Share

Pria Miskin dan Jin Genit
Pria Miskin dan Jin Genit
Penulis: Edi S

Bab 1

Penulis: Edi S
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-10 02:11:23

Heriyandi atau Heri adalah seorang pemuda yatim yang kini hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal enam tahun lalu Ketika ia masih berusia enam belas tahun, sedangkan ibunya kini memilih untuk tinggal Bersama keluarga barunya setelah menikah dua tahun yang lalu.

Hari-harinya ia habiskan dengan bekerja menggarap sepetak sawah warisan ayahnya. Ia merupakan petani yang tekun dan tidak pernah menyerah. Beberapa kali ia harus mengalami gagal panen yang membuatnya menderita kerugian, tapi ia masih tetap semangat menjalani kehidupannya sebagai petani muda yang menjadi sumber mata pencahariannya.

Hari ini ia bisa sedikit bersantai di ladangnya setelah seminggu ini ia sibuk mengurus ladangnya dari mulai mencangkul, membajak, hingga menanam sayuran sawi dan cabai. Untuk proses pembajakannya dikerjakan oleh para kuli bajak dengan menggunakan tractor, ia hanya mengawasi dari gubuknya.

di gubuknya ia menatapi hamparan pesawahan dan ladang yang terdiri dari banyak petakan. Ia merasa tenang dan nyaman dengan keadaan alam yang ada di sekitarnya. Namun akibat gagal panen yang dialaminya membuatnya harus berkali-kali memutar otak untuk mencari penghasilan lain untuk mencukupi kebutuhannya. Padi hasil tani nya masih tersisa satu karung, tinggal memikirkan cara untuk mencukupi kebutuhan lauk pauk, serta kebutuhan lainnya.

Di sela-sela lamunannya, menjelang magrib ia melihat ke arah saluran irigasi yang berasal dari sebuah kali, tampak kali itu kering. Awalnya ia berniat untuk pulang ke rumahnya namun kini ia mengubah rencananya dengan melangkah menuju hulu kali untuk menelusuri aliran air, untuk mengetahui Dimana alirannya terhambat.

Ia terus berjalan hingga tiba di muara sungai yang lebih lebar dari kali yang mengairi ladangnya. Terlihat ada tumpukan sampah yang menyumbat aliran Sungai yang mengalir kea rah ladangnya. Begitu ia hendak menyingkirkan sampah-sampah itu, di balik rumpun bambu di hadapannya terlihat sebuah kendi berwarna perak. Benda itu terlihat bercahaya seperti lampu LED berukuran besar.

Awalnya ia terkejut melihat keanehan itu namun akhirnya ia penasaran. Ia mendekat kea rah bend aitu. Sinarnya perlahan hilang. Yang terlihat kini adalah sebuah kendi berwarna perak mengkilau dengan beberapa hiasan bunga mawar di salah satu bagiannya.

Dengan memegangi kendi itu Heri melanjutkan niatnya menyingirkan sampah-sampah yang menyumbat saluran air menuju kali. kini lebih memilih untuk langsung pulang ke rumahnya tanpa harus menunggu air itu mengalir dan dan mengairi ladangnya.

Ia membungkus kendi itu dengan sarungnya yang sebelumnya ia kenakan melingkar di lehernya. Ia berjalan dengan langkah lebih cepat dari biasanya. Malam itu sangat gelap, taka da Cahaya bulan yang tampak, taka da lampu yang menrangi jalannya. Hal itu tentu saja membuat ia harus beberapa kali terpeleset jatuh tapi tak sampai mengotori pakaiannya.

Setelah beberapa menit berjalan akhirnya ia pun tiba di rumah sederhananya. Pertama ia mencuci kakinya dengan menggunakan air hasil ia menimba langsung dari sumur yang berada di samping rumahnya, lalu ia memasuki rumahnya, menaruh kendi yang dibawanya dan masih ditutupi sarungnya di atas sebuah meja di dapurnya yang biasa ia gunakan untuk menaruh peralatan makan.

Selesai berganti pakaian, ia meraih benda yang masih ditutupi sarungnya, membawanya ke ruangan utama yang Cahaya lampunya lebih terang daripada lampu di dapur atau kamarnya.

Begitu kendi itu dikeluarkan dari sarung yang menutupinya. Tampak benda itu lebih berkilau, bagian mulutnya ditutupi dengan sumbat berwarna perak pula.

“Ga ada yang aneh dengan kendi ini. Hanya kendi biasa” Pikirnya sambil mengusap-usap permukaan benda itu dengan sebuah kain yang ia ambil dari dapur.

