FAZER LOGINLucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen.
Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah pergi meninggalkanku dalam kondisi birahi seperti cacing kepanasan?" "A... pa?" "Apa kau menidurinya? Itu sebabnya dia membelamu, dan membuat kartu-kartuku diblokir? Haha!" Gila. Apa karena itu Riko dendam dan berbuat seperti ini? Dari mana pula Riko mengetahui apartemennya? Lucy sedikit menyesal merasa aman hanya karena tempat ini memiliki CCTV dan pos penjaga. Pos penjaga. Itu dia! Lucy harus segera pergi ke pos penjaga dan mencari bantuan! Tangan Lucy meraih satu buku tebal yang terserak di bawah kaki meja. Buku itu terayun ke arah wajah Riko. Buk! Lucy segera bangkit dan berlari ke arah pintu. Napasnya memburu. "Heh. Kamu ini memang jalang kecil, perlu diberi pelajaran," kekeh Riko. Tak sempat kaget untuk menyadari bahwa pukulannya dengan buku itu terlalu lemah, Lucy sudah kembali diseret ke lantai. Lucy menjerit saat tubuhnya jatuh berdebum kembali. "Dasar gadis tak sopan. Apa kamu tidak tahu, Lucy, bahwa aku berjalan kaki sampai di sini, karena ayahku menyita kunci porsche-ku sejak kemarin?" Riko berceloteh sambil menindih Lucy, membuat gadis itu meronta-ronta di bawah tubuhnya. Satu tangan Riko meraih rahang Lucy dan dengan kuat, memaksanya buka mulut. Kedua mata Lucy membelalak ketika tangan lain Riko membawa sebuah botol yang telah terbuka. Tanpa ampun, Riko mencekoki isi botol itu ke dalam mulut Lucy, memaksanya menelannya. "Tidak—mmphh!" Lucy merasa seperti dicekik! "Sudah, sudah, tidak usah melawan. Kamu akan berterima kasih padaku setelah ini. Kita akan bersenang-senang bersama." Riko tak peduli meski cairan itu membanjiri wajah Lucy yang terbatuk-batuk. Ini bukan alkohol. Rasanya tak familiar. Entah apa. Riko tampak puas melihat Lucy terpaksa menelannya. "Tenang saja, obat ini sudah terbukti, kamu akan cepat basah, dan mudah kumasuki." Seketika rasa takut yang hebat merasuki Lucy. Tubuhnya gemetar. "T-tidak... jangan..." Tangan Riko sudah membuka kancing baju Lucy satu per satu. Sedangkan Lucy berusaha mendorongnya. Meski berusaha sekuat tenaga, badannya begitu lemas! Inikah efek obat itu? "Hei, jawab aku," bisik Riko sambil merunduk, berbisik di telinga Lucy. "Apa kamu sudah mencobanya dengan pamanku? Aku yakin ... kamu akan lebih menyukai milikku." Mendengarnya, Lucy gemetar dan terisak pelan. Dalam hati, dia memohon agar ada yang datang menyelamatkannya. Tangan Riko bergerak, merayap masuk ke dalam bajunya. Tidak... tidak! Lucy tidak ingin disentuh olehnya! Brak! Pintu apartemen itu mendadak terbuka. Suara sirine terdengar dari luar. Polisi? Lucy memberanikan diri untuk membuka mata. "Heh! Apa-apaan ini! Lepaskan aku!" seru Riko saat dua petugas telah mengamankannya. Lucy bangun dari lantai untuk duduk, dadanya masih naik turun dengan napas memburu. Dia menyaksikan Riko yang dibawa keluar, hendak dibawa ke mobil polisi. "Apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang polisi wanita menenangkannya. Lucy menatap sekitar dengan bingung dan sisa rasa takut. Apa baru saja terjadi keajaiban? Entah dari mana para petugas kemamanan itu datang menyelamatkannya. "Lucy!" Gadis itu tersentak. Seorang pria baru saja datang terburu-buru melewati pintu. "Pak Alex ..." Ketakutan dan ketegangan dalam diri Lucy mendadak meleleh, terganti rasa lega yang membuat tangisnya pecah. Begitu Alex mendekatinya, Lucy sudah meraihnya dan memeluknya erat, menangis kencang. *** "Tenang saja, Riko sudah diringkus polisi. Kamu baik-baik saja." Lucy mengusap matanya yang sembap. Menyadari bahwa Alex mengelus kepalanya perlahan di dalam pelukannya, Lucy mendadak tersadar. Tubuh gadis itu menegang, dan dia buru-buru menjauh. "S-saya baik-baik saja!" seru Lucy gugup. Betapa memalukan! Dia baru saja seperti dimanjakan oleh dosennya sendiri. Tapi wangi tubuh maskulin yang lembut sekaligus menenangkan itu ... terlalu membuai. Lucy merasakan wajahnya menghangat. Dia menunduk, menyadari bahwa pakaiannya masih berantakan dengan sebagian kancing terbuka. Buru-buru dirapikannya secepat mungkin. Tapi, debar jantungnya terus saja meningkat. Tubuhnya mulai merasa semakin hangat. "Ayo, ikut saya. Saya rasa tempat ini kurang aman untukmu." "Y-ya?" tanya Lucy, tersentak oleh ucapan Alex yang membuyarkan isi otaknya. "Ikut saya." Alex berkata singkat dan menuntun Lucy pergi dari apartemennya. Suara sirine mobil polisi menjauh begitu Lucy masuk ke mobil Alex. Di dalam mobil itu, Lucy bergerak gelisah. Bagian bawah tubuhnya terasa panas dan lembap. Kedua paha Lucy terus bergesekan, berusaha meredakan gejolak aneh itu. Ini ... mirip dengan rasa waktu itu, ketika Riko memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, lalu diselamatkan oleh Alex. Lucy terkesiap. Apakah dirinya ... baru saja mengulang kejadian yang sama? "Pak Alex ..." "Ya?" balas Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan, fokus mengemudi. "Kita mau ke mana, Pak?" tanya Lucy pelan. "Ke tempat saya." Jawaban singkat itu membuat Lucy terkejut, tubuhnya sedikit menegang. "K-kenapa? Saya bisa mencoba menyewa tempat lain—" "Tidak aman untukmu sendirian. Riko bisa saja menemukanmu kembali. Atau ... kemungkinan bahaya lainnya." Alex berkata dengan tenang, bicara seperti matter of fact. Sedangkan Lucy duduk gelisah. Area itu sudah basah. Tubuhnya terasa panas. Tapi berbeda dengan malam di bar saat Lucy mabuk, kali ini Lucy sepenuhnya sadar. Sadar dan menahan diri untuk tidak terlihat bodoh di depan dosennya. "Saya ... saya takut merepotkan, Pak ..." "Lucy." Suara Alex dalam, tegas dan final. Dan ucapan selanjutnya membuat Lucy tersentak. "Saya tahu. Riko tadi memberimu obat perangsang, bukan?"Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah
"Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj
Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti
Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu
Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S
Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan







