Beranda / Romansa / Pria Malam Itu, Dosenku! / 6. Ingin Menuntut Balas

Share

6. Ingin Menuntut Balas

Penulis: Rheika
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 23:20:21

"Apa?"

Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu.

Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy?

"Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa."

Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya?

"Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya.

"Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex.

Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman.

Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar.

Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri?

"Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini."

Penjelasan lanjutan Alex membuat hati Lucy sedikit lega.

Untung saja, Riko mempunyai paman yang bertanggung jawab.

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu saya khawatirkan, bukan?" tanya Lucy, menghela napas lega.

"Tidak. Justru ini yang ingin saya bicarakan."

Kening Lucy mengernyit lagi. "Tapi, kata Bapak, Kak Riko sudah tidak bisa..."

"Saya bilang, untuk saat ini," tegas Alex. "Saya mengenal Riko. Dia anak yang nekat. Meski tanpa menggunakan privilege-nya, saya pikir dia berencana mencelakakan kamu."

Lucy menggigit bibir.

Dia hanya seorang gadis yang tak punya siapa-siapa. Berhadapan dengan seorang anak keluarga kaya raya membuatnya merasa tak berdaya.

"Apa yang perlu saya lakukan, Pak?" suara Lucy bergetar.

Sejenak, Alex terdiam melihat Lucy yang tampak khawatir. Ada sedikit sorot iba di matanya.

"Pertama-tama, simpan kontak saya. Dan beri saya nomor telponmu. Jika ada sesuatu yang penting, langsung hubungi saya."

Alex menyodorkan kartu namanya ke arah Lucy, yang diterimanya perlahan.

"Bagaimana dengan kondisi tempat tinggalmu? Kamu tinggal sendiri, bukan? Apakah aman? Ada CCTV dan pos penjaga?"

Lucy menelan ludah, mengangguk kaku. Dia tinggal di sebuah apartemen sederhana yang standar, ada CCTV dan pos penjaga. Lokasinya dekat dengan kampus.

"Bagus. Selagi saya mengawasi Riko, kamu cukup kabari saya kalau ada sesuatu."

"Baik, Pak."

***

Lucy melangkah pelan dan gontai, di koridor yang masih ramai. Pikirannya kusut.

Ah, seandainya malam itu dia tidak pergi ke bar ...

Seandainya Lucy tidak patah hati karena melihat perselingkuhan kekasihnya, mungkin dia akan terhindar dari masalah ini.

Lucy mengusak rambutnya kasar. Tak memperhatikan langkahnya, Lucy menabrak seseorang.

Bruk!

"Astaga!" pekik Lucy pelan.

"Lucy?" Orang yang ditabraknya segera meraih bahunya.

Lucy merinding. Sentuhan pada kedua bahunya ini begitu familiar.

Saat mengangkat wajah untuk melihat orang itu, Lucy seketika membulatkan mata.

"Davin..."

Pria ini, kekasihnya—tapi apa masih bisa disebut kekasih?

Ah, sakit hati Lucy ternyata belum sembuh. Ada perih yang menggores di dadanya saat menatap Davin.

"Kamu baik-baik saja? Kelihatannya murung," ucap Davin, tangannya naik untuk menangkup pipi Lucy.

Lucy langsung menghindar dan menepis tangannya.

"Jangan sembarangan menyentuh," desisnya.

Menjijikkan. Bagaimana bisa pria ini sok lembut dan sayang, ketika sudah mendesahkan nama perempuan lain di kamarnya?

"Ada apa? Kamu ngambek?" Davin terkekeh. "Apa karena aku tidak membalas pesanmu kemarin?"

Lucy menatapnya datar.

"Kita putus, Davin," ucapnya lugas. "Aku sudah muak dengan sandiwaramu."

Senyuman di bibir Davin sontak menghilang. "Apa?"

"Aku tahu apa yang kamu lakukan di belakangku." Suara Lucy mulai serak, tapi matanya menatap Davin tajam. "Aku tahu kamu tidur dengan perempuan lain."

Sejenak, Davin tampak panik, matanya bergetar. Tapi dia segera tertawa kecil dengan santai.

"Hahaha, kamu ini bicara apa sih? Kamu melantur lagi, ya?"

"Tidak usah pura-pura! Aku sudah menyaksikannya!" seru Lucy.

Tanpa menunggu respons Davin lagi, Lucy buru-buru melangkah melewatinya. Tapi tangan Lucy segera ditarik, hingga perempuan mungil itu dengan mudahnya berbalik badan kembali.

"Kamu bilang menyaksikannya?" Nada suara Davin mengancam. "Seberapa banyak? Kamu punya bukti?"

Lucy mendengus, mengayunkan tangannya kuat hingga pegangan Davin terhempas.

"Bukti atau tidak, yang penting, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Setelahnya, Lucy buru-buru melangkah menjauh, meninggalkan Davin.

Tangan Lucy dengan gemetar menyeka matanya yang basah.

Setelah melihat Davin lagi, rasa suka Lucy padanya telah musnah tak bersisa. Tapi, rasa sakit hati itu masih ada.

Kali ini, Lucy bertekad untuk tidak membiarkan dirinya diinjak-injak kembali.

Selesai mengikuti kelas sore, Lucy buru-buru pulang, tidak mengindahkan ajak Ella untuk main dengan teman-temannya.

Bermain versi Ella adalah menghabiskan waktu tenggelam dalam kehidupan malam kota yang gemerlap, minum-minum dan menari di bawah lampu disko.

Ah, siapa Lucy menghakiminya begitu? Malam itu, Lucy juga pergi ke bar.

Ponsel Lucy berdering terus untuk kesekian kalinya.

Davin, nama pria itu muncul lagi sebagai pemanggil.

[Davin: Lucy? Jawab telponku.]

[Davin: Kita harus bicara. Kamu salah paham. Aku tidak berselingkuh darimu.]

[Davin: Kau di mana? Ayo kita bicara malam ini. Aku akan menjemputmu.]

Sial. Pria itu masih saja memohon-mohon. Enak saja. Lucy tidak akan memaafkannya begitu saja!

[Lucy: Jangan hubungi aku lagi.]

Lucy mengetik cepat, lalu langsung memblokir nomor Davin di kontaknya.

Begitu sampai di apartemennya, Lucy segera menutup pintu dan menguncinya.

Lucy berberes sejenak. Membereskan barang-barang, tas, dan membersihkan diri.

Sementara melakukan itu semua, ponsel Lucy terus saja berdering.

Lucy menghembuskan napas kesal. Apa Davin bebar-benar tidak mengerti kapan harus menyerah?

Nomor yang menelponnya itu tak dikenal. Apa Davin sampai menggunakan nomor lain karena Lucy memblokir kontaknya?

Tok! Tok! Tok!

Suara kasar ketukan pintu itu membuat Lucy berjengit, sebelum dengan kesal dia beranjak dan membuka pintu, bersiap menyemburkan kata-kata.

"Berapa kali harus kubilang! Aku tidak mau lagi--"

Ucapan Lucy terputus. Dia membeku seketika.

Di depannya bukan Davin. Pria yang menjulang tinggi dengan senyum miring itu adalah Riko.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status