Partager

Bab 3

Auteur: Yaya
Jika ini terjadi dulu, aku mungkin tak akan peduli mendengar ejekan mereka.

Namun hari ini, saat kepalaku penuh dengan bayangan Pak Novin, aku malah membantah perkataan mereka,

“Siapa bilang aku nggak punya pacar? Lihat saja dua hari lagi, aku bakal tunjukkan pada kalian!”

Karena tak mau kalah, aku memberanikan diri untuk membantah mereka, lalu kembali berbaring di ranjang sambil memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.

Keesokan paginya, Pak Novin masih tetap sesekali melihat ke arahku. Bahkan demi bisa memantauku setiap saat, dia sampai memindahkan posisiku ke barisan paling belakang dan paling pinggir.

Dia sendiri terus berdiri di sampingku sambil memperhatikanku.

Awalnya, aku mengira dia akan menungguku dan bahkan mengajakku makan bersama di kantin setelah latihan fisik sesi pagi selesai, tapi ternyata tidak.

Saat melihatnya tertawa dan bercanda menuju kantin bersama murid lain, muncul sedikit rasa kecewa di dalam hatiku.

Saat latihan fisik sore harinya, demi mendapatkan perhatian lebih dari Pak Novin, aku sampai mengambil keputusan yang sangat berani.

Cuacanya memang sangat panas, jadi aku pun nekat tak memakai bra sama sekali. Bagian atas badanku hanya terbalut seragam saat muncul di lapangan.

Karena aku berada di barisan paling belakang sebelah kanan, teman-teman yang lain tak menyadari keanehan ini.

Pak Novin berdiri di sampingku. Setelah latihan berjalan sebentar, akhirnya dia menyadari ada yang aneh.

Terutama saat Pak Novin memerintahkan seluruh murid untuk tengkurap dan melakukan push up, aku melihat dengan jelas wajah Pak Novin langsung memerah. Matanya dengan canggung mencoba mengintip ke dalam kerah bajuku.

Melihat wajah Pak Novin yang memerah dan tubuhnya yang agak gemetar, hatiku malah semakin bergairah.

“Susan, kamu sangat nggak serius latihan hari ini. Kamu tinggal untuk latihan tambahan sendirian, yang lainnya sudah boleh bubar!”

Setelah dibubarkan, teman-teman yang lain langsung berhamburan pergi karena cuaca yang memang sangat terik.

“Susan, sekarang pergi ke ruangan kecil untuk latihan tambahan!”

Usai bicara, Pak Novin menunjuk ke arah ruangan kecil di samping. Sebenarnya ruangan kecil itu merupakan ruang istirahat para guru penjas.

Jika ada murid yang tidak serius latihannya, mereka akan dipanggil sendirian oleh guru ke sana untuk diberi pengarahan atau latihan tambahan.

“Susan, lakukan dua puluh kali push up dulu!”

Setelah masuk ke dalam, Pak Novin langsung memerintahku untuk segera melakukan dua puluh kali push up, sementara dia berdiri persis di depanku.

Saat aku melakukan push up, terlihat jelas mata Pak Novin terus menatap ke dalam kerah bajuku, membuat wajahku semakin memerah karena malu.

Beberapa saat kemudian, akhirnya aku menyelesaikan gerakan itu dengan canggung.

Namun, Pak Novin kembali memberi perintah, “Susan, gerakan push up kamu nggak benar, biar aku bantu membenarkannya!”

“Sekarang tempelkan kedua tanganmu ke dinding… benar, angkat bokongmu!”

Melihatku agak lambat memahami instruksinya, Pak Novin malah langsung menopang pantatku dengan cukup kuat.

Sentuhan itu membuat seluruh tubuhku tersentak kaget. Aku pun segera membenarkan posisi sesuai dengan yang diminta Pak Novin.

Namun, napasku terasa semakin memburu saat ini. Bahkan mulai terbayang-bayang otot perut Pak Novin di dalam benakku….

“Susan, gerakan push up kamu belum standar. Sekarang kamu harus melakukan gerakan handstand split!”

“Apa? Tapi, Pak Novin, aku masih belum stabil saat melakukan handstand, takut jatuh….”

Jawabku terbata-bata dengan wajah memerah. Meskipun membayangkan posisi handstand split terasa sangat memalukan, aku tetap tak menolak perintahnya.

“Nggak apa-apa, biar kupegang kalau nggak stabil. Sekarang mulai handstandnya!”

Sambil berbicara, Pak Novin langsung merangkul pinggangku dan mengangkatnya, hingga seluruh tubuhku berada dalam posisi handstand di hadapannya.

Karena tubuhku yang sedang melakukan handstand mulai bergoyang tak stabil, satu tangannya memegang pinggangku, lalu satu tangannya lagi menopang pantatku.

Melihat dari arah bawah ke atas, aku menyadari tatapan mata Pak Novin jelas-jelas sudah berubah menjadi liar.

Setelah bertahan selama beberapa detik, Pak Novin malah semakin mendekatkan dirinya ke kedua kakiku yang sedang terbuka dalam posisi split, lalu berkata, “Gerakanmu masih belum begitu standar….”

Kemudian, satu tangannya pun mencengkeram celanaku dan menariknya dengan kuat, hingga celana di bagian selangkanganku robek….

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 8

    “Nona cantik, ini permen karet untukmu… nanti layani Bos Doni baik-baik, ya!”Usai bicara, Pak Novin langsung menyodorkan beberapa butir permen karet ke tanganku. Aku tak paham apa maksudnya melakukan ini. Aku takut jangan-jangan permen karet ini berisi obat-obatan tertentu.Namun, yang membuatku lebih terkejut lagi, saat menyerahkannya, Pak Novin sengaja menatap tajam ke mataku, seolah sedang memberi isyarat.Dan yang paling penting, di bawah beberapa butir permen karet itu, ternyata ada benda kecil yang menyerupai flashdisk.Hal ini langsung mengingatkanku kejadian saat baru masuk tadi, Pak Novin memang beberapa kali sengaja memandangi laptop yang ada di atas meja kerja.Seketika, aku seakan mengerti semuanya.“Susan, ‘kan? Sebelum aku marah, cepat baring di sana….”Bos Doni menghisap cerutunya dalam-dalam, memberi isyarat agar aku berinisiatif berbaring di sofa samping.“Bos Doni, bagaimana kalau aku berbaring di atas meja kerja saja? Sepertinya tinggi mejanya lebih pas….”Aku terse

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 7

    “Susan, sudahlah, menyerah saja. Kamu hampir saja celaka kali ini….”Mengingat kejadian hari ini, Sofi merasa sangat bersalah. Dia khawatir aku belum sempat menemukan bukti apa pun, tapi malah sudah mencelakakan diriku sendiri.Karena aku hampir saja dilecehkan oleh pria bernama Doni itu hari ini.“Nggak apa-apa, aku nggak takut. Kalau mereka nggak dihukum, aku yakin Yuna nggak akan pernah tenang di alam sana!”“Lagipula Bos Doni itu sudah tertarik padaku, aku punya cara untuk menemukan bukti kejahatan mereka….”Meskipun sangat takut, aku tetap membulatkan tekadku untuk memastikan sekelompok penjahat ini mendapatkan hukuman yang setimpal.Ternyata benar, tepat setelah aku mengucapkannya, Pak Novin tiba-tiba meneleponku, “Susan, kamu di mana sekarang? Bos Doni nggak menemukanmu, dia sangat marah sekarang….”“Aku… aku melihat hotel kebakaran tadi, jadi langsung kabur karena takut….”Aku bergegas mengarang sebuah alasan.“Ya sudah begini saja, Bos Doni sudah kembali ke kantornya sekarang

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 6

    Ternyata, pria itu duduk di sebelah kananku tadi, kalau tak salah dipanggil Bos Doni, sedangkan di sebelah kiriku adalah Pak Novin.“Sekarang kuberi kamu dua pilihan. Pertama, aku akan menyebarkan foto-foto dan videomu ini, lalu bilang pada semua orang kalau kamu itu wanita panggilan….”“Kedua, patuh dengan perintahku. Aku jamin kamu bisa dapat uang bayaran minimal dua puluh juta lebih setiap bulan, bagaimana?”Usai bicara, melihat aku yang linglung dan tak berkutik, Bos Doni mengira diriku menyetujui tawarannya. Dia pun mendekat dan mulai melepas tali pinggangnya.Melihat tingkahnya, jelas sekali aku mulai panik.“Cepat keluar, kebakaran….”“Kebakaran, cepat buka pintunya!”Tepat di saat-saat genting, tiba-tiba ada orang yang menggedor pintu kamar dengan sangat kencang sambil berteriak kebakaran dari luar.Di saat bersamaan, memang ada asap yang mulai membumbung masuk dari celah bawah pintu.Mendengar teriakan itu, Bos Doni langsung panik dan ketakutan. Dia bergegas merapikan pakaiann

