Teilen

Primadona Menyukai Pelajaran Penjas
Primadona Menyukai Pelajaran Penjas
Yaya

Bab 1

Yaya
Namaku Susan, seorang murid SMA kelas dua.

Seharusnya mata pelajaran penjas tak mengharuskan untuk latihan fisik lagi.

Namun, karena terlalu banyak murid yang mengajukan izin sakit, pihak pimpinan sekolah menganggap fisik kami lemah dan memaksa kami untuk latihan fisik lagi setiap mata pelajaran penjas.

Tak ada pilihan, di bulan september yang panas ini, kami harus ikut dalam latihan fisik yang berat.

Sedangkan diriku, sejak awal masuk sekolah sudah mendapat julukan primadona yang dingin.

Karena wajahku sangat cantik dan bentuk tubuhku yang indah berlekuk, semakin menarik banyak perhatian murid pria.

Jadi, sejak hari pertama sekolah, tak sedikit pria yang mencoba mendekatiku, tapi belum ada satu pun yang membuat hatiku tersentuh.

Meskipun tak punya pacar, mendengar cerita teman-teman seasrama tentang pengalaman mereka menginap di hotel bersama pacar masing-masing membuatku cukup terpikat.

Aku ingin dicintai dan juga ingin mendapatkan cinta dari seorang pria.

Namun, karena didikan keluargaku yang sangat ketat sejak kecil, timbul sifat yang tertutup pada pria. Rasanya ingin mendekat, tapi di saat yang sama juga takut untuk mendekat.

Pihak kampus menugaskan seorang guru penjas pria, Pak Novin untuk kelas kami. Tingginya sekitar 180 cm, penampilannya sangat ceria dan tampan, bahkan ada kesan pria nakal.

Saat memperkenalkan diri, di tengah riuhnya sorakan para mahasiswa, dia langsung memamerkan otot perutnya yang membuat banyak murid menjerit histeris.

Ini pertama kalinya aku merasakan ketertarikan yang begitu kuat pada seorang pria, pertama kalinya hatiku dibuat berdebar-debar.

Saat pelajaran berlangsung, Pak Novin secara khusus memberikan seragam ukuran kecil padaku, padahal seharusnya aku memakai ukuran sedang.

Sesuai dugaan, saat memakai seragam ukuran kecil itu, lekuk tubuhku jadi sangat menonjol.

Terutama bagian atasan, rasanya seperti ada dua balon yang tersimpan di dalamnya dan bisa meledak kapan saja.

Setelah pelajaran berlangsung, aku sering khawatir mungkinkah kancing di bagian dadaku akan terlepas tiba-tiba?

Setelah memakainya selama dua hari, aku sudah tak tahan lagi dan mendatangi Pak Novin untuk meminta ganti seragam.

Saat melihatku, mata Pak Novin langsung tampak berbinar, lalu tersenyum jahil dan berkata, “Kalau begitu, coba kamu ganti ke ukuran sedang dulu sekarang, biar kulihat cocok atau nggak….”

Sambil berbicara, Pak Novin memperhatikan diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu membuka kemasan seragam ukuran sedang untukku.

Setelah menerima seragam itu, aku pun bersiap membawanya ke kamar mandi yang agak jauh untuk menggantinya. Tak disangka, Pak Novin malah berkata dengan nada yang agak kesal,

“Ganti di sini saja, lagipula nggak ada orang lain. Aku hanya perlu menutupinya dengan payung….”

Mendengar itu, wajahku langsung terasa panas membara.

Meskipun ada batasan antara pria dan wanita, diriku seolah sangat rela memperlihatkan bentuk tubuhku yang indah pada Pak Novin sekarang. Di lubuk hatiku yang terdalam, aku sepertinya ingin mendapatkan rasa sukanya.

Dengan wajah merona dan agak canggung, aku berkata, “Pak Novin, kalau begitu jangan mengintip, ya!”

Mendengar ucapanku, Pak Novin langsung memasang raut wajah serius dan menjawab, “Tenang saja, kamu pikir aku ini orang seperti apa?”

Mendengar jawabannya yang begitu menarik, aku pun mengangguk dengan wajah merona, lalu menyampingkan badan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 8

    “Nona cantik, ini permen karet untukmu… nanti layani Bos Doni baik-baik, ya!”Usai bicara, Pak Novin langsung menyodorkan beberapa butir permen karet ke tanganku. Aku tak paham apa maksudnya melakukan ini. Aku takut jangan-jangan permen karet ini berisi obat-obatan tertentu.Namun, yang membuatku lebih terkejut lagi, saat menyerahkannya, Pak Novin sengaja menatap tajam ke mataku, seolah sedang memberi isyarat.Dan yang paling penting, di bawah beberapa butir permen karet itu, ternyata ada benda kecil yang menyerupai flashdisk.Hal ini langsung mengingatkanku kejadian saat baru masuk tadi, Pak Novin memang beberapa kali sengaja memandangi laptop yang ada di atas meja kerja.Seketika, aku seakan mengerti semuanya.“Susan, ‘kan? Sebelum aku marah, cepat baring di sana….”Bos Doni menghisap cerutunya dalam-dalam, memberi isyarat agar aku berinisiatif berbaring di sofa samping.“Bos Doni, bagaimana kalau aku berbaring di atas meja kerja saja? Sepertinya tinggi mejanya lebih pas….”Aku terse

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 7

    “Susan, sudahlah, menyerah saja. Kamu hampir saja celaka kali ini….”Mengingat kejadian hari ini, Sofi merasa sangat bersalah. Dia khawatir aku belum sempat menemukan bukti apa pun, tapi malah sudah mencelakakan diriku sendiri.Karena aku hampir saja dilecehkan oleh pria bernama Doni itu hari ini.“Nggak apa-apa, aku nggak takut. Kalau mereka nggak dihukum, aku yakin Yuna nggak akan pernah tenang di alam sana!”“Lagipula Bos Doni itu sudah tertarik padaku, aku punya cara untuk menemukan bukti kejahatan mereka….”Meskipun sangat takut, aku tetap membulatkan tekadku untuk memastikan sekelompok penjahat ini mendapatkan hukuman yang setimpal.Ternyata benar, tepat setelah aku mengucapkannya, Pak Novin tiba-tiba meneleponku, “Susan, kamu di mana sekarang? Bos Doni nggak menemukanmu, dia sangat marah sekarang….”“Aku… aku melihat hotel kebakaran tadi, jadi langsung kabur karena takut….”Aku bergegas mengarang sebuah alasan.“Ya sudah begini saja, Bos Doni sudah kembali ke kantornya sekarang

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 6

    Ternyata, pria itu duduk di sebelah kananku tadi, kalau tak salah dipanggil Bos Doni, sedangkan di sebelah kiriku adalah Pak Novin.“Sekarang kuberi kamu dua pilihan. Pertama, aku akan menyebarkan foto-foto dan videomu ini, lalu bilang pada semua orang kalau kamu itu wanita panggilan….”“Kedua, patuh dengan perintahku. Aku jamin kamu bisa dapat uang bayaran minimal dua puluh juta lebih setiap bulan, bagaimana?”Usai bicara, melihat aku yang linglung dan tak berkutik, Bos Doni mengira diriku menyetujui tawarannya. Dia pun mendekat dan mulai melepas tali pinggangnya.Melihat tingkahnya, jelas sekali aku mulai panik.“Cepat keluar, kebakaran….”“Kebakaran, cepat buka pintunya!”Tepat di saat-saat genting, tiba-tiba ada orang yang menggedor pintu kamar dengan sangat kencang sambil berteriak kebakaran dari luar.Di saat bersamaan, memang ada asap yang mulai membumbung masuk dari celah bawah pintu.Mendengar teriakan itu, Bos Doni langsung panik dan ketakutan. Dia bergegas merapikan pakaiann

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 5

    Namun, aku tak terlalu memikirkannya, cukup mengingatkan diri sendiri agar lebih berhati-hati.Satu hari kemudian bertepatan dengan akhir pekan. Sore hari saat latihan fisik baru saja selesai, Pak Novin berbisik mengajakku keluar makan malam dengannya. Dia menyuruhku pulang duluan untuk mandi dan mengganti pakaian.Aku tersenyum dan mengangguk. Sesampainya di asrama, aku langsung mandi air hangat, lalu sengaja memakai rok pendek dan atasan kaus kotak-kotak yang lucu.Setelah berdandan tipis, tak lama kemudian aku menerima pesan whatsapp dari Pak Novin yang memberitahuku lokasi tempat makan kami.Sesampainya di restoran, aku pun diarahkan masuk ke sebuah ruang VIP yang mewah di bawah arahan staf.Tadinya kukira hanya ada aku dan Pak Novin berdua, tapi begitu masuk, ternyata ada beberapa pria lain selain Pak Novin. Bahkan ada beberapa wanita berpakaian modis dan tampak sexy.Pasangan pria dan wanita itu duduk berdampingan dengan mesra seperti sepasang kekasih, hanya kursi di samping Pak

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 4

    Seketika, rasanya benar-benar malu setengah mati!“Ah! Pak Novin, kok celanaku disobek?”Sambil menahan rasa malu yang luar biasa dengan wajah memerah, aku bergegas merapatkan kedua kakiku dan membentak Pak Novin dengan suara keras.“Emangnya kenapa kalau celanamu disobek? Kamu sendiri nggak pakai bra, bukannya emang sengaja menggodaku?”Usai bicara, Pak Novin tersenyum nakal dan menggendongku dengan sangat kasar, lalu bersiap melemparku ke sofa di samping.“Jangan, jangan! Aku takut sakit… aku masih perawan….”Saat Pak Novin melemparkanku ke sofa di samping dan memegang kedua kakiku untuk melangkah ke tahap berikutnya, aku berteriak dengan sangat kencang.Kali ini, aku benar-benar ketakutan. Meski sebelumnya aku pernah berandai-andai bisa bersamanya, rasa takut malah menyerangku saat ini.Aku benar-benar merasa takut atas kecerobohanku sebelumnya. Tak disangka, Pak Novin malah benar-benar berniat melakukannya.Karena sebelumnya, aku hanya berniat menggoda dan bermain-main dengannya sa

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 3

    Jika ini terjadi dulu, aku mungkin tak akan peduli mendengar ejekan mereka.Namun hari ini, saat kepalaku penuh dengan bayangan Pak Novin, aku malah membantah perkataan mereka,“Siapa bilang aku nggak punya pacar? Lihat saja dua hari lagi, aku bakal tunjukkan pada kalian!”Karena tak mau kalah, aku memberanikan diri untuk membantah mereka, lalu kembali berbaring di ranjang sambil memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.Keesokan paginya, Pak Novin masih tetap sesekali melihat ke arahku. Bahkan demi bisa memantauku setiap saat, dia sampai memindahkan posisiku ke barisan paling belakang dan paling pinggir.Dia sendiri terus berdiri di sampingku sambil memperhatikanku.Awalnya, aku mengira dia akan menungguku dan bahkan mengajakku makan bersama di kantin setelah latihan fisik sesi pagi selesai, tapi ternyata tidak.Saat melihatnya tertawa dan bercanda menuju kantin bersama murid lain, muncul sedikit rasa kecewa di dalam hatiku.Saat latihan fisik sore harinya, demi mendapatkan perhatian lebih

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status