LOGINPagi-pagi sekali Heri sudah selesai mencuci dan menjemur pakaiannya di halaman rumahnya. Tak seperti biasanya hari ini Angel masih belum terlihat olehnya. Namun ia sama sekali tak curiga. Ia berpikir bisa jadi Angel masih tertidur di kendinya.
Padahal tanpa sepengetahuannya, Angel kali ini sudah berada di suatu tempat yang tak diketahui oleh tuannya. Tempat yang hanya bisa dijamah oleh bangsa jin dan makhluk halus lainnya seperti Angel.
“Akhirnya kau datang juga Prameswari. Aku sudah sangat rindu ingin bertemu denganmu” Ucap sesosok makhluk raksasa memiliki tubuh bersisik seperti ular.
“Lepaskan ayahku” Pinta Angel atau Prameswari
“Aku ulangi sekali lagi, aku akan melepaskannya dan juga menarik bangsaku dari kerajaanmu asal kau bersedia menjadi istriku” Jawab makhluk Bernama Sindangkala itu
“Cuih, aku tak sudi menikah dengan raksasa jelek dan jahat sepertimu. Cepat lepaskan ayahku!” Teriak Prameswari.
Sindangkala memberi isyarat pada para pengawalnya untuk mengepung Prameswari, namun Prameswari tak tinggal diam. Ia menengadahkan tangannya ke atas lalu muncullah sebuah senjata tombak trisula. Ia menangkis setiap serangan dari para pengawal Pangeran Sindangkala dengan senjata itu. Kedua belah pihak sama-sama kuat. Meskipun Prameswari berhasil menusukkan tombak trisulanya pada musuhnya hingga mati, tapi mereka bisa hidup Kembali.
Angel pun kewalahan menghadapi musuh-musuhnya hingga ia berhasil dikalahkan. Senjatanya lepas dari tangannya dan terlempar jah darinya. Ia pun kini tertawan, senjata-senjata musuhnya kini sudah berada pada lehernya dan siap untuk meenghabisi nyawanya apabila diperintahkan oleh tuannya.
Ia dan ayahnya raja Alingdarma digiring menuju penjara. Keduanya ditempatkan pada sel yang berjauhan agar tak bisa berkomunikasi.
“Keluarkan aku dari sini pengecut, iblis jahat!” Teraiknya.
Tak ada yang menggubris ucapannya. Semua pengawal Kerajaan yang membawa ke sel kini sudah berlalu dari hadapannya. Tinggal ia sendiri di tempat sempit itu. Ia berusaha untuk keluar dengan cara menggunakan kemampuan sihirnya untuk bisa menembus jeruji besi atau melunakkannya, tapi semua usaha yang dilakukannya sia-sia.
Tiba-tiba muncul di hadapannya Sindangkala dan dua orang pengawalnya. Mereka membuka kunci sel lalu menarik paksa Prameswari agar mengikuti langkah Sindangkala.
Angel kini berada di salah satu penjara yang berbeda dengan sebelumnya. Terdapat sebuah tiang besi seukuran botol air mineral ukuran besar. Tubunya dibuat menghadap tiang itu. Kedua tangannya diikat dengan rantai besi.
Salah seorang penjaga penjara mendekat ke arahnya dengan tangan memegangi sebuah cemeti. ia memukulkan cemetinya pada punggung dan pinggul Angel. Berulang kali Angel menjerit kesakitan akibat pukulan yang sangat keras.
Tak berapa lama muncullah Sindangkala dengan sikapnya yang angkuh tak berbelas kasihan. ia memerintahkan penjaga untuk menghentikan menghukum Prameswari. Lalu ia mendekat ke arahnya. Meraih dagunya dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit.
“Aku ulangi sekali lagi. Apa kau mau menolong ayahmu dan kerajaanmu?” Tanyanya
“Aku tak sudi kalau harus menjadi istrimu” Jawab Prameswari
“jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar padamu” bentak Sindangkala
Prameswari menampakkan wajah emosinya. Lalu ia meludahi muka Sindangkala, sehingga membuat raja raksasa jahat itu bertambah murka.
“Aku akan memberimu Pelajaran” Ucap Sindangkala sambil meremas salah satu payu dara Prameswari dengan sangat kencang sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
Raksasa jahat itu berpindah posisi ke di belakang tubuh Prameswari yang sudah Nampak banyak bekas cambukan pada punggung hingga ke bawahnya. Dengan Gerak cepat ia mengangkat kedua paha Prameswari lalu menancapkan alat vitalnya yang sangat besar dan Panjang ke dalam lubang kecil milik Prameswari yang sudah menganga bebas.
Prameswari dibuat benar-benar kesakitan dan menderita mendapat perlakuan raksasa jahat itu yang tanpa belas kasihan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha mencegah benda besar dan Panjang itu untuk bisa memasukinya. Namun hal itu justru malah membuatnya semakin tersiksa.
