แชร์

Kehancuran Sidney

ผู้เขียน: Eljanes Crocus
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-27 08:07:28

Dengan alis saling bertaut, Ryan melangkah masuk ke ruang rapat dewan komisaris. Ia berharap mendapatkan dukungan untuk melakukan perlawanan hukum terhadap perusahaan asing ini.

Namun, atmosfer di dalam ruangan justru terasa seperti pemakaman.

Kursi-kursi dewan banyak yang kosong. Hanya ada 5 orang yang hadir dari 12 anggota. Seharusnya berita itu sudah sampai ke telinga mereka, namun tidak ada jejak kemarahan, 5 orang itu justru memasang raut muak pada Ryan.

"Apa y
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pria milik 'ARANA'   Bayang-bayang masa lalu

    Langkah kaki Syla bergema tajam di koridor marmer Perusahaan Sidney. Takhta yang ia rebut dengan genangan darah kini sedang diguncang badai."Syla! Berhenti!"Langkah Syla terhenti paksa. Ryan menghadang di depan pintu lift dengan napas terengah dan wajah merah padam. "Apa kamu sudah tahu siapa orangnya?"Syla menatapnya datar. Di matanya, Ryan hanyalah seekor anjing pelacak yang berisik. Berguna untuk menyerang, tapi terlalu bodoh untuk memahami strategi. Ryan adalah bidak yang sempurna untuk dikorbankan nanti, namun jika pria impulsif ini tahu bahwa dalang di balik semua ini adalah Max, segalanya akan hancur menjadi abu sebelum rencana besarnya matang."Belum," dusta Syla tanpa mengedipkan mata. "Aku masih menyelidikinya.""Sialan! Baru sehari, tapi kita sudah kehilangan 40% keuntungan!" Ryan menghantamkan tinjunya ke dinding lift hingga menimbulkan bunyi dentum yang keras. "Lalu kamu mau ke mana sekarang? Dalam situasi genting begini k

  • Pria milik 'ARANA'   Kehancuran Sidney

    Dengan alis saling bertaut, Ryan melangkah masuk ke ruang rapat dewan komisaris. Ia berharap mendapatkan dukungan untuk melakukan perlawanan hukum terhadap perusahaan asing ini.Namun, atmosfer di dalam ruangan justru terasa seperti pemakaman.Kursi-kursi dewan banyak yang kosong. Hanya ada 5 orang yang hadir dari 12 anggota. Seharusnya berita itu sudah sampai ke telinga mereka, namun tidak ada jejak kemarahan, 5 orang itu justru memasang raut muak pada Ryan."Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian diam saja saat perusahaan asing mencoba menginjak-injak kita?!" teriak Ryan, mencoba membakar semangat mereka."Bukan mereka yang menginjak kita, Ryan. Tapi, kamu yang membiarkan kita terinjak," sahut salah satu komisaris senior dengan nada dingin. "Djiwa Group tidak hanya datang membawa uang. Mereka datang membawa berkas.""Berkas apa maksud Anda?"Pria tua itu melemparkan sebuah tablet ke arah Ryan. Layarnya menunjukkan grafik penuru

  • Pria milik 'ARANA'   Badai yang mengguncang

    Dirga dan Citra juga menatap putri mereka dengan penuh tanya, meski sorot mata mereka lebih lembut dan dipenuhi kekhawatiran."Anu, Kak... beri aku waktu sebentar untuk mencuci muka. Kepalaku sedikit pusing," pinta Ana pelan.​Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dengan tangan gemetar, dan menyandarkan punggungnya di sana. Jantungnya berpacu hebat, seolah ingin melompat keluar. Ana mengelus perut yang masih datar, merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari.​"Sedikit lagi... tolong bertahanlah sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, menahan rasa mual yang mendesak di pangkal tenggorokan. "Bantu Mama menjaga rahasia ini."Setelah merasa lebih tenang, Ana keluar dan menghampiri Leo yang sedang duduk di teras belakang, menatap taman kecil mereka dengan wajah muram. Ana duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu kakak laki-lakinya itu.​"Kak Leo marah?" tanya Ana pelan, suaranya seperti anak kecil yang takut dihukum.​Le

