Accueil / Romansa / Pria Malam Itu, Dosenku! / 2. Temani Saya Malam Ini

Share

2. Temani Saya Malam Ini

Auteur: Rheika
last update Dernière mise à jour: 2025-12-22 22:35:30

Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu.

Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa.

"Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar.

"Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam.

Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya.

"Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy.

"Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng.

Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam.

"Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia."

"Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tangkapanku. Aku akan bersenang-senang dengannya."

Mendengar ucapan santai itu, mata hitam Alex menggelap dan ekspresinya tampak mengeras, dan tiba-tiba,

BUGH!

Sebuah pukulan telak mendarat di pipi Riko, hingga lelaki itu terlempar dan terhuyung ke belakang.

Lucy yang tak dapat berdiri tanpa penyangga tubuh segera ambruk, tapi Alex menangkapnya sehingga dia bisa bersandar dalam dekapan kokoh pria itu.

"Paman! Apa yang Paman lakukan?!" seru Riko sambil memegangi pipi bengkaknya yang nyeri.

Pria bernama Alex itu menatap Riko tajam, membuat lelaki itu tak bisa berkutik. Dari penampilannya, pria ini memang tampak dewasa dan berwibawa, pantas untuk dihormati oleh orang seperti Riko.

"Kau. Berhenti membuat masalah," suara dingin itu terdengar menggelegar. "Aku akan memulangkan gadis ini."

"Tidak bisa begitu, Paman! Dia itu--!"

"Kau pilih kulaporkan hal ini ke walimu, atau ke polisi?"

Kalimat itu sontak membuat Riko tercekat dan bungkam. Dari cara bicaranya, pria ini memang tampaknya tak main-main.

Ancaman itu segera membuat Riko tak lagi melawan.

Tanpa menunggu jawaban Riko, Alex keluar dari bar sambil menarik Lucy yang sempoyongan.

Dengan terhuyung-huyung, Lucy dimasukkan ke dalam mobil, yang sepertinya mobil pria itu. Lucy menebaknya karena wangi maskulin yang ada di tubuh pria itu sama dengan yang menguar di dalam mobil ini.

"Nnnghh..."

Suara desahan Lucy tanpa sadar terlepas dari bibirnya.

Sejenak, Alex menoleh dengan alis berkedut. "Ada apa denganmu?"

"S-saya ..." Lucy terbata, napasnya terengah, susah payah menelan ludah.

Kepalanya begitu pening! Penciuman Lucy terlena oleh wangi maskulin itu. "Saya... tidak tahan lagi..."

Ekspresi Alex mengeras, bahunya menegang. Dia kembali menatap ke depan dengan kedua tangan di setir.

"Sebutkan alamatmu."

"Ahh ..."

Hanya desahan yang terdengar. Saat menoleh, didapatinya Lucy sudah sibuk memasukkan satu tangan ke celananya sendiri.

"Jangan!" bentak pria itu, menepis tangan Lucy dengan cepat. "Tidak di mobil saya."

"T-tapi ..." Lucy ingin protes, tapi tak sanggup, napasnya menderu. Kedua pahanya menggesek, seolah ingin meredakan gatal dan panas di bagian intinya.

Dengusan napas Alex terdengar tegas. Tanpa bicara lagi, ia menginjak pedal gas dan melajukan mobil.

***

"Ah!"

Tubuh Lucy terhempas di atas kasur empuk dengan erangan kecil.

Ruangan ini sebuah hotel mewah. Lucy sempat melihat gedungnya saat mereka turun dari mobil. Hanya sekilas, karena Alex membopongnya di bahu lebarnya seperti karung beras.

"P-Pak ..." Lucy memanggil pelan.

Alex tak menjawab, meletakkan tas tangan Lucy di sebuah meja, lalu sebuah kartu akses tepat di samping tasnya.

"Ini, akses untuk kamar hotel ini. Bermalamlah di sini, lalu kamu bebas untuk check out dan pulang paginya," ucap Alex.

Pria itu kemudian berbalik, dan melangkah menuju pintu keluar.

Lucy membulatkan mata. Apa pria ini membawanya ke hotel ... hanya untuk meninggalkannya?

Pria ini mungkin memang begitu dermawan dan murah hati untuk mencarikan Lucy tempat menginap sementara yang aman dan nyaman. Tapi saat ini, bukan hanya itu yang dia butuhkan.

Tiba-tiba, Lucy sudah menyusul ke belakang Alex, kedua lengannya melingkari pinggang pria itu.

"Tolong jangan tinggalkan saya!"

Wajah Lucy menempel di punggung Alex, hidungnya menghirup aroma parfum dan sesuatu yang khas dari pria itu.

Wangi itu membuat panas di tubuhnya makin merajalela.

"Tolong ... temani saya malam ini ..." bisik Lucy dengan bergetar.

Tangan Lucy yang semula melingari pinggangnya, turun menyusuri perut pria itu, hingga sampai pada pusakanya yang mengeras.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status