LOGINPintu kamar yang tadinya hanya terbuka sedikit mendadak terdorong lebar-lebar dengan sendirinya!Suara desahan berganti menjadi keheningan mendadak. Rangga dan Roselyn menghentikan pergerakan mereka secara serentak. Keduanya perlahan memutar kepala, menoleh lurus ke arah Ayu yang berdiri membeku di ambang pintu.Tidak ada raut terkejut atau bersalah di wajah mereka. Malahan, sebuah ukiran senyum sinis perlahan merekah di bibir Rangga, menyebar menjadi derai tawa dingin yang menggema memenuhi seluruh ruangan. Roselyn pun menyusul, tertawa kecil dengan suara nyaring, merdu, namun terdengar begitu menyayat ulu hati Ayu."Rangga...?" bisik Ayu dengan suara tercekat, runtuh ke lantai. "Apa... apa yang kalian lakukan?"Rangga menatap Ayu dari atas tempat tidur, pandangan matanya penuh dengan kedinginan yang mematikan."Kenapa kamu terkejut, Ayu?" tanya Rangga dengan nada santai, namun setiap katanya terasa bagai sembilu tajam. "Ini adalah balasan dari pengkhianatan yang kamu lakukan! Kamu p
Mobil kembali melaju setelah Roselyn menghilang di balik pintu kaca gedung megah itu. Ayu masih menoleh ke belakang. Gedung tersebut perlahan menjauh, tertutup oleh kendaraan yang melintas di antara mereka.Entah kenapa, perasaan aneh masih tertinggal di dadanya."Mbak Rose..." gumam Ayu pelan.Rangga yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kenapa?"Ayu tersentak kecil. "Hah?""Kamu manggil Rose.""Oh..." Ayu kembali menatap keluar jendela. "Enggak apa-apa. Aku cuma masih kepikiran.""Urusan tadi?"Ayu mengangguk. "Iya."Rangga diam beberapa saat. "Jangan terlalu dipikirkan."Ayu menoleh. "Mas tahu dari mana aku sedang memikirkannya?"Rangga tersenyum tipis. "Kelihatan.""Kelihatan?""Iya." Rangga menunjuk wajah Ayu. "Alismu kalau sedang bingung suka berkerut."Ayu spontan menyentuh dahinya. "Serius?"Rangga tertawa kecil. "Serius."Ayu ikut tersenyum. Untuk beberapa detik, suasana terasa jauh lebih ringan. Namun, rasa kantuk perlahan datang tanpa bisa ditahan. Ayu menyandarkan kepala ke j
Mobil SUV hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan bandara. Kabin yang hangat membuat embusan udara dingin Sydney hanya terlihat lewat embun tipis di kaca jendela. Ayu duduk diam di kursi belakang bersama Rangga, sementara Roselyn sesekali menunjuk bangunan-bangunan yang mereka lewati."Kalau cuacanya lagi cerah, dari jalan ini kamu bisa lihat pelabuhan lebih jelas," ujar Roselyn sambil tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah istirahat, aku ajak jalan-jalan."Ayu mengangguk pelan. "Iya, Mbak.""Kamu suka kopi, kan?""Suka...""Nah, dekat apartemen nanti ada kafe kecil langgananku. Baristanya orang Indonesia. Lumayan buat ngobatin kangen suasana rumah."Ayu tersenyum tipis. "Mbak Rose hafal banget, ya..."Roselyn terkekeh kecil. "Ya harus, dong. Rangga sudah berkali-kali mengingatkan aku supaya kamu betah di sini."Rangga hanya tersenyum tanpa ikut menyela. Belum sempat percakapan berlanjut, suara dering ponsel memecah suasana.Tring...Roselyn melirik layar ponselnya. Senyumnya perlahan
Sinar matahari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney. Udara dingin khas awal musim dingin langsung menyapa kulit saat Ayu melangkah keluar dari garbarata, mengekor di belakang Rangga. Langkah kaki Rangga terasa mantap, sementara Ayu harus berjuang keras menyeimbangkan langkahnya yang gontai. Rasa lelah, kantuk, dan kecemasan yang membakar dadanya sepanjang malam di atas pesawat masih menyisa utuh.Ayu memegang erat tali tas tangannya. Setiap kali ia melirik Rangga, bayangan pesan singkat rahasia di ponsel suaminya semalam kembali teringat jelas: “Semua persiapan di Sydney sudah siap. Pastikan dia tidak curiga.”"Kamu kuat banget pegang tasnya, Ay. Kenapa? Ada yang ketinggalan di pesawat?" tanya Rangga pelan seraya menoleh, menangkap kegelisahan istrinya.Ayu menggeleng cepat, memaksakan senyum tipis. "Enggak, Sayang. Cuma agak dingin saja.""Nanti di mobil langsung pakai jaket tebal, ya. Kita jalan ke area penjemputan sekarang," kata
