Share

Tangga Baru

Penulis: Chili Cemcem
last update Tanggal publikasi: 2026-02-12 23:47:14

Lampu sorot berwarna putih terang menyapu seluruh panggung saat musik grande mencapai puncaknya. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh aula megah tersebut. Pembawa acara dengan suara lantang mengumumkan, “Dan pemenang utama kategori Best Menswear Design tahun ini adalah... Areta Niku dengan koleksi ‘The Hidden Power’!”

Areta menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru mengalir deras. Ia tidak menyangka jas yang hampir hancur tadi justru menjadi mahakarya yang paling dipuja para juri. Sa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Culun Itu Suamiku   Keinginan Mengulang

    Malam semakin larut di sayap mewah kediaman Rajes. Arkadia sudah terlelap tenang di boks bayinya, sisa-sisa demam semalam benar-benar telah hilang. Areta duduk bersandar di kepala tempat tidur, dikelilingi oleh sketsa-sketsa gaun yang tersebar di atas sprei sutranya.​Pintu terbuka pelan, Adam melangkah masuk dengan wajah lelah namun langsung cerah saat melihat pemandangan di depannya. Ia menaruh kunci mobil dan jam tangannya di nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Areta.​​"Masih bekerja, Sayang?" tanya Adam lembut, tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi dahi Areta.​Areta mendongak, matanya berbinar namun ada guratan keraguan di sana. "Adam, aku sedang melihat-lihat sketsa lama. Kamu ingat tidak? Kita menikah di kantor catatan sipil hanya dengan pakaian seadanya."​Adam tertegun sejenak. Ingatannya kembali ke masa itu, saat ia masih menyamar sebagai penjahit pinggiran yang culun dan tampak tidak punya masa depan. Ia ingat bagaimana Areta, sang des

  • Pria Culun Itu Suamiku   Ingin Pindah

    Suasana di kediaman mewah milik Papa Rajes siang itu terasa begitu hidup namun penuh dengan dinamika tersembunyi. Meskipun Adam dan Areta menempati salah satu sayap rumah yang sangat luas dan nyaman, tetap saja ada perasaan "menumpang" yang terkadang menghinggapi benak Adam sebagai seorang kepala keluarga.​Begitu Mama Veronica dan Papa Rajes sampai di kamar cucu mereka, ketegangan semalam langsung mencair menjadi haru biru keluarga besar.​​"Maafkan Mama, Are ... Adam ...." Mama Veronica berkali-kali menciumi tangan Arkadia yang sedang tertidur pulas setelah suhunya kembali normal. "ART baru bilang tadi di bawah. Kenapa kalian tidak telepon Mama semalam? Papa bisa langsung minta kolega dokternya datang ke sini jam itu juga!"​Papa Rajes berdiri di samping boks bayi yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bagian dari kemewahan rumah ini. "Betul, Dam. Di rumah ini, fasilitas apapun bisa kita datangkan secepat kilat. Lain kali, langsung lapor Papa. Jangan menanggung beban sendiria

  • Pria Culun Itu Suamiku   Arkadia Demam

    Malam yang tenang di kediaman Adam dan Areta seketika berubah mencekam saat suara tangis Arkadia terdengar berbeda dari biasanya. Bukan tangis karena lapar atau popok basah, melainkan rintihan kecil yang menyayat hati.Areta yang pertama kali menyadarinya. Saat ia mengangkat Arkadia dari boks, telapak tangannya merasakan panas yang tidak wajar dari dahi sang putra.Kepanikan Ibu Baru“Adam! Adam, bangun!” teriak Areta dengan suara gemetar.Adam langsung terduduk tegak. Ia melihat Areta berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat pasi, mendekap Arkadia yang wajahnya tampak kemerahan. Adam segera mengambil termometer digital dan menyentuhkannya ke dahi Arkadia.38,5° Celsius.“Dia demam tinggi, Adam. Bagaimana ini? Apa aku salah memberinya makan? Atau dia tertular virus saat kita ke supermarket kemarin?” Areta mulai menyalahkan dirinya sendiri, air matanya mulai jatuh. Tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan mendadak terasa lemas.Adam Sang PenenangMelihat Areta yang hampir his

