แชร์

5. Dosen Itu

ผู้เขียน: Rheika
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-23 01:11:10

Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex.

Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan.

Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?!

"Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex.

"Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang.

Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan.

Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?!

***

Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian.

Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan.

"Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-tiba.

Lucy membeku sejenak, menatap Ella dan kawan-kawannya di belakangnya yang menatap Lucy datar.

Anehnya, Lucy merasa tatapan mereka kali ini, begitu ... menghakimi.

Lucy menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku bawa bekal."

"Oh! Ayolah! Kamu ini selalu saja beralasan!"

Lucy meringis, jika sudah seperti ini pasti Ella akan memaksanya.

Dia tidak suka makan siang bersama kawan-kawan Ella. Pembicaraan mereka seringkali membuat Lucy tak nyaman karena membahas kejelekan teman mereka sendiri di belakangnya.

Tapi, lebih dari itu, Lucy sudah tidak bisa menganggap Ella temannya lagi. Pengkhianatannya dengan Davin telah diketahuinya sendiri. Lucy tidak bisa bersama dengannya tanpa sakit hati.

"Lucy Hermina?"

Suara berat itu membuat tidak hanya Lucy, namun semua yang ada di sana menoleh.

Di belakangnya, berdiri Alex Darmawan yang berkata dengan tegas.

"S-saya, Pak," jawab Lucy gugup, mengingat yang terjadi semalam bersama dengan pria itu.

Tidak seperti Lucy yang gelisah, Alex begitu tenang dan santai.

Pria itu mengangguk. "Ikuti saya ke ruang kantor dosen sekarang."

Kawan-kawan Ella saling melirik pandang. Jelas mereka jadi kesal tidak bisa menekan Lucy untuk ikut dengan mereka.

Begitu Lucy menyusul langkah Alex yang sudah lebih dulu berjalan, kawan-kawan Ella langsung saling berbisik dengan senyum mencibir.

"Hei, lihat, apa dia melakukan masalah?"

"Aku tidak heran. Tapi berani sekali dia bikin masalah dengan dosen baru?"

"Untuk jalang kecil seperti dia, aku rasa beruntung jika laki-laki setampan Alex tertarik padanya."

"Haha! Maksudmu, dia menjual diri pada dosen itu? Astaga~"

Namun di antara mereka, Ella hanya diam menyaksikan punggung Lucy yang semakin menajuh di lorong. Kedua tangannya terkepal erat.

***

"Tutup pintunya."

Alex bertitah dengan nada rendah, tapi cukup untuk membuat Lucy gelagapan dan menutup pintu.

"Duduklah."

Seperti robot, Lucy mengikuti setiap ucapan Alex dengan patuh.

Lucy duduk di depan meja kerja Alex dengan gelisah, memilin jemari di atas pangkuan sambil menunduk.

"Kamu ..."

Lucy menahan napas, menunggu apa yang hendak pria itu katakan.

"Apa baik-baik saja?" lanjut Alex.

Terdiam, Lucy tak memahami maksud perkataannya.

"Maksud Bapak?"

"Semalam," ulang Alex lebih jelas. "Bukankah kamu sendiri yang meminta pada saya untuk menyentuh kamu? Sekarang sudah bisa berpikir jernih?"

Barulah Lucy memahaminya, dan sontak wajahnya memerah.

Bagaimana bisa seorang dosen menanyakan hal itu, di sini, di ruang kantor yang berada di kampus?!

"Apa Pak Alex meminta saya kemari hanya untuk menanyakan itu?" tanya Lucy, suaranya sedikit gemetar.

Senyum tipis terbit di bibir Alex. "Tentu tidak, ada hal lain yang mesti saya bicarakan denganmu."

"Hal apa, Pak?"

"Soal kejadian semalam itu." Alex sedikit memajukan badannya hingga hampir menyangga di atas meja. "Bagaimana bisa kamu ada di bar itu?"

Lucy mengeratkan tautan jemarinya, berusaha untuk tenang. "Sepertinya Pak Alex tahu, kalau saya sedang banyak masalah."

"Orang tuamu tahu soal hal ini?"

Entah kenapa, pertanyaan itu membuat Lucy tersinggung.

"Pak Alex, saya orang dewasa. Usia saya 20 tahun. Saya tidak butuh persetujuan orang tua untuk minum di bar."

Alex tersenyum santai membalasnya. "Begitu ya? Sayangnya kamu hampir saja dijebak seseorang dalam posisi lemah."

Lucy menelan ludah. "Itu ... salah Kak Riko yang berniat jahat. Bukan salah saya."

Alex mengangguk, tampak setuju dengan itu.

"Tetap saja, kamu perlu melaporkan hal ini pada orang tuamu."

"Kenapa begitu, Pak?" nada suara Lucy sedikit meninggi karena defensif.