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 5

    Namun, aku tak terlalu memikirkannya, cukup mengingatkan diri sendiri agar lebih berhati-hati.Satu hari kemudian bertepatan dengan akhir pekan. Sore hari saat latihan fisik baru saja selesai, Pak Novin berbisik mengajakku keluar makan malam dengannya. Dia menyuruhku pulang duluan untuk mandi dan mengganti pakaian.Aku tersenyum dan mengangguk. Sesampainya di asrama, aku langsung mandi air hangat, lalu sengaja memakai rok pendek dan atasan kaus kotak-kotak yang lucu.Setelah berdandan tipis, tak lama kemudian aku menerima pesan whatsapp dari Pak Novin yang memberitahuku lokasi tempat makan kami.Sesampainya di restoran, aku pun diarahkan masuk ke sebuah ruang VIP yang mewah di bawah arahan staf.Tadinya kukira hanya ada aku dan Pak Novin berdua, tapi begitu masuk, ternyata ada beberapa pria lain selain Pak Novin. Bahkan ada beberapa wanita berpakaian modis dan tampak sexy.Pasangan pria dan wanita itu duduk berdampingan dengan mesra seperti sepasang kekasih, hanya kursi di samping Pak

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 4

    Seketika, rasanya benar-benar malu setengah mati!“Ah! Pak Novin, kok celanaku disobek?”Sambil menahan rasa malu yang luar biasa dengan wajah memerah, aku bergegas merapatkan kedua kakiku dan membentak Pak Novin dengan suara keras.“Emangnya kenapa kalau celanamu disobek? Kamu sendiri nggak pakai bra, bukannya emang sengaja menggodaku?”Usai bicara, Pak Novin tersenyum nakal dan menggendongku dengan sangat kasar, lalu bersiap melemparku ke sofa di samping.“Jangan, jangan! Aku takut sakit… aku masih perawan….”Saat Pak Novin melemparkanku ke sofa di samping dan memegang kedua kakiku untuk melangkah ke tahap berikutnya, aku berteriak dengan sangat kencang.Kali ini, aku benar-benar ketakutan. Meski sebelumnya aku pernah berandai-andai bisa bersamanya, rasa takut malah menyerangku saat ini.Aku benar-benar merasa takut atas kecerobohanku sebelumnya. Tak disangka, Pak Novin malah benar-benar berniat melakukannya.Karena sebelumnya, aku hanya berniat menggoda dan bermain-main dengannya sa

  • Primadona Menyukai Pelajaran Penjas   Bab 3

    Jika ini terjadi dulu, aku mungkin tak akan peduli mendengar ejekan mereka.Namun hari ini, saat kepalaku penuh dengan bayangan Pak Novin, aku malah membantah perkataan mereka,“Siapa bilang aku nggak punya pacar? Lihat saja dua hari lagi, aku bakal tunjukkan pada kalian!”Karena tak mau kalah, aku memberanikan diri untuk membantah mereka, lalu kembali berbaring di ranjang sambil memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.Keesokan paginya, Pak Novin masih tetap sesekali melihat ke arahku. Bahkan demi bisa memantauku setiap saat, dia sampai memindahkan posisiku ke barisan paling belakang dan paling pinggir.Dia sendiri terus berdiri di sampingku sambil memperhatikanku.Awalnya, aku mengira dia akan menungguku dan bahkan mengajakku makan bersama di kantin setelah latihan fisik sesi pagi selesai, tapi ternyata tidak.Saat melihatnya tertawa dan bercanda menuju kantin bersama murid lain, muncul sedikit rasa kecewa di dalam hatiku.Saat latihan fisik sore harinya, demi mendapatkan perhatian lebih

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status