Tiba-tiba ia kaget Ketika mendengar seperti ada yang memuku-mukul kendi itu, padahal ia sama sekali tak melakukan apapun selain membersihkan permukaannya.

Suara pukulan itu semakin lama semakin cepat dan kencang. Ia tampak kaget dan ketakutan. Tanpa pikir Panjang ia melempar benda itu kea rah samping. Seketika sumbat yang menutup mulut kendi itu terlempar cukup jauh, dari dalamnya keluar asap putih tebal. Pria itu berpikir bahwa bisa jadi benda itu pernah digunakan oleh beberapa orang penganut suatu agama yang sudah melakukan prosesi pembakaran mayat, dan asap yang keluar itu adalah asap dari sisa pembakaran yang sengaja dimasukkan ke dalam kendi itu. Ia pernah menyaksikan hal seperti itu di youtube beberapa hari yang lalu.

Ternyata perkiraannya salah. Asap itu tidak menjalar kemana-mana, tapi menggumpal menjadi lebih tebal dan hanya berada dalam satu posisi.

Heri terperanjat kaget sekaligus ketakutan Ketika bagian asap yang menggumpal itu hilang lalu muncul sosok seorang Wanita muda cantik dengan rambut diikat, tubuhnya polos tanpa selembar kainpun yang menutupi. Tubuh bagian bawah sosok Wanita itu tampak meruncing seperti putri duyung namun tidak memiliki sirip.

“Si…siapa kamu?” tanya Heri masih dalam kondisi ketakutan

Sosok makhluk Wanita itu melayang mendekat kea rah Heri yang tampak ketakutan. Ia tersenyum menatap pria itu “Terima kasih sudah mengeluarkanku Tuan” sosok Wanita yang lebih cocok dipanggil jin itu tersenyum sambil memposisikan kedua telapak tangannya menempel seperti sedang memberikan salam hormat.

“Halo, Tuan," katanya. "Saya siap melayani anda." Jin Wanita itu menganggukkan kepalanya.

Heri masih tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini seperti dongeng atau sebuah film, tapi ini nyata, pikirnya.

“Saya siap melayani anda. Sekarang anda adalah majikan saya. Tuan tinggal minta apapun yang tuan inginkan, saya akan mengabulkannya” Tambah jin itu.

“Tidak, aku Cuma mimpi. Kamu Cuma hayalan aja” Teriak Heri masih tak percaya.

“Ini nyata Tuan. Aku adalah jin yang berasal dari kendi itu. Sekarang tuan adalah majikan saya”

“Aku tetap tak percaya. “Kalau kamu memang jin, buktikan!” Pinta Heri

“Baiklah Tuan” Jin itu memejamkan matanya lalu membukanya Kembali. Seketika jin itu berubah wujud menjadi sosok lain, yaitu menjadi seorang pria yang sangat dikenali Heri bahkan selalu ia ingat sepanjang hidupnya.

“Ayah…” Heri memanggil sosok itu yang tiada lain adalah almarhum ayahnya yang sudah tiada

Sosok jin yang menyerupai ayah Heri Kembali ke wujud aslinya. “Kau sudah kehilangan ayahmu enam tahun yang lalu. Aku sudah membantumu untuk melihat ayahmu biarpun hanya sekejap” Ucap Jin itu

“Tunjukkan satu bukti lagi kalau kamu memang jin. Lalu aku akan sepenuhnya percaya padamu!”

Jin itu menjentikkan jarinya. Seketika tampak di hadapannya beberapa hidangan makanan yang selama ini hanya ada dalam bayangan Heri tanpa bisa ia menikmatinya.

“Makanlah makanan ini. Jangan takut, makanan ini asli bukan hayalan. Dan kamu akan kenyang kalau sudah makan makanan ini”

Tanpa banyak berkomentar Heri langsung menyantap semua makanan itu satu persatu. Rasanya ia ingin memakan semuanya tapi hanya dengan makan beberapa saja ia sudah sangat kenyang. Ia berniat untuk memakannya lagi nanti.

“Kau sudah percaya padaku Tuan?”

“Iya aku percaya. Jadi kamu mau melakukan apapun yang aku minta? Semuanya?”

“Iya Tuan. Tapi ada beberapa hal yang tak bisa aku lakukan”

“Apa saja? dan jangan panggil aku Tuan. Itu sudah terlalu kuno di zaman sekarang. Panggil saja aku Heri, atau mas Heri juga boleh”

“Baiklah Mas Heri. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta kecuali dua hal. Yaitu pertama aku ga bisa menjadikan ayahmu atau siapapun yang telah mati hidup lagi, yang tadi itu hanya ilusiku saja. yang kedua aku ga bisa melayanimu kalau kau minta untuk berhubungan badan”

“Hahaha mana mungkin aku minta hubungan badan sama kamu. tapi kenapa kamu malah telanjang di hadapanku. Apa kau bisa menjadi jin yang lebih sopan sedikit?”

“kalau aku berpakaian maka semua orang bisa melihatku. Kalau aku tel4njang seperti ini hanya kamu yang bisa melihatku”

“Oke aku mengerti. Terus siapa namamu?”

“Aku ga punya nama Mas. Silakan Mas Heri sendiri yang ngasih nama buatku”

“Baiklah, gimana kalau aku panggil kamu dengan nama Angel. Nama lengkapnya….Angelica”

“Nama yang bagus. Aku setuju Mas”

“Aku mau simpan semua makanan sisa ini, besok aku mau makan lagi pas sarapan”

“Aku bisa kasih lagi makanan yang baru Mas yang masih segar”

“Ga usah, yang ini juga masih bisa dimakan dan rasanya enak”

“Mas, apa agamamu?”

“Aku beragama islam. Kenapa?”

“Kalau gitu aku akan lebih banyak berada di dalam kendi daripada menampakkan diriku sama kamu Mas”

“Kenapa? Kamu bakalan kepanasan kalau lihat aku sholat atau denger aku baca Qur’an?”

“Iya Mas”

“Ya udah terserah kamu. tapi sebenarnya aku jarang solat, malah ga pernah baca Qur’am”

“Islam KTP dong”

“Iya bisa dibilang begitu”

“Ya sudah. Kalau kamu butuh aku kamu tinggal buka tutup kendinya”

“Oke lah kalau begitu”

“Kalau kamu capek, ngantuk. Kamu tidur aja Mas. Tempat tidurmu udah aku rapikan”

“Beneran?”

“Iya Mas”

Heri melangkah menuju kamarnya. Ia kaget karena tampak kamar tidurnya yang bisas berantakan kini sudah sangat rapi dan juga tercium aroma wangi-wangian.

“Terima kasih Angel”

“Kamu ga usah terima kasih sama aku Mas. Semua udah tugas aku”

“Kau mau selamanya telanjang seperti itu?”

“Emang kenapa Mas. Bukannya laki-laki suka kalau melihat tubuh Perempuan?”

“Kau bilang kau tidak bisa melayani ku berhubungan badan, tapi kau malah memancing birahiku”

“Kalau gitu…”

Angel memejamkan matanya sekejap lalu membukanya Kembali. Kini ia sudah berpakaian dengan mengenakan daster seperti yang biasa kaum Wanita kenakan jika berada di dalam rumah.

“Gimana Mas. Cocok ga?”

“Cocok. Tapi percuma saja kalau kamu ga pake pakaian dalam”

“Putingnya kelihatan nonjol ya Mas”

“Iya”

Angel Kembali memejamkan matanya. Kini ia sudah mengenakan pakaian dalam seperti yang diinginkan tuannya.

“Sudah Mas”

“Oke, bagus. Gitu dong. Nanti kalau aku ajak kamu jalan-jalan, kamu harus sesuaikan pakaian kamu”

“Iya dong. Mas Sukanya cewek pakai apa?”

“apa aja yang penting sopan, ga mengumbar aurat”

“Oke Mas ganteng”

Selanjutnya Heri merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya tapi ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirikan kejadian hari ini yang sangat mustahil menurutnya tapi semua terjadi secara nyata.

Sementara Angel kini telah berada di dalam kendi tapi tak tertutup agar ia sewaktu-waktu bisa keluar masuk dari kendi itu dengan mudah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria Miskin dan Jin Genit   Bab 4

    “Aku langsung ke intinya aja, karena aku yakin kamu udah tau semua yang ada dalam hatiku, kamu udah tahu kehidupanku biarpun aku ga pernah cerita ke kamu”“Kenapa kamu bisa yakin begitu?“Karena kamu punya keahlian bisa membaca isi hati orang, dan yang aku ga suka kamu udah pernah baca buku diaryku secara diam-diam. Bener kan? Ayo ngaku!”“Kok bisa nuduh gitu sih Mas?”“Siapa lagi yang bisa ngambil bukuku dari dalam laci selain kamu”“Hehe, maaf Mas. Itu karena aku ga sengaja. Pas lagi beresin kamar kamu laci kamu kebuka, semua isinya pada keluar terbang”“Gapapa, kamu boleh kok melakukan apapun di rumahku”“benarkah?”“Iya bener Gel”“Makasih Mas. Eh katanya mau cerita”“Ya udah aku udah bilang mau cerita langsung ke intinya aja. Seperti yang udah kamu baca di buku diary ku, sekarang aku sedang menikmati kehidupanku yang sederhana. Terkadang aku suka merasa kesepian tanpa adanya kedua orang tuaku, makanya aku sibukkan diri dengan menggarap ladang yang merupakan warisan dari orang tua

  • Pria Miskin dan Jin Genit   Bab 3

    “kebetulan kamu sudah datang. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu” Ucap Heri“Apa Mas” Tanya Angel“Siapa itu Prameswari?”“Prameswari? Dari mana kamu tau nama itu?”“Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi gapapa terserah kamu”“Kamu kenapa Mas?”“Aku ga kenapa-napa, Cuma mau tanya itu aja tapi kamu ga mau jawab. Ya terserah kamu”“Dari mana kamu tahu nama itu Mas. Tolong jawab dulu pertanyaanku”“Baiklah aku akan jawab. Beberapa menit yang lalu aku denga rada yang ngomong tapi ga tau itu suara siapa dan ga ada orang disini. Dia bilang titip prameswari, jaga dia. Gitu. Habis itu ga ada lagi yang aku dengar selain suara air di kali sama jangkrik”“Baiklah aku akan jujur sama kamu Mas. Tapi lebih baik kita pulang dulu”“Oke, ide bagus. Aku juga mau pulang”“Edi segera bangkit dan berdiri untuk Bersiap-siap pulang ke rumahnya. Begitu ia sudah selesai mengenakan tudung segitiganya, Angel dengan cepat menggenggam tangannya. Seketika mereka menghilang lalu tiba-tiba muncul di d

  • Pria Miskin dan Jin Genit   Bab 2

    “Mas Heri, bangun Mas”“Oh mya God. Bikin kaget aja kamu ini”Heri terkejut karena Angel membangunkannya dengan cara yang tak wajar. Angel duduk di atas tubuhnya, dan ia membangunkan dirinya dengan menepuk-nepuk lengannya beberapa kali”“Kenapa Mas?”“Bukan gini cara membangunkan orang. Kenapa juga kamu malah ga pake baju lagi. Bukannya semalam kamu udah pake baju?”“Maaf Mas, habis disini panas, gerah, ya udah aku buka baju aja, enak, adem. Terus cara ngebanguninnya gimana Mas?”“Kamu cukup bilang, Mas bangun. Itu aja cukup”“Oke Mas. Maaf aku ga tau Mas. Ih aku ngebangunin satu orang tapi yang bangun malah berdua”“Cepet kamu turun dari badanku”Heri segera menarik selimut untuk menutup tubuh bagian tengahnya ke bawah agar tidak bisa terlihat lagi oleh Angel”“Ayo bangun Mas. Terus sarapan. Udah aku siapin sarapannya”“Makanan yang kemarin kan?”“Iya Mas, seperti yang Mas inginkan”“Iya makasih. Tapi aku mau mandi dulu”“Iya silakan Mas. Airnya juga udah penuh di bak mandi”“Kamu ta

  • Pria Miskin dan Jin Genit   Bab 1

    Heriyandi atau Heri adalah seorang pemuda yatim yang kini hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal enam tahun lalu Ketika ia masih berusia enam belas tahun, sedangkan ibunya kini memilih untuk tinggal Bersama keluarga barunya setelah menikah dua tahun yang lalu.Hari-harinya ia habiskan dengan bekerja menggarap sepetak sawah warisan ayahnya. Ia merupakan petani yang tekun dan tidak pernah menyerah. Beberapa kali ia harus mengalami gagal panen yang membuatnya menderita kerugian, tapi ia masih tetap semangat menjalani kehidupannya sebagai petani muda yang menjadi sumber mata pencahariannya.Hari ini ia bisa sedikit bersantai di ladangnya setelah seminggu ini ia sibuk mengurus ladangnya dari mulai mencangkul, membajak, hingga menanam sayuran sawi dan cabai. Untuk proses pembajakannya dikerjakan oleh para kuli bajak dengan menggunakan tractor, ia hanya mengawasi dari gubuknya.di gubuknya ia menatapi hamparan pesawahan dan ladang yang terdiri dari banyak petakan. Ia merasa tenang dan nyaman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status