LOGINWARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?DEG!Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.Takut? Pasti.Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengPagi ini, Ana mengunjungi kampus untuk mengikuti seminar penting yang katanya wajib dihadiri. Masih dengan setelan formal yang dipakai bekerja, sebab siang nanti dia harus kembali ke perusahaan. Ana berjalan melewati koridor, mencoba menikmati suasana damai. Tapi perlahan dia mulai merasakan hal aneh, Setelah berjalan melewati gerombolan mahasiswa. Hampir semua dari mereka menatap ke arahnya, Dengan reaksi bermacam-macam, beberapa bahkan tertawa dan berbisik. Ana mengernyit kebingungan, tak tahu apa yang terjadi. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri Alfio yang sedang duduk di depan kelas. "Alfio, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanya Ana sedikit panik, Pria itu hanya menggeleng singkat setelah menatap gugup Ana yang mendekatkan wajahnya. "Terus, kenapa semua orang
"Tunggu! Ada apa ini?" sontak suara Dirga terdengar keras,Membuat Ana berlari keluar kamar, masih mengenakan kemeja kusutnya.Dia baru saja sampai dari perjalanan melelahkan dan berharap bisa beristirahat, tapi keributan di luar memaksanya bergerak. Seakan lupa pada letih yang dirasa,Dengan raut tak percaya, Ana melihat ayahnya diseret oleh petugas kepolisian."Ana, jangan!" tegur Citra, meraih lengan putrinya.Mencoba menahan gadis yang hendak mendekat. "Kembalilah ke kamar,""Tapi, Ma...""Sudah, jangan khawatir." imbuh Citra, suaranya sedikit gemetar.Meski batinnya dilanda cemas, dia tetap berusaha tenang demi membujuk Ana.Tapi Ana tak bisa tinggal diam, melihat ayahnya yang tak berdaya. Terlebih mendapati Rendra pamannya hanya berdiri sambil menyeringai,"Dasar sialan!" umpat Ana dalam hati,Dia berlari ke arah Rendra yang
Ana melangkah keluar kamar dengan dress pantai selutut, berjalan menuju ruang makan.Namun tak sengaja kakinya terhenti, sebab suara familiar yang asik berbincang lirih di sudut lain. Matanya melirik ke sekeliling sebelum bersembunyi di balik tembok,Langsung menempelkan telinga guna menguping."Tidak kusangka Perusahaan Sidney akan dipimpin oleh orang sepertinya." kata salah satu pria,Suaranya mengingatkan Ana pada direktur yang hanya duduk diam di acara semalam."Ya, aku juga tak menyangka. Menurutku kinerjanya sangat buruk---pertama kalinya, ada pertemuan bisnis semacam ini." jawab direktur lain,"Seharusnya para dewan perusahaan tidak menunjuknya sebagai direktur.""Mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya penerus sah menurut surat ahli waris yang istrinya tinggalkan.""Hah! Omong kosong apa ini? Aku ga pernah membuat surat ahli waris semacam itu." batin Ana tercengang me
WARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?DEG!Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.Takut? Pasti.Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengan merentangkan kaki,"Jangan---HM!" suaranya tercekat,Max sigap membungkam mulut yang hendak berteriak, sembari memaksa benda kekarnya masuk sepenuhnya.Dingin dan sempit, perlahan digoyangkan pinggul sambil terus menahan Ana agar tak bisa melawan."HM! HM!" Ana meronta,Berusaha menarik paksa tangannya namun tak bisa. Tenaga pria itu terlalu kuat,Ana memejamkan mata, merasakan nyeri menusuk, dirasakan batang
CEKLEK!Setelah lama menunggu, pembatas itu akhirnya terbuka. Ana tersenyum lega melirik kaki yang berjalan keluar,"Hh!" Reflek menutup muka,Tak kuasa melihat pria telanjang yang hanya memakai handuk kecil guna menutupi pinggang."Kenapa Bapak ga pake baju dulu?" tegur Ana sedikit mengintip,Mengenali benda yang tengah menggantung di jari Max."Itu, kan---""Dasar mesum!" pekik Ana berlari mendekat,Tangannya berusaha merebut namun dihalangi oleh telapak yang sigap menghadang. Mendorong mundur kepala Ana hingga tak bisa menggapai,"Mana---kembalikan itu padaku!""Jadi ini milikmu?" gumam Max merendahkan suara,"Kecil sekali,""Aaa! Cepat kembalikan!" ujar Ana dibuat kesal, ucapan tadi terdengar seperti ejekan.Ana sengaja merendam bikini miliknya yang terkena noda, tak disangka malah ditemukan Max.
Begitu banyak remah camilan berserakan di atas meja, dengan gelas anggur yang tak dibiarkan kosong.Mengenakan kostum tipis, 5 pelayan itu siap berdiri melayani para pria yang tampak asik bersenda gurau.Di sisi lain Ryan duduk santai mengawasi, tangannya tiba-tiba merogoh ke dalam saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening.Matanya melirik ke depan, memastikan tak ada yang menyadari sebelum dituangkannya ke dalam gelas."Ehem!" Ryan berdehem sambil memutar gelas,Diam-diam menunduk maju, menukarnya dengan gelas lain.Setelah itu tubuhnya bersandar kembali, bersikap santai dan melihat bagaimana gelas tadi diteguk habis oleh pria berjas di depannya."...?" Syla mengernyit,Dari belakang dia mengawasi aksi tersebut.Waktu berlalu, dan perubahan mulai terjadi. Max menunjukkan reaksi aneh,Padahal mereka tengah duduk di ruang berAC, namun t







