Mag-log inAlya duduk tepat disamping Heri. Kali ini ada sesuatu yang terasa beda dari perilaku gadis ini. Beberapa tahun yang lalu Heri pernah mengungkapkan perasaannya bahwa dia menyukai gadis itu, tapi Alya menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa Heri merupakan pemuda miskin dan Cuma seorang petani. Dulu Alya tidak pernah mau dekat-dekat dengan Heri tapi sekarang ia malah memilih duduk tepat disampingnya tanpa ada ruang kosong di Tengah-tengah mereka.
“Kamu udah lama kerja disini?” Tanya Heri
“Udah enam bulan”
“Kamu perawat?”
“Iya Her. Aku kan ngambil jurusan keperawatan, jadi setelah lulus aku jadi seorang perawat”
“Aku bangga sama kamu Al”
“Bangga kenapa?
“Melihat kamu udah sukses seperti sekarang”“Alhamdulillah, terus kamu sekarang kerja apa?”
“Aku Cuma petani, nerusin pekerjaan ayahku”
“Owh, petani itu pekerjaan mulia loh Her”
“Iya, jadi perawat juga pekerjaan mulia”
“Makasih Her”
Mereka berbincang selama beberapa menit hingga akhirnya Alya pamit untuk Kembali bekerja.
“Daaah Her aku kerja dulu. Ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi”
“Iya Al. hati-hati ya kerja nya”
Heri menatap kepergian gadis itu dari hadapannya. Ada ayang tampak berbeda darinya kali ini. Gadis itu tampak ramah dan ceria Ketika berbincang dengannya, bahkan dia sempat mengulas hal pribadi dalam obrolannya.
“Ya ampun aku lupa” Heri segera pergi dari tempat itu, menuju sebuah tempat yang sepi. ia berniat ingin segera Kembali ke rumahnya, ada sesuatu hal yang ingin ia bicaarakan dengan Angel.
“Bawa aku pulang sekarang Gel” Ucap Heri sambil meletakkan jari telunjuknya pada lubang telinga kanannya.
“Ayo” Seketika Angel muncul lalu memegangi tangan Heri. Mereka pun lenyap dan tiba di rumah.
“Aku mau ngomong sesuatu Gel” Ucap Heri
“Ngomong apa Masku?” Tanya Anagel
“Aku lupa sore ini aku harus pergi ke resepsi pernikahan temanku”
“Kamu butuh pendamping?”
“Maksudku minta cepat pulang biar aku bisa bersiap-siap untuk pergi kesana, ga sampe telat”
“Kalau kamu butuh pendamping aku bisa pilihkan cewek yang cocok untuk kamu Mas”
“Ga usah, aku mau sendiri”
“Yakin berani sendiri?”
“Kamu pikir akua nak kecil yang penakut? Aku udah gede dan berani Gel”
“Maksudku teman-temanku yang sekarang datang ke resepsi pada bawa pasangan loh mas, masak kamu sendirian”
“Dari mana kamu tau itu?”
“Aku bisa melihat ke Lokasi”
“Aku jadi malas kalau kayak gitu”
“Tadi udah aku taarin kalau kamu mau aku bisa pilihkan seorang cewek buat jadi pendamping kamu ke sana”
“Siapa?”
“Terserah kamu mau sama siapa. Sama akujuga boleh”
“Ya udah sama kamu aja daripada sama cewek lain takutnya mereka udah pada punya pacar nanti jadi masalah”
“Oke, dengan senang hati Masku”
Angel seketika berpakaian lengkap, mengenakan pakaian gaun bermotif batik coklat. Tak ada yang berubah dari wajahnya.
“Gimana menurutmu Mas?”
“Kamu cantik banget Gel”
“Gombal”
“Aku serius. Orang-orang bakalan terpesona melihat kamu Gel”
“Ayo sekarang kamu siap-siap, katanya ga boleh telat!”
“Iya”
Angel menjentikkan jarinya, seketika Heri kini telah berpakaian rapi dan tampak seperti sudah mandi, rambutnya pun sudah tertata rapi lengkap dengan pomade nya.
“Wah, kamu tau aja yang aku pikirkan Gel” Heri merasaatakjub dengan penampilannya saat ini. Ia merasa benar-benar tampan dan menarik.
“Kita berangkatnya naik motorku aja Gel, jangan pake kekuatan kamu biar semua orang ga ada yang curiga”
“Oke Masku”
Heri mengeluarkan sepeda motor tua dari gudangnya. Meski ia tak yakin sepeda motor itu apakah bisa menyala dan bertahan hingga ke tujuan tapi ia akan tetap mempergunakannya.