“Tenang saja aku tak akan membuatmu hamil. Aku juga belum amu punya anak sebelum kau resmi jadi istriku” Katanya
Prameswari tampak kehabisan nafas. Ia terkulai lemas hingga tak sadarkan diri. Lalu Sindangkala pun segera menghentikan aksinya. Ia langsung meninggalkan jin Wanita itu dengan terlebih dahulu memerintahkan agar penjaga Kembali melanjutkan hukuman atasnya.
Sementara itu Kembali pada beberapa saat sebelumnya di rumah Heri. Ia tampak kebingungan mencari-cari keberadaan Angel. Ia berkali-kali memanggil-manggil Namanya melalui lubang kendi yang biasa ia gunakan sebagai rumahnya, namun tetap tak ada sahutan dari jin cantik itu.
Heri sangat khawatir terhadap Angel. Ia terus mencarinya baik di dalam maupun di luar rumahnya.
Ia pergi ke ladangnya dan juga muara Sungai tempat biasa Angel mandi, tetap ia tak dapat menemukannya.
Dengan putus asa ia duduk di tepi muara Sungai itu. Tempat Ketika ia pertama kali menemukan kendi yang di dalamnya terdapat Angel.
Begitu ia menoleh lebih jauh ke arah hulu Sungai, ia terkejut Ketika melihat sesuatu yang Nampak seperti lingkaran berukuran sebesar lubang sumur. Dengan penasaran ia mendekat ke Lokasi lingkaran itu untuk melihatnya secara jelas.
Kembali ke Kerajaan Bangsalkencana Dimana saat ini Prameswari sedang ditawan oleh Sindangkala. Begitu raksasa jahat itu keluar dari ruangan penjara, seorang prajurit Kerajaan berlari tergesa-gesa ke arahnya, seperti ada sesuatu yang ingin ia laporkan kepada raja.
“Lapor yang mulia, Gunadrma datang lalu menyerang beberapa orang tantara kita” Ucap prajurit itu
“Kurang ajar. Akan kubalas kau” Katanya. Ia langsung melayang menuju istana untuk segera melawan Gunadarma. Beberapa orang prajurit sudah berguguran Ketika Sindangkala baru tiba di hadapan Gunadarma.
“Kau masih belum kapok juga Gunadarma” Ucap Sindangkala
“Lepaskan Paduka Raja dan Putri Prameswari” Teriak Gunadarma
“Langkahi dulu mayatku”
Lalu terjadilah pertarungan duel antara Sindangkala dan Gunadarma. Keduanya sama-sama memiliki ilmu tinggi. Berkali-kali mereka saling serang dan melepaskan senjata mereka untuk melukai lawan, tapi keduanya masih sama-sama bisa mengelak dan menangkis setiap serangan.
Di dalam penjara
Prameswari yang sebelumnya tak sadarkan diri kini telah siuman. Ia melihat ke sekelilingnya sudah taka da lagi Pangeran SIndangkala yang sebelumnya sempat berbuat sesuatu yang buruk padanya. Hanya terlihat seorang penjaga, berdiri tegak dengan tombak di tangannya.
“Penjaga, tolong aku” Teriak Prameswari dalam keadaan masih lemah
“Kau bisa menolongku?” Tanya Prameswari
“Haha, untuk apa aku menolongmu jin jalang” Jawab Penjaga itu
“Aku ingin segera menikah tapi aku tak mau menikah dengan Sindangkala, kalau kau menolongku dan membawaku jauh dari tempat ini, aku bersedia untuk menikah denganmu” Ucap Prameswari
“Benarkah? Bagaimana kalau kau ingkar janji?”
“Aku tak akan ingkar janji. Aku tak mau menikah dengan siapapun asal jangan Sindangkala”
“Baiklah aku akan melepaskanmu, tapi kau harus tepati janjimu menikah denganku”
“Ya aku janji”
Penjaga itu membuka kunci rantai yang digunakan untuk mengikat kedua tangan Prameswari. Begitu ia bebas, ia langsung menghilang dari hadapan penjaga itu dan seketika sudah berada di istananya yang kini sudah dikuasai SIndangkala.
Tampak Sindangkala sedang bertarung dengan Gunadaarma. Dengan kesaktiannya, Pramaswari mendatangkan ratusan kelelawar yang terbang mendekat ke arah Sindangkala.
Sindangkala yang saat ini masih harus bertarung dengan Gunadarma kini harus menghentikan serangannya. Ia lebih focus untuk menghalau satu persatu setiap kelelawar yang mengerubunginya. Sementara Gunadarma langsung berlari menuju penjara untuk menyelamatkan sang raja serta putrinya.