"Bagaimanapun, mereka walimu dan masih membiayai kamu. Mereka berhak tahu kondisi anak mereka," jawaban Alex terasa final.

Lucy terdiam, alisnya bertaut karena rasa marah dan tersinggung.

"Orang tua saya ... sudah tidak ada."

Keheningan menggantung di ruang dosen. Lucy menunduk, menunggu respons Alex dengan jantung yang berdebar kencang.

Ya, orang tua Lucy sudah lama meninggal, sejak dia masih kecil. Sejak saat itu, Lucy tinggal menumpang di rumah seorang kerabat.

Masa kecil Lucy yang kesepian itu dihabiskan dengan merasa seperti beban. Oleh karenanya, Lucy bertekad untuk belajar lebih giat.

Hingga dia sampai di sini, bisa berkuliah di sebuah universitas ternama dengan beasiswa.

"Lalu, apakah ada wali kamu yang bisa dihubungi?"

Lucy mengangkat kepalanya lagi, bertemu tatapan Alex yang menatapnya lamat-lamat.

"Bibi saya yang merawat saya sejak orang tua meninggal, tapi beliau jauh di luar pulau. Saya kuliah di sini merantau. Anda panggil Bibi ke sini pun, tidak akan datang."

Nada suara Lucy tidak bisa ditahan; sedikit ketus ketika menyampaikannya.

"Jadi kesimpulannya, tidak ada wali yang melindungi kamu." Alex bergumam.

Dahi Lucy mengernyit. "Intinya, Bapak ini mau membicarakan apa sih?"

Alex tampak menarik napas, lalu menatap Lucy dengan tajam, membuat gadis itu terpaku di tempat.

"Riko berencana untuk menyebarkan informasi kamu di bar semalam untuk balas dendam."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   7. Obat Perangsang

    Lucy menjerit kesakitan ketika tangan Riko dengan kasar menjambak rambutnya, menyeretnya dari pintu depan ke dalam apartemen. Tubuh Lucy dihempaskan begitu saja, hingga jatuh dan menubruk kaki meja. "Ah!!" Rasa nyeri menyerang badannya, kepalanya sedikit pusing akibat jambakan kencang itu. Riko menatap nyalang seperti predator yang menemukan mangsa. "Wah, senang sekali bisa ketemu denganmu lagi, Lucy," desis Riko sambil menyeringai lebar. "A-apa yang kamu lakukan di sini?" Lucy menahan rasa sakit, suaranya bergetar. "Menemuimu. Apalagi? Kamu tak kangen padaku?" jawab Riko santai. "Apalagi, kamu meninggalkanku malam itu dengan tidak sopan." Pria itu berjongkok di depan Lucy dan mencapit dagunya, memaksa Lucy untuk mendongakkan muka. "A-aku tidak..." Napas Lucy tercekat oleh rasa takut. Lucy tidak menyangka, kakak tingkat yang dulu sangat ramah, bisa terlihat begitu menyeramkan dari dekat. "Aku sedikit penasaran, Lu ... Apa yang kamu lakukan dengan pamanku setelah

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   6. Ingin Menuntut Balas

    "Apa?" Lucy terdiam lama. Dia pikir dia baru saja salah dengar. Otaknya perlu memproses informasi itu. Riko ingin menuntut balas? Bukankah korban sebenarnya di sini itu Lucy? "Tapi, tenang saja," ujar Alex santai. "Saya sudah mengambil langkah untuk mencegahnya. Untuk saat ini, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Lucy menelan ludah. Pria ini benar-benar santai saat mengucapkannya. Tapi, apa Lucy bisa mempercayainya? "Bagaimana caranya ... Anda mencegahnya?" tanyanya. "Riko bukan pekerja keras. Apa yang dimilikinya saat ini adalah hasil pemberian orang tuanya," jelas Alex. Lucy jadi teringat, bagaimana Alex dan Riko tampak akrab di bar malam itu, dan Riko memanggilnya paman. Dengar-dengar, keluarga Alex adalah donatur kampus terbesar. Apa karena berasal dari kalangan yang kuat seperti itu, Riko jadi bertindak sesuai kehendaknya sendiri? "Oleh karena itu, saya sudah membuat fasilitas Riko dicabut darinya. Dia tidak bisa apa-apa, untuk saat ini." Penjelasan lanj

