LOGINAyu menahan napas saat tangan Daniel menyapu punggungnya, membebaskan sisa ikatan bikini yang ia kenakan. Kain hitam itu merosot jatuh ke atas karang, membiarkan bagian atas tubuh Ayu sepenuhnya terbuka.Daniel menatap lekat-lekat wanita di depannya. Matanya menggelap, memancarkan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan."Cantik," bisik Daniel serak. Tangannya turun, meremas pelan pinggang Ayu yang bertumpu pada batu karang setinggi pinggang tersebut.Ayu menggigit bibir bawahnya, menatap Daniel dengan napas memburu. "Tunggu apa lagi, Niel? Lakuin aja."Daniel tersenyum miring. "Jangan buru-buru, Yu. Kita nikmati pelan-pelan."Bukannya langsung menyatukan tubuh mereka, Daniel justru merunduk. Ia menempelkan bibirnya di leher Ayu, memberikan hisapan pelan di sana, lalu lidahnya mulai bergerak turun. Ia menyapu dada Ayu, merayap ke perut ratanya yang berkeringat, hingga akhirnya turun ke area kewanitaan Ayu yang sudah terekspos tanpa penghalang."Ahhh... Niel..." Ayu tersentak kaget. Tan
Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Daniel berdiri di hadapannya, mengurung Ayu dengan kedua lengan yang bertumpu pada karang. Mata Daniel gelap, penuh intensitas yang membaca setiap inci bahasa tubuh Ayu."Kenapa tadi tidak mau pergi?" tanya Daniel. Nadanya menginterogasi, namun lembut.Ayu menunduk, menghindari tatapan Daniel. "Aku... aku cuma kaget. Aku penasaran.""Penasaran atau ingin?" tembak Daniel langsung.Ayu mengangkat wajahnya, menatap Daniel dengan tatapan menantang yang rapuh. "Kalau aku bilang ingin, kamu mau apa?"Daniel tersenyum miring. Ia mengusap pipi Ayu dengan ibu jarinya yang kasar. "Rina," kata Daniel tiba-tiba.Ayu mengerutkan kening. "Apa?""Kamu tadi sebut nam
Posisi mereka begitu intim. Si wanita melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, punggungnya melengkung ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedang diciumi dengan rakus. Tangan si pria meremas pinggul wanita itu dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.Ayu tidak bisa memalingkan wajahnya.Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak di kepala Ayu. Kejadian beberapa bulan lalu yang ia kubur dalam-dalam.Di kantor, tepatnya Ruang Rapat Utama yang terletak di ujung lorong sepi di lantai itu. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor hening.Ayu mendorong pintu kaca Ruang Rapat Utama perlahan. Ruangan itu tampak gelap dan kosong. Ia melangkah masuk menuju meja utama dan menemukan kandar kilas (flash disk) peraknya masih tertancap di port proyektor.Tepat saat tangannya meraih benda itu, Ayu mendengar suara samar-samar yang datang dari Ruang Rapat Cadangan, sebuah ruangan kecil yang terhubung langsung dengan ruangan utama m
"Hei, kenapa? Abaikan saja, Yu. Namanya juga tempat umum, banyak orang bicara sembarangan," bujuk Daniel lembut."Gimana bisa aku abaikan, Niel? Telingaku panas." Ayu menyibakkan rambutnya dengan kasar. Napasnya mulai tidak teratur. "Rasanya aku dikejar-kejar hantu perempuan itu ke mana pun aku pergi. Semua orang membicarakan dia. Muak aku.""Sabar, Yu. Jangan emosi dulu. Ingat, kita di sini untuk senang-senang." Daniel mencoba meraih tangan Ayu, tetapi wanita itu menariknya menjauh."Gampang kamu bicara sabar. Kamu tidak merasakan jadi istri yang suaminya sedang jadi bahan omongan orang karena perempuan itu." Ayu membuang muka ke arah laut, kakinya mengetuk-ngetuk pasir dengan gelisah.Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua butir kelapa muda utuh yang segar."Permisi, ini kelapa mudanya, Kak," sapa pelayan itu ramah sembari meletakkan pesanan di meja kecil di antara mereka.Daniel mengangguk singkat pada pelayan itu. "Makasih, Mas."Setelah pelayan pergi,
Matahari Bali bersinar terik tepat di atas kepala. Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, menyatu dengan garis cakrawala laut yang berkilauan. Deburan ombak terdengar ritmis, memecah kesunyian di antara langkah kaki dua orang manusia yang sedang berjalan menyusuri pasir putih.Ayu berjalan sedikit di depan. Ia mengenakan bikini two-pieces berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putihnya. Sebuah kain sarung tipis bermotif bunga transparan melilit pinggangnya, menutupi sebagian kecil paha, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang jenjang setiap kali angin laut berembus. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata yang mungkin masih menyimpan sisa kelelahan—atau kepuasan.Daniel berjalan santai di sampingnya. Ia hanya mengenakan celana pendek kargo berwarna krem dan kemeja linen putih yang kancingnya dibiarkan terbuka sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang yang baru saja dikagumi Ayu beberapa jam lalu."Panas sekali hari ini," keluh Ayu sambil m
"Kamu kenapa, Sayang? Kedengarannya nikmat banget," tanya Rangga, terdengar semakin terangsang mendengar desahan istrinya."Iya... aku... aku lagi sentuh diri aku sendiri, Mas," dusta Ayu dengan napas tersengal. Padahal, lidah Daniel kini sedang menari lincah di klitorisnya, memberikan sensasi kejutan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh."Sentuh yang lembut, Yu," pinta Rangga. "Bayangin itu jari aku. Bayangin tangan aku lagi elus paha kamu, terus naik ke atas..."Daniel seolah mengerti instruksi itu. Tangannya meremas paha Ayu dengan kuat, sementara mulutnya bekerja ekstra keras. Ia tidak hanya menjilat, tetapi mulai menghisap klitoris Ayu dengan bibirnya, menciptakan ruang hampa yang menyedot kenikmatan dari pusat saraf Ayu."Ahhh... Mas... iya... di situ..." rintih Ayu. Kepalanya mendongak, matanya terpejam. Tangan kirinya memegang ponsel erat-erat, sementara tangan kanannya menekan kepala Daniel, memintanya untuk lebih dalam."Enak, Sayang?""Enak banget... Eughhh... Mas...""Ak







