Share

Bab 74

Penulis: Kayla Sango
Pagi itu segar dan cerah ketika aku memutuskan menikmati kopi di teras vila sambil menatap kebun anggur yang berkilau di bawah sinar matahari terbit. Aku mulai terbiasa dengan ritme hidup Eldoria yang lebih lambat, dengan jam makan yang panjang dan malam penuh bintang.

Adriel sudah pergi pagi-pagi untuk bertemu para produsen lokal mengenai sertifikasi organik untuk proyek barunya. Aku pun berpikir akan memanfaatkan pagi sendirian untuk menenangkan pikiran sebelum pelajaran Aurelia berikutnya yan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 365

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie."Apa kamu melihat itu?" Suaraku keluar nyaris seperti bisikan."Tenang!""Apa kamu melihat itu?!" Kali ini aku berteriak."Tenang!" Ibu membentakku balik.Clarisa Salvino, yang selalu sempurna dalam gaun biru tua berbordir tangan, membuatku duduk di sofa dan menyodorkan segelas sampanye. Bahkan di tengah kekacauan, dia tetap mempertahankan ketenangan elegan yang menjadi cirinya."Kamu sudah tahu?" tanyaku dan keterkejutan membuatku tiba-tiba tenang dengan cara yang aneh. "Kamu sudah tahu?""Aku menduganya," katanya jujur sambil merapikan lipatan yang seolah-olah ada di roknya. "Ayahmu juga.""Kenapa kalian membiarkanku menjalani ini?"Ibu mendekat dan duduk di sebelahku, tangan sempurnanya yang terawat mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang tidak nyaman."Sejujurnya, Valerie .…" Dia menghela napas. "Karena kita membutuhkan pernikahan ini sama seperti Darren membutuhkan kita.""Maksud Ibu apa?""Taman hiburan itu, sayang. Kita bangkrut. B

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 364

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie.Pada hari pernikahanku, segala sesuatu di sekitarku terasa diselimuti aura penuh penantian. Suasana di kediaman sewaan tempat upacara akan digelar terasa begitu tegang dan penuh harapan, seolah setiap sudutnya memikul tanggung jawab untuk membuat hari ini sempurna. Jantungku berdetak tak beraturan, dan setiap pikiranku seperti pusaran gugup sekaligus penuh kegembiraan.Aku mengusap kain sutra yang dingin, merapikan lipatan yang seolah-olah ada di gaunku. Untuk ketiga kalinya. Atau keempat. Aku gugup. Sangat gugup. Ini adalah hari paling penting dalam hidupku, dan tidak ada satu pun hal yang boleh berjalan tidak sesuai rencana. Bahkan lipatan gaun yang hanya ada di imajinasiku.Di depan cermin, aku menatap bayangan diriku yang terasa seperti versi yang lebih seperti mimpi. Gaun pengantin itu, sebuah wujud keanggunan, jatuh lembut hingga menyentuh lantai dalam lapisan kain yang seolah mengambang. Ada sesuatu yang hampir tidak nyata di setiap r

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 363

    Sudut pandang Valerie."Bagaimana kalau malam ini kita makan malam di restoran utama?" usul Dewa saat kami masih bersiap setelah insiden kolam tadi. "Aku bosan makan dari layanan kamar.""Kamu bosan sama layanan kamar?" Aku tertawa kecil sambil membenarkan gaunku dan memperhatikannya lewat cermin. "Dengan statusmu, dan caramu memesan anggur Grup Mahendra seperti minum air putih?""Kamu ada benarnya." Dia tersenyum sambil berdiri di belakangku di depan cermin untuk membetulkan kalung di leherku. Jemarinya menyentuh ringan tengkukku, dan mengirim getaran halus ke sepanjang tulang punggungku. "Tapi kadang menyenangkan juga melihat orang lain, kan? Berinteraksi dengan dunia nyata.""Dunia nyata?" ulangku sambil menoleh menghadapnya. "Kupikir kita sudah sepakat tempat ini adalah realitas alternatif kita.""Mungkin sudah waktunya melihat bagaimana realitas alternatif kita bekerja di sekitar orang lain," jawabnya, dan ada sesuatu dalam nadanya yang tidak bisa kuartikan.Restoran utama itu ele

