تسجيل الدخول"Kaisar??"serunya dalam hati, penuh dengan keterkejutan. Gambaran wajah yang sering dia lihat dalam hari besar istana. Wajah yang terpampang di lukisan-lukisan kerajaan. Wajah yang dihormati seluruh negeri... sekarang berdiri tepat di hadapannya! Tepat hanya satu langkah jaraknya dari dirinya.Topeng itu terlepas dari genggaman Gubernur Liu dan jatuh ke tanah dengan bunyi klink logam yang nyaring. Di saat yang sama, lutut Gubernur Liu lemas, dan dia jatuh tersungkur di kaki Lou Yu."Yang-Mulia—" suaranya bergetar, hampir tidak terdengar. "Hamba—hamba tidak tahu—ampuni—""Hah?!" Liu Meiling berteriak kaget. "Ayah?! Apa yang kau lakukan? Bangun! Kenapa kau sujud di depan pria itu?!""Meiling, di—" Gubernur Liu nyaris meneriakkan nama Kaisar, tapi di detik yang sama...Sret!Pedang Zan sudah berada di lehernya. Ujung bilah dingin menyentuh kulitnya, tidak menusuk, tapi cukup untuk membuatnya sadar. Zan menatapnya dengan mata tajam, dan satu gelengan kecil dari kepalanya sudah cukup menja
Du Tian berdiri membatu. Mulutnya terbuka beberapa kali, tapi tidak ada suara yang keluar. Keringat membasahi seluruh punggungnya. Di hadapannya, pedang Zan masih terhunus, dan tatapan mata Zan seperti pisau yang mengupas lapisan keberaniannya satu per satu.Dia ingin berteriak, ingin memperingatkan tuannya, tapi lidahnya terasa seperti kaku membeku. Hanya matanya yang bergerak liar, berusaha mengirim sinyal ke arah kereta di kejauhan.Di dalam kereta mewah yang terparkir tidak jauh dari sana, Gubernur Liu Wei menyaksikan semua ini dari balik tirai. Alisnya berkerut ketika melihat Du Tian hanya diam terpaku seperti patung bodoh."Memalukan," geramnya. "Tangan kananku ternyata seekor ayam penakut."Dia turun dari kereta dengan langkah tegap. Jubah kebesarannya berkibar tertiup angin, dan di belakangnya, dua baris pengawal pribadi mengikuti dengan setia. Liu Meiling tersenyum puas melihat ayahnya turun tangan."Ayah akan menghancurkan mereka," bisiknya pada Wang Xue dan Li Wei. "Tidak a
Liu Meiling tersenyum jahat melihat ekspresi Ning Yuan. "Aku sudah bilang kau akan menyesali ini, Ning Yuan."Du Tian, tangan kanan Gubernur Liu, melangkah maju dengan langkah sombong. "Jadi kau gadis kurang ajar yang berani menampar putri Gubernur?" suaranya bergema di pasar yang kini mulai sepi karena ketakutan.Ning Yuan menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Kau siapa—Kau ayahnya?""Lancang sekali kau menyebut Gubernur dengan sebutan seperti itu!" bentak Du Tian. "Rakyat jelata sepertimu memang tidak punya tata krama dan sopan santun. Kau harus diajari dengan benar agar tidak berbuat kesalahan yang sama dikemudian hari lagi!" dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya untuk maju.Tapi sebelum mereka bisa bergerak, Lou Yu melangkah ke depan, melindungi Ning Yuan di belakangnya. "Berani sekali," ucapnya dengan nada dingin. "Apa kalian laku-laki? Beraninya hanya pada seorang wanita."Du Tian tertawa terbahak-bahak. "Kau pasti pr
Ning Yuan berjalan di antara deretan toko kain, matanya sibuk menatap berbagai gulungan kain yang terpajang. Lou Yu berjalan di sampingnya dengan langkah santai, sesekali mengamati ekspresi Ning Yuan yang serius."Yang ini... bagus," ucap Ning Yuan sambil menyentuh selembar sutra merah dengan bordiran emas. "Bahannya halus, warnanya cerah. Cocok untuk acara resmi."Lou Yu mengangguk. "Bungkus ini," katanya kepada pemilik toko.Ning Yuan mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa. Dia berjalan ke rak berikutnya."Ini juga bagus," katanya lagi, kali ini menunjuk kain sutra biru laut dengan kilauan lembut. "Warnanya elegan, tidak terlalu mencolok tapi tetap terlihat mewah.""Bungkus," perintah Lou Yu lagi.Ning Yuan mulai merasa ada yang tidak beres. Dia menoleh ke Lou Yu, tapi pria bertopeng itu hanya tersenyum tipis di balik topengnya."Apa kau... tidak mau memilih sendiri?" tanya Ning Yuan hati-hati."Aku percaya pada seleramu," jawab Lou Yu santai.Ning Yuan menghela napas. "Tida
Tamparan Ning Yuan menggema di pasar yang tiba-tiba hening. Semua orang berhenti. Dan seperti biasa, jika ada yang wah seperti ini maka semua mata pasti tertuju pada mereka. "KAU!! BERANINYA KAU MENAMPARKU?!" Seru Liu Meiling terhuyung ke samping, tangannya meraih pipinya yang memerah. Matanya membulat karena terkejut dan marah.Tapi Ning Yuan sama sekali tidak gentar dengan seruan Liu Meiling yang penuh amarah. Yang ada, dia malah menatapnya dengan dingin."Tentu saja berani! Kau tahu, tamparan barusan untuk kereta kudamu yang hampir menabrakku."Balas Ning Yuan, dengan tangan yang masih terangkat. Ya barang kali aja, Liu Meiling ingin merasakan tamparan dari Ning Yuan sekali lagi."AKU TIDAK MELIHATMU—""Kau tidak melihatku?" Ning Yuan memotong dengan suara tajam. "Kau berada di dalam kereta terbuka, Liu Meiling. Jalanan pasar ini ramai. Kau harusnya melihat ke depan, bukan sibuk bergosip dengan kedua ular betina di sampingmu!""Aku—kau—" Liu Meiling tergagap, wajahnya merah padam k
Ning Yuan masih bersandar di dinding ketika pintu di depannya terbuka. Dia bingung saat melihat Lou Yu sudah berpakaian rapi. Jubah sutra berwarna abu-abu muda membungkus tubuhnya dengan sempurna, rambutnya ditata basah tapi rapi, dan tidak lupa! Topeng yang menutupi sebagian wajahnya tetap nangkring indah di sana. Seperti biasa, dia terlihat tenang, anggun, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit lalu.Ning Yuan mengerjap. "Kenapa dia sudah berpakaian? Bukankah tadi dia bilang aku harus mengukur ukuran tubuhnya?" Karena penasaran, Ning Yuan reflek bertanya. "Bukannya kita...?" tanyanya terputus sebab Lou Yu sudah lebih dulu memberikan jawabannya."Tidak," jawab Lou Yu dengan tegas, memotong kalimat Ning Yuan sebelum Ning Yuan selesaikan."Tapi—""Lain kali saja," sambung Lou Yu, seakan tahu persis apa yang akan ditanyakan Ning Yuan. Matanya di balik topeng menatap Ning Yuan dengan senyum tipis. "Aku ingin kau menemani ke toko kain dulu. Aku ingin memilih beberapa kain. Setelah