Namun baru beberapa langkah, Prameswari memanggilnya dan mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka tiba di suatu tempat Dimana terdapat satu lubang berbentuk lingkaran yang mereka sebut sebagai gerbang gaib. Dengan gerbang itu lah Prameswari bisa sesukanya pergi ke dunia manusia serta Kembali ke alamnya.
“Kau lebih baik Kembali kea lam manusia. Aku akan berusaha menyelamatkan paduka raja”
“Tidak, aku juga bertanggung jawab menyelamatkannya. Dia ayahku” Jawab Prameswari.
Tanpa banyak berbicara Gunadarma mengangkat tubuh Prameswari lalu melemparkannya hingga masuk ke dalam gerbang gaib berbentuk lubang itu. Seketika gerbang itu menghilang dari hadapan Gunadarma.
Gunadarma kali ini melasat menjauh dari tempat itu menuju suatu tempat Dimana ia biasa bersembunyi dan Menyusun strategi perang.
Sementara Prameswari yang baru saja dilemparkan oleh Gunadarma, tubuhnya secara tak sengaja bertabrakan dengan Heri yang dari beberapa saat yang lalu berada di depan gerbang gaib yang menurutnya hanya lingkaran saja.
“Mas Heri!”
“Angel!”
Keduanya sama-sama diam terpaku. Tubuh Angel kini berada di atas Heri. Ia menatap pria itu tanpa berkedip. Sementara tanpa ia sadari juga bahwa posisi mereka seperti posisi Ketika sedang melakukan hubungan intim.
“Angel, turun!” Bentak Heri
Angel seketika sadar dengan kondisinya. Ia segera berdiri dan bergeser agak menjauh dari Heri.
“Maaf Mas, aku ga sengaja” Ucapnya
“kamu dari mana, Kenapa keluar dari lubang itu, itu lubang apa, Kenapa pas kamu muncul lubang itu langsung hilang, aku cari-cari kamu kemana-mana?” Tanya Heri
“Kamu nanyanya satu-satu dong, jangan sekaligus” Ucap Angel dengan nada manja
Pagi-pagi sekali Heri sudah selesai mencuci dan menjemur pakaiannya di halaman rumahnya. Tak seperti biasanya hari ini Angel masih belum terlihat olehnya. Namun ia sama sekali tak curiga. Ia berpikir bisa jadi Angel masih tertidur di kendinya.Padahal tanpa sepengetahuannya, Angel kali ini sudah berada di suatu tempat yang tak diketahui oleh tuannya. Tempat yang hanya bisa dijamah oleh bangsa jin dan makhluk halus lainnya seperti Angel.“Akhirnya kau datang juga Prameswari. Aku sudah sangat rindu ingin bertemu denganmu” Ucap sesosok makhluk raksasa memiliki tubuh bersisik seperti ular.“Lepaskan ayahku” Pinta Angel atau Prameswari“Aku ulangi sekali lagi, aku akan melepaskannya dan juga menarik bangsaku dari kerajaanmu asal kau bersedia menjadi istriku” Jawab makhluk Bernama Sindangkala itu“Cuih, aku tak sudi menikah dengan raksasa jelek dan jahat sepertimu. Cepat lepaskan ayahku!” Teriak Prameswari.Sindangkala memberi isyarat pada para pengawalnya untuk mengepung Prameswari, namun
Alya duduk tepat disamping Heri. Kali ini ada sesuatu yang terasa beda dari perilaku gadis ini. Beberapa tahun yang lalu Heri pernah mengungkapkan perasaannya bahwa dia menyukai gadis itu, tapi Alya menolaknya mentah-mentah dengan alasan bahwa Heri merupakan pemuda miskin dan Cuma seorang petani. Dulu Alya tidak pernah mau dekat-dekat dengan Heri tapi sekarang ia malah memilih duduk tepat disampingnya tanpa ada ruang kosong di Tengah-tengah mereka.“Kamu udah lama kerja disini?” Tanya Heri“Udah enam bulan”“Kamu perawat?”“Iya Her. Aku kan ngambil jurusan keperawatan, jadi setelah lulus aku jadi seorang perawat”“Aku bangga sama kamu Al”“Bangga kenapa?“Melihat kamu udah sukses seperti sekarang”“Alhamdulillah, terus kamu sekarang kerja apa?”“Aku Cuma petani, nerusin pekerjaan ayahku”“Owh, petani itu pekerjaan mulia loh Her”“Iya, jadi perawat juga pekerjaan mulia”“Makasih Her”Mereka berbincang selama beberapa menit hingga akhirnya Alya pamit untuk Kembali bekerja.“Daaah Her ak
