LOGINSudut Pandang Anna.Ponselku bergetar di meja kopi saat aku selesai merapikan apartemen, dan pikiranku masih berusaha mencerna semua yang terjadi tadi malam. Panggilan dengan Wanderer itu … intens, aku sama sekali tidak siap untuk itu. Setiap kali aku mengingat suaranya, hal-hal yang kami bagi lewat telepon, aku merasakan campuran antara antusias dan gugup yang benar-benar membuatku kehilangan keseimbangan.Aku mengambil ponselku dan melihat pesan darinya. Itu jawaban untuk pertanyaan terakhirku. Jantungku langsung berdegup lebih cepat.[Mungkin kesalahannya bukan mencoba terhubung kembali … mungkin kesalahan sebenarnya adalah berpikir bahwa kesenangan dan sesuatu yang serius tidak bisa berjalan bersamaan. Bukankah justru itu yang membuat semuanya berharga? Tadi malam sangat menyenangkan … dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tapi aku juga tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya memilikimu di sisiku setiap hari, bukan hanya untuk bersenang-senang.]Aku membaca pesan it
Sudut Pandang Nathaniel."Kamu bicara seolah Anna tidak punya pilihan," kataku yang bersandar di kursi sambil menatapnya langsung.Rivan berhenti sejenak, lalu sedikit condong ke depan, dan memakai senyum terukur yang selalu membuatku kesal setengah mati. Ada sesuatu darinya yang selalu memberi kesan bahwa dia merasa tiga langkah lebih maju dari semua orang, seolah hanya dia yang bisa melihat seluruh papan permainan."Dia punya pilihan," katanya sambil menyesuaikan posisinya. "Tapi sepertinya ada sesuatu yang menahannya di Londoria. Sesuatu yang membuatnya ragu menerima kesempatan yang jelas lebih baik untuk kariernya."Dia semakin mendekat, dan meneliti wajahku dengan tatapan tajam yang menyelidik. Rasanya seperti dia sedang membedah setiap ekspresi kecilku, dan mencari celah yang bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kupikirkan."Apakah sesuatu itu kamu, Nathaniel?"Pertanyaan itu jatuh di antara kami seperti sesuatu yang siap meledak. Aku tetap terlihat tenang, tapi di dalam, rasan
Sudut Pandang Nathaniel.Aku terbangun dengan suara Anna yang masih bergema di kepalaku, potongan-potongan kejadian tadi malam berulang tanpa henti. Cara dia mengerang, ujung-ujung napas dalam setiap katanya, dan setiap suara menggoda berputar di pikiranku seperti rekaman rusak.Seberapa pun aku mencoba fokus pada rutinitas pagiku, mandi, dan membuat kopi tanpa benar-benar berpikir. Beban karena telah melewati batas itu sebagai Wanderer akhirnya menghantamku sepenuhnya. Ada perbedaan besar antara sekadar mengirim pesan bernada sugestif dan benar-benar melakukan hal seperti itu lewat telepon dengannya. Itu adalah bentuk keintiman yang mengubah segalanya, membuat kebohongan yang sedang kujalani terasa semakin berat.'Berapa lama aku bisa mempertahankan ini sebelum dia sadar?' pikirku sambil mengaduk gula ke dalam kopi dengan gerakan mekanis. "Gimana kalau dia menginginkan sesuatu yang lebih … yang nyata?"Saat itulah ponselku bergetar di meja dapur. Kali ini bukan notifikasi dari aplikas
Sudut Pandang Nathaniel.Jadi, ini benar-benar terjadi. Kami benar-benar akan melakukannya.Kesadaran itu menghantamku seperti kilat saat aku menatap ponsel di tanganku, masih mencerna nada suaranya, cara dia menyebut namaku atau lebih tepatnya, nama samaranku di aplikasi. Wanderer. Ada sesuatu dari cara dia mengucapkan nama itu yang membuatku merasa seperti menjadi orang lain, seolah aku bisa menjadi seseorang selain Nathaniel Pradana, Direkrur Operasional Grup Mahendra, pria yang terpaksa menyingkirkannya dari pekerjaannya.Bersama Anna, sebagai Wanderer, aku hanya menjadi seorang pria yang menginginkan seorang wanita. Tanpa kerumitan perusahaan, tanpa hierarki, dan tanpa permainan politik. Rasanya bebas sekaligus menakutkan."Mungkin kau benar ...." balasku. "Aku sedang melakukannya sekarang ... kamu sendiri? Sedang ngapain?"Sebuah desahan napas terdengar di seberang sana, berat, dan penuh ketegangan."Mungkin aku ... sedang menyentuh diriku sendiri ...." Dia mengaku, dan napasnya
Sudut pandang Nathaniel.Aku pulang jam enam sore, dua jam lebih cepat dari biasanya, pikiranku terus bergejolak sejak melihat foto Anna pagi tadi. Sepanjang hari di kantor rasanya seperti penyiksaan. Setiap kali aku berkedip, yang muncul selalu lekuk tubuh itu, cara cahaya pagi membelai kulitnya, dan ajakan tanpa kata-kata dalam gambar itu yang membuatku sama sekali tidak bisa fokus pada apa pun.Aku meletakkan tas kerja di dekat pintu dan melonggarkan dasiku, merasa seolah itu mencekikku. Foto itu terus membakar di belakang pikiranku, setiap lekuk tubuhnya terukir dengan jelas sampai membuat seluruh tubuhku menegang. Seolah dia tahu persis bagaimana cara membuatku tak berdaya, bahkan dari jarak jauh.Aku langsung menuju kamar mandi dan menyalakan air dingin. Air dingin yang menghantam kulit membuatku tersentak, tapi justru itu yang kubutuhkan. Aku mencoba membiarkan dinginnya air menghapus panas yang mengikuti sepanjang hari, dan mencoba menenangkan diri cukup untuk bisa berpikir jer
Sudut pandang Nathaniel.Ponselku bergetar di atas meja, memotong fokusku yang sedang meninjau laporan bulanan. Notifikasi dari aplikasi menyala di layar, dan jantungku langsung berdetak lebih cepat saat melihat itu pesan dari Anna.Aku membukanya tanpa ragu.[Bahkan di hari-hari saat aku tidak ingin bangun dari tempat tidur … aku tetap melakukannya. Ngomong-ngomong soal tempat tidur … punyaku tadi pagi benar-benar nyaman, gimana dengan punyamu …?]Ada foto yang terlampir.Aku hampir menjatuhkan ponselku saat gambar itu akhirnya terbuka.Anna sedang berbaring miring di tempat tidur, diambil dari sudut yang hanya menampilkan tubuhnya, lekuk tubuhnya terlihat sempurna, disorot oleh pakaian dalam hitam yang kontras dengan kulitnya. Cahaya pagi yang lembut masuk dari jendela, menciptakan bayangan yang membuat semuanya terasa semakin intim, dan semakin menggoda. Wajahnya tidak terlihat, tapi justru itu membuat foto tersebut terasa lebih sensual, dan lebih misterius.Mataku mengikuti setiap
Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan semua keberanian yang kumiliki."Hubungan badan nggak termasuk dalam kesepakatan ini."Sesaat, Adriel terlihat benar-benar terkejut. Matanya melebar sedikit, dan topeng kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan sempat runtuh. Tapi kemudian dengan cepat
Bel rumah berbunyi pukul delapan pagi di hari Senin, membangunkanku dari tidur yang tidak tenang sejak tadi malam. Sejak Adriel pergi dari rumahku kemarin, pikiranku tidak berhenti sama sekali. Ciuman itu, kesepakatan itu, dan perjalanan itu terus berputar di kepalaku seperti sesuatu yang tidak mau
Di Selasa pagi, aku berdiri di depan rumah dengan sebuah koper ukuran sedang di sampingku, tas baru melintang di bahu dan keduanya dari Adriel. Aku memilih tampilan yang sederhana dengan jeans desainer yang menempel sempurna di tubuhku, blus sutra warna biru tua, dan sepatu datar yang nyaman. Tidak
Adriel segera kembali ke sikap dinginnya yang sempurna. Sekilas kerentanan yang tadi terlihat itu hilang begitu saja."Kita akan melewati ini dengan cepat," katanya sambil mengenakan sabuk pengaman. "Cuaca di Kota Gravona sempurna."Aku juga mengencangkan sabuk pengaman, menyadari kesempatan itu tel







