnya menghiasi setiap laman berita bisnis."Kenapa orang sekelas dia mau ikut campur masalah sepele begini?" gumam pria itu dalam hati. "Pokoknya turuti saja, jangan sampai aku membuat kesalahan dan menyinggung orang sepenting ini."Ia berdeham, lalu menoleh pada gadis di depannya. "Kasih, cepat ceritakan apa yang terjadi!""Tadi saya datang membantu Bu Lastri membersihkan kamar. Lalu saya menemukan kalung

  • Pria BUTA itu suamiku   Menemui kakek

    "Tenang saja. Walau cuma sebentar... selama satu tahun ke depan, aku yang akan bertanggung jawab dan merawatmu dengan baik," ucap Sari bersungguh-sungguh."Bertanggung jawab? Hah! Yang benar saja," dengus Wira dalam hati. Ia tak habis pikir dengan sikap gadis di sampingnya yang ia nilai terlalu sok

  • Pria BUTA itu suamiku   Resmi menikah

    "Halo, ini aku... yang tadi bertemu di pesta," ucap Sari sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Suaranya terdengar ragu, bergetar oleh kecemasan yang mendalam."Aku tidak menyangka kamu akan menghubungiku secepat ini," sahut suara berat pria di balik telepon. "Apa kamu berubah pikiran?""Iya.

  • Pria BUTA itu suamiku   Istri bayaran

    "Apa maksudnya?" gumam Sari seraya mengernyitkan dahi. Gurat kebingungan di wajahnya menuntut penjelasan lebih lanjut."Jadilah istriku! Aku akan membayarmu," tegas Wira bersungguh-sungguh.Kedua mata Sari membulat sempurna. Ia tak habis pikir dengan lelucon gila yang pria itu lontarkan. Seburuk it

  • Pria BUTA itu suamiku   Calon istri

    "Lho, eh?!" Sari terbelalak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Keadaan aula seketika riuh. Para tamu serta keluarga Cakra terperangah melihat Wira dengan begitu protektif menggandeng tangan seorang gadis asing. Kasak-kusuk mulai memenuhi ruangan. Namun, di antara kerumunan itu, sepasang suam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status