MasukLuna mengangguk patuh, segera beranjak untuk memberikan instruksi tegas kepada mandor dan para pekerja agar menjaga kerahasiaan proyek dengan lebih ketat. Setelah memastikan semua instruksinya dipahami, ia kembali ke sisi Adam dan berjalan beriringan menuju area parkir di depan gerbang kayu.Adam membuka pintu mobilnya, namun sebelum masuk, ia menoleh ke arah Luna yang tampak sesekali melirik jam tangannya dengan raut wajah yang sedikit tidak tenang.“Terburu-buru sekali, Luna. Ada janji?” tanya Adam dengan nada menyelidiki namun tetap hangat.Luna tersentak kecil, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin perbukitan. “Ah, itu... iya, Pak. Ada janji sebentar.”Adam menyipitkan mata, sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Sama siapa? Pierre? Aku salah tebak, kan?”Luna tersenyum canggung, bola matanya bergerak ke atas sebentar seolah sedang mencari alasan, namun akhirnya ia menyerah di bawah tatapan tajam bosnya. “Tentu saja, Pak. Dia sedang begadang d
Pagi harinya, studio itu kembali berdenyut dengan kreativitas. Setelah Adam berangkat dengan kecupan pamit yang manis, kini giliran Areta yang mengambil alih takhta di depan meja potong. Semangatnya telah pulih sepenuhnya berkat dukungan Adam semalam.Areta menatap kain navy sisa potongan gaunnya yang berkualitas tinggi. Fokus pertamanya adalah Arkadia. Dengan penuh ketelitian, ia menggambar pola jas mini berukuran bayi."Jagoan Mama harus jadi yang paling tampan," gumamnya sambil tersenyum sendiri.Ia menjahit jas kecil itu dengan detail yang luar biasa, kerah notch yang mungil namun kaku, serta kancing-kancing emas kecil yang memberikan kesan bangsawan. Di bagian dalam saku jas Arkadia, Areta menyulam tulisan kecil: "Born to be a King". Ia membayangkan betapa menggemaskannya Arkadia saat berjalan tertatih atau digendong Adam di hari pesta nanti.Selesai dengan urusan Arkadia, Areta beralih ke proyek yang lebih besar: Jas untuk Adam.Meskipun Adam kini memimpin Rajawali Jaya Group
Adam menarik napas lega melihat Areta kembali tersenyum. Ia pun melepas jas yang tersampir di kursi kerja, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, dan dengan cekatan mengambil alih tempat di depan mesin jahit utama."Duduklah di sana, Sayang. Biar 'si penjahit culun' ini yang mengambil alih kemudi malam ini," ujar Adam dengan kerlingan nakal.Areta duduk di sofa kecil sudut studio, memperhatikan suaminya dengan tatapan kagum yang sulit disembunyikan. Sudah lama ia tidak melihat Adam berhadapan langsung dengan mesin jahit. Gerakan tangan Adam saat memasukkan benang ke lubang jarum begitu tenang dan presisi, sebuah keterampilan yang dulu sempat ia remehkan namun kini menjadi salah satu hal yang paling ia cintai dari pria itu.Suara mesin jahit mulai menderu halus. Adam tidak hanya sekadar menjahit, ia memperlakukan kain navy itu seolah-olah sedang memahat sebuah karya seni."Aku akan mengubah sedikit potongan di bagian pinggang," gumam Adam tanpa mengalihkan pandangan dari jarum y
Persiapan pesta pernikahan dan ulang tahun Arkadia pun dimulai. Studio kecil di sayap rumah Papa Rajes kini dipenuhi dengan gulungan kain brokat Prancis, sutra satin, dan berbagai manik-manik kristal. Areta benar-benar mendedikasikan waktunya untuk menjahit sendiri gaun impian yang dulu tak sempat ia kenakan.Namun, sore itu, suasana di studio mendadak mendung.Areta berdiri di depan cermin besar dengan gaun setengah jadi yang masih disematkan jarum pentul. Wajahnya ditekuk, matanya menatap tajam ke arah pantulan dirinya sendiri. Ia mencoba menarik ritsleting di bagian samping, namun terasa sangat sesak di area pinggang.“Nggak mungkin ...,” gumamnya kesal. Ia menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, mencoba memaksakan kain itu menyatu, tetap saja ada bagian perut yang terasa menonjol.Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi. “Adam! Kayaknya meteranku rusak!” serunya ke arah pintu.Adam yang baru saja pulang kantor langsung menuju studio begitu mendengar sua
Malam semakin larut di sayap mewah kediaman Rajes. Arkadia sudah terlelap tenang di boks bayinya, sisa-sisa demam semalam benar-benar telah hilang. Areta duduk bersandar di kepala tempat tidur, dikelilingi oleh sketsa-sketsa gaun yang tersebar di atas sprei sutranya.Pintu terbuka pelan, Adam melangkah masuk dengan wajah lelah namun langsung cerah saat melihat pemandangan di depannya. Ia menaruh kunci mobil dan jam tangannya di nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Areta."Masih bekerja, Sayang?" tanya Adam lembut, tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi Areta.Areta mendongak, matanya berbinar namun ada guratan keraguan di sana. "Adam, aku sedang melihat-lihat sketsa lama. Kamu ingat tidak? Kita menikah di kantor catatan sipil hanya dengan pakaian seadanya."Adam tertegun sejenak. Ingatannya kembali ke masa itu, saat ia masih menyamar sebagai penjahit pinggiran yang culun dan tampak tidak punya masa depan. Ia ingat bagaimana Areta, sang des
Suasana di kediaman mewah milik Papa Rajes siang itu terasa begitu hidup namun penuh dengan dinamika tersembunyi. Meskipun Adam dan Areta menempati salah satu sayap rumah yang sangat luas dan nyaman, tetap saja ada perasaan "menumpang" yang terkadang menghinggapi benak Adam sebagai seorang kepala keluarga.Begitu Mama Veronica dan Papa Rajes sampai di kamar cucu mereka, ketegangan semalam langsung mencair menjadi haru biru keluarga besar."Maafkan Mama, Are ... Adam ...." Mama Veronica berkali-kali menciumi tangan Arkadia yang sedang tertidur pulas setelah suhunya kembali normal. "ART baru bilang tadi di bawah. Kenapa kalian tidak telepon Mama semalam? Papa bisa langsung minta kolega dokternya datang ke sini jam itu juga!"Papa Rajes berdiri di samping boks bayi yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bagian dari kemewahan rumah ini. "Betul, Dam. Di rumah ini, fasilitas apapun bisa kita datangkan secepat kilat. Lain kali, langsung lapor Papa. Jangan menanggung beban sendiria
"Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yan
Lobi samping dekat kantin karyawan Rajawali Tower mendadak riuh. Areta berlari setengah tidak peduli dengan bunyi hak sepatunya yang beradu keras dengan lantai marmer. Di sana, di tengah kepungan tiga satpam berbadan tegap, ia melihat "Gus"—suaminya—sedang berdiri memegang helm kusamnya dengan waja
Pagi itu, suasana di kediaman Mama Veronica terasa tenang, namun ketegangan di hati Adam belum sepenuhnya sirna. Sebelum sinar matahari benar-benar menyengat, Adam melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia hormati sedang menyesap kopi hitamnya sambi
Ketegangan di depan ruko belum sempat mereda saat sebuah mobil mewah lainnya—kali ini sebuah sedan putih elegan yang sangat familiar bagi Adam—berhenti tepat di belakang motor matic mereka.Seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Perhiasannya berkilau terkena lampu jalan, namun wajahnya meman