Angel tertawa melihat sepeda motor tua dan rusak milik Heri. Tapi pria itu tak menghiraukannya. Ia mencoba menghidupkan motor itu tapi rasanya benda itu tak mau bersahabat. Ia pun kesal dan beberapa kali memukul stang nya.
“Kenapa kamu nekad mau pakai benda butut itu Mas?”
“Ini peninggalan ayahku. Biasanya motor ini suka nyala tapi heran sekarang ga bisa nyala sama sekali”
“Kamu ga mau aku bantu?”
“Kalau kamu bisa bantu kenapa diam aja”
Angel menjentikkan jarinya. “Coba sekarang mas coba selah lagi!”
Dan benar saja, setelah Angel turunjn tangan maka sepeda motor itu langsung menyala tanpa ada suara-suara aneh seperti sebelumnya.
“Motornya udah nyala, rem, bensin, ban, semuanya udah siap Mas”
“Wow keren”
“Kamu ini aku udah bilang tinggal ngomong”
“Aku Cuma ngetes kamu aja, ternyata kamu belum peka”
“Ya udah lain kali aku akan pastikan semua kebutuhan kamu terpenuhi Mas”
“Kalau ada yang bisa aku kerjakan sendiri kamu ga usah turun tangan”
“Oke aku ngerti. Ya udah kita berangkat Mas. Apa kamu mau pakai jalur darat atau udara?”
“jalur darat dong. Jangan ngawur Gel”
“Siapa tau kamu mau pake motornya melayang kayak pesawat”
“Itu bisa bikin orang-orang pada ketakutan Angel”
“Oke oke, aku ngerti Mas”
Heri mulai melajukan sepeda motornya, sementara Angel duduk di belakangnya. Heri pun tak lupa berpesan kepada Angel untuk tidak berbuat sesuatu di luar kemampuan manusia. Ia harus bersikap seperti manusia pada umumnya.
Keduanya punakhirnya tiba di tujuan, yaitu di sebuah tempat acara resepsi pernikahan Aliyudin, temannya, dengan Nitta, Perempuan yang kini sudaah resmi jadi istrinya.
Kedatangan Angel membuat semua mata tertuju padanya. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya benar-benar membuat semua orang terpana. Menyadari bahwa dirinya kini sedang menjadi pusat perhatian Angel menggenggam erat tangan Heri, ingin menunjukkan bahwa dirinya datang dengan kekasihnya.
“Pacar kamu, Her?” Tanya Juna sesaat setelah ia berjabat tangan dengan Heri
“Iya”
Begitu ucapan yang disampaikan oleh orang-orang yang mengenal Heri saat berpapasan dengannya. Sebagian dari mereka merasa kagum melihat Heri kini bisa mendapatkan seorang pacar yang sangat cantik jelita, bahkan belum ada yang menandingi kecantikannya.
“Selamat, ya Bro. semoga jadi keluarga samawa” Ucap Heri saat menyalami Aliyudin di kursi pelaminannya.
“Iya makasih Her. Kamu cepet nyusul, ya” Sahut Aliyudin
“Nyusul kemana Jun?”
“Nikah sama pacar kamu, jangan sampai diadiambil orang”
“Oh, iya Jun. aamiin. Doain ya”
Mendengar ucapah Heri tersebut Agel tertegun sejenak, apakah ucapannya itu serius atau hanya sekedar basa-basi. Tapi ia tak terlalu menghiraukannya. Mana mungkin ia menikah dengan seorang manusia. Pikirnya.
“Cepet nyusul ya Mba” Kali ini giliran Angel dibisiki kalimat seperti itu oleh Nitta. Ia berpura=pura tersenyum dan tak mau menghiraukan ucapan itu.
Irama music dangdut mengiringi kemeriahan acara resepsi pernikahan itu. Hingga tak lama kemudian Heri dan Angel berpamitan kepada temannya untuk pulang Kembali ke rumahnya.
“Mas, semua orang kok ngelihatin akua ja tadi. Aku jadi malu Mas” Ucap Angel saat ia tiba di depan rumah
“Itu karena kamu terlalu cantik Gel. Belum ada di sekitar sini Wanita secantik kamu. jadi mereka takjub sama kamu. terus kenapa kamu tadi pegangin tanganku kuat banget sampe aku ga bisa Gerak”
“Itu biar mereka mengira kalau aku pacar kamu Mas”
“Gara-gara kamu kayak gitu semua malah berpikir aku emang pacar kamu Gel”
“Gapapa, kan Mas”
“Iya gapapa sih”
Selanjutnya Heri melangkah menuju kamarnya, sementara Angel Kembali masuk ke dalam rumah aslinya, sebuah kendi yang kini tersimpan rapi di dalam lemari pakaian milik Heri.