  • Pria milik 'ARANA'   Permintaan Rico

    Kesunyian malam membungkus kabin yang melaju membelah jalanan kota. Cahaya lampu jalan bergantian menerangi wajah Max dari balik kemudi, menampilkan rahang tegasnya yang tampak tenang. Di sampingnya, Ana meremas pelan jemarinya sendiri, mencoba mencairkan kecanggungan yang merayap di antara mereka."Selamat atas keberhasilanmu," ungkap Ana, memecah keheningan yang sempat merajai selama beberapa kilometer.Max tidak mengalihkan pandangannya dari aspal di depan. "Ini berkatmu."Ana menoleh, sedikit terkejut dengan jawaban datar itu. "Jangan asal bicara. Aku selama ini memikirkan bagaimana cara untuk membalas dendam pada Ryan. Tapi kamu bisa membereskannya dalam sekejap.""Semua ini mustahil kulakukan, tanpa bukti darimu," sahut Max, menoleh singkat. Tatapan matanya sanggup membuat dada Ana berdesir aneh.Ana memalingkan wajah ke luar jendela, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum men

  • Pria milik 'ARANA'   Pinangan di tengah badai

    Di dalam mobil mewah, suasana terasa begitu menyesakkan. Ana meremas jemarinya yang dingin, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong sebelum akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Helena dan Max.Ia sempat tersentak saat menyadari ada yang berbeda. Max tidak lagi memakai jas formalnya yang kaku, ia telah berganti pakaian yang lebih kasual, dan yang paling mengejutkan, aroma parfum yang tadi membuatnya mual kini telah lenyap. Pria itu benar-benar menanggalkan bau yang ia benci."Anu... Pak Max... saya mohon," suara Ana bergetar, nyaris menyerupai bisikan. "Tolong jangan katakan apa pun soal kehamilan ini kepada keluarga saya."Max mengernyitkan alis, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu? Kamu ingin aku datang ke sana dan berbohong?""Keluarga saya baru saja terkena masalah," potong Ana cepat, nada suaranya menyayat hati. "Papa baru saja pulih dari masalah di kantornya, dan Mama masih sering cemas. Kalau mereka tahu saya hamil di luar nikah...

  • Pria milik 'ARANA'   Janin yang tak diinginkan

    Langkah kaki Max menghantam lantai marmer kantor dengan irama mematikan. Matanya yang tajam memindai setiap sudut, namun sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat."Dimana Ana?" Suara Max berat, sarat akan tekanan yang membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam.Fero, sang sekretaris yang sedang merapikan jadwal, tersentak hingga nyaris menjatuhkan tab-nya. Ia jarang melihat bosnya kehilangan ketenangan seburuk ini. "Ng... tadi saya melihatnya sedang membuat teh di pantry."Tanpa sepatah kata pun, Max berbalik. Jubah kekuasaannya seolah berkibar tertiup amarah saat dia melangkah menuju ruang di ujung lorong.Di dalam sana, Ana sedang bersandar pada meja bar, memandangi cangkir tehnya dengan tatapan kosong. Namun, ketenangannya hancur saat pintu terbuka dengan kasar. Max berdiri, auranya mengintimidasi, menutup ruang gerak Ana dalam sekejap."Ana, apa yang kamu lakukan di dokter kandungan?" Max menagih penjelasan tanpa basa-basi.

  • Pria milik 'ARANA'   Menyelinap keluar

    Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi

  • Pria milik 'ARANA'   Salah paham

    WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai terti

  • Pria milik 'ARANA'   Ziarah duka

    Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C

  • Pria milik 'ARANA'   Berpindah tubuh

    Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status