  • Pria Culun Itu Suamiku   LDR

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu melankolis. Riuh rendah pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru penumpang seolah menjadi latar belakang yang kabur bagi Luna dan Pierre. Di jari manis Luna, cincin berlian itu berkilau, menjadi satu-satunya benda yang membuat perpisahan ini terasa nyata namun tidak terlalu menyakitkan.Pierre berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional. Ia memegang kedua tangan Luna, seolah enggan melepaskannya meski hanya untuk melewati pemeriksaan paspor.“Aku merasa seperti sedang meninggalkan separuh jiwaku di Jakarta,” bisik Pierre, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit untuk berpaling.Luna mencoba tetap terlihat tegar, ciri khas sekretaris tangguh yang selama ini ia bangun. Ia merapikan kerah kemeja Pierre untuk terakhir kalinya. “Jangan berlebihan, Pierre. Kamu hanya pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita. Ingat, aku tidak mau tinggal di apartemen yang berantakan di Paris nanti.”Pierre terkekeh, namun

  • Pria Culun Itu Suamiku   Lamaran

    Kehidupan di rumah setelah kepulangan dari rumah sakit ternyata tidak semudah sketsa gaun yang indah. Areta, yang biasanya perfeksionis dan terkontrol, kini berhadapan dengan realita menjadi ibu baru. Kurang tidur yang kronis dan perubahan hormon pascapersalinan membuat mood-nya menjadi sangat labil.Malam itu, jam menunjukkan pukul dua pagi. Arkadia baru saja terlelap setelah menangis selama dua jam karena kolik. Areta duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut berantakan dan lingkaran hitam di bawah matanya.Adam, yang juga terjaga namun sempat terlelap sebentar di kursi, terbangun dan mencoba membantu. Ia mendekat dengan langkah pelan, membawa segelas air putih hangat.“Are, minumlah dulu. Kamu sudah sangat lelah,” ucap Adam lembut.Areta menoleh, namun alih-alih senyuman, tatapannya tajam dan penuh amarah yang tertahan. “Air? Kamu baru bangun dan menawariku air setelah aku berjuang sendirian menenangkan Arkadia selama dua jam?”Adam tertegun, mencoba tetap tenang. “Maaf, Ar

  • Pria Culun Itu Suamiku   Berdua Hanya Denganmu

    Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar apartemen Luna terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Luna terbangun dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menyentuh puncak kepalanya, teringat usapan lembut Pierre semalam.Baru saja ia merenggangkan tubuh, ponsel di atas nakas bergetar. Nama “Pierre (Paris)” muncul di layar. Luna berdeham, mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu girang.“Halo?” ucap Luna, berusaha terdengar seperti orang yang baru bangun tidur tapi tetap profesional.“Selamat pagi, ma belle,” suara bariton Pierre terdengar segar di seberang sana. “Aku sudah berada di bawah, di depan lobi apartemenmu. Aku berpikir, sarapan di hotel sangat membosankan. Maukah kamu menemaniku sarapan sebentar lalu aku antar kamu berangkat kerja ke kantor Rajawali Jaya?”Luna bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju balkon dan mengintip ke bawah. Benar saja, mobil yang sama dengan semalam sudah terparkir manis di san

  • Pria Culun Itu Suamiku   Aroma Martabak ?

    ​"Aku tahu dulu pernah tenar. Tapi aku juga pernah jatuh. Rasanya janggal jika dalam keterpurukan seseorang ada uluran tangan semudah sekarang. Tapi akan menandatanganinya besok. Kamu jangan berpikir karena kontrak ini, aku akan langsung percaya padamu," ucap Areta tanpa menoleh. "Aku masih ingat r

  • Pria Culun Itu Suamiku   Perlindungan

    Adam melihat keraguan di mata Areta mulai bercampur dengan rasa kagum yang berbahaya. Ia tahu, jika ia membiarkan Areta terus menganalisis wajah dan refleksnya, penyamarannya sebagai pria biasa dari Ambulu akan runtuh malam ini juga.Dengan gerakan yang tenang namun pasti, Adam tidak mundur. Sebal

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kain Bentuk Hati

    Setelah pelanggan pengantin itu pulang dengan wajah puas, Areta mengembuskan napas panjang. Ia merasa lelah namun senang karena deposit awal sudah masuk ke rekening butiknya. Ia melangkah menuju meja jahit, bermaksud mengambil ponselnya di dalam tas untuk mengecek saldo.​Namun, saat jemarinya mero

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pura Pura Jatuh

    Adam sedikit menegang melihat reaksi Areta terhadap email itu. Namun, tepat sebelum Areta sempat meminta KTP atau data dirinya untuk diinput ke sistem, ponsel di saku celana Adam bergetar pendek.​Adam melirik layar ponselnya di bawah meja. Sebuah pesan dari Luna masuk dengan sangat tepat waktu:​"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status