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 362

    Sudut pandang Valerie.Aku sedang duduk di dek dengan tubuh terbungkus jubah mandi, dan memegang segelas anggur yang bahkan hampir tidak kusentuh, ketika mendengar pintu vila terbuka. Berat percakapanku dengan Olivia masih menekan dadaku seperti simpul yang menolak terurai, dan sebesar apa pun tempat ini terasa seperti surga, tidak ada yang benar-benar bisa menghilangkan perasaan bahwa aku sedang hidup di dalam gelembung yang sebentar lagi akan pecah.Lalu aku mendengar langkah kaki yang familiar mendekat.Dewa masuk ke dalam vila dengan energi yang berbeda dan hampir bercahaya. Dia mengenakan kemeja linen putih tipis yang justru makin menonjolkan kulit kecokelatannya setelah seharian terkena matahari Ocevara, dan ada senyum puas di wajahnya yang langsung memberitahuku bahwa pertemuannya berjalan lancar."Dewi!" panggilnya sambil berjalan mendekat. "Kamu nggak akan percaya apa yang kulihat waktu aku .…" Dia langsung berhenti saat benar-benar memperhatikanku. "Hei. Ada apa?"Aku mencoba

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 361

    Sudut pandang Valerie.Dewa sudah pergi lebih dari satu jam untuk panggilan kerja yang katanya hanya sebentar, dan sejak itu aku malah duduk di sana, menatap kamar yang sudah dibersihkan dengan sempurna, sambil merasakan ketidakhadirannya yang membuatku gelisah.Aku seharusnya tidak merindukannya. Seharusnya hubungan kami tidak berkembang secepat ini. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dari kehadirannya yang sudah terasa familiar, bahkan menenangkan. Cara dia memenuhi sebuah ruangan. Cara dia tersenyum saat melihatku. Cara dia membuat bahkan keheningan terasa nyaman di antara kami.Aku tenggelam dalam pikiran itu ketika ponselku bergetar di atas nakas, dan suaranya terdengar sangat mengganggu di vila yang sunyi itu.Aku berjalan mendekat tanpa banyak antusiasme, mengira itu hanya panggilan lain yang terus kuabaikan sejak aku kabur dari pernikahan. Ayahku. Ibuku. Vania. Bahkan Darren, mungkin memakai nomor berbeda untuk membujukku pulang dan menikah dengannya.Tapi saat melihat layar, nama

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 360

    Sudut pandang Valerie.Aku terbangun karena sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca besar vila kami. Suara ombak yang menghantam tiang-tiang vila dengan lembut bercampur dengan suara burung dari kejauhan, menciptakan suasana yang terasa seperti mimpi.Untuk sesaat aku hanya berbaring di sana, menikmati pemandangan laut biru kehijauan yang membentang tanpa akhir sampai ke cakrawala, begitu jernih sampai aku bisa melihat dasar pasirnya bahkan dari ketinggian ini. Rasanya mustahil untuk tidak merasa seperti baru bangun di dalam lukisan.Saat akhirnya aku bangkit dan melangkah ke dek luar, aku menemukan Si Dewa sudah bangun lebih dulu. Dia hanya mengenakan celana renang yang semakin menonjolkan tubuhnya yang memang sudah indah itu, sambil menyeruput kopi di meja yang jelas disiapkan layanan kamar. Dia terlihat sangat santai, membaca sesuatu di perangkatnya sesekali sambil memandangi pemandangan, seolah bangun di surga tropis hanyalah pagi biasa baginya.'Siapa sebenarnya pria ini?’' p

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 54

    Malam itu terasa hangat luar biasa untuk Lembah Cemara di musim seperti ini. Langit berbintang membentang seperti selimut cahaya di atas properti, dan bulan purnama memantul di permukaan kolam tanpa batas yang berada di salah satu teras jauh kediaman, tempat yang sebelumnya Adriel tunjukkan padaku,

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 53

    Sarapan di Kediaman Mahendra terasa hampir seperti dunia lain. Ruang makan pagi yang elegan, dengan jendela-jendela lebar yang membiarkan sinar matahari masuk, tampak seperti halaman majalah desain. Aku berusaha menahan diri sambil memperhatikan ibunya Adriel, Amanda Wirawan, memotong sepotong roti

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 48

    Aku menutup pintu kamar tamu dan terhempas ke tempat tidur, lelah secara fisik dan emosional. Aku butuh bicara dengan seseorang yang bisa memahami situasiku, seseorang yang mengenaliku lebih baik daripada aku kenal diriku sendiri. Aku meraih ponsel dan menekan nomor yang lebih familiar bagiku daripa

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 47

    Mobil meluncur pelan di jalan berkelok menuju kediaman. Dari jendela, aku lihat kebun anggur yang disinari cahaya bulan perak, sunyi dan hampir terasa sedih. Sopir menatap lurus ke depan, diam-diam abaikan ketegangan yang terasa di kursi belakang antara kami.Adriel duduk dengan kepala bersandar dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status