“Aku langsung ke intinya aja, karena aku yakin kamu udah tau semua yang ada dalam hatiku, kamu udah tahu kehidupanku biarpun aku ga pernah cerita ke kamu”“Kenapa kamu bisa yakin begitu?“Karena kamu punya keahlian bisa membaca isi hati orang, dan yang aku ga suka kamu udah pernah baca buku diaryku secara diam-diam. Bener kan? Ayo ngaku!”“Kok bisa nuduh gitu sih Mas?”“Siapa lagi yang bisa ngambil bukuku dari dalam laci selain kamu”“Hehe, maaf Mas. Itu karena aku ga sengaja. Pas lagi beresin kamar kamu laci kamu kebuka, semua isinya pada keluar terbang”“Gapapa, kamu boleh kok melakukan apapun di rumahku”“benarkah?”“Iya bener Gel”“Makasih Mas. Eh katanya mau cerita”“Ya udah aku udah bilang mau cerita langsung ke intinya aja. Seperti yang udah kamu baca di buku diary ku, sekarang aku sedang menikmati kehidupanku yang sederhana. Terkadang aku suka merasa kesepian tanpa adanya kedua orang tuaku, makanya aku sibukkan diri dengan menggarap ladang yang merupakan warisan dari orang tua
“kebetulan kamu sudah datang. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu” Ucap Heri“Apa Mas” Tanya Angel“Siapa itu Prameswari?”“Prameswari? Dari mana kamu tau nama itu?”“Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi gapapa terserah kamu”“Kamu kenapa Mas?”“Aku ga kenapa-napa, Cuma mau tanya itu aja tapi kamu ga mau jawab. Ya terserah kamu”“Dari mana kamu tahu nama itu Mas. Tolong jawab dulu pertanyaanku”“Baiklah aku akan jawab. Beberapa menit yang lalu aku denga rada yang ngomong tapi ga tau itu suara siapa dan ga ada orang disini. Dia bilang titip prameswari, jaga dia. Gitu. Habis itu ga ada lagi yang aku dengar selain suara air di kali sama jangkrik”“Baiklah aku akan jujur sama kamu Mas. Tapi lebih baik kita pulang dulu”“Oke, ide bagus. Aku juga mau pulang”“Edi segera bangkit dan berdiri untuk Bersiap-siap pulang ke rumahnya. Begitu ia sudah selesai mengenakan tudung segitiganya, Angel dengan cepat menggenggam tangannya. Seketika mereka menghilang lalu tiba-tiba muncul di d
“Mas Heri, bangun Mas”“Oh mya God. Bikin kaget aja kamu ini”Heri terkejut karena Angel membangunkannya dengan cara yang tak wajar. Angel duduk di atas tubuhnya, dan ia membangunkan dirinya dengan menepuk-nepuk lengannya beberapa kali”“Kenapa Mas?”“Bukan gini cara membangunkan orang. Kenapa juga kamu malah ga pake baju lagi. Bukannya semalam kamu udah pake baju?”“Maaf Mas, habis disini panas, gerah, ya udah aku buka baju aja, enak, adem. Terus cara ngebanguninnya gimana Mas?”“Kamu cukup bilang, Mas bangun. Itu aja cukup”“Oke Mas. Maaf aku ga tau Mas. Ih aku ngebangunin satu orang tapi yang bangun malah berdua”“Cepet kamu turun dari badanku”Heri segera menarik selimut untuk menutup tubuh bagian tengahnya ke bawah agar tidak bisa terlihat lagi oleh Angel”“Ayo bangun Mas. Terus sarapan. Udah aku siapin sarapannya”“Makanan yang kemarin kan?”“Iya Mas, seperti yang Mas inginkan”“Iya makasih. Tapi aku mau mandi dulu”“Iya silakan Mas. Airnya juga udah penuh di bak mandi”“Kamu ta
Heriyandi atau Heri adalah seorang pemuda yatim yang kini hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal enam tahun lalu Ketika ia masih berusia enam belas tahun, sedangkan ibunya kini memilih untuk tinggal Bersama keluarga barunya setelah menikah dua tahun yang lalu.Hari-harinya ia habiskan dengan bekerja menggarap sepetak sawah warisan ayahnya. Ia merupakan petani yang tekun dan tidak pernah menyerah. Beberapa kali ia harus mengalami gagal panen yang membuatnya menderita kerugian, tapi ia masih tetap semangat menjalani kehidupannya sebagai petani muda yang menjadi sumber mata pencahariannya.Hari ini ia bisa sedikit bersantai di ladangnya setelah seminggu ini ia sibuk mengurus ladangnya dari mulai mencangkul, membajak, hingga menanam sayuran sawi dan cabai. Untuk proses pembajakannya dikerjakan oleh para kuli bajak dengan menggunakan tractor, ia hanya mengawasi dari gubuknya.di gubuknya ia menatapi hamparan pesawahan dan ladang yang terdiri dari banyak petakan. Ia merasa tenang dan nyaman