Pikiran Heri kini tertuju pada Angel. Sikap dan ingkah lakunya selama berada ditempat resepsi pernikahan itu dari mulai tiba hingga pulang benaar-benar di luar dugaannya. Ia sempat berpikir dalam hatinya agar Angel bisa bersikap seperti layaknya pacarnya, tapi tanpa ia ungkapkan pun Angel sudah melakukan itu. Apakah ia memang tahu apa yang saat itu ada dalam pikirannya, pikirnya.
Ia juga terus membayangkan wajah dan penampilan Angel. Sangat wajar jika ia menjadi pusat perhatian banyak orang karena ia sangat cantik.
“Angel ga boleh jadi pusat perhatian orang-orang” pikirnya. Perlahan tanpa disadarinya ada perasaan cemburu pada Angel.
Sementara itu Angel yang sedang berada di dalam kendi yang menjadi rumah satu-satunya. Ia pun masih belum percaya atas sikap dan perilakunya pada Heri beberapa saat yang lalu. Tindakannya menggenggam tangan Heri dan membuat posisinya dengan pria tersebut menjadi sangat dekat benar-benar di luar kendalinya. Dan yang paling mengganggu pikirannya adalah ucapan Nitta padanya. “Ga mungkin lah aku nikah sama Mas Heri” pikirnya.
Pagi-pagi sekali Heri sudah selesai mencuci dan menjemur pakaiannya di halaman rumahnya. Tak seperti biasanya hari ini Angel masih belum terlihat olehnya. Namun ia sama sekali tak curiga. Ia berpikir bisa jadi Angel masih tertidur di kendinya.Padahal tanpa sepengetahuannya, Angel kali ini sudah berada di suatu tempat yang tak diketahui oleh tuannya. Tempat yang hanya bisa dijamah oleh bangsa jin dan makhluk halus lainnya seperti Angel.“Akhirnya kau datang juga Prameswari. Aku sudah sangat rindu ingin bertemu denganmu” Ucap sesosok makhluk raksasa memiliki tubuh bersisik seperti ular.“Lepaskan ayahku” Pinta Angel atau Prameswari“Aku ulangi sekali lagi, aku akan melepaskannya dan juga menarik bangsaku dari kerajaanmu asal kau bersedia menjadi istriku” Jawab makhluk Bernama Sindangkala itu“Cuih, aku tak sudi menikah dengan raksasa jelek dan jahat sepertimu. Cepat lepaskan ayahku!” Teriak Prameswari.Sindangkala memberi isyarat pada para pengawalnya untuk mengepung Prameswari, namun
Alya duduk tepat disamping Heri. Kali ini ada sesuatu yang terasa beda dari perilaku gadis ini. Beberapa tahun yang lalu Heri pernah mengungkapkan perasaannya bahwa dia menyukai gadis itu, tapi Alya menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa Heri merupakan pemuda miskin dan Cuma seorang petani. Dulu Alya tidak pernah mau dekat-dekat dengan Heri tapi sekarang ia malah memilih duduk tepat disampingnya tanpa ada ruang kosong di Tengah-tengah mereka.“Kamu udah lama kerja disini?” Tanya Heri“Udah enam bulan”“Kamu perawat?”“Iya Her. Aku kan ngambil jurusan keperawatan, jadi setelah lulus aku jadi seorang perawat”“Aku bangga sama kamu Al”“Bangga kenapa?“Melihat kamu udah sukses seperti sekarang”“Alhamdulillah, terus kamu sekarang kerja apa?”“Aku Cuma petani, nerusin pekerjaan ayahku”“Owh, petani itu pekerjaan mulia loh Her”“Iya, jadi perawat juga pekerjaan mulia”“Makasih Her”Mereka berbincang selama beberapa menit hingga akhirnya Alya pamit untuk Kembali bekerja.“Daaah Her ak
