Home / Romansa / Pria Malam Itu, Dosenku! / 3. Haus Akan Sentuhan

Share

3. Haus Akan Sentuhan

Author: Rheika
last update Last Updated: 2025-12-22 22:41:58

Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya.

Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini.

Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria.

Grep.

Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur.

"P-Pak? Pak Alex?!"

Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya.

"Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy.

Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri?

Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat.

"S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "Saya benar-benar tidak tahan..."

Lucy terisak pelan. Air matanya mengaliri pipinya yang memerah. Rasa malunya beradu dengan gairah yang membakar tubuh.

Tapi di sinilah Lucy, terbaring di ranjang, di bawah pria asing, memohon padanya untuk memberinya sentuhan.

"Tolong sentuh saya. Saya tidak akan menuntut balasan apapun," pinta Lucy.

Dia benar-benar sudah tidak tahan. Seluruh badannya berteriak minta dipuaskan.

Lucy tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dia juga tidak pernah melakukan hal intim, atau berhubungan badan, termasuk dengan kekasihnya.

Memikirkannya membuat tangis Lucy makin pilu dan menyedihkan. Bayangan kekasihnya itu--Davin, yang menghabiskan malam bersama Ella berputar kembali.

Apakah karena tak berpengalaman dalam hal itu, Davin jadi berselingkuh darinya?

"Ssshh..."

Suara bisikan itu menyapa telinga Lucy. Alex, pria ini, ternyata menenangkannya.

"Kamu sedang tidak berpikir jernih," gumam Alex. "Mungkin pengaruh alkohol."

Suara dalam Alex yang membisik itu benar-benar terdengar menenangkan, seperti belaian orang dewasa yang aman.

Tapi, karena Alex tampaknya tak tertarik untuk menyentuh Lucy lebih lanjut lagi, air mata Lucy kembali berjatuhan.

"Hiks ... Apa karena saya tidak menarik ...?" isaknya pelan. "Karena saya jelek, jadi semua orang tak mempedulikan nasib saya..."

Alex awalnya diam. Ada keterkejutan di matanya melihat gadis itu meracau.

Lagi-lagi, dia berpikir jika ini pengaruh alkohol. Tidak sedikit orang yang mendadak tumpah emosinya saat mabuk.

"Pacar saya selingkuh, bahkan dengan wanita yang merupakan sahabat saya sendiri," isak Lucy. "Lalu, teman yang saya percaya, Kak Riko, malah berniat melecehkan saya... hiks..."

Tapi pria itu tampaknya menjadi iba karena Lucy mengalami hal yang berat.

"Semua orang ... hanya memanfaatkan saya ..." isak Lucy pilu.

Alex mendengus sambil tersenyum miring.

"Lucu kamu bilang begitu. Bukankah saat ini, kamu juga sedang memanfaatkan saya untuk kepentinganmu sendiri?"

Tangis Lucy terhenti sejenak, dan ia menatap ke atas, ke wajah Alex yang teramat dekat.

"Tapi ... ini karena saya membutuhkannya. Rasanya sangat, sangat panas ... dan saya akan mati kalau tidak disentuh," rengek Lucy pelan, meski melebih-lebihkan ucapannya.

"Lalu, apa karena kamu sedang di ambang kematian, jadi bisa memanfaatkan saya?" balas Alex dengan seringai miring itu.

"Memanfaatkan bukan kata yang tepat ..." Lucy menggumam. "Anda ... Pak Alex ... juga menginginkannya."

Lucy merujuk pada bagian bawah Alex yang sudah tumbuh mengeras saat menyentuhnya tadi.

Ingatan itu seolah membuat otot Alex menegang di atas Lucy, dan napasnya keluar bersamaan dengan erangan rendah.

Mata Lucy membulat dengan harapan. Otaknya sudah tak bisa berpikir logis saat badannya begitu haus akan sentuhan!

"Pak Alex ... ayo, lakukan ..."

Pegangan Alex pada lengan Lucy mengerat, hampir mencengkeramnya keras dan kasar.

"Kamu yakin, kamu menginginkan ini?" tanya Alex kembalidengan suara rendah.

Lucy mengangguk. "Ya, saya mau, Pak."

"Kamu tidak akan menyesalinya?"

Lucy mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.

Alex terdiam sejenak, lalu menangkup kedua sisi wajah Lucy dengan kedua tangan besarnya, kemudian perlahan merundukkan kepala.

Dan perlahan, bibir pria itu bertemu dengan bibir ranum Lucy dalam ciuman yang dalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status