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   5. Dosen Itu

    Wajah itu, tak salah lagi. Itu adalah Alex. Pria yang semalam menyelamatkannya dari Riko di kejadian di bar. Juga yang telah membawanya ke hotel, di mana Lucy memohon-mohon untuk disentuh dan dipuaskan. Bagaimana bisa ... pria itu kini berdiri di sana dengan pakaian rapi sebagai dosen?! "Selamat pagi," sapa dosen itu, semakin meyakinkan Lucy dari suaranya kalau dia memang Alex. "Saya Alex Darmawan, yang akan mengajar mata kuliah ilmu sosial dasar mulai hari ini," lanjutnya dengan tenang. Lucy masih memperhatikannya dengan ternganga. Saat tatapan Alex berseborok dengan tatapan Lucy, sontak wajah Lucy palingkan. Astaga! Keadaan canggung macam apa ini?! *** Kelas itu entah kenapa berlangsung sangat lama, hingga akhirnya selesai satu jam kemudian. Lucy buru-buru membereskan barang-barangnya. Hari ini dia hanya punya kelas pagi dan kelas umum di sore hari, jadi berencana untuk menghabiskan siang di perpustakaan. "Lucy! Mau makan siang dengan kami?" Ella mengajak tiba-ti

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   4. Dalam Dekapan Erat

    Suara cecapan dari bibir yang saling beradu itu memenuhi langit-langit hotel. Lucy tak kuasa menahan erangan, saat bibir rakus pria itu menguasai bibirnya. Baru kali ini Lucy berciuman seperti kelaparan. Perlahan, dirasakannya tangan besar pria itu menyusuri pinggangnya, lalu bergerak ke punggung. Ah, inikah akhirnya? Pria itu akan menyentuhnya? Dan Lucy akan menyerahkan pertama kalinya pada pria tampan yang bahkan belum dikenalnya ini. Tapi... grep! Bola mata Lucy membulat saat menyadari bahwa tubuhnya tak bisa bergerak. Lucy melihat ke bawah, dan baru disadarinya jika Alex ternyata melilit tubuhnya dengan selimut hingga menjadi seperti kepompong! "T-tunggu! Kenapa Anda melakukan ini?!" seru Lucy sambil menggeliat. Alex tersenyum miring. "Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan meniduri perempuan yang baru kutemui kurang dari satu jam yang lalu, kan?" Wajah Lucy memanas. Rasa malu dan terhina menggerayangi dirinya. Pria ini ... baru saja memberinya harapan dengan ciu

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   3. Haus Akan Sentuhan

    Badan pria ini menegang. Lucy bisa merasakannya. Dengan gerakan sensual, Lucy mengelus benda yang menonjol di balik celana itu perlahan, membangkitkan gairah pria ini. Lucy tidak pernah melakukannya, tapi yang dia pelajari, bagian ini adalah pusat kenikmatan seorang pria. Grep. Tangan Lucy dicekal. Pria itu berbalik, dan dengan kekuatannya, dengan mudah mendorong Lucy sampai perempuan itu berjalan mundur. "P-Pak? Pak Alex?!" Lucy kelimpungan. Tiba-tiba saja, dia sudah terdorong hingga jatuh terbaring kembali di kasur, dengan Alex mengukungnya di atasnya. "Jangan menguji kesabaran saya," desis pria itu. Napasnya terasa hangat menerpa wajah Lucy. Di wajahnya, Lucy bisa melihat kilat emosi, hasrat, dan ... penahanan diri? Pria ini sedang menahan diri? Padahal, Lucy tidak ingin menahan diri saat ini. Tapi pemikiran itu membuatnya merasa seperti hewan hina yang tak mampu membendung hasrat. "S-saya..." suara Lucy bergetar dengan air mata menggenang di kedua bola mata jernihnya. "S

  • Pria Malam Itu, Dosenku!   2. Temani Saya Malam Ini

    Lucy mendongak, pandangannya kabur, tapi masih bisa sedikit menekuri wajah pria itu. Pria itu, wajahnya begitu rupawan, juga familier. Rahangnya tegas, tatapan mata tajam, dan wajah bak pahatan dewa. "Paman Alex ..." Riko memanggilnya dengan cara yang akrab, dengan santai seolah tidak baru saja meneriaki Lucy dengan umpatan kasar. "Apa yang terjadi di sini?" suara dalam pria yang dipanggil Paman Alex itu disertai keheranan kecil, nadanya tajam. Riko buru-buru menarik lengan Lucy hingga gadis itu terpaksa berdiri. Lucy meringis merasakan cengkraman Riko yang menyakitinya. "Siapa gadis ini?" tanyanya sambil menatap Lucy. "Temanku di kampus," jawab Riko. Di sampingnya, Lucy dengan mata berkaca-kaca menggeleng. Tatapan mata pria bernama Alex itu menajam. "Kalau kau berniat mencelakai gadis ini, sebaiknya hentikan," ucap Alex, dagunya menunjuk pada Lucy. "Lepaskan dia." "Ini urusanku, Paman, tidak usah pedulikan," dengus Riko dengan senyum miring. "Lagipula, gadis ini tan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status