Share

Gaji pertama

last update publish date: 2026-05-30 08:12:29

CEKLEK!

Setelah lama menunggu, pembatas itu akhirnya terbuka. Ana tersenyum lega melirik kaki yang berjalan keluar,

"Hh!" Reflek menutup muka,

Tak kuasa melihat pria telanjang yang hanya memakai handuk kecil guna menutupi pinggang.

"Kenapa Bapak ga pake baju dulu?" tegur Ana sedikit mengintip,

Mengenali benda yang tengah menggantung di jari Max.

"Itu, kan---"

"Dasar mesum!" pekik Ana berlari mend
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria milik 'ARANA'   Kesepakatan yang harus disetujui

    Suasana mendadak mati kutu di dalam ruang transit khusus tamu yang disediakan oleh kampus. Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan mengintimidasi. Gorden tebal yang sengaja ditutup rapat menghalangi cahaya luar, membuat atmosfer di dalam ruangan terasa semakin temaram dan sunyi. Max berdiri tegap di depan Ana. Wajah tampannya mengeras, memancarkan kegeraman yang kentara. Sementara itu, Ana hanya bisa duduk diam di atas sofa dengan kepala tertunduk dalam, jemarinya meremas kuat jas pria itu yang mengalung di bahunya. "Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih layak?" tanya Max, nada suaranya meninggi satu oktav. Mata tajam pria itu menatap dingin pada blus tipis Ana yang basah kuyup. Kain yang melekat ketat itu kini mencetak jelas lekuk tubuh, bahkan menjelma transparan hingga memperlihatkan pakaian dalam Ana yang berwarna kontras. "Tid

  • Pria milik 'ARANA'   Berita kampus

    Pagi ini, Ana mengunjungi kampus untuk mengikuti seminar penting yang katanya wajib dihadiri. Masih dengan setelan formal yang dipakai bekerja, sebab siang nanti dia harus kembali ke perusahaan. Ana berjalan melewati koridor, mencoba menikmati suasana damai. Tapi perlahan dia mulai merasakan hal aneh, Setelah berjalan melewati gerombolan mahasiswa. Hampir semua dari mereka menatap ke arahnya, Dengan reaksi bermacam-macam, beberapa bahkan tertawa dan berbisik. Ana mengernyit kebingungan, tak tahu apa yang terjadi. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri Alfio yang sedang duduk di depan kelas. "Alfio, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" tanya Ana sedikit panik, Pria itu hanya menggeleng singkat setelah menatap gugup Ana yang mendekatkan wajahnya. "Terus, kenapa semua orang

  • Pria milik 'ARANA'   Kasus penggelapan

    "Tunggu! Ada apa ini?" sontak suara Dirga terdengar keras,Membuat Ana berlari keluar kamar, masih mengenakan kemeja kusutnya.Dia baru saja sampai dari perjalanan melelahkan dan berharap bisa beristirahat, tapi keributan di luar memaksanya bergerak. Seakan lupa pada letih yang dirasa,Dengan raut tak percaya, Ana melihat ayahnya diseret oleh petugas kepolisian."Ana, jangan!" tegur Citra, meraih lengan putrinya.Mencoba menahan gadis yang hendak mendekat. "Kembalilah ke kamar,""Tapi, Ma...""Sudah, jangan khawatir." imbuh Citra, suaranya sedikit gemetar.Meski batinnya dilanda cemas, dia tetap berusaha tenang demi membujuk Ana.Tapi Ana tak bisa tinggal diam, melihat ayahnya yang tak berdaya. Terlebih mendapati Rendra pamannya hanya berdiri sambil menyeringai,"Dasar sialan!" umpat Ana dalam hati,Dia berlari ke arah Rendra yang

  • Pria milik 'ARANA'   Hari kedua dinas

    Ana melangkah keluar kamar dengan dress pantai selutut, berjalan menuju ruang makan.Namun tak sengaja kakinya terhenti, sebab suara familiar yang asik berbincang lirih di sudut lain. Matanya melirik ke sekeliling sebelum bersembunyi di balik tembok,Langsung menempelkan telinga guna menguping."Tidak kusangka Perusahaan Sidney akan dipimpin oleh orang sepertinya." kata salah satu pria,Suaranya mengingatkan Ana pada direktur yang hanya duduk diam di acara semalam."Ya, aku juga tak menyangka. Menurutku kinerjanya sangat buruk---pertama kalinya, ada pertemuan bisnis semacam ini." jawab direktur lain,"Seharusnya para dewan perusahaan tidak menunjuknya sebagai direktur.""Mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya penerus sah menurut surat ahli waris yang istrinya tinggalkan.""Hah! Omong kosong apa ini? Aku ga pernah membuat surat ahli waris semacam itu." batin Ana tercengang me

  • Pria milik 'ARANA'   Tubuh seharga 3M

    WARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?DEG!Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.Takut? Pasti.Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengan merentangkan kaki,"Jangan---HM!" suaranya tercekat,Max sigap membungkam mulut yang hendak berteriak, sembari memaksa benda kekarnya masuk sepenuhnya.Dingin dan sempit, perlahan digoyangkan pinggul sambil terus menahan Ana agar tak bisa melawan."HM! HM!" Ana meronta,Berusaha menarik paksa tangannya namun tak bisa. Tenaga pria itu terlalu kuat,Ana memejamkan mata, merasakan nyeri menusuk, dirasakan batang

  • Pria milik 'ARANA'   Gaji pertama

    CEKLEK!Setelah lama menunggu, pembatas itu akhirnya terbuka. Ana tersenyum lega melirik kaki yang berjalan keluar,"Hh!" Reflek menutup muka,Tak kuasa melihat pria telanjang yang hanya memakai handuk kecil guna menutupi pinggang."Kenapa Bapak ga pake baju dulu?" tegur Ana sedikit mengintip,Mengenali benda yang tengah menggantung di jari Max."Itu, kan---""Dasar mesum!" pekik Ana berlari mendekat,Tangannya berusaha merebut namun dihalangi oleh telapak yang sigap menghadang. Mendorong mundur kepala Ana hingga tak bisa menggapai,"Mana---kembalikan itu padaku!""Jadi ini milikmu?" gumam Max merendahkan suara,"Kecil sekali,""Aaa! Cepat kembalikan!" ujar Ana dibuat kesal, ucapan tadi terdengar seperti ejekan.Ana sengaja merendam bikini miliknya yang terkena noda, tak disangka malah ditemukan Max.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status