Accueil / Romansa / Pria Malam Itu, Dosenku! / 4. Dalam Dekapan Erat

Share

4. Dalam Dekapan Erat

Auteur: Rheika
last update Dernière mise à jour: 2025-12-23 00:00:10

Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel.

Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan.

Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung.

Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini.

Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak.

Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong!

"T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat.

Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?"

Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciuman itu, lalu berniat berhenti begitu saja?!

"Kamu juga terlihat masih muda," komentar Alex menambahkan.

"T-tapi, saya..." Lucy menggigit bibir.

Bahkan menggesek kedua kakinya sendiri pun tak bisa, sedangkan rasa panas di inti tubuhnya seolah membara.

"Tenanglah," ucap Alex, suaranya sedikit melembut. "Aku hanya tidak ingin membuat keputusan yang mungkin akan disesali. Olehmu, atau olehku, nanti."

"Lalu, Anda akan membiarkan saya terjebak di sini sendiri?!" seru Lucy dengan mata berkaca-kaca.

"Tidak. Aku setidaknya akan memastikan kamu baik-baik saja," balas Alex, tak lama kemudian berbaring di sisinya.

"Saya sama sekali tidak baik-baik saja!" seru Lucy kembali

"Tenanglah... kamu tidak akan mati," ujar Alex enteng.

Lucy sejujurnya merasa terhina. Tidak, lebih dari itu, dia merasa kian menyedihkan.

Malam ini, Lucy merasa mendapat kemalangan bertubi-tubi, dan semuanya berasal dari para pria yang memberinya harapan palsu.

Alex, pria itu ... juga sama saja.

Begitu saja, pria itu berbaring di sisi Lucy, hingga malam makin larut, dan Lucy terus terisak hingga kelelahan dan jatuh tertidur.

***

Saat Lucy bangun paginya, Alex sudah tidak ada di sana.

Pria itu telah meninggalkannya sendirian di hotel itu, entah sejak kapan.

Tapi tak ada waktu untuk memikirkan hal itu, Lucy cemas oleh hal lain. Dia bangun terlambat, dan sebentar lagi kelas paginya akan dimulai!

Dengan pakaian yang masih sama dengan semalam, Lucy bergegas keluar dari hotel itu dan menyegat sembarang taksi.

Lucy baru sampai ke depan gedung kampusnya dengan teegopoh-gopoh. Diliriknya jam di ponselnya.

Harusnya dia sudah terlambat sekarang, tapi rupany dosen yang harusnya mengajar saat ini terlambat. Lucy beruntung! Dia buru-buru masuk dan duduk di tempatnya.

"Hei, Lucy! Kenapa nggak balas pesanku semalam? Aku chat kamu tentang pameran yang mau kamu datangi itu!"

Sapaan mendadak itu membuat Lucy berjengit pelan.

Ketika Lucy menoleh, didapatinya Ella yang baru saja menepuk pundaknya.

"S-semalam?" ulang Lucy patah-patah.

Entah bagaimana Lucy harus menghadapi Ella sekarang.

Ingatan tentang suara-suara desahan Ella di kamar Davin menggema di kepalanya. Benar, sahabatnya sejak sekolah menengah itu mengkhianatinya di belakang.

Bagaimana bisa sekarang perempuan itu mengajaknya mengobrol, seolah tak melalukan kesalahan apapun?

"Oh, iya, aku mau pinjam tugasmu lagi dong! Aku lupa mengerjakan laporan yang kemarin," celetuk Ella.

Lucy tersenyum canggung, mendadak teringat betapa seringnya Ella meminta hal seperti ini.

Tidak hanya meminjamkan catatan dan tugasnya, Ella tak jarang melimpahkan tugasnya pada Lucy yang dengan naifnya senang hati membantu.

Lucy dulu berpikir jika dia senang apabila temannya juga senang.

Tapi sekarang, mengingat Ella dengan Davin di malam itu, Lucy berpikir sudah waktunya untuk memutuskan hubungan.

"Maaf, El, aku juga belum mengerjakannya," jawab Lucy.

Tangan Ella yang tadinya sudah terulur ke arah Lucy untuk menerima tugasnya, kini terhenti. Ada keterkejutan di mata Ella yang melihat sikap Lucy yang tidak biasa.

Lucy yang selama ini tak pernah menolak memberi bantuan, sekarang menolak memberi pertolongan kecil?

"Ada apa denganmu? Tumben kamu tidak mau meminjamkan tugasmu," celetuk Ella pelan. "Apa kamu khawatir aku akan meniru jawabanmu? Aku kan selalu bilang, aku akan mengganti kalimatnya."

Lucy menelan ludah. "Bukan begitu, aku ..."

Tangan Ella meraih bahu Lucy. "Apa kamu keberatan hanya untuk membantuku mengerjakan tugas? Aku kamu lupa, bantuan yang sudah kuberikan selama ini?"

Genggaman Ella mengerat, nyaris terasa sakit, membuat Lucy makin tak berani berkutik.

"Kalau bukan karena aku, sampai lulus sekolah kamu masih jadi anak yang ditindas, tahu!"

Napas Lucy tercekat.

Begitukah selama ini Ella memandangnya? Karena sudah menyelamatkannya di masa sekolah dulu, sekarang Ella merasa berhak atas kepatuhan Lucy?

Dada Lucy terasa sakit. Tapi setidaknya, dia sudah memahami isi pemikiran Ella yang sebenarnya terhadapnya.

"Hei, dosennya masuk!"

Bisik-bisik para mahasiswa yang segera duduk di bangku masing-masing seolah menyelamatkan Lucy dari tatapan tajam Ella.

Berusaha menenangkan hatinya, Lucy pun menatap lurus ke depan.

Dosen melangkah masuk, mengundang bisik-bisik para mahasiswa yang ditangkap telinga Lucy.

"Itu ... dosen yang baru, kan?"

"Katanya, dia keluarga donatur kampus yang terbesar."

"Benarkah? Pasti kaya raya."

"Tidak hanya itu, lihat! Dia juga tampan sekali ...."

Lucy mengernyitkan kening. Jarang-jarang ada gosip seperti ini tentang seorang dosen.

Yang dibicarakan datang dengan langkah tegap dan teratur, bunyi pantofelnya beradu dengan lantai terdengar nyaring.

Saat dosen itu masuk, perhatian kelas langsung teralihkan padanya, dan sebagian besar perempuan seketika terpana.

Sedangkan Lucy, memandang ke depan seperti memandang bencana besar. Matanya membulat tak percaya.

"Pak Alex...?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status