Masuk“Mas Heri, bangun Mas”
“Oh mya God. Bikin kaget aja kamu ini”
Heri terkejut karena Angel membangunkannya dengan cara yang tak wajar. Angel duduk di atas tubuhnya, dan ia membangunkan dirinya dengan menepuk-nepuk lengannya beberapa kali”
“Kenapa Mas?”
“Bukan gini cara membangunkan orang. Kenapa juga kamu malah ga pake baju lagi. Bukannya semalam kamu udah pake baju?”
“Maaf Mas, habis disini panas, gerah, ya udah aku buka baju aja, enak, adem. Terus cara ngebanguninnya gimana Mas?”
“Kamu cukup bilang, Mas bangun. Itu aja cukup”
“Oke Mas. Maaf aku ga tau Mas. Ih aku ngebangunin satu orang tapi yang bangun malah berdua”
“Cepet kamu turun dari badanku”
Heri segera menarik selimut untuk menutup tubuh bagian tengahnya ke bawah agar tidak bisa terlihat lagi oleh Angel”
“Ayo bangun Mas. Terus sarapan. Udah aku siapin sarapannya”
“Makanan yang kemarin kan?”
“Iya Mas, seperti yang Mas inginkan”
“Iya makasih. Tapi aku mau mandi dulu”
“Iya silakan Mas. Airnya juga udah penuh di bak mandi”
“Kamu tau aja yang aku butuhkan”
“Iya dong mas, kan ini semua udah jadi tugasku”
Selalnjutnya Heri meraih handuknya lalu melangkah menuju kamar mandi. Setelah itu ia menikmati sarapan paginya dengan menyantap sisa makanan yang ia makan kemarin. Walaupun itu adalah makanan sisa tapi menurutnya rasanya masih sangat lezat.
Ketika matahari mulai terbit di ufuk timur, Heri langsung Bersiap untuk Kembali bekerja menggarap ladangnya. Kini ia sudah tidak perlu mencuci pakaian dan peralatan makan karena semua itu sudah dikerjakan oleh Angel dengan rapi dan bersih cukup dengan sekali menjentikkan jarinya.
Di ladangnya ia terlihat senang karena bukan hanya pekerjaan di rumah, pekerjaan di ladang pun kini sudah selesai. Tidak perlu lagi repot memperbaiki saluran irigasi yang mampet atau membersihkan area ladang dari rumput-rumput liar yang terus tumbuh di sekeliling tanaman sayurannya.
Ia merasa beruntung bisa berteman dengan Angel. Berkat bantuannya kini semua pekerjaan bisa dengan mudahnya selesai dengan rapi dalam sekejap.
Di ladangnya kini ia hanya duduk bersantai di dipan gubuknya sambil memperhatikan tanamannya serta aktifitas orang lain di ladang dan sawah mereka.
“Mas, kenapa melamun gitu?” Tiba-tiba saja Angel muncul di sebelahnya dengan kondisi tanpa busana
“Ka…kamu kenapa ada disini?”
“Aku mau bantuin kamu kerja Mas”
“Semua kan udah selesai kamu kerjain”
“Iya Mas, tapi aku jenuh di rumah Cuma bengong. Mending aku kesini temanin kamu, siap tau kamu butuh bantuan”
“Ga perlu, makasih”
“Kamu jangan jutek gitu dong Mas, ga suka aku disini ya. Kalau gitu aku balik lagi ke rumah deh, mau tidur aja di botol”
‘Angel, jangan!, aku Cuma becanda, jangan marah dong”
“Kirain… jadi gimana nih. Ada yang bisa aku bantu?”
“Kamu pake baju aja dulu sana jangan telanj4ng disini, nanti orang-orang pada lihat loh”
“kamu mau biar aku dilihat sama orang-orang Mas?”
“Oh iya aku lupa. Ya sudah terserah kamu aja. Tapi tetap aja kalau kamu terus kayak gini kamu akan terus menggoda imanku”
“Iman apanya, sholat aja enggak”
“Biarpun aku ga suka sholat tapi aku tau mana yang baik mana yang gak baik gel”
“kalau kamu tau yang ga baik kenapa kamu ga solat?”
“Ah kamu bisa aja ngomongnya”
“Gini-gini aku juga pernah hidup di lingkungan orang-orang yang taat beragama Mas. Tapi ya gitu deh, biarpun mereka suka ibadah tapi tetap ga tahan kalau lihat aku tel4njang. Mereka maunya berhubungan badan sama aku. Untung aja aku jin, jadi mereka ga bisa melakukannya”
“Terus, orang kayak aku juga ga bisa berhubungan badan sama kamu”
“ga bisa Mas. Kalau bisa juga resikonya besar buat aku”
“Apa resikonya?”
“Kenapa jadi ngomongin itu Mas. Udah ah ga boleh ngomong gituan, pamali”
“Ya udah”
“Mas aku mau mandi di Sungai ya”
“Apa? Mandi di Sungai?”
“Iya Mas. Dulu sebelum aku dimasukin ke botol aku paling suka mandi di Sungai”
“Ya, mungkin Sungai di tempat kamu airnya bersih, jernih. Kalau disini kotor, banyak sampah, bau busuk. Orang-orang sini mandi, nyuci baju, buang sampah, sampai buang hajat pun di Sungai
“Ih, jorok banget, dasar manusia. Tapi tenang aja Mas, aku bisa membuat air Sungai itu jadi jernih dan wangi”
“Percuma aja, kalaupun sekarang bersih dua jam kemudian pasti kotor lagi”
“Ya kan aku juga mandinya ga nyampe dua jam Mas”
“Terserah kamu deh. Pokoknya jangan sampai ada orang ngintipin kamu”
“kan aku ga bisa dilihat orang lain selain kamu Mas”
“Bisa jadi nanti ada orang yang punya kelebihan bisa lihat jin atau syetan atau makhluk halus lainnya”
“Tenang aja Mas jangan hawatir. Aku juga bisa tau keberadaan manusia dari jarak tiga kilo meter
“Ya udah terserah kamu. aku ga bisa menang kalau debat sama kamu”
“Ih Mas Heri jangan gitu dong. Ya sudah aku tinggal ya Mas”
Angel memejamkan matanya. Seketika ia menghilang dari pandangan Heri. Ia kini muncul di pinggir muara Sungai yang alirannya tidak terlalu deras akibat kemarau Panjang yang melanda kampung itu. Airnya terlihat kotor berwarna cokelat seperti air kolak. Ia menjentikkan jarinya sebanyak tiga kali. Seketika air yang kotor itupun berubah menjadi sangat bening hingga ikan-ikan dan benda-benda yang berada di dasar Sungai pun terlihat.
Ia langsung meloncat ke sungai, turun hingga dasarnya. Dengan kekuatannya ia bisa bertahan hidup di dalam air tanpa harus kehilangan nafas seperti manusia pada umumnya. Begitu ia melihat beberapa ekorikan kecil berenang dan saling berkejaran, ia merasa sangat terhibur dan berniat ingin ikut bermain dengan mereka.
Sebetulnya ada beberapa orang yang melintas di tepi Sungai itu namun taka da satupun yang bisa mengetahui keberadaan Angel yang kini sedang asyik bermain di dasar Sungai. Yang mereka tahu adalah kondisi air Sungai yang saat ini sangat bening, sehingga beberapa dati mereka heran dan berusaha mengambil airnya dan dimasukkan ke dalam ember yang mereka bawa.
Menyadari bahwa di permukan Sungai terdapat beberapa orang Tengah berlomba untuk mengambil air, ide jahilnya mulai muncul. Ia menjelma menjadi seekor ikan mas besar lalu meloncat ke permukaan air. Semua yang melihatnya kaget bahkan ada yang melarikan diri. Mereka menduga bahwa yang telah mereka lihat bukan ikan sebenarnya melainkan siluman atau syetan yang hendak mengganggu mereka. Namun dari sekian banyak yang melarikan diri, hanya ada satu orang berperawakan tua dengan jenggot putih, ia mengenakan sarung yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Begitu melihat ikan besar meloncat keluar ke permukaan ia hanya mengucap istigfar sambil memegangi dadanya tapi taka da rasa takut sedikitpun.
“Keluarlah, kenapa kau mengganggu orang-orang sini?”
Menyadari bahwa orang tua tersebut mengetahui keberadaannya serta bisa melihatnya, Angel melesat naik ke atas permukaan Sungai lalu berdiri di atas air.
“kau siapa? Kenapa ganggu kami?” Tanya pria tua itu
“Majikanku memanggilku Angel. Aku disini Cuma mau mandi, tak ada maksud mengganggu kalian”
“Taoi kau sudah menakuti mereka”
“Maaf Kakek. Aku janji tak akan melakukannya lagi”
“Siapa nama majikanmu?”
“Mas Heri”
“Heri? Heri yang kerjanya petani itu?”
“Iya. Kakek kenal dia?”
“Bukan Cuma kenal. Dia cucuku”
“Maaf kakek”
Angel langsung berlari mendekat ke arah pria itu. Ia langsung mengambil posisi berlutut di hadapannya.
“Hahaha, kau tetap saja masih polos Tuan Putri. Masih mudah dibohongi”
Seketika lelaki tua itu berubah wujud menjadi seorang pria gagah, berkumis teabal, dan mengenakan pakaian layaknya pakaian Kerajaan zaman dahulu”
“Gunadarma, dari mana kau tau aku ada disini?” Tanya Angel
“Tuan Putri Prameswari, aku datang untuk menyampaikan pesan dari paduka raja untuk membawamu pulang. Kau sudah lama menghilang hampir dua ratus tahun sejak terperangkap di dalam botol”
“Tidak, aku tak mau pulang. Aku ingin hidup disini, di alam manusia” bentak Angel yang memiliki nama asli Prameswari, nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
“Baiklah, aku Cuma menyampaikan pesan dari paduka raja. Aku akan segera Kembali ke Kerajaan bangsalkencana untuk menceritakan hal ini kepadanya”
“Terserah kau. Sampaikan salamku pada ayahku, dan katakan juga padanya aku tak mau pulang ke Kerajaan jin?”
“Baiklah. Aku pamit tuan putri”
Gunadarma, yang merupakan patih Kerajaan Bbangsal Kencana, seketika menghilang dari hadapan Angel atau Prameswari.
Kini perasaan bahagianya seketika lenyap setelah kedatangan Gunadarma. Dengan sangat kesal ia melayang untuk menemui tuannya Heri.
Sementara itu Heri yang masih asyik menyendiri di gubuknya, kaget melihat kedatangan Angel dengan cara tak biasanya. Kali ini angel Kembali ke hadapannya dengan cara terbang bukan dengan tiba-tiba muncul begitu saja.
“Aku langsung ke intinya aja, karena aku yakin kamu udah tau semua yang ada dalam hatiku, kamu udah tahu kehidupanku biarpun aku ga pernah cerita ke kamu”“Kenapa kamu bisa yakin begitu?“Karena kamu punya keahlian bisa membaca isi hati orang, dan yang aku ga suka kamu udah pernah baca buku diaryku secara diam-diam. Bener kan? Ayo ngaku!”“Kok bisa nuduh gitu sih Mas?”“Siapa lagi yang bisa ngambil bukuku dari dalam laci selain kamu”“Hehe, maaf Mas. Itu karena aku ga sengaja. Pas lagi beresin kamar kamu laci kamu kebuka, semua isinya pada keluar terbang”“Gapapa, kamu boleh kok melakukan apapun di rumahku”“benarkah?”“Iya bener Gel”“Makasih Mas. Eh katanya mau cerita”“Ya udah aku udah bilang mau cerita langsung ke intinya aja. Seperti yang udah kamu baca di buku diary ku, sekarang aku sedang menikmati kehidupanku yang sederhana. Terkadang aku suka merasa kesepian tanpa adanya kedua orang tuaku, makanya aku sibukkan diri dengan menggarap ladang yang merupakan warisan dari orang tua
“kebetulan kamu sudah datang. Ada yang mau aku tanyakan sama kamu” Ucap Heri“Apa Mas” Tanya Angel“Siapa itu Prameswari?”“Prameswari? Dari mana kamu tau nama itu?”“Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari aku. Tapi gapapa terserah kamu”“Kamu kenapa Mas?”“Aku ga kenapa-napa, Cuma mau tanya itu aja tapi kamu ga mau jawab. Ya terserah kamu”“Dari mana kamu tahu nama itu Mas. Tolong jawab dulu pertanyaanku”“Baiklah aku akan jawab. Beberapa menit yang lalu aku denga rada yang ngomong tapi ga tau itu suara siapa dan ga ada orang disini. Dia bilang titip prameswari, jaga dia. Gitu. Habis itu ga ada lagi yang aku dengar selain suara air di kali sama jangkrik”“Baiklah aku akan jujur sama kamu Mas. Tapi lebih baik kita pulang dulu”“Oke, ide bagus. Aku juga mau pulang”“Edi segera bangkit dan berdiri untuk Bersiap-siap pulang ke rumahnya. Begitu ia sudah selesai mengenakan tudung segitiganya, Angel dengan cepat menggenggam tangannya. Seketika mereka menghilang lalu tiba-tiba muncul di d
“Mas Heri, bangun Mas”“Oh mya God. Bikin kaget aja kamu ini”Heri terkejut karena Angel membangunkannya dengan cara yang tak wajar. Angel duduk di atas tubuhnya, dan ia membangunkan dirinya dengan menepuk-nepuk lengannya beberapa kali”“Kenapa Mas?”“Bukan gini cara membangunkan orang. Kenapa juga kamu malah ga pake baju lagi. Bukannya semalam kamu udah pake baju?”“Maaf Mas, habis disini panas, gerah, ya udah aku buka baju aja, enak, adem. Terus cara ngebanguninnya gimana Mas?”“Kamu cukup bilang, Mas bangun. Itu aja cukup”“Oke Mas. Maaf aku ga tau Mas. Ih aku ngebangunin satu orang tapi yang bangun malah berdua”“Cepet kamu turun dari badanku”Heri segera menarik selimut untuk menutup tubuh bagian tengahnya ke bawah agar tidak bisa terlihat lagi oleh Angel”“Ayo bangun Mas. Terus sarapan. Udah aku siapin sarapannya”“Makanan yang kemarin kan?”“Iya Mas, seperti yang Mas inginkan”“Iya makasih. Tapi aku mau mandi dulu”“Iya silakan Mas. Airnya juga udah penuh di bak mandi”“Kamu ta
Heriyandi atau Heri adalah seorang pemuda yatim yang kini hidup sendiri. Ayahnya telah meninggal enam tahun lalu Ketika ia masih berusia enam belas tahun, sedangkan ibunya kini memilih untuk tinggal Bersama keluarga barunya setelah menikah dua tahun yang lalu.Hari-harinya ia habiskan dengan bekerja menggarap sepetak sawah warisan ayahnya. Ia merupakan petani yang tekun dan tidak pernah menyerah. Beberapa kali ia harus mengalami gagal panen yang membuatnya menderita kerugian, tapi ia masih tetap semangat menjalani kehidupannya sebagai petani muda yang menjadi sumber mata pencahariannya.Hari ini ia bisa sedikit bersantai di ladangnya setelah seminggu ini ia sibuk mengurus ladangnya dari mulai mencangkul, membajak, hingga menanam sayuran sawi dan cabai. Untuk proses pembajakannya dikerjakan oleh para kuli bajak dengan menggunakan tractor, ia hanya mengawasi dari gubuknya.di gubuknya ia menatapi hamparan pesawahan dan ladang yang terdiri dari banyak petakan. Ia merasa tenang dan nyaman







