LOGINSudut Pandang Anna.Telepon dari Margaret masuk pada Selasa pagi saat aku sedang meninjau laporan penjualan bersama Aurelia."Anna?" Suaranya terdengar formal dan cepat. "Tuan Nathaniel ingin kamu menemaninya untuk makan malam dengan investor Eldranic pada hari Jumat. Dia merasa pengetahuanmu tentang pasar Verdania akan sangat berguna untuk diskusi."Perutku langsung seperti jungkir balik."Tentu," jawabku berusaha terdengar profesional. "Jam berapa?""Pukul delapan, di Clairmont. Saya akan kirim rinciannya lewat email. Terima kasih."Saat aku menutup telepon, Aurelia sudah menatapku dengan senyum penuh arti."Makan malam kerja?" tanyanya, tapi nadanya jelas menunjukkan dia curiga ada hal lain."Itu kerja, Aurelia. Investor Eldranic.""Ya, tentu saja," katanya sambil tertawa. "Makanya wajahmu langsung merah begitu dengar itu."Aku mencoba fokus pada angka di layar, tapi sia-sia. Makan malam dengan Nathaniel. Di luar kantor. Bahkan kalau itu murni kerja, bahkan kalau akan ada orang lain
Sudut Pandang Nathaniel.Begitu pintu tertutup di belakang Anna, untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai aku membiarkan diriku tersenyum. Sial, wanita itu benar-benar membuatku kehilangan kendali.Aku menjatuhkan diri ke kursi dan mengusap wajahku dengan kedua tangan, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Sudah dua bulan penuh sejak penerbangan ke Londoria itu, dan aku masih belum berhasil mengeluarkan Anna dari pikiranku, bahkan satu hari pun.Dan itu bukan cuma soal hubungan intim. Meski, ya Tuhan, itu … menengangkan dengan cara yang sama sekali tidak pernah kuduga. Tapi lebih dari itu, semuanya tentang dia. Cara dia mencengkeramku saat turbulensi, ketakutan tapi tetap berani di saat yang sama. Cara percakapan kami mengalir begitu alami. Cara matanya berbinar saat dia membicarakan tujuan kariernya.Tapi yang paling membekas, adalah fakta bahwa dia menolakku.Nathaniel Pradana, Direktur Operasional Grup Mahendra Londoria, pria yang tidak pernah kesulitan menarik perhatian wan
Kantor Nathaniel persis seperti yang kuharapkan dari direktur operasional perusahaan seperti Grup Mahendra. Elegan, mengintimidasi, dan sengaja dirancang untuk membuat orang merasa kecil. Dindingnya dipenuhi rak kayu mahoni gelap, sebuah meja besar mendominasi tengah ruangan, dan jendela setinggi langit-langit menampilkan pemandangan Taman Savana yang menakjubkan. Ruangan itu seperti mengingatkan siapa yang memegang kekuasaan di sini.Dia berdiri di balik mejanya, membolak-balik setumpuk dokumen, tapi langsung menatapku begitu aku masuk. Beberapa detik kami tidak saling bicara. Mata hijaunya menyapu diriku sekilas, tapi ada sesuatu dalam caranya menatap yang langsung menarik kembali semua ingatan tentang kamar mandi pesawat itu."Anna," katanya akhirnya dengan nada yang sepenuhnya terkendali. "Silakan duduk. Kopi? Air?""Tidak, terima kasih," jawabku sambil berjalan menuju kursi di depan mejanya. Suaraku terdengar lebih stabil daripada perasaanku dan jantungku berdetak seperti habis la
Aku terbangun dua jam sebelum alarmku berbunyi.Dua jam penuh menatap langit-langit apartemenku di Branford Vale, memutar ulang di kepala setiap kemungkinan skenario untuk rapat hari ini. Sebagian besar berakhir dengan aku dipindahkan ke departemen arsip di ruang bawah tanah.Pukul lima pagi, aku menyerah berpura-pura tidur dan langsung pergi mandi, berharap air hangat bisa menghapus kecemasan yang menekan dadaku sejak kemarin. Ternyata berhasil.Lalu datang krisis yang sebenarnya yaitu harus pakai apa untuk rapat dengan bos, bos sama yang pernah berhubungan denganku di kamar mandi pesawat? Apa ada panduan etika untuk bencana spesifik seperti ini?Pertama, aku mengeluarkan gaun biru tua, yang menurut Vivian membuatku terlihat seperti eksekutif berkuasa. Lalu kupikir itu terlalu berlebihan, seperti aku berusaha terlalu keras. Aku ganti dengan blus putih dan rok hitam, tapi itu terasa seperti seragam sekolah. Percobaan ketiga yaitu blazer krem, dan celana bahan rapi. Tapi sekali lihat di
Aku kembali ke kantor dalam keadaan benar-benar terkejut. Kaki rasanya lemas seperti tidak bertulang, dan pikiranku kosong total, seolah ada seseorang yang menekan tombol dan mematikan otakku begitu Nathaniel masuk ke kafe itu.Nathaniel adalah atasanku, Direktur Operasional Grup Mahendra di Londoria.Pria yang sama yang pernah berhubungan intim denganku di kamar mandi pesawat dua bulan lalu."Anna?" Suara Aurelia menarikku kembali ke kenyataan. "Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu."Hantu malah akan lebih mudah dihadapi. Hantu tidak bisa memecatmu. Hantu tidak bisa menghancurkan kariermu. Hantu jelas tidak bisa memberi tahu kakak iparmu betapa tidak profesionalnya kamu."Aku tidak apa-apa," bohongku, menjatuhkan diri ke kursi dan berpura-pura tertarik pada email-email yang menumpuk selama kami istirahat minum kopi."Tidak apa-apa? Anna, kamu memecahkan cangkir kopi di tengah kafe dan tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan kembali. Itu buka
Sudah tepat dua bulan sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Londoria, dan aku bisa bilang dengan sangat yakin bahwa kota ini mengejutkanku dalam segala hal. Londoria adalah perpaduan menarik antara sejarah dan kehidupan modern, di mana kastil abad pertengahan berdiri berdampingan dengan gedung pencakar langit yang ramping, dan di mana minum teh sore sambil membahas strategi pemasaran digital adalah hal yang sepenuhnya normal.Kantor Grup Mahendra Londoria berada di sebuah gedung elegan di Velora, menghadap Taman Savana. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan kantor pusat di Dermaga Azzura, tapi punya pesona sendiri dengan furnitur mahoni dan jendela-jendela besar yang membanjiri ruangan dengan cahaya keemasan khas sore Londoria yang langka. Tentu saja, saat matahari memutuskan untuk muncul, karena dalam dua bulan ini aku sudah belajar bahwa kabar kota ini selalu hujan memang bukan berlebihan."Anna, kamu melamun lagi," kata Aurelia sambil menyenggolku pelan dengan siku. "Lagi
Pagi Jumat itu terbentang di bawah langit biru yang begitu sempurna, seolah alam ikut menyambut kedatangan Keluarga Kusuma di Kediaman Mahendra. Aku memperhatikan dari jendela kamar saat mobil mereka menanjak pelan, jantungku berdebar antara gugup dan lega. Melihat wajah-wajah yang kukenal setelah m
Malam itu terasa hangat luar biasa untuk Lembah Cemara di musim seperti ini. Langit berbintang membentang seperti selimut cahaya di atas properti, dan bulan purnama memantul di permukaan kolam tanpa batas yang berada di salah satu teras jauh kediaman, tempat yang sebelumnya Adriel tunjukkan padaku,
Malam itu, suasana di kediaman terasa berbeda. Cahaya lembut menciptakan atmosfer hangat di ruang makan utama, sebuah ruangan yang jarang digunakan untuk pertemuan intim seperti ini. Meja panjang dari kayu gelap itu tertata dengan porselen terbaik keluarga, gelas kristal berkilau di bawah cahaya lam
Sarapan di Kediaman Mahendra terasa hampir seperti dunia lain. Ruang makan pagi yang elegan, dengan jendela-jendela lebar yang membiarkan sinar matahari masuk, tampak seperti halaman majalah desain. Aku berusaha menahan diri sambil memperhatikan ibunya Adriel, Amanda Wirawan, memotong sepotong roti