Deg!Seketika itu juga, jantung Ayu berdetak begitu kencang hingga serasa hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. Darah di dalam tubuhnya mendadak berhenti mengalir, menyisakan rasa dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tempurung kepalanya.“Pastikan dia tidak curiga?”Kata-kata itu menari-nari liar di dalam ingatan Ayu, membakar habis sisa-sisa ketenangan yang coba ia bangun sepanjang hari. Otaknya bekerja secara instan, membedah setiap suku kata dari pesan misterius tersebut dengan kepanikan yang luar biasa.“Dia? Siapa yang dimaksud 'dia' dalam pesan ini?” bisik Ayu di dalam batinnya yang kini berteriak histeris. “Apakah 'dia' itu aku?! Siapa yang mengirim pesan ini malam-malam begini? Apakah nomor ini milik Roselyn? Ataukah orang lain yang disuruh oleh Rangga? Persiapan apa yang sudah siap di Sydney? Ya Tuhan... persiapan apa?!”Ayu meremas selimut tebal yang melingkupi kakinya. Napasnya mulai tersengal-sengal, naik-turun dengan cepat. Keringat dingin menetes pelan dari pel
Suasana area keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta malam itu terasa lengang. Lampu-lampu LED bercahaya kekuningan memantul dingin di atas lantai marmer yang mengilap, membiaskan bayangan Rangga dan Ayu yang berjalan berdampingan. Dua orang petugas porter berjas rapi mendorong tiga koper besar milik mereka di belakang.Ayu melangkah gontai. Tubuhnya terasa begitu lelah, bukan hanya karena keletihan fisik setelah seharian mengurus surat pengunduran diri di kantor, melainkan akibat badai emosi yang terus menguras jiwanya. Tangan kanannya berada dalam cengkeraman Rangga—genggaman yang terasa begitu hangat, protektif, tetapi sekaligus seperti borgol halus yang membelenggu pergelangan tangannya."Kamu tampak lelah, Ay?" tanya Rangga pelan saat mereka melintasi karpet tebal menuju pintu masuk Lounge First Class.Ayu menoleh tipis, memaksakan segaris senyum yang terasa kaku di bibirnya. "Sedikit, Mas. Kepalaku agak berat.""Nanti di pesawat kamu bisa langsung tidur. Aku sudah mem
"Sshhh... pelan-pelan, Sayang. Itu... ahhh, di situ," desis Rangga. Kepalanya mendongak ke belakang, urat-urat di lehernya menegang. "Kamu luar biasa malam ini. Kenapa kamu begitu lapar, hmm?"Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru semakin memperdalam hisapannya, menciptakan suara-suara bas
Suasana apartemen yang biasanya terasa tenang mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Ayu. Di ruang tengah, Rangga berdiri membelakangi jendela besar yang menghadap kerlip lampu kota Jakarta, ponsel menempel di telinganya."Niel! Hahaha, iya, gue sudah di rumah sekarang,"
Ayu tersentak bangun.Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia segera meraba area di sekelilingnya. Tidak ada Daniel. Hanya ada Rangga yang tertidur lelap di sampingnya dengan posisi membelakanginya.Ayu terduduk, menyeka keringat dingin di dahinya. Jantungnya masih berdegup k
Ayu merasakan dorongan yang kuat. Dia tidak ingin berpikir dua kali. Dia tidak ingin hanya menjadi istri yang baik lagi. Dia ingin menjadi wanita yang dicintai, diinginkan, dan dilindungi.Dengan keberanian baru yang lahir dari rasa kecewa, Ayu menarik tengkuk Daniel dan menciumnya. Bukan ciuman pe