“Aku langsung ke intinya aja, karena aku yakin kamu udah tau semua yang ada dalam hatiku, kamu udah tahu kehidupanku biarpun aku ga pernah cerita ke kamu”“Kenapa kamu bisa yakin begitu?“Karena kamu punya keahlian bisa membaca isi hati orang, dan yang aku ga suka kamu udah pernah baca buku diaryku secara diam-diam. Bener kan? Ayo ngaku!”“Kok bisa nuduh gitu sih Mas?”“Siapa lagi yang bisa ngambil bukuku dari dalam laci selain kamu”“Hehe, maaf Mas. Itu karena aku ga sengaja. Pas lagi beresin kamar kamu laci kamu kebuka, semua isinya pada keluar terbang”“Gapapa, kamu boleh kok melakukan apapun di rumahku”“benarkah?”“Iya bener Gel”“Makasih Mas. Eh katanya mau cerita”“Ya udah aku udah bilang mau cerita langsung ke intinya aja. Seperti yang udah kamu baca di buku diary ku, sekarang aku sedang menikmati kehidupanku yang sederhana. Terkadang aku suka merasa kesepian tanpa adanya kedua orang tuaku, makanya aku sibukkan diri dengan menggarap ladang yang merupakan warisan dari orang tua
“kebetulan kamu sudah datang. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu” Ucap Heri“Apa Mas” Tanya Angel“Siapa itu Prameswari?”“Prameswari? Dari mana kamu tau nama itu?”“Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi gapapa terserah kamu”“Kamu kenapa Mas?”“Aku ga kenapa-napa, Cuma mau tanya itu aja tapi kamu ga mau jawab. Ya terserah kamu”“Dari mana kamu tahu nama itu Mas. Tolong jawab dulu pertanyaanku”“Baiklah aku akan jawab. Beberapa menit yang lalu aku denga rada yang ngomong tapi ga tau itu suara siapa dan ga ada orang disini. Dia bilang titip prameswari, jaga dia. Gitu. Habis itu ga ada lagi yang aku dengar selain suara air di kali sama jangkrik”“Baiklah aku akan jujur sama kamu Mas. Tapi lebih baik kita pulang dulu”“Oke, ide bagus. Aku juga mau pulang”“Edi segera bangkit dan berdiri untuk Bersiap-siap pulang ke rumahnya. Begitu ia sudah selesai mengenakan tudung segitiganya, Angel dengan cepat menggenggam tangannya. Seketika mereka menghilang lalu tiba-tiba muncul di d
“Mas Heri, bangun Mas”“Oh mya God. Bikin kaget aja kamu ini”Heri terkejut karena Angel membangunkannya dengan cara yang tak wajar. Angel duduk di atas tubuhnya, dan ia membangunkan dirinya dengan menepuk-nepuk lengannya beberapa kali”“Kenapa Mas?”“Bukan gini cara membangunkan orang. Kenapa juga kamu malah ga pake baju lagi. Bukannya semalam kamu udah pake baju?”“Maaf Mas, habis disini panas, gerah, ya udah aku buka baju aja, enak, adem. Terus cara ngebanguninnya gimana Mas?”“Kamu cukup bilang, Mas bangun. Itu aja cukup”“Oke Mas. Maaf aku ga tau Mas. Ih aku ngebangunin satu orang tapi yang bangun malah berdua”“Cepet kamu turun dari badanku”Heri segera menarik selimut untuk menutup tubuh bagian tengahnya ke bawah agar tidak bisa terlihat lagi oleh Angel”“Ayo bangun Mas. Terus sarapan. Udah aku siapin sarapannya”“Makanan yang kemarin kan?”“Iya Mas, seperti yang Mas inginkan”“Iya makasih. Tapi aku mau mandi dulu”“Iya silakan Mas. Airnya juga udah penuh di bak mandi”“Kamu ta
Heriyandi atau Heri adalah seorang pemuda yatim yang kini hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal enam tahun lalu Ketika ia masih berusia enam belas tahun, sedangkan ibunya kini memilih untuk tinggal Bersama keluarga barunya setelah menikah dua tahun yang lalu.Hari-harinya ia habiskan dengan bekerja menggarap sepetak sawah warisan ayahnya. Ia merupakan petani yang tekun dan tidak pernah menyerah. Beberapa kali ia harus mengalami gagal panen yang membuatnya menderita kerugian, tapi ia masih tetap semangat menjalani kehidupannya sebagai petani muda yang menjadi sumber mata pencahariannya.Hari ini ia bisa sedikit bersantai di ladangnya setelah seminggu ini ia sibuk mengurus ladangnya dari mulai mencangkul, membajak, hingga menanam sayuran sawi dan cabai. Untuk proses pembajakannya dikerjakan oleh para kuli bajak dengan menggunakan tractor, ia hanya mengawasi dari gubuknya.di gubuknya ia menatapi hamparan pesawahan dan ladang yang terdiri dari banyak petakan. Ia merasa tenang dan